Lancar Paint Expo 2018

Lancar Paint Expo 2018

Ini bukan pertama kalinya saya datang ke mal dijam operasional mal belum buka, alias datang gasik. Lebih awal dari jam buka.
Bukan karena saya pegawai baru. Bukan pula karena saya ingin sidak ke stand-stand berlian, bukan. Saya datang lebih pagi (ya gak pagi banget sih karena masih jam sembilan kurang sekian menit) khusus untuk memenuhi undangan dari Toko Cat Lancar.

Pertanyaan, ngapain Toko Cat Lancar ngundang Gadis Anggun? Mau mengecat rambut atau wajah dengan cat?
Bukan, woe. Berhentilah untuk main-main seperti itu. #tsah
Jelas-jelas Gadis Anggun diundang karena Toko Cat Lancar sedang mengadakan acara dimana salah satu dari rangkaian acara itu adalah mengundang blogger (hits seJogja Raya).
Gadis Anggun dan Jar Kesayangan

Acara apa tuh?

Jadi mulai Rabu (9/5) sampai nanti Minggu (13/5) Toko Cat Lancar mengadakan acara yang namanya Lancar Paint Expo 2018 di Plaza Ambarukmo.

Jadi buat yang belum paham apa itu Lancar Paint Expo nih Gadis Anggun kasih tahu, tapi sedikit saja. Kalau banyak nanti cari tahu aja sendiri di Paint Expo.

Paint Expo itu semacam pameran besar dari seluruh anak cabang dan merk dari Toko Cat Lancar. Di sini kamu bisa melihat banyak aneka merk cat yang kesemuanya dibawah asuhan ibu peri Toko Cat Lancar. Selain itu kamu juga bisa konsultasi mengenai dunia perjodohan cat. Ya siapa tahukan kamu ada masalah dengan dinding rumah yang mau disulap sedemikian rupa hingga menawan macem babang Hamish.

Jika selama ini yang kamu tahu merk cat hanyalah Jotun, maka di sini kamu akan menemukan merk merk lain dengan kualitas yang okey punya. Jangan segan untuk bertanya macam-macam hal, karena bertanya gratis.
para blogger jogja

Hari Rabu kemarin kebetulan acaranya baru aja dibuka setelah sebelumnya pagi hari ada acara meet blogger Jogja. Nah Gadis Anggun ada di situ tuh. Blogger Jogja diajak sama-sama untuk menghias jar (toples). Ramai-ramai sekitar 15 lebih blogger berkumpul untuk memainkan cat yang diaplikasikan ke tubuh jar. Acaranya seru. Ini bukan pertama kali Gadis Anggun mainan cat dengan botol, tapi percayalah ini seru banget. Dan kalau boleh mau dong lagi dan lagi.

Caranya juga gampang banget. Bisa pakai toples, gelas atau botol. Tinggal dikuas semacam kalau mengecat dinding. Catnya lembut dan mudah kering, cocok buat hiasan. Hasil kreasi Gadis Anggun tidak terlalu buruk bahkan bisa dipakai buat properti foto foto mendatang.
panggung utama Lancar Paint Expo

Toko Cat Lancar

Dari tadi omongin Toko Cat Lancar muluk tapi belum kenalan atau belum paham apa itu Cat Lancar?
Baiklah ini Gadis Anggun kasih bocorannya dikit. Lagi-lagi dikit aja ya, kalau banyak datang aja langsung ke tokonya yang tersebar di 18 titik lho.

Jadi Toko Cat Lancar ini awalnya berdiri semacam usaha keluarga. Sudah ada sejak tahun 1978. Lahir dan diturunkan ke generasi generasi selanjutnya sampai detik ini. Awal mulanya bukan toko cat seperti yang hari ini kita lihat (begitu megah dan ada di mana-mana). Toko Cat Lancar ini dulunya hanyalah toko besi. Seiring berkembangnya zaman dan inovasi maka jadilan toko cat lancar seperti hari ini.

Ada 18 titik cabang di daerah DIY dan Jawa Tengah. Jalan Magelang, Jalan Kaliuran, Jalan Godean, Jalan Wonosari, Magelang, Muntilan, Klaten, Solo.

Selain jualan cat, toko cat lancar juga ikut berkontribusi di berbagai bidang antara lain sosial dan pendidikan. Sesuai dengan visi Toko Cat Lancar yaitu berbagi manfaat kepada khalayak.
Salah satu cara untuk mewujudkan visi tersebut yaitu dibangunnya unit layanan baru Toko Cat Lancar yang bernama Lancar Paint Center (LPC) pada 19 Januari 2018.
Add caption

Lancar Paint Center

LPC adalah layanan terpadu Toko Cat Lancar untuk memberikan manfaat lebih luas bagi konsumen dan masyarakat.

Ada 8 Jenis LPC yang ada di Toko Cat Lancar, yaitu:

1. Lancar Painting Service
    Semacam jasa pelayanan pengecetan profesional dan bergaransi. Jadi di Toko Cat Lancar ini punya tukang cat yang sudah profesional dan tersertifikasi. Dengan layanan ini konsumen dilayani mulai dari konsultasi pemilihan warna, pelaksanaan pengecetan hingga supervisi pengerjaan untuk memastikan harapan konsumen.

2. Lancar Care
   Sebuah layanan yang hadir sebagai solusi untuk membantu konsumen yang ingin berkonsultasi tentang permasalahan cat dan pengecatan. Layanan lancar care akan hadir ke rumah konsumen yang ingin berkonsultasi tanpa dikenai biaya. Konsumen cukup telpon ke layanan center 08 22 23 800 800

3. Lancar Home Service
   Ini layanan cocok buat konsumen yang sibuk dan tidak sempat datang ke toko cat. Dari layanan ini toko catnya yang mendatangi konsumen. Konsumen bisa memilih sesuai kebutuhan dan bayar dengan gampang.

4. Lancar Delivery
    Ini merupakan layanan siap antar. Berapa pun belanjaan cat kamu bisa diantar dengan mobil/ motor dari toko. Cukup praktis.

5. Lancar easy
    melalui layanan ini kebutuhan cat dapat diakses secara online dan mudah.

6. Lancar Go
    Semacam mobil pintar yang akan berkeliling dan memberikan pelayanan serta edukasi terkait produk dari Toko Cat Lancar. Buat kamu yang ingin tahu banyak tentang produk Toko Cat Lancar namun kesusahan untuk datang ke toko bisa datang dan lihat lihat pas ada mobil truck lancar datang ke daerahmu.

7. Lancar Academy
     Merupakan layanan pendidikan dan pelatihan untuk membentuk tenaga ahli cat yang profesional. Layanan ini nantinya diharapkan bisa menjadi inkubator yang bisa melahirkan tenaga terampil di bidang cat dan pengecatan.

8. Lancar Community
    Toko cat lancar berinisiasi menjadi wadah berbagi ilmu dan wawasan lintas bidang. Toko Cat Lancar punya semangat 'guyub rukun mibunani tumraping liyan'.
       Salah satunya dengan menggandengn komunitas blogger Jogja untuk ikut acara Paint Expo kali ini.


Selain acara bareng Blogger Jogja, Lancar Paint Expo juga akan mengadakan workshop berbagai macam hal. Ada workhsop video dan juga fashion show. Kalau kamu lagi di Jogja bisa lho langsung cuss ke atrium Plaza Ambarukmo,  lihat-lihat sekalian tanya tanya.

Berhenti Sok Jadi Dokter

seberapa penting sarapan bagi Anda?

Dua tahun lalu menjadi titip balik bagi perjalanan hidup saya. Sebuah fakta mengejutkan dan harus dihadapi dengan apa pun hasilnya.
Air mata bukanlah jawaban dari segala masalah. Ia (air mata) hanyalah salah satu bentuk perasaan yang kadang tidak mampu diutarakan. Bukan sebuah cita-cita, memimpikannya pun tidak, seorang yang sangat dekat---dalam dirinya mengalir darah yang sama---lemah di bangsal rumah sakit.

Kalau ada yang bilang nasi telah menjadi bubur, masa lalu tak bisa lagi diulang; maka alangkah baiknya jika dititik ini melakukan sesuatu yang lebih manfaat, setidaknya buat diri sendiri tanpa sedikit pun mencelakai atau merugikan orang lain.

Hari itu (dua tahun yang lalu) saya membatalkan semua acara yang bahkan sudah saya persiapkan jauh hari sebelumnya. Saya sempat lembur malam malam untuk menunggu hari itu tiba. Nyatanya sebuah panggilan telpon merubah segala rencana hanya dalam hitungan sekian detik.

Telpon itu datang pagi, terlalu dini untuk sebuah kabar kurang menyenangkan. Terlalu mempengaruhi syaraf-syaraf dan segala kewarasan yang saya miliki. Telpon dari luar kota yang awalnya saya tidak yakin itu nomer siapa. Satu-satunya yang saya tangkap adalah kalimat "Mbakmu di rumah sakit. Kamu bisa ke Bekasi hari ini juga?"

Rumah sakit? Bayangan lorong-lorong mencekam dengan aneka mesin peyambung nyawa berkolaborasi dengan aroma karbol, obat-obatan dan tidak sedikit campuran ketakutan. Rumah sakit? Saya tidak pernah berharap bakal masuk lorong ini, meski hanya menjenguk/ mengantar kerabat yang sedang berobat.

Pandangan rumah sakit di otak saya sudah terlalu mengerikan. Tentang orang-orang yang butuh pertolongan tak hanya sekedar sentuhan lembut telapak tangan. Saya sudah pernah menunggui orang sakit di rumah sakit, jika harus disuruh mengulang lagi rasanya terlalu menyesakkan dada. Saya bukan orang kuat yang bisa menahan segala guncangan keadaan. Nyatanya saya ini orang yang banyak tidak percaya dan sering ragu jika dihadapkan pada dunia medis (termasuk dokter, obat dan bahkan rumah sakit). Saya selalu menjauhi hal-hal yang saya anggap mengerikan itu. Tapi hari itu, sebuah telpon yang terlalu dini menyeret saya untuk segera berkemas dan menghampiri lorong rumah sakit yang bahkan jauh dari tanah lahir saya; pula seorang diri.
http://vandjocdja.blogspot.co.id

Perempuan yang harus saya jenguk dan jaga adalah kakak kandung saya. Satu-satunya saudara kandung yang saya miliki.
Saya tiba di ruang inap dini hari (sehari usai terima telpon). Dalam ruangan yang dihuni oleh beberapa orang tersebut saya harus hati-hati dan waspada; kita tidak pernah tahu apa yang ada di rumah sakit (baca: kuman penyakit misal).
Saya tiba di samping ranjang dengan seorang tidur pulas di sana. Saluran infus terpasang dengan pongah seolah hendak berteriak "hai kamu yang enggak percaya padaku, lihat saudaramu membutuhkan aku lebih banyak dibanding kamu."
Saya ingin menangis tapi tangis itu hilang telah dibawa jarak yang panjang.

Saya tidak banyak bertanya selama menunggui kakak yang beberapa jam sebelumnya berjuang (seorang diri) di ruang operasi. saya tidak menyangka keluarga saya (yang jauh dari kata tajir) harus berurusan dengan ruang operasi yang menelan biaya lebih besar dibanding pajak tahunan seluruh kekayaan yang kami miliki.
Saya menahan diri untuk tidak terlalu larut dengan kenyataan yang begitu mencekik leher (juga mencolok mata).

Hingga pada akhirnya kakak saya menceritakan semuanya.

Berawal dari muntah

"Sebelumnya aku nungguin anak-anak yang sedang sakit di rumah sakit. Lalu pagi-pagi aku sakit perut. Muntah beberapa kali. Aku kira masuk angin. Minta dikerikin tapi belum ada yang selo. Aku tahan-tahan sampai enggak kuat dan hampir pingsan. Untung di rumah sakit jadi aku langsung ditolong suster dan masuk ruang penanganan. Aku langsung diperiksa bahkan di USG. Ternyata aku ada usus buntu. Usus buntu inilah yang sering membuatku merasa sakit perut dan ingin muntah setiap saat. Katanya usus buntu di dalam tubuhku sudah parah dan pecah, harus segera dioperasi dan dibersihkan."

Sampai di sini saya merasa ngilu. Saya tidak banyak komentar. Yang saya tahu, usus buntu itu bukan penyakit bahaya dan memang siapa saja bisa kena. Nmaun kalau usus buntu itu sampai pecah? Saya ngeri membayangkan tubuh itu terkontaminasi.

"Saat pembedahan itulah ditemukan kista yang cukup besar."

Kista? Apalagi ini? 
Bukankah ini sesuatu yang selalu ditakuti seluruh perempuan (utama perempuan lajang yang belum pernah menikah dan hamil) di muka bumi?
Kista? Pikira saya langsung ke organ yang hanya dianugerahkan kepada seorang perempuan; rahim.

"Aku ada kista. Sudah besar dan harus diangkat kalau tidak bahaya bagi tubuhku."

Operasi Besar

Jadi hari di mana saya menerima telpon di pagi hari itu, kakak saya sedang berjuang di ruang operasi untuk melakukan operasi besar. Tidak hanya satu operasi untuk usus buntu tapi juga untuk kista yang bersarang dalam tubuhnya.

Dua kenyataan yang membuat saya langsung kehilangan hampir seluruh tenaga. Apalagi setalah saya tahu apa saja efek dari operasi-operasi ini.
Kakak saya tidak akan kembali seperti dulu lagi. Dia harus banyak melakukan kontrok, suntik segala macam hormon dan obat, juga tidak bisa sebebas dulu kala ketika kesehatan masih merajai.

Kakak saya belum menikah dan dia merasa harus benar-benar sembuh dulu untuk bisa menikah. Padahal tidak ada larangan untuknya menikah tahun ini. Namun dia memilih untuk sembuh daripada menikah cepat.

Bagaimana mungkin kami tidak tahu bahwa ada sesuatu yang diam-diam tumbuh dan mengerogoti tubuh kakak saya? Bagaimana bisa?
Sama seperti bagaimana bisa ibu kawan saya tiba-tiba dinyatakan kanker tulang stadium akhir dan tak lama setelah ketahuan fakta ini beliau meninggal?
Kami semua tidak tahu akan hal ini. Kami baru kaget setelah semuanya terjadi.
salad

Salah menyalahkan

Mungkin ini semua berawal dari kesalahan diri sendiri.
Ujungnya salah menyalahkan.
Menyalahkan diri sendiri kenapa tidak sejak awal rajin kontrol atau konsultasi dokter.
Menyalahkan diri sendiri karena keseringan memakan apa saja yang dirasa enak padahal bisa jadi itu adalah seonggok sampah.
Tidak jarang menyalahkan tuhan karena memberi cobaan sedemikian hebat. Meski pada akhirnya kesalahan tetaplah dipikul sendiri. Sudah sakit, merasa bersalah pula.

Seperti kakak saya. Ia merasa bersalah pada dirinya sendiri. Ia selama ini tidak menyadari tanda-tanda jika ada yang tidak beres dengan dirinya. Ia sering mengeluh sakit saat datang bulan, tapi ia merasa itu wajar lebih lebih setelah tahu tidak hanya dirinya yang merasakan sakit saat datang bulan tapi juga teman-temannya. Padahal seandainya dia mau sedikit membuka diri dan konsultasi misal ke bidan atau dokter, bisa jadi hal-hal yang menyerangnya bertahun-tahun ini bisa dicarikan solusi.

Kakak saya adalah mantan atlet lari marathon. Semasa remaja ia sering mengikuti pertandingan. Banyak piagam dan medali ia koleksi. Secara kasat mata kami melihatnya bertubuh sehat karena seorang atlit. Kami tidak pernah mengira jika tubuhnya yang menggendut ternyata digelayuti 'penyakit'.
Kami sama-sama beranggapan bahwa dia gendut karena sudah enggak pernah tanding dan lebih sibuk mengurus kerjaan dan kuliah. Ternyata dibalik itu semua, lemak-lemak jahat sedang berusaha membelit tubuh kakak saya.

Seolah masuk angin Stop Minum Jamu

Sering kakak mengeluh pusing dan mual. Seperti orang yang sedang masuk angin. Jika disuruh berobat dia bilang enggak usah dan hanya memilih dikerokin atau minum obat warung. 
Saya adalah orang yang paling benci dengan obat-obatan. Setidaknya di keluarga saya. Jika dirasa kurang enak badan saya buru-buru minum banyak air putih dan makan bermacam-macam buah. Saya sungguh tidak sudi untuk minum obat.

 Beda dengan Mamak yang pusing sedikit saja langsung pergi ke bidan untuk minta obat (dan ajaibnya obatnya selalu itu itu saja meski apa pun keluhan sakitnya dan simsalabim sakit mamak langsung sembuh).
Sementara kakak lebih memilih obat warung. Yang jelas-jelas itu sangat berbahaya (setidaknya begitu yang sering saya dengar dan baca lewat media).
Bapak tidak kalah dengan kakak dan Mamak, seberapa sering saya bilang untuk stop minum jamu di warung jamu gak jelas maka sesering itu juga dia akan mengulang dan mengulang. Saya akan menolak jika disuruh membelikan jamu, dan dia justru berangkat membeli sendiri. Padahal saya menolak karena saya curiga jamu-jamuan itu tidak tersertifikasi dan kenyataannya memang demikian.

Kini setelah apa yang terjadi di hidup kakak dua tahun lalu, keluarga lebih sering berhati-hati. Tidak sembrono memperlakukan obat dan sering bertanya pada saya sebaiknya gimana. Karena saya malas berurusan dengan rumah sakit maka saya lebih sering menganjurkan agar mereka makan saja makanan bergizi dalam hal ini sayur-sayuran yang ditanam di pekarangan sendiri.
Kebetulan saya mencatat khasiat khasiat tumbuhan yang tersebar di halaman rumah yang memang sengaja ditanam untuk sayur (yang ternyata diam diam mengandung unsur penyembuh).
ciplukan

Berhenti menjadi dokter

Saya sering bilang kepada diri sendiri untuk menjaga kesehatan diri sendiri. Jangan sampai tubuh ini kemasukan obat-obat kimia. Maka hal-hal berikut sering saya terapkan.

1. Banyak minum air mineral mateng dan kurangi gula
    Apa pun dan di mana pun saya harus mengisi tubuh dengan air mineral. sesekali minum kopi atau teh demi terlihat sama dengan teman-teman, namun saya batasi kadarnya pula lebih sering tidak pakai gula. Teman-teman saya memahami jika itu pilihan saya dan mereka tidak usil (meski sebelumnya ada yang mengatai saya sebagai si miskin yang gak bisa beli gula)
mentalfloss.com

2. Sering-sering jalan kaki (kalau perlu lari lari ringan)
    Saya bukan pelari marathon, tapi setidaknya saya puas dengan didikan mamak yang sejak kecil mengajarkan saya untuk jalan kaki bahkan berpuluh kilo. Saat kecil saya suka dengan kegiatan jalan kaki. Namun ketika dewasa (saat ini) agaknya jalan kaki sangat sulit dilakukan; bukan karena malas melainkan cuaca yang kurang mendukung. Panas akan membuat tubuh malas untuk jalan. Demi mensiasati hal ini, saya akan lebih awal bangun tidur dan melakukan jalan kaki keliling dusung, sekitar lima kilo. Cukup jalan kaki di pagi buta, belum ada niatan untuk lari.
menurut sembutopia jalan kaki minimal 10 ribu langkah atau 3,5 kilo perhari

3. Banyak konsumsi sayur dari halaman
    Jika ada yang tanya berapa harga sayur mayur di pasaran, maka saya akan menggeleng sebab memang saya tidak paham. Keluarga saya jarang belanja sayur ke pasar. Pekarangan rumah yang banyak tanahnya sudah kami sulap menjadi kebun sayuran dan obat pribadi. Kami menanam sayuran apa saya yang kiranya bisa dimakan. Kami hampir jarang pergi ke warung bahkan dalam tempo berminggu-minggu. Biasanya kami ke warung demi membeli minyak, gula jawa atau garam.
    Saya lebih mencintai mamasak bahan-bahan yang berserakan di pekarangan rumah. Kelor adalah salah satu tumbuhan yang wajib ada dan selalu dimakan setiap hari. Tidak susah mengolah kelor, kadang kala cukup dengan merebusnya dengan air panas. Sebentar saja di atas api lalu dimakan. Kelor adalah makanan gizi tinggi yang tidak rewel.
berkebum, menanam tanaman organik dan dipanen sendiri

4. Tidak menyetok makanan instan di rumah
    Datanglah ke rumah saya dan lihatlah apa yang kalian temukan di dapur saya. Kalian tidak akan menemukan berbungkus bungkus mi atau kecap atau saus atau mentega atau selai atau yang lainnya. Mungkin satu-satunya yang akan kamu temui adalah motto ukuran kecil (yang mana barang ini bisa awet berbulan-bulan). Saya secara pribadi tidak suka menyetok makanan instann karena hal ini hanya akan membuat Bapak saya rewel untuk minta dimasakkan. Sementara saya paham bahwa makanan instan sangat tidak baik dikonsumsi dalam jangka waktu panjang.
     Kakak saya termasuk yang sering konsumsi mi instan, jadi saya sudah punya alarm sendiri.
     Datanglah ke rumah maka maaf jika tidak ada soda atau sarden atau naget atau apalah makanan kemasan itu. Saya tidak pernah membelinya. Jika pun ada itu pasti hasil dari oleh-oleh atau parcel.

5. Mengurangi makan nasi putih
   Nasi adalah makanan murah bagi keluarga kami. Musim apa pun nasi selalu tersedia sebab kami ini adalah keluarga petani. Mamak setiap hari masak nasi. Bapak sepanjang hidup makan nasi. Saya? makan nasi namun porsinya lebih diatur. Jika dulu bisa makan nasi sampai tiga centong, belakangan saya lebih banyak berhitung dengan sendok dan itu pun mengunyahnya lama.
   Selain nasi, keluarga saya juga rajin memasak singkong. Umbi-umbian adalah barang wajib tanam di keluarga. Kami makan umbi-umbian bukan karena paham jika itu lebih baik dari nasi melainkan karena kami ingin makan yang lain. Setidaknya itu pemahaman saya mengenai umbi-umbian jauh sebelum mengenal ilmu-ilmu kesehatan dan sembutopia.
garut bahan pengganti nasi
6. Tidak merokok dan minum alkohol
    Rokok dan alkohol adalah musuh bagi saya. Saya bisa marah-marah gak jelas jika ada orang merokok di dekat saya. Saya sering menegur orang yang tiba-tiba merokok di tempat umum. Bapak saya berhenti merokok dan merasakan hidupnya lebih enakan dengan tidak merasa sesak.
     Saya tidak mau keriput dini, jadi saya menjauhi rokok dan alkohol.
hellosehat.com


7. Tidur lebih awal dan bangun lebih dini
   Berhenti begadang dan bangun lebih pagi adalah hal yang paling simpel dilakukan oleh sebagian orang namun juga sangat susah dilakukan oleh kebanyakan orang. Padahal jika bisa tidur lebih awal dan bangun lebih pagi makan kulit dan jantung akan semakin sehat (setidaknya ini yang saya baca di banyak artikel). Bukan berapa lama tidur melainkan seberapa berkualitas tidur Anda.

8. Berhenti sok jadi dokter
   ada yang bilang jika tubuh sering mengirim sinyal/ alarm jika terjadi sesuatu (tidak enak badan). Namun tidak jarang banyak yang mengabaikan alarm tersebut. Sudah merasa mual/ pusing namun tetap diam saja dan lebih memilih pergi ke warung untuk beli obat sakit kepala. Ujungnya tidak sembuh-sembuh dan makin parah.
  Padahal jika memang sakit itu sudah dirasa tidak wajar dan susah untuk ditangani dengan makanan bergizi dan minum air mineral, maka boleh jadi ke dokter adalah solusi.

kelor

Banyak yang menyalah artikan atau istilahnya menggampangkan tanda-tanda, seperti kakak saya misalnya, muntah dikira masuk angin nyatanya bukan. Sebab kalau bukan diri sendiri yang peduli, siapa lagi. Berhenti sok jadi dokter bisa dilakukan dengan menghentikan konsumsi obat-obatan warung yang diri sediri tidak tahu komposisi dan takarannya. Lebih baik konsul ke dokter sungguhan untuk hasil maksimal.

Gaya hidup sehat  memang seharusnya dimulai dari diri sendiri. Saya tidak bisa memaksa orang lain, Anda, untuk mengikuti gaya hidup saya yang rajin makan kelor. Namun setidaknya saya sudah membagikan sedikit pengalaman saya. Saya juga banyak belajar dari SEMBUTOPIA. Semoga dengan cerita ini saya bisa ikut kampanye mari sembuhkan Indonesia dengan gaya hidup sehat   dimulai dari diri sendiri detik ini.


Love,
Gadis Anggun

Sejumput Cerita Bolu Susu Merapi Diantara Tren Jajanan Artis


Bolu Susu Merapi

Perempuan cantik itu konon seorang pengantin baru, ia tersenyum kepada saya (dan teman-teman). Duduk manis di bangku sambil memperkenalkan anak barunya: Bolu Susu Merapi, begitu beliau menamai anaknya tersebut.
Bukan anak pertama ternyata, sebab sebelum bolu susu, beliau sudah punya anak-anak bisnis yang lain.

"Kalau ditanya kenapa saya akhirnya punya usaha kue bolu, terutama bolu susu, sebenarnya alasannya terlalu personal. Saya hanya ingin orang merasakan susu namun tidak seperti orang yang sedang minum pakai gelas." begitu kata Aggia Pino si perempuan cantik yang tidak hanya suka kuliner namun juga sebagai bidan dan owner lahirnya Bolu Susu Merapi.
Saya acungi jempol untuk kenekatan Mbak Anggia Pino hadir dengan bolu susu diantara gempuran trend kue-kue artis di berbagai kota. Semakin kagum setelah tahu bahwa pemilihan kue bolu bukan pastry atau apalah sebab kue ini yang baginya dianggap pembuatannya paling gampang dan lagi tersturnya lembut.
Bolu Susu Merapi ada dua varian; vanilla dan coklat

Bolu Kue Klasik nan Asyik

Setelah sekian lama akhirnya ada kesempatan lagi untuk menulis tentang kuliner. Hmmm, aroma keju dan butiran gula di atas kompor langsung tercium di mana-mana. Saya bukanlah seorang food hunter sejati, namun percayalah bahwa saya ini adalah seorang pemakan segala.


Kemarin (iya baru kemarin banget) saya berkesempatan untuk mengicipi semacam kuliner kekinian namun enggak kekinian. What? Maksudnya?
Hemm...
Jadi gini, saya akan cerita tentang makanan, oleh-oleh, olahan atau apalah kalian menyebutnya; mungkin sama dengan judulnya; sebuah Bolu Susu.

Bolu Susu? Jadul banget ya?
Mungkin bagi sebagian orang bolu susu memang sebuah makanan jadul. Yang jika dibandingkan dengan jajanan kekinian ala-ala artis maka bolu susu enggak mendapatkan tempat prestisus. Itu mungkin bagi sebagian orang. Tapi ternyata enggak bagi saya dan keluarga. (Saya harus ambil contoh yang dekat dong ya)

Jadi ceritanya saya jajan beberapa kue-kue secara berkala, enggak terus-terusan. Bukan karena kebanyakan uang, cuma sekedar ingin tahu aja rasanya. Ingat, saya bukan orang yang sering mengikuti perkembangan zaman. Kalau suka ya hayuk kalau gak suka ya plis jangan dipaksa. Cinta saja bisa memilih jalannya kenapa makan kue harus dituntut sama, eaa

Hingga kemarin malam saya pulang membawa sekotak Bolu Susu Merapi. Sebuah jajanan kue, baru yang ada di Jogja. Pertama jatuh cinta sama kue ini karena saya paham apa itu bolu, bukan sesuatu yang baru. Pula harganya murah. 30 ribu udah dapat sekotak pakai ada kembalian pula. Maka fix saya ambil sekotak dan bawa pulang.

Saya berikan kue itu untuk Bapak dan Mamak. Bapak saya memang suka makanan apa saja, hampir sama dengan saya. Bedanya Bapak hanya tinggal makan, sementara saya sebelum makan rewel mengenai kandungan gizi dan komposisi. Sementara Mamak adalah perempuan (tipe masa lalu) yang sangat susah untuk menerima makanan-makanan kekinian.

Pengalaman dengan kue kue sebelumnya yang enggak dimakan sama Mamak, saya juga sempat was-was dengan Bolu Susu Merapi ini. Takut dan sayang aja kalau mamak sampai enggak mau juga.
Seperti biasa, saya taruh kue itu di meja sebelum berangkat tidur. Artinya makanan di situ sudah halal mau dimakan siapa saja.
penampakan Bolu Susu Merapi; cantik mudah ditenteng

Paginya saya tengok kue dalam kotak itu tinggal separuh. Bukan kerjaan Bapak tentu saja, sebab Bapak biasanya baru akan makan kalau dikasih saya atau mamak.
Begitu saya cari tahu, ternyata kue itu sudah dipotong-potong kecil sama Mamak dan dibagi-bagi (untuk dirinya dan bapak). 

Di beranda pagi hari bermandikan matahari pagi dari timur, bapak dan mamak duduk manis menyantap Bolu Susu Merapi dengan berteman segelas teh pahit.
Saya belum mandi dan mengamati kebahagian pagi tadi dengan begitu lega. Setelah sekian lama akhirnya Mamak mau juga makan jajanan (kue) ala-ala yang saya bawa.

Setahu saya, mamak itu paling enggak suka kue basah apalagi yang bertabur keju. Mblenyek, begitu selalu beliau bilang. Tapi ternyata lidah dan selera mamak bisa juga takluk oleh Bolu Susu Merapi.

Hari ini juga saya sadar, bolu adalah kue khas yang punya cerita panjang bahkan sebelum hari ini.
Bolu bukan hanya teman orang-orang kota tapi juga menjangkau rakyat-rakyat dusun sejak bertahun lampau. Tidak heran kalau mamak saya cocok dengan olahan bolu.

Bolu bukan barang baru. Bukan sebuah kue yang lahir dengan teori njelimet, namun ia lahir oleh sebuah keadaan. Begitu klasik dan penuh cerita.

Lewat secangkir teh pahit yang masih mengepulkan asap, saya tahu, bolu susu merapi telah memeluk kerinduan mamak akan kue kue yang pernah menamaninya di masa lalu.
Bolu Susu Merapi hadir sebagai bolu yang terlahir kembali.
Ia adalah bolu yang klasik namun tetap asyik. Manis dan begitu modern dengan kotak persegi.

Kelak orang (saya) akan mengerti bahwa Bolu Susu Merapi adalah salah satu alternatif oleh-oleh dari kota Yogyakarta.


empuk dan enggak eneg

Kandungan Gizi dan Vitamin Bolu Susu Merapi

Sebelum bolu susu merapi mampir di rumah dan menyentuh lidah bahkan sampai lambung keluarga, saya sudah memastikan bahwa kue itu layak konsumsi. Layak untuk dibanggakan sekaligus trendi untuk buah tangan.

Bagaimana bisa saya yakin? Sebab kemarin sebelum pulang, alhamdulilah saya bertemu dengan ownernya langsung sekaligus pakar susu yang menangani Bolu Susu Merapi.

Di awal tadi saya bilang bahwa bolu bukan sebuah resep njelimet nan membingungkan, nyatanya saya salah. Bolu memang klasik dan sejak zaman nenek moyang memang telah ada. Namun khusus Bolu Susu Merapi yang baru saja lahir, ia tidak hanya lahir karena keinginan menghadirkan pesona masa lalu sebagai alternatif pilihan jajanan masa kini, melainkan ia adalah sebuah proses panjang yang bahkan membutuhkan waktu hampir setengah tahun riset laboratorium.

Bolu Susu Merapi bukan makanan yang bisa bertahan lama, ia hanya berusia sekitar 3 hari di suhu normal dan 5 hari jika disimpan dalam kulkas. (dan hanya bertahan tidak sampai 24 jam di rumah saya, sebab semuanya doyan).

Konon semua itu karena komposisi bahannya adalah bahan-bahan alami, tanpa pengawet dan bahan kimia. Bapak Sandi Saveno selaku praktisi atau nutritions yang paham dengan dunia susu menegaskan bahwa pemilihan bahan dan susu sudah diperkirakan kompisis, takaran dan kualitasnya. Semua sudah diukur sehingga pada akhirnya bisa menciptakan sebuah kue bolu yang tidak hanya enak bergizi namun juga menjangkau kantong masyarakat.

seru-seruan bareng blogger jogja; kami tidak menjual gengsi

Sekedar Gaya atau Gengsi

Lahir di antara jajaran kue-kue artis, Bolu Susu Merapi agaknya sudah siap mental (jiwa dan raga). Sang owner, Mbak Anggia Pino sudah memperkirakan hitungan hitungan dan strategi untuk menjadi si anak tidak hanya makanan semata namun juga sebuah icon baru bagi dunia oleh-oleh (khususnya kuliner) Yogyakarta.

Terinspirasi oleh keagungan Merapi yang tersohor tidak hanya di Jawa namun juga seanteri negeri bahkan manca, di mana di kawasan ini banyak peternakan penghasil susu berkualitas, Bolus Susu Merapi lahir dengan spirit berbagi dengan hati.
Harapannya bolu ini bisa mengjangkau segala lapisan masyarakat.

Sang pemilik berharap kehadiran bisnis barunya bisa sebagai salah satu ajang untuk berbagi cita rasa dengan masyarakat. Maka pada akhirnya muncul angka dua puluh delapan ribu rupiah untuk satu kotak Bolu Susu Merapi.

"Saya tinggal dan asli dari Jogja. Saya tahu kalau orang-orang yang tinggal di sini snagat senang dengan harga-harga terjangkau. Maka saya juga berpikir kenapa enggak untuk membuat kue yang harganya murah namun lengkap dengan gizi dan nutrisi? Dan berkat bantuan Mas Sandi sebagai patner akhirnya Bolu Susu Merapi ini ada."
Tidak sama persis namun begitu kiranya yang Mbak Anggia Pino sampaikan kepada saya (dan teman-teman) saat kemarin berkunjung untuk mencicip bolu susu merapi.

Kok saya langsung seneng dengan konsep yang diusung sang owner. Murah bergizi dan penuh makna; berbagi dengan hati.

alternatif oleh-oleh

Rp 28.000,00 menurut saya bukan harga mahal. Lagian kemasan cukup elok. Ora ngisin-ngisini kalau dipakai buat oleh-oleh ke saudara atau rekan, begitu kalau orang jawa bilang.
Saya tidak masalah menenteng bolu susu seharga itu untuk hadiah ke teman. Tidak ada gengsi toh belinya pakai uang sendiri (bukan hasil nyolong). Saya bukan penganut gaya kekinian yang apa-apa diukur dengan rupiah.
Bolu Susu Merapi menarik untuk saya yang suka hal-hal klasik dan tidak terlalu menuntut gaya modern.

Sampai hari ini saya masih kepikiran dengan Mbak Anggia yang menawarkan kerjasama bagi siapa saja yang ingin ikut memperdagangkan bolu susu merapi. Karena bolu ini tidak berafiliasi dengan merk dagang lain. Bolu Susu Merapi 'hanyalah' sebuah UMKM yang mencoba merangkak mengjadi raksasa yang bisa diperhitungkan.

Jika ke Yogyakarta, sempatkan untuk menikmati Bolu Susu Merapi dengan lidah sendiri, sebab lidah saya belum tentu sesuai dengan lidah kamu. 

Untuk info lanjut mengenai Bolu Susu Merapi, kamu bisa merapat ke
Facebook : Bolu Merapi
instagram : @BoluMerapi
email : bolumerapi@gmail.com
bisa juga kontak di 08112744499

Oh iya ada penawaran khusus untuk besok Minggu, 6 Mei 2018; beli dua cukup bakar satu. Alias 2 kotak hanya Rp 28.000,-
Khusus Minggu pas Grand Launching di Atrium Lippo Plaza Yogyakarta 

Jangan banyak percaya dengan kata orang lain, buktikan saja sendiri.
Saya mungkin saja mencintai aroma gula tercium api, namun kamu belum tentu. Begitu pun, kamu mungkin mencintai harga-harga murah, temenmu belum tentu sepakat.
Namun kita sama-sama sepakat kalau makanan itu hendaknya lezat, bergizi dan mudah didapat.

mbak anggia pino dan mas sandi

BSI Gelar Seminar Nasional Cegah Black Campaign


BSI Gelar Seminar IT, Ethics, Regulation and Cyber Law V

 Seminar IT, Ethics, Regulation and Cyber Law V

"Hallo, jumpa lagi kita."
Agaknya kalimat di atas cocok banget saya mengawali kisah saya bertemu, kenalan dan dekat dengan BSI (Bina Sarana Informatika).
Sebenarnya memang sudah lama tahu ada kampus ini, namun baru mereka dekat sekitar, ya mungkin 4 tahun. Kedekatan itu bukan karena saya pegawai, dosen, mahasiswa atau alumni (atau mantan gebetan saya) di BSI. Bukan itu. Saya merasa dekat dengan BSI karena lembaga pendidikan ini sering sekali mengundang dan memberi kesempatan kepada (saya) blogger untuk ikut terlibat aktif dalam acara seminar yang mereka agendakan setiap tahunnya.

Saya bahkan sampai hafal siapa-siapa petinggi yang selalu memberi sambutan dalam acara tersebut. Jangankan wajah pentingginya, susunan acara pun saya sudah paham dengan jelas. Beruntung tema dan pengisi acaranya selalu ganti tiap tahu. Ehe...

Seminar tahunan BSI itu bernama "Seminar IT, Ethics, Regulation and Cyber Law". Tahun ini (2018) adalah tahun kelima seminar itu diadakan. Saya secara pribadi sudah ikut sekitar 4 atau 3 kali. Tapi belum pernah sekali pun acaranya digelar di kampus, melainkan di hotel-hotel. Saya rasa ini bentuk kerjasama pihak kampus dengan hotel sebab di BSI juga ada jurusan pariwisata.
Acara kali ini diadakan tanggal 25 April 2018 di Grand Serela Hotel Yogyakarta.

Media Sosial, Pemberantasan Korupsi, Cegah Kampanye Hitam

Di seminar kelima kali ini tema yang diangkat adalah "Kekuatan Media Sosial Dalam Pemberantasan Korupsi dan Cegah Black Campaign Jelang Pemilu". Sebuah tema yang sangat relevan dengan kehidupan di Indonesia belakangan ini.

Sebagai pengguna media sosial aktif, netizen, Duta Damai sekaligus Duta Internet Baik maka tema yang disajikan kali ini cukup menarik. Pula sedang marak beberapa kegiatan yang memang meresahkan jelang pemilu kali ini.
perwakilan Polda DIY
Gaya pemilu zaman now seolah mengikuti zaman. Sangat jauh beda dengan zaman dulu. Begitu pun persaingan yang ada. Perpecahan umat seolah bisa terjadi kapan saja (bahkan menjerumus ke situ) hanya karena perbedaan politik. Sungguh ini sangat mengerikan.
Maka alangkah baiknya memang jika masyarakat khususnya generasi penerus terus diedukasi tentang nilai penting sebuah persatuan dan kesatuan. Perbedaan memang pastilah ada. Cukup cara pandangnya saja yang harus lebih arif.

Selain situasi jelang pemilu yang meresahkan, saat ini kita juga tidak hentinya disuguhi aneka pemandangan memuakkan dari para koruptor.
Babang Ganteng Zumi Zola yang kaya raya itu ternyata juga tidak bisa mengelak jika memang dia seorang koruptor.
Seperti penyakit menular, korupsi seolah menjalar dari satu ke yang lain. Siapa saja bisa terjangkit dengan hal ini.
Lagi-lagi sebagai pemuda zaman now yang terus berkembang, kita (saya) harus bisa membentengi diri dari hal-hal memuakkan tersebut.
Ir. Naba Aji Noloseputro M. Kom

Seperti yang disampaikan Bapak Ir. Naba Aji Noloseputro M. Kom selaku Direktur BSI, "Masalah korupsi yang paling penting dan utama bukan perkara operasi tangkap tangan melainkan balik lagi pencegahannya. Butuh komitmen kuat dari berbagai bidang termasuk anak bangsa (mahasiswa/i). Mulai dari pemberantasan ketidak jujuran dan peniadaan budaya menyontek."

Narasumber Kompeten Dalam Bidangnya

Dr. H. Abdullah Hehamahua

Acara seminar kali ini juga disertai bedah buku dari mantan penasehat KPK. Ceile KPK aja punya mantan dan penasehat.  
Judul bukunya adalah Jihad Memberantas Korupsi karya Bapak Dr. H. Abdullah Hehamahua (Mantan penasehat KPK). Ini adalah bedah buku kedua setelah sebelumnya pernah dibedah di Bandung.

Dr. Moch. Wahyudi
Seperti tahun sebelumnya, moderator acara tetang dipegang oleh Dr. Moch. Wahyudi, MM., M.Kom, M.Pd, CEH., CHFI. Selain gelarnya yang sering saya lupakan, ternyata saya juga kurang hafal wajah beliau meski sudah beberapa kali jumpa. Buktinya di lift saya enggak sadar diajak ngobrol dengan beliau.

Dr. Indra C. Uno

Ada juga Bapak Dr. Indra C. Uno selaku Ketua Umum Forum Akademisi Indonesia. Bapak Indra ini baru bagi saya. Pula saya kira baru kali ini saya mengikuti acara yang dilaksanakan bekerjasama dengan FAI (Forum Akademsi Indonesia). Meski terbilang orang baru bagi saya namun ternyata tidak bagi orang lain. Sebab bapak Indra ini merupakan kakak dari wakil gubernur Jakarta hari ini. Pantas nama belakang mereka sama.

Turut hadir pula Bapak Sudiman Said, MBA. selaku menteri ESDM periode 2014-2016 yang juga sebagai aktivis anti korupsi. Beliau hadir sebagai narasumber untuk memberi edukasi kepada peserta, bukan kampanye.

Waktu adalah Cinta

Perjalanan yang harus saya tempuh untuk sampai lokasi acara sekitar 1,5 jam. Acara dimulai pukul 08.00 pagi. Saya mruput agar tidak terlambat, pula demi menghormati pengundang. Saya menyukai hal-hal yang tepat waktu, sebab waktu itu adalah cinta yang sangat sayang untuk dihambur-hamburkan.

Beruntung jalan tidak terlalu macet dan saya datang tepat waktu; tepat sebelum acara dimulai. Setelah duduk sekitar lima menit, para narasumber dan pejabat BSI pula tamu VIP akhirnya masuk ruangan dan acara segera dimulai. Seperti tahun yang sudah-sudah, tari-tarian selamat datang menjadi pembuka yang menarik.



Love,
GadisAnggun

Launching dan Perkenalan Lacoco Skincare

Jogja Blog Girls

Lacoco Brand Lokal

Saya selalu semangat setiap ada undangan berbau dunia 'perempuan, kecantikan, kesehatan, buku'. Maka begitu kemarin saya mendapat undangan untuk join ke acara launching sebuah produk skincare baru, saya langsung antusias untuk mengiyakan hadir.

Saya janjian dengan teman teman Blogger lainnya untuk langsung ketemu di tempat acara; yang kali ini ada di ballroom Eastparc hotel.
OOTD

Saya datang sedikit lebih awal di banding yang lain, namun ternyata di lokasi acara saya lihat banyak banget orang. Saya sempat bertanya dalam hati: hmmm bener gak sih di sini tempatnya?

Tanya saya terjawab setelah acara dibuka oleh Kakak MC kondang sejagat raya; Kakak Tio.
Oalah ternyata undangan Minggu (15/4) itu bukan hanya untuk beautyinfluencer atau beauty blogger saja, tapi juga untuk member dan distributor Lococo.

Sarah Ayu dan dr. Boy


Okey, semakin banyak kenalan deh.

Acaranya cukup seru dan banyak hal baru yang menarik untuk dibahas.
Apalagi bintang tamunya kece badai. Pertama si cantik SarahAyu idola para penghamba makeup, kedua dr. Boy Abidin idola para pemirsa setia dokter OZ Indonesia.

PT. Natural Nusantara

Lacoco Peduli Konservasi Alam dan Hewan


Untuk Lacoco saya baru tahu brand ini. Dan memang ternyata ini brand lokal Indonesia yang berada di bawah PT. Natural Nusantara. 

Lacoco merupakan produk skincare ramah lingkungan. Tidak menggunakan uji coba dengan hewan. Menurut Direktur PT. Natural Nusantara kehadiran Lacoco juga merupakan salah satu cara peduli dengan konservasi alam dan hewan.

Produknya terbuat dari bahan alami yang mempunyai khasiat untuk kesehatan kulit.
Produknya banyak macam, tidak hanya untuk kulit wajah namun juga kulit area Miss V perempuan.

Lacoco untuk perlindungan kulit wanita
Ini pertama kalinya saya jumpa dengan Dokter Boy. Pemaparan beliau sangat menarik dan penting bagi saya (perempuan).

Suasana Launching



ZenPower Slim 6000 Teman Perjalanan Anti Berisik

ZenPower Slim 6000 teman yang gak berisik


ASUS ZenPower Slim 6000

Saya termasuk orang yang tidak begitu memerhatikan perkembangan dunia teknologi. Semua karena banyak faktor; salah satunya adalah sedikit tidak nau repot untuk selalu ingin tahu. Kemajuan teknoligi emang sangat penting tapi tidak lantasmembuat saya memuja dan harus memiliki sesuatu yang sedang trend di pasaran.

Sebagai contoh, kawan-kawan saya ribet membandingkan ponsel mana yang sebaiknya dibeli demi sebuah strata gengsi. Konon semakin baru gadget di tangan maka akan semakin tinggi drajat orang yang memegangnya.

Emberan kalau bagi saya. Toh bagi saya yang utama dan sangat penting adalah fungsi dan kebutuhan.
Seperti kemarin ketika teman-teman ribet memberi usulan powerbank apa yang sebaiknya saya beli. Saya memang sedang mencari powerbank, dan sedikit malas untuk cari tahu di google tentang reviewnya, jadilan saya minta temen untuk memberi rekomendasi. Dan pilihan jatuh kepada Asus Zen Power Slim 6000.


Ini bukan pertama kali saya memakai produk Asus. Sebelumnya pernah pengalaman.
Karena sudah mantep dengan Asus Zen Power Slim 6000 maka barulah saya googling tentang dia. Istilahnya kenalan sebelum meminang.

Berdasar dari kepoan nebeng wifi perpustakaan, saya bisa kasih sedikit bocoran bahwa Asus Zen Power Slim 6000 powerbank keluaran Asus yang mempunyai desain ringan dan sangat ramping dengan daya baterai 6000 mAh. Bentuknya yang munggil dan kapasitas penyimpanan daya yang mumpuni membuat saya jatuh cinta dan ingin buru-buru melamarnya. Konon beratnya hanya sekitar 170g (belum membuktikannya dengan timbangan tapi emang saat ditenteng ringan banget kok, setara sama ponsel pintar saya).

Perempuan Now dan Gadget

Sebuah pertanyaan mucul sebelum saya membeli powerbank, yaitu: buat apa powerbank segala Min?
Agaknya saya harus cerita panjang tapi untuk sementara saya singkat saja deh, capek nulisnya.
Jadi gini: sebagai Gadis Anggun penikmat waktu sepanjang hari, saya lebih sering meninggalkan ponsel dan tidak jarang kelabakan jika harus pergi mendadak padahal posisi batre ponsel benar-benar telah kosong. Maka tidak ada daya dan upaya lain selain mengisinya dengan daya. Tapi akan sangat lucu dan menyita waktu banyak jika saya harus menunggu batre ponsel sampai penuh, maka cara aman adalah menancapkannya dengan powerbank, sambil jalan sambil ngecharger,

Beruntungnya ZenPower Slim 6000 ini sangat cepat dalam memberi kekuatan pada ponsel saya. Dicolokkan sedikit waktu saja, daya di ponsel sudah membaik dan berfungsi sebagai mana mestinya.

Mungkin sebagai perempuan masa kini saya termasuk makhluk ceroboh yang sampai hati membiarkan ponsel sekarat. Iya boleh dibilang seperti itu. Tapi kadang kala memang kekuatan batrai ponsel tidak bisa diprediksi; khasus ini sering saya alami jika sedang bepergian. Maka kehadiran ZenPower Slim 6000 sangatlah membantu agar saya selalu tetap terhubung dengan kapasitas batrai memenuhi.

Penting Gak Penting ZenPower Slim 6000

Saya berpikir lama mengenai penting gak pentingnya melengkapi diri dengan powerbank, hingga akhirnya berkesimpulan perlu banget. Terutama dengan powerbank yang ringan, tahan banting dan enggak rewel.

Meski tidak banyak followers saya, namun sebagian dari mereka sering ingin bercakap cukup panjang di segala waktu. Sementara kendala saya adalah lebih sering menghabiskan waktu di jalan (ye di jalan, benar-benar di jalan). Jadi saya berpikir gimana caranya agar saya selalu bisa terhubung meski jauh dari colokan.
Iya kalau ponsel lowbet di rumah enak aja tinggal nyolok dan masalah kelar. Jika dalam bus atau motor, mau nyolok kemana kalau bukan ke powerbank?


foto pandebaik.com

Gaya dan Kebutuhan

Agaknya sudah tepat pilihan saya jatuh kepada Asus ZenPower Slim 6000. Iya memang ada varian zen power; misal zen power pro dan zen power ultra. Sementara Zen Power Slim sendiri ada yang 3000 dan 6000 mAh (dan pilihan jatuh kepada Zen Power Slim 6000 warna pink). Kata temen itu bukan pink tapi saya ngotot pink, terserah ajalah yang penting tampilannya cantik, enggak norak. Efisien karena bentuknya slim dan gak berat jadi bisa nyempil di mana-mana bahkan saku (untuk satu ini saya tidak pernah melakukannya, alias saku selalu terbebasdari aneka tekno).

berikut alasan lain kenapa jatuh cinta dan meminang ZenPower Slim 6000

1. Karena desainnya cantik dan efisien (sudah tidak perlu dibahas lagi)

2. Kapasitas daya yang besar sehingga enggak bikin worry untuk diajak jalan-jalan lama

3. Harga yang lumayan ramah kantong untuk ukuran daya yang sebegitu berharganya. Yaitu kisaran 230 ribu rupiah. cukup terjangkaulah.

4. Dilengkapi fitur smart safe charging.
Itu lho powerbank ini bakalan nyala (berfungsi) kalau udah ditekan powernya dan bakalan berhenti ngecharger secara otomatis jika ponsel atau gadget kita sudah terisi daya full. Ini penting banget untuk menjaga kewarasan batrai.

5. Semacam dilengkapi fitur pendingin.
Apa lagi ini? Enggak paham istilahnya apa because saya enggak pernah ribet ngurusin istilah---pokoknya intinya itu si powerbank ini punya lapisan metalik yang enggak akan membuat tubuhnya panas dan justru lapisan tubuhnya bisa mendinginkan ponsel yang diletakkan di tubuhnya. Fulti fungsi banget deh.

6. Cepat banget ngisi dayanya dan dia juga cepat untuk diisi daya. Jadi bisa menyingkat waktu.

7. Aman dibawa dalam kabin pesawat. Enggak perlu worry deh dengan kabar yang bilang powerbank meledak di pesawat.

Penting sih itu semua bagi saya mengingat sering dengar kejadian kalau banyak powerbank hadir justru merusak kualitas ponsel. Kan kesel.

foto mirwans.com

Omong-omong saya baru sekitar seminggun pakai powerbank ini, nanti jika ada kesempatan saya cerita lagi deh. Jangan harap kamu mendapatkan review yang ndakik-ndakik, because saya bukan reviewer sejati melainkan si penikmat waktu yang sesekali bercerita panjang tentang hal-hal yang dialaminya. Semoga kamu enggak bosan.
Misal kamu mau beli powerbank, boleh kok coba ZenPower Slim 6000 biar ngerasain apa yang saya rasain juga. Jadi enggak kena tipu-tipu atau katanya katanya doang.


Temanku Netizen Tapi Temenku Bukan Blogger

Tentang Jodoh yang Kau Tunggu di Halte

“Menunggu jodoh itu serupa nunggu bus di halte.”
“Iya tahu, maksudnya telat sedikit maka bablas sudah kesempatan buat menaikinya.”
“Bukan hanya itu. Kita juga harus tahu tujuan kita ke mana? Nomer berapa bus yang mau kita naiki?”
“Harus segitunya, ya?”
“Kalau enggak detail kita bisa tersesat. Tidak sampai tujuan. Bisa juga berakhir tanpa akhir.”
 
kenali orang di dekatmu, siapa tahu dia jodoh masa depanmu
Bukan iklan tapi percakapan itu saya kembangkan dari obrolan Mas Ditto dan Ayu dalam film Teman Tapi Menikah yang semalam baru saya tonton. Sekali lagi saya tidak sedang iklan pula bukan mau ngadain review film. Wong saya juga enggak dibayar. Kalau pada akhirnya saya pinjam satu dua dialog, ya karena memang itu juga dialog sehari-hari saya.
Pula dialog itu relefan dengan tingkah netizen zaman now.

Keajaiban Kata Kata

Terlepas dari itu dialog film atau dialog sehari-hari, kira-kira seperti itulah kekuatan sebuah kata-kata. Entah itu kata-kata yang lahir dari bibir (manismu) mau pun dari goresan tinta (emasmu)

Kata-kata adalah senjata. Kau akan dengan mudah mempengaruhi orang lain hanya dengan sebaris kata yang berdiri kokoh laksana serdadu, kau pun bisa dengan mudah menghancurkan seseorang hanya dari barisan kata-kata yang bagai paku kau tancapkan pada selembar papan. Paku bisa kau cabut namun bekas (lubang) di papan akan terus tampak abadi.

memanfaatkan media sosial, Literasi Digital

Sebagai blogger hits juga penulis novel fenomenal agaknya saya punya keinginan membuat seminar dengan tajuk “Keajaiban Kata-kata” atau mengingat netizen Indonesia adalah makhluk komentator paling selo, saya jadi kepikiran membuat seminar ‘Cara Mudah Membuat Komentar Agar Terlihat Intelek’. Ide terakhir baru kepikiran tadi saat saya hendak solat duhur.

Kalau ditanya kenapa ingin membuat seminar 'cara mudah membuat komentar agar terlihat intelek' sebab belakangan ini saya sering mual alias mblenger (silakan cari sendiri padanan katanya) dengan komentar-komentar di sosial media yang seringnya tidak nyambung antara pokok bahasan dengan cuitan komentator.

Sebagai blogger (cerdas) sering saya menilai kepribadian seseorang dari komentar yang ia tulis. Masalahnya saya kadang ingin pingsan (di bahu paspampres) ketika sedang selo dan menelusuri akun sang komentator; bagaimana tidak mau pingsan, itu komentator tercatat sebagai mahasiswa di sebuah kampus elite di luar negeri namun komentar dia sungguh jauh dari bayangan. *ujungnya saya malah ngegibah*

Kalau boleh meminjam judul sinetron maka bolehlah ditulis "temanku netizen tapi temenku bukan blogger, dia tidak menulis blog tapi hanya nulis komentar (tanpa memberi solusi dan hanya berakhir sebagai caci maki).

Media Sosial Terlalu Riuh

“Sampai kapan pun kita tidak akan pernah bisa menghindari kemajuan zaman. Namun bukan berarti kita tidak bisa membetengi diri. Kalau sosial media begitu panas, kenapa enggak kita memilih jalur menjadi es? Bukankah berbeda itu unik.” Kalimat ini saya lahirkan dan saya gunakan sebagai mantra untuk membetengi diri sendiri.
Tim Komunikasi Presiden dari #SudutIstana

Hampir satu dekade saya akrab dengan internet. Meski begitu saya masih sangat ‘gaptek’ dalam mengambil manfaat. Hal ini bisa terjadi karena; saya kadang malas belajar, alasan yang lain karena saya sering masa bodoh dengan urusan orang lain.

Tidak peduli bukan berarti tidak tahu. Cuek berarti tidak memantau.
Apa sih kasus heboh di negeri tercinta ini yang netizen enggak tahu?
Lantas, apa sih kasus yang tidak dikomentari oleh netizen?

Dari Plagiat Sampai Hoax

Sebagai pengguna sosial media aktif (iya saya memakai sosial media sebab saya artisan—plis bedakan artisan dan selebriti, jika ngaku netizen cerdas harus cari tahu bedanya sebelum komentar—dan artisan butuh ngebranding diri.

Lantas pertanyaannya, emang seberapa penting sebuah pengakuan dari orang lain?
Percaya boleh tidak juga saya tidak akan marah, pengakuan dari orang lain adalah sesuatu yang didambakan semua orang. 
Bayangkan jika engkau seorang murid namun kepala sekolahmu tidak mengakui kamu sebagai muridnya? Bayangkan jika engkau seorang kekasih namun orang yang kamu anggap kekasih tidak pernah mengenalkanmu sebagai kekasihnya di depan teman-temannya? Bayangkan engkau seorang ibu namun anakmu akan menghindarimu jika berpapasan di depan teman-temannya? Bayangkan.... *banyak banget bayangannya*

Saya rasa pengandaian itu cukup untuk memberikan penekanan bahwa kita butuh sebuah pengakuan. Ya meski pembandingan yang saya pakai enggak relefan setidaknya bisa jadi gambaran.

Tempo hari kita dengar desas-desus tentang penyebaran berita kontroversi, isu-isu politik yang tidak jelas sumbernya namun condong menghakimi dan mengunggulkan yang lain, artikel yang muncul bagai jamur (kulit) di segala musim, tipu-tipu, tak sesuai antara judul dan isi. Berita macam ini lahir dan terus tumbuh bahkan semakin raksasa.

Masalahnya tidak sedikit orang yang (tidak sengaja) menjerumuskan diri menjadi aktor Plagiat atau peyebar hoax demi bisa dikenal orang lain.

Teman dekat saya bahkan baru saja dibully netizen sejagad raya lantaran ketahuan memplagiat lebih dari satu cerpen. 

Banyak juga orang yang ingin mendapat pengakuan maka dia komentar sana sini meski komentarnya kadang kala lebih menjerumus sebagai caci maki dibanding komentar bersolusi.

Menuju Indonesia Maju

Sebagai netizen cerdas, sekali lagi kita bisa memilih; mau jadi aktor penyebar kepalsuan atau orang yang berdiri di atas kreativitas sendiri.
Saya pribadi bukan orang yang sangat keren tapi saya selalu mengakui diri saya keren. Kenapa? Sebab jika bukan dari saya sendiri dari mana orang lain akan mengenal saya? Jika saya setiap hari berlaku murung, maka orang lain aku melabeli diri saya dengan si pemurung.

Sama dengan negeri ini, kalau bukan kita yang mengibarkan kehebatannya, maka siapa lagi? Kenapa tidak mulai hari ini (detik ini) kita mulai mengirimkan sinyal positif meski hanya sebaris kabar gembira?
ayo Menuju Indonesia Maju

Kabar gembira untukmu

Sebelum saya akhiri postingan (tidak) penting ini, saya mau kasih kabar bahagia bahwa hari ini saya akhirnya bertemu dengan #TimKomunikasiPresiden yang biasanya ngantor di #sudutIstana. Banyak info baru yang saya dapatkan dan semoga tidak lama lagi saya bisa bagi-bagi untukmu (pembaca).

Penting acara yang saya ikuti hari ini Gratis dan semua terlaksana berkat kerjasama Dinas Kominfo DIY dan Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik.


"Menunggu jodoh itu serupa nunggu bus di halte," kata Mas Ditto.
"Tapi Mas, sudah bertahun-tahun aku berhenti nongkrong di halte. Sekarang aku nongkrongnya di bandara. Gimana dong? Masihkan aku akan ketemu jodoh dalam waktu singkat?" protes Miss Mini.
"Kamu adalah apa yang kamu pikirkan."
Kamu adalah apa yang kamu pikirkan (dan postingkan)

jangan lupakan BAIK; bertanggung jawab, aman, inspiratif, kreatif