Mencicipi Pizza dari Olahan Nasi

Unlock Coffeeshop

Jujur saya sangat minim refrensi tempat ngumpul asyik. Okey, saya mengaku, saya bukan orang gaul yang rajin-rajin ngafe, jalan sana sini, nongkrong dari sore sampai malam atau malam ke pagi. Saya hanya perempuan biasa yang berharap bisa memindahkan bulan ke dalam botol kaca. #tsah
Nah karena minimnya pengalaman tersebut maka setiap ditanya dimana tempat buat ketemuan atau kumpul, saya mentok menjawab perpustakaan, toko buku dan kedai kopi. Untuk satu dua tiga kali pertemuan tidak apa-apa, namun kalau sering-sering ternyata menjemukan juga. Banyak temen yang minta pindah tempat, utamanya mereka yang dari luar kota atau mereka yang tidak begitu suka buku namun saya paksa ketemu di perpustakaan.
Kalau ke kedai kopi maka yang terjadi hanyalah itu-itu saja, pesan kopi dan cemilan yang seadanya lalu ngobrol lalu usai. Biasa tidak berkesan. Mentok lihat barista sedang mengolah kopi.
Karena saya orangnya kadang bosenan dan ingin menjajal hal baru meski ngakunya bukan orang gaul, saya kegirangan dan langsung meng-iya-kan ajakan temen-temen Kompasiana untuk kumpul di Unlock Coffeeshop. Saya sudah iya-iya aja padahal belum tahu alamat Unlock itu di mana. Jangankan alamat, dengar nama coffeeshop satu itu aja baru baru ini.


Kedai Kopi

Coffeeshop tempat kumpul dan bermain
Di Jalan Palangan Tentara Pelajar (utara hotel Alana) Unlock coffeeshop berdiri. Bangunannya menjulang karena ternyata ada beberapa lantai yang ternyata lantai atasnya merupakan ruang bermain, escape room. Saya sudah kegirangan aja merasa ingin diajak main di sana namun ternyata tidak. Ya sudahlah yang penting makan.
Pertama kali masuk Unlock Coffeeshop yang saya temui adalah keramahan mbak-mbak kasir yang membukakan pintu. Lalu ruangan kafe yang modern dan fotoable banget. Saya meyakinkan diri bakal betah lama-lama di tempat ini dengan suasana nyaman dan penuh dengan aroma kopi. Saya yakin seandainya saya datang dengan teman-teman dari luar kota, mereka juga akan setuju kalau tempat ini memang nyaman untuk berkumpul dan diskusi (diskusi apa saja).
Di sofa sudah ada manager kafe dan beberapa teman yang datang lebih awal. Saya disambut lagi dengan senyum dan jabat tangan hangat. Inilah yang saya sukai dari sebuah pelayanan restoran/ kafe, disambut dengan hangat.
Selain sofa, lukisan dan meja yang cantik, mata saya juga disuguhi aneka buku-buku, mainan yang bisa dimainkan dan jajaran biji kopi yang dipajang dalam plastik-plastik.
“Sambil menunggu pesanan pengunjung bisa baca buku atau memainkan mainan yang sudah kami sediakan. Unlock punya tagline lets eat, play and drink. Makan bermain dan minum semua bisa dilakukan di sini,” kata Om Andhika yang menemani saya melihat-lihat aneka kopi yang sengaja dipamerkan.
“Biar semakin seru dan betah di sini.”
Saya tergelak dengan ucapan beliau. Betapa tahu banget kalau pengunjung memang butuh permainan (selain makan dan minum).
Saat yang lain asyik foto dan melihat aneka kegiatan di meja barista, saya lebih memilih menyingkir ke kasir dan bertanya hal-hal remeh kepada mbak-mbak yang ramah.
“Kak misal mau booking tempat ini untuk pesta bisa?” saya sok-sokan mau ulangtahun gitu ceritanya.
“Iya, bisa banget. Kami bisa dipakai untuk acara ulang tahun dan lain-lain.”
“Berapa kapasitasnya, Kak?”
“Sekitar 30 sampai 50 orang.”
Dalam hati saya membatin, wah lumayan kalau pesta ulangtahun di tempat ini bisa ngundang tetangga satu RT. Ya kan sekali-kali ngajakin tetangga main ke kafe yang nggak hanya jualan kopi doang kan bisa.
“Kak ini bisa delivery order?”
“Bisa dengan go-jek.” (wah si mbaknya nyebut merk lain)
Setelah ngobrol tidak terlalu penting itu saya kembali ke sofa menatap aneka makanan dan minuman yang tersaji. Saya agak-agak bingung dengan makanan yang terhidang. Bingung karenan banyak dan enggak mudeng itu jenis makanan apa. Bentuknya memukau, sepertinya mengenyangkan namun terasa asing.


Rice Pizza, Spagheti Aglio Olio dan tradisi kembulan
Saya manggut-manggut ketika mendapat pengantar tentang makanan apa yang akan masuk ke dalam perut. Ternyata yang rada aneh dalam wajan dan menarik perhatian saya sejak tadi adalah pizza. Lebih tepatnya rice pizza. Nasi? Iya beneran nasi dan ini subhanallah membuat saya kenyang setelah nambah beberapa potong soalnya enak banget.
Saya bukan pecinta pizza ingat itu, namun saya suka-suka aja pas tahu ada pizza dari nasi. Enak gilak.
Ketika saya tanya kenapa nasi, pizza nasi, terjawablah bahwa ide rice pizza ini awalnya hadir untuk memenuhi selera orang-orang Yogyakarta yang konon belum kenyang jika belum bertemu nasi. Mau makan kentang atau roti satu truk jika belum ketemu nasi ya belum kenyang. Sama bener dengan perut saya. Karena Unlock mengusung gaya western maka dibuatlah si nasi itu menjadi kebarat-baratan yaitu berubah wujud yang biasanya nasi goreng menjadi pizza. This is lezatoooo. Saya mau lagi dan lagi.
Selain pizza nasi aan juga spagheti dengan bumbu sambal matah. Sama dengan pizza, saya juga tidak terlalu doyang spagheti, bumbunya harus yang unik biar doyan. Spagheti aglio yang sering saya makan tidak pernah dengan bumbu sambal matah jadi pas di Unlock dicobain dengan sambal matah duh saya jadi ingat ibu hamil teman saya yang ngidam makanan pedas. Ini pedasnya nendang banget. Saya karena tidak terlalu doyan pedas hanya mencicip beberapa sendok. Sebagai gantinya saya lebih memilih menguasai rice pizza sama baked potato.
Dua menu itu (rice pizza dan spagheti sambal matah) yang membuat Unlock coffeeshop beda dengan coffeeshop lainnya dan layak untuk dikunjungi. Karena jarang-jarang ada coffeeshop yang juga menyediakan menu makanan berat. Kebanyakan kedai kopi ya hanya menyediakan olahan kopi dan kue kue atau cemilan yang sudah sangat kita kenal dan sering cicipi.
Oh iya, usahakan kalau main ke Unlock Coffeeshop jangan sendirian. Karena ternyata bareng-bareng lebih enak, bisa milih menu dengan sistem kembulan. Makan rame-rame di atas daun pisang. Persis seperti makanan anak-anak di pesantren atau asrama.
Ini konsep yang lagi happening banget belakangan ini. Saya suka dengan konsep seperti ini, jadi berasa banget kekeluargaan dan kekompakannya. Juga bisa semakin ngerti satu dan lain, misal enggak doyan apa atau paling seneng apa. Lebih menyenangkan lagi menu kembulan ini bisa dipesan sesuai permintaan.
Enggak apa-apa kalau datang bersepuluh namun cuma pesen untuk delapan orang. Hebat kan, kan, kan.
Anak kekinian harusnya nyoba yang ginian. Habis makan bareng-bareng lalu main WW.


Kopi-kopi Unlock Coffeeshop
Namanya juga coffeeshop ya pasti wajib ada kopi dong. yang beda dari coffeeshop lainnya, di sini kita akan berjumpa dengan kopi-kopi terbaik dari Temanggung. Hanya kopi terbaik dan asli Temanggung. Untuk sementara kalau mau cari kopi dari daerah lain, ya maaf banget di sini tidak menyediakan.

Ada alasan kenapa hanya menyediakan kopi Temanggung, yaitu untuk memilih kopi unggulan. Pihak Unlock  turun tangan sendiri dari mulai pemetikan biji kopi, pemilihan biji kopi terbaik, pengeringan, hingga roasting. Jadi kopi yang dipilih benar-benar kopi terbaik dari kumpulan yang baik.
“Kami sengaja melakukannya karena menginginkan kopi yang benar-benar kopi. Tidak sembarangan kopi. Bahkan untuk kopi luwak, kami mengambil yang ada di alam liar bukan luwak yang ada di penangkaran. Kami punya petani kopi sendiri yang sudah bekerjasama sejak lama. Kebetulan Bos dari Unlock sering melakukan perjalanan jadi lewat perjalanan itulah konsep kopi ini tercipta.”
Penjelasan dari mas-masnya cukup membuat saya yakin dan tersentuh.
Saya baru tahu juga kalau ternyata kopi-kopi yang ada di sini jenis kopi arabika. Sebutan arabika ini biasanya ditujukan untuk kopi-kopi yang ditanam di atas ketinggian........ Ya bayangin aja gimana lelahnya untuk mencapai tempat itu dan betapa sejuknya berada di ketinggian demikian. So, so, so deh untuk kopinya, saya suka. Tingkat keasaman seperti biasa bisa direquest ke mas-mas barista.

Tinggal sendiri

Saya masih duduk di sofa hampir sejam setelah teman-teman balik. Pelayan ramah menemani saya bercakap-cakap. Aura-aura Unlock memang sayang untuk dinikmati hanya sejenak, butuh waktu lama dan usahakan bareng-bareng biar enggak berasa jadi orang galau yang kebingungan makan pizza nasi.

Bernard Batubara Curhat Cinta dan Mantan



Luka Dalam Bara

Perkenalan saya dengan Bara sudah terjadi jauh hari sebelum Luka Dalam Bara terbit. Bukan sebuah info penting sih, cuma mau bilang aja kalau sudah kenal Bara lama. #halah
Enggak penting sih Bara kenal saya atau tidak, tapi bagi saya bisa ketemu Bara menjadi sesuatu yang penting.

Sejak novelnya yang berjudul Radio Galau FM difilmkan, pria cancer itu semakin banyak dikenal umum. Hampir semua anak kekinian pasti kenal dengan dia. Semakin terkenal setelah novel berikutnya, Janji Hati kembali difilmkan.
Jujur saya iri dengan pria satu ini. Iri yang gregetan gitu, ingin juga bernasib sama atau setidaknya lebih dari dia.

Buku-buku Bara boleh dibilang selalu laku. Apa pun yang dia tulis pasti membuat banyak orang ingin memilikinya. Kali ini bersama penerbit NOURA, Bara menerbitkan buku baru berjudul Luka Dalam Bara.

Buku apakah itu? Mungkinkah semua kesakitan yang Bara rasakan?
Kali ini saya boleh sedikit sombong karena saya punya kesempatan untuk ikut launching dan bedah buku langsung bareng Bara.

Mini GK dan Bara

Karena saya merasa bukan bagian orang penting dalam hidup Bara, duh kenapa pula saya bicara demikian? maka saya tidak merasa sedih saat Bara bilang jika buku barunya yaitu LUKA DALAM BARA ditulis untuk dan dengan semangat mengenang sang mantan. itu lho perempuan yang tempo lalu membuat Bara sedemikian baper sampai posting banyak hal galau di media sosial.

Bara dan yang beruntung dinner bareng di cafe no.20

Penulis Perempuan 

Penulis Indonesia

Panggung Utama

Bernard Batubara Novel

Cantik Sejati atau Sekedar Sandiwara?


Sulamin Bibir Saya, dong!

Percakapan pada suatu hari...

“Mbak, alisnya mau dirapikan?”
Sebuah pertanyaan muncul dari mbak-mbak klinik kecantikan saat saya pertama kali mencoba facial di sana. Pertanyaan serupa sering saya terima, sering, bahkan bisa dipastikan setiap saya didandani (entah untuk pager ayu atau yang lain) periasnya bertanya demikian.
“Enggak.” Ini menjadi jawaban ampuh dari mulut saya. Semakin sering orang ingin merapikan alis saya maka semakin kuat saya untuk menolaknya.
Alis saya memang tidak serupa ulat bulu, ia hanya selarik hitam yang samar-samar, tidak begitu rapi atau pun lebat. Tapi saya menyukainya apa adanya. #halah

Forum Aktor Yogyakarta

Drama Kecantikan
Pengetahuan saya tentang kecantikan sangat minim. Saya perempuan yang jarang mengikuti perkembangan zaman. Apa yang saya rasa nyaman maka itu yang saya pertahankan. Apa pun bentuknya saya masih menyukai apa-apa yang membuat saya nyaman.
Masalahnya ternyata tidak simpel. Hidup butuh orang lain. Butuh berkelompok, bersosial saling mendengarkan, memberi dan menerima masukan. Hingga sampailah saya pada kesimpulan bahwa cantik itu tidak semata-mata hadir dari pandangan diri sendiri tapi melibatkan orang lain.
“Cantik itu bukan hanya wajah yang bersinar tapi juga hati yang lapang penuh kebijakan.”
Well, sering ya dengar obrolan seperti itu? Lalu benarkah seperti itu?
Saya pikir iya kecantikan dari dalam hati lebih utama. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau cantik fisik juga sangat berpengaruh besar dalam kehidupan. Sebagai contoh; perempuan-perempuan dengan fisik berkilau kadangkala lebih gampang mendapatkan pasangan atau kerjaan dibanding dengan perempuan dengan fisik jauh dari kata berkilau. Padahal belum tentu perempuan berfisik berkilau itu punya kecerdasan lebih dibanding perempuan berfisik jauh dari harapan. #duhmuter
Di sinilah drama-drama kecantikan mulai bergentayangan. Menghantui bahkan tidak jarak meneror. Entah bermula dari mana, pokoknya cantik fisik menjadi sesuatu yang dielu-elukan banyak orang. Pun yang terjadi dalam hari-hari saya. Puluhan tahun saya ini tidak membiasakan diri dengan pulasan gincu mau pun percikan parfum. Namun begitu masuk ke lingkungan lebih luas dengan teman-teman lebih banyak dari segala bidang, mau tidak mau saya harus ke kasir untuk menukar rupiah dengan sebatang ginju, bedak, minyak wangi dan kadang kala pensil alis. Saya termakan kata-kata mereka yang bilang bahwa perempuan akan lebih terlihat jika berdandan.
Tidak hanya masalah dandanan, urusan berat badan juga menjadi obrolan serius menyangkut sebuah definisi kecantikan. Diet ketat dan olahraga keras menjadi salah satu cara yang ditempuh banyak orang untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal.
Terus terang saya termasuk yang mengagumi orang-orang dengan bentuk badan ideal ini. Meski yang saya maksud ideal kadang kala tidak sesuai dengan harapan orang-orang. Bagi saya ideal itu enak dilihat, enggak ngebosenin dan bisa membuat teringat sepanjang waktu. #duhdek
Selain masalah wajah, bentuk badan juga ada hal lain yang membuat kecantikan itu menjadi bahan kajian yang tak akan berkesudahan yaitu tentang lingkar dada, perut dan bokong. Yang ini sungguh membuat saya pusing. Selalu saja ada alasan orang untuk mencari celah (kurang) dari definisi kecantikan tersebut.
Cantik memang terlalu drama. Selalu menjadi polemik diantara kesemrawutan hidup yang lain. Drama kecantikan saya pikir tidak akan pernah menemui kata tamat.

Sulamin Bibir Saya, dong!
Pengetahuan saya tentang drama, teater, dunia panggung sangatlah minim. Seminim pengetahuan saya tentang kecantikan. Namun Jumat malam (21/04/2017) kemarin menjadi salah satu malam yang sulit untuk dilupakan.
Seorang kawan dari Forum Aktor Yogyakarta (FAY) mengontak saya jauh hari untuk ikut melihat pertunjukan teater mereka. Sudah saya bilang bahwa pemahaman saya tentang teater sangat buruk meski di SMP dulu saya juga gabung grup teater, namun teman tersebut tetap mengajak saya dengan alasan agar ada masukan atau review dari seorang awam teater. Dan okey, saya pun datang dengan senang hati lebih-lebih saat tahu bahwa pementasan teater itu menyinggung tentang perempuan dan kecantikan. Lalu abaikan bahwa di FAY ada kakak tamvan yang saya idolakan.
Saya baru tahu ternyata pertunjukan teater dengan judul Sulamin Bibir Saya, dong! ini awalnya berawal dari obrolan perempuan-perempuan yang ada dalam FAY tentang mitos kecantikan. Lalu dilakukanlah riset panjang hampir satu tahun. Mulai dari membaca buku riset pustaka hingga terjun ke lapangan langsung berhadapan dengan tokoh-tokoh yang berpengaruh utamanya dalam dunia kecantikan.
Butuh banyak sumber guna meminimalisir adanya judgement ‘benar’ atau ‘salah’ dari pola pikir setiap individu tentang definisi cantik. Karena setiap orang punya penilaian sendiri tentang cantik, dan tidak boleh seorang yang lain menyalahkan atau membenarkannya. Seperti yang di awal saya bilang; cantik itu penuh drama, dia tidak mudah, rumit dan akan sukar menemukan kata tamat.


Teater dan Penonton
Saya merasa kurang saat para pemain berkumpul di depan penonton dan membungkuk memberi salam hormat yang artinya penampilan mereka telah usai. Saya kecewa pada detik ini.
Saya masih berharap ada kelanjutan dari pertunjukannya.
Seperti saya bilang, saya tidak terlalu paham dan jarang nonton teater, tapi kali ini saya merasa bahagia sejak pertama berdiri di depan pintu teater menunggu pintu di buka.
Teater Sulamin Bibir Saya, dong! dikonsep serupa talkshow sebuat televisi. Ada studio, pembawa acara, co-host, bintang tamu, kru, produser pelaksana dan penonton. Ya sekali lagi penonton, kami yang menonton dalam studio juga dilibatkan langsung dalam drama.
Ini baru pertama kalinya saya mengalami. Okey, saya memang beberapa kali melihat pertunjukan dari FAY namun baru kali ini ikut terlibat main meski hanya seolah-olah jadi penonton bayaran di deretan penonton. Tidak apa, saya bahagia dan cukup puas.
Saya kagum dengan akting para pemainnya. Sebetulnya saya juga takjub dengan pemilihan tema mereka tentang perempuan dan kecantikan tepat di hari Kartini.
Urusan panggung, ya sudah tidak usah diragukan lagi, tim artistiknya sudah bekerja dengan sempurna. Panggung LIP yang begitu adanya bisa disulap bimsalabim menjadi studio televisi nasional. Ini kreatif sekali. Masalah pencahayaan dan properti; saya tidak tahu harus komentar apa karena bagi saya ini sudah hidup.
Para aktor dan aktris bermain dengan penuh penjiwaan. Saya pernah melihat mereka dengan bergaya sebagai tokoh lain di drama lain dan itu benar terlihat perbedaannya. Mereka benar-banar menguasai peran meski saya tahu bahwa mereka baru mulai latihan sejak akhir Desember lalu.
Yang sedikit mengganjal bagi saya adalah ending dari cerita. Saya masih berharap Sara Medina punya konflik lain setelah bermanis-manis dengan ibunya. Atau mungkin si Adelia Zara dan Katrina Sulistyawati, sungguh saya berharap konflik keduanya semakin memanas dan sedikit membuat keributan di studio.

Perempuan dan cantik
Saya berterima kasih sudah diundang untuk menyaksikan teater Sulamin Bibir Saya, dong! dimana ini merupakan ruang untuk mengungkapkan kecantikan dalam berbagai versi. Tidak ada yang salah dan benar itulah cantik.
Perempuan hidup dan berproses membangun identitas secara berkesinambungan. Termasuk mengenai bagaimana perempuan menjadi cantik dan mengapa dinilai cantik oleh orang lain.
Terima kasih kepada Nesia P. Amarasthi selaku sutrada yang sudah mau saya wawancarai di akhir acara. Juga terima kasih berat kepada pimpinan produksi Kakak Ita Yunita yang sudah memberi kesempatan pada saya untuk nonton dan dapat barisan depan. Yeah, menang banyak.
Sebagai #gadisaAnggun teman perjalanan buku dan kamu, saya mendapat banyak pemahaman baru lewat pertunjukan Sulamin Bibir Saya, dong! tidak hanya konsep cantik namun tentang kebaikan, perempuan, keluarga dan ambisi.
Jangan pernah meremehkan perempuan.
“Jangan berkata kasar. Jangan menyakiti orang lain terutama sesama perempuan,” pesan ini meluncur dari bibir Ibu Elma untuk anaknya Sara Medina, dialog tengah malam di rumah Sara Medina sesaat sebelum kecupan hari Kartini mendarat dari anak untuk ibunya.


Yayasan Dharmais Tangan di Atas


Manusia dan Kesempatan 
Semua yang ada dan kita miliki hanyalah titipan dari Tuhan.
Ada sebagian kebahagiaan orang lain dalam kebahagian yang sedang kita nikmati.

 Hidup ini penuh dengan hal-hal yang tidak kita ketahui. Termasuk orang-orang 'istimewa' yang sejatinya ada di dekat kita namun seolah tidak kelihatan atau kita yang pura-pura tidak melihatnya. Padahal orang-orang 'istimewa' ini boleh jadi adalah sosok yang dikirim Tuhan untuk menegur kita yang 'biasa saja' ini agar terus bersyukur dan lebih melembutkan hati.

Kelembutan hati adalah kekayaan yang sulit mendapatkan tandingan.

Belum lama ini saya tersentuh oleh kebaikan Yayasan Dharmais. Sebelumnya saya tidak begitu kenal dengan yayasan yang berdiri pada tanggal 8 Agustus 1975 ini. Satu-satunya yang saya tahu adalah bahwa yayasan ini ada kaitannya dengan Mantan Presiden Indonesia ke tiga.

Yayasan dan postingan kali ini tentu tidak akan membahas dunia politik.

Terus terang otak saya kurang begitu telaten untuk mengurusi dunia politik, jadi biarkan saja saya bercerita apa adanya tentang dunia sosial yang jauh dari aroma politik.

Jika sesuatu itu baik, kenapa harus dipermasalahkan?

Katarak dan Bibir Sumbing
Saya sering mendengar cerita orang-orang dengan kondisi mata tidak lagi sehat. Katarak salah satu contoh penyakit yang sering dikeluhkan banyak orang, utamanya kawula senja yang merasa hidupnya sudah tidak lagi bewarna. Padahal hay, katarak bisa kok disembuhkan. Operasi menjadi salah satu cara untuk menghilangkan katarak. Sayangnya operasi ini tidak bisa dikatakan mudah. Utamanya untuk orang-orang dalam golongan ekonomi menengah ke bawah pula lanjut usia.

Tidak heran orang lebih memilih menunggu masa rapuh dengan tetap mempertahankan katarak dibanding harus menyusahkan sanak keluarga.

Begitu pun dengan bibir sumbing, hampir sama khasiat, orang-orang jarang yang mau melakukan 'perbaikan' baca operasi karena terkendala biaya.
Kawan dekat saya adalah salah satu penderita bibir sumbing. Untungnya keluarga dia tabah, tetep sayang dan berusaha memberi pengobatan termasuk operasi sekian kali untuk membantu 'perbaikan' dirinya. Banyak penderita bibir sumbing kesulitan untuk bicara atau bisa bicara namun kurang pas layaknya orang normal.

Kadang kala kondisi inilah yang membuat orang-orang khususnya anak anak penderita bibir sumbing malu dan tidak mau bergaul (kurang percaya diri) dan cenderung menutup diri. Padahal sesungguhnya setiap pribadi punya kelebihan.

Di sekitar kita (Indonesia) banyak keluarga yang masih menganggap bahwa keluarga dengan bibir sumbing adalah keburukan. Tidak segan-segan mereka menyembunyikan anggota keluarganya yang menderita bibir sumbing alih-alih menghibur dan mencarikan pengobatan.

Lebih mengejutkan lagi, ternyata khasus bibir sumbing itu sendiri bisa terjadi karena banyak sebab. Diantaranya adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan gizi imbang yang dibutuhkan anak/ calon anak yang masih dalam kandungan.

Tidak ada manusia yang ingin terlahir dengan kondisi 'berbeda'.

Yayasan Dharmais
Yayasan yang didirikan oleh Soeharto, Sudharmono dan Bustanil Arifin pada 8 Agustus 1975 ini bertujuan memberikan bantuan bidang sosial dan kemanusiaan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Dibawah binaan Hj. Siti Hardiyanti Hastuti Rukmana, Yayasan Dharmais telah melakukan banyak penyaluran bantuan. Antara lain bantuan kepada panti asuhan yang dilakukan secara rutin baik berupa dana untuk biaya makan dan kesehatan para penghuninya. Lalu ada bantuan paket pakaian, bantuan berupa pesantren singkat pelatihan usaha produktif, bantuan anak asuh juga perpustakaan.

Ada pun untuk bantuan kemanusiaannya Yayasan ini biasa melakukan operasi katarak dan Bibir sumbing.

Sepertinya yang dilaksanakan hari Minggu (23/4) kemarin, Yayasan ini berkerjasama dengan kampus UAD dan Rumah Sakit Khusus Bedah Ringroad Selatan dan Rumah Sakit Holistika Medika Maguwo mengadakan acara operasi katarak dan Bibir sumbing secara gratis bagi pasien yang kurang mampu (dan sebelumnya telah terdaftar).

Untuk operasi katarak, Yayasan Dharmais bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) sejak tahun 1986 sampai dengan hari ini. Dimana kurang lebih telah menyentuh 132.833 pasien. 

Sementara untuk bibir sumbing baru dilakukan sejak tahun 1997 sampai dengan sekarang dengan bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Ahli Bedah Plastik Indonesia (PERAPI). Sedikitnya telah ada 6.721 penderita yang dibantu.

Semua ini dilakukan demi memberi pertolongan kepada mereka yang membutuhkan terutama kaum tidak mampu.

Untuk info lebih lanjut mengenai Yayasan Dharmais bisa diakses di laman http://www.yayasandharmais.or.id atau bisa berkunjung langsung dengan alamat;
Yayasan Dharmais
Gedung Granadi Lantai 5
Jl. HR. Rasuna Sa'id Kav. 8-9 Kuningan Jakarta Selatan 12950
Telp. 021-2522745 fax. 021-2521625

Melihat Mereka Tersenyum
Adalah sebuah kebahagiaan tersendiri jika kita terlahir menjadi penyebab senyum orang lain.
Hari ini boleh jadi Tuhan menggerakkan kita untuk membantu mereka yang kurang beruntung. Namun siapa yang akan tahu esok hari? Bisa saja orang yang kita tolong hari ini kelak juga jadi bagian tangan di atas yang menjadi penyebab senyum orang lain.

Saya tidak sedang membicarakan berlomba menumpuk pahala. Ini hanya sedang mencoba berbagi dan sedikit mengindahkan alangkah mulianya tangan di atas untuk membantu sesama. (Min)

Aneka Perawatan Naavagreen Natural Facial



Naavagreen Natural Facial

“Minum air putih cukup?”
“Cukup.”
“Asupan sayuran?”
“Lumayan cukup, Dok.”
“Pasti sering tidur malam?”
“Ya begitulah, Dok.” (Dokter kok tahu?)

Dokter kulit yang saya temui di salah satu ruang konsultasi di klinik Naavagreen sedang mencatat hasil penerawangan kesehatan kulit saya. Percakapan ringan itu terus berlanjut hingga beberapa menit kemudian. Dokter yang baik, ramah dan lumayan sering memberi senyum itu lalu kembali berucap, “Kalau penulis mesti begadang sampai malam-malam, ya?”

Dengan malu-malu saya menjawab, “Ya lumayan, Dok. Tapi saya baru-baru ini aja tidur malam. Dulu-dulu sore aja sudah tidur.”

Setelah obrolan bersahabat itu, dokter memberi saya pilihan mau sekedar facial atau perawatan dengan krim Naavagreen atau sekalian dua-duanya. Karena disuruh memilih diantara tiga pilihan, maka dengan berat hati saya memilih facial saja untuk sementara. #halah


Tentang treatment Naavagreen

Kalau dibilang perdana, iya, ini memang kunjungan pertama saya ke Naavagreen. Namun begitu, sejujurnya saya sudah kenal klinik ini jauh sebelum hari ini. Tepatnya karena seorang kakak tamvan ada di klinik ini. ;)

Sabtu kemarin saya berkunjung ke Naavagreen daerah Kota Baru. Saya datang sedikit lebih pagi dibanding pengunjung yang lain. Baru ada beberapa orang yang antri nunggu beli krim. Saya ikut antri nunggu giliran dipanggil. Karena datang lebih awal maka saya tidak perlu antri panjang. Pelayanan yang diberikan cepat dan ramah. Ini yang selalu saya suka.

Enaknya datang lebih awal adalah tidak perlu antri panjang, karena siangan sedikit sudah pasti banyak saingan. Dulu saya hanya melihat parkiran penuh, sekarang saya tahu bahwa di dalam pun tidak kalah sesak. Untuk banyak bangku-bangku empuk yang bisa dipakai senderan. Ada bapak-bapak yang sampai terlelap nunggu istrinya facial.

Sebagian teman saya masih merasa takut untuk melakukan perawatan wajah, entah itu facial atau penggunaan krim. Konon alasan mereka facial bisa menipiskan kulit. Yang ini saya tidak tahu pasti kebenarannya, yang jelas emang sesudah facial biasanya kulit akan terasa lebih tipis, ya itu kan karena efek komedo dan kotoran yang nempel di kulit wajah dicerabut paksa.

Saya tidak pernah keberatan dengan facial. Apalagi facial di Naavagreen. Mbak-mbaknya asyik diajak ngobrol. Bahkan memberi saran agar/ tidak begini begitu.
Intinya saya puas dengan treatment yang Naavagreen berikan.

Saya juga baru tahu jika di Naavagreen itu ada beberapa perawatan facial. Ini baru saya tahu ketika membaca katalog yang tersedia di dekat pendaftaran/ kasir.
Berikut perawatan kulit berupa facial yang bisa diambil di Naavagreen (sebagian saya cuplik dari katalog) :
1.      Naavagreen Natural Skin Facial
2.      Naavagreen Natural Skin Facial for Acne
Ini yang kemarin saya pilih. Facial yang berfungsi mengangkat komedo, jerawat, sel kulit mati dan mengurangi kadar minyak di wajah.
Wajah saya sih enggak berminyak, hanya saja banyak komedo. Jadi ketika ditawarin facial jenis ini ya saya langsung okey.
3.      Naavagreen Natural Skin Facial for Anti Aging
Konon ini fungsinya untuk mengencangkan kulit dan menunda penuaan dini.
4.      Naavagreen Natural Skin Facial for Brightening
Facial yang fungsinya untuk mencerahkan kulit. Tapi ya perlu diingat, enggak sekali facial ujug-ujug kulitnya berkilau bagai mutiara.
5.      Naavagreen Natural Skin Facial for Sensitive Skin
Yang ini untuk menjaga kelembaban kulit dan mengurangi reaksi sensitif.

Besok-besok saya akan coba facial lagi di Naavagreen. Katanya jeda waktu yang bagus untuk facial itu antara dua mingguan. Bolehlah dicoba lagi.

Jam Operasional 

Selain facial wajah juga ada peeling. Hampir sama, namun untuk peeling lebih keperemanjaan kulit. Mengelupas sel kulit mati biar wajah tidak kusam. Untuk peeling sendiri harganya di atas facial. Lebih mahal dan hasilnya juga lebih kelihatan.
Fungsi dari peeling itu sendiri (saya ambil dari brosur dan hasil ngobrol sama pihak Naavagreen, iya gaes, enak lho bisa konsultasi langsung) antara lain:
1.      Mengangkat sel kulit mati. Wajah jadi nggak kusem.
2.      Mengurangi keriput. (Mungkin cocok buat emak saya di rumah)
3.      Membuat tampilan kulit lebih halus
4.      Mengurangi pigmentasi
5.      Merangsang pembentukan collagen (untuk yang ini saya belum tanya lebih lanjut soalnya waktu terbatas. Lain kali deh boleh diagendakan nodong konsultasi lagi)

Tentang Red and Bio Light Therapy

Waktu itu saya datang ke Naavagreen bareng temen-temen. Salah satu temen disarankan untuk ikut terapi laser ini. Saya nggak paham itu semacam gimana, yang pasti dijelaskan bahwa sinar laser ini berfungsi untuk membasmi jerawat dan bakteri penyebab jerawat.
“Baiknya terapi ini dilakukan jarak berapa lama?” penasaran saya bertanya di sesi konsul.
“Kalau untuk laser ini justru boleh disarankan sering-sering. Kalau facial jaraknya mungkin dua minggu kalau sinar laser ini bisa dua hari sekali.”
“Untuk harganya sendiri?”
Uwang, gaes, pertanyaan wajib.
“Jika facial biasa mulai 40 ribu, maka bio light therapy dibandrol mulai 85.”

Sewaktu di ruang facial, saya banyak ngobrol sama Mbak Ica (semoga saya tidak salah sebut nama mbak yang sudah merawat wajah saya), beliau bilang jika di Naavagreen ada juga semacam laser CO2. Itu laser yang digunakan khusus untuk membakar daging kecil yang tumbuh di kulit. Konon yang mau menghilangkan tahi lalat juga bisa menggunakan laser ini.
“Nggak sakit?” Iya saya bertanya dengan rasa nyeri yang sangat.
“Enggak.” Mbaknya ketawa. “Kan daging yang mau dimusnahkan itu daging enggak berguna dan cara memusnahkannya dengan bantuan krim jadi nggak akan kerasa.”
“Ooo...” Asli norak saya keluar.

suasana halaman depan klinik Naavagreen

Facial, aman nggak sih?

Habis facial muka saya merah-merah, wajar sih soalnya pembersihan komedo. Tapi enggak lama kok, besoknya juga sudah balik lagi. Mungkin tergantung kulit juga. Kebetulan kulit wajahku enggak bandel amet.
Hari berikutnya usai facial saya mendatangi nikahan temen. Di sana ketemu temen-temen yang lain. Lalu terjadilah pembahasan mengenai saya yang baru pertama ke Naavagreen. Beberapa temen masih seperti kemarin, bilang kalau enggak mau facial karena takut.
Maka saya jelaskan saya bahwa facial itu hanyalah semacam perawatan wajah. Semacam cuci sekaligus pemijatan di wajah. Menurut saya sendiri facial di Naavagreen cukup aman; selain karena ruangan yang bersih nyaman juga didukung oleh pekerja yang berkompeten dan teliti.
Jika mau ini saya kasih tips sedikit untuk memilih tempat facial:
1.      Pilih tempat yang sudah biasa ramai pengunjung/ kondang, naavagreen contohnya. Hal ini sebagai indikator bahwa banyak pengunjung berarti terpercaya.
2.      Tidak perlu tergiur diskonan atau harga sangat miring. Naavagreen pernah ada harga yang sangat miring, tentu dengan syarat dan hari tertentu, misal pas pembukaan cabang baru.
3.      Konsultasi dulu ke pihak ahli dalam hal ini tentu saja dokter kulit. Mintalah rekomendasi perawatan apa yang cocok.
4.      Jika masih kurang yakin, bertanyalah pada kawan yang sudah pengalaman facial.
5.      Jika saat treatment mengalami kesakitan, jangan segan untuk minta berhenti.
6.      Tujuan facial adalah untuk membuat wajah nyaman bukan sebaliknya.

Kapan kapan saya terusin lagi, ini sudah malam, pesan Pak dokter nggak boleh tidur larut agar kulit tetap segar sehat. Oh iya, nanti saya juga akan menulis pengalaman menggunakan CC cream produk Naavagreen. Tungguin ya.

naavagreen Kota Baru

  

Nonton Bareng Film Kartini


Film Kartini

Sudah sejak lama saya ingin banget mendapat kesempatan premier nonton film Kartini yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo.
Berkali-kali saya buka instagram untuk cek dimana saja acara premier bakal di gelar, pula dimana bisa beli dan berapa harga tiket. Ketemu. Ternyata pembelian tiket bisa dari asmatPro.

Saya belum beli tiketnya hingga seorang teman bilang, "Ini ada tiket jika kamu mau?"
Saya sambut dong tawaran tersebut. "Gimana caranya?"

Lalu teman saya itu memberi tahu gimana saya bisa mendapat tiket premier film Kartini dengan mudah.

both Bank Mandiri

Film Kartini dalam Jiwa Dian Sastro

Senang sekali sebelum nonton film, saya bisa punya kesempatan ikutan meet and great bareng pemain film; antara lain Dian Sastrowardoyo, Denny Sumargo, Ayushita sekaligus ketemu produser dan sutradaranya Mas Rony dan Mas Hanung Bramantyo.

"Film Kartini ini ditujukan untuk semua orang, tidak hanya wanita. Laki-laki pun sangat dianjurkan untuk melihat film ini. Tujuan dari membuat film ini selain untuk mengingat sejarah juga untuk menanamkan rasa menghargai kepada setiap wanita," tutur sutradara film, Mas Hanung.

"Sudah sejak lama saya ingin membuat film jenis ini. Dian Sastro sendiri tertarik dan menawarkan diri untuk ikut terlibat. Dia (Dian) sempat bilang kepada saya bahwa dia berperan jadi siapa pun tidak masalah asalkan bisa ikutan main. Lalu saya mikir apa iya kalau Dian jadi ibunya Kartini saja? Sebab yang namanya Kartini kala itu masih remaja sementara Dian sudah ibu-ibu usia 30an." 

Terdengar gelak tawa dari para hadirin.
Saya masih sibuk mengamati satu persatu para pemain. Terutama Kak Denny Sumargo, ya iyalah siapa yang enggak tertarik dengan Kangmas Slamet kakaknya Kartini ini.

Ngobrolin film langsung dengan ahlinya memang lebih asyik dibanding hanya meraba-raba.

suasana ruang bioskop sebelum film Kartini diputar

Film Kartini menyedot perhatian penonton

Saya ucapkan terima kasih kepada Bank Mandiri yang sudah mengajak saya dan beberapa nasabahnya untuk ikut nonton bareng.
Beberapa kali saya nonton film di biokop yang penontonnya hanya beberapa gelintir orang atau hanya beberapa bari saja. Namun kemarin saat nonton Film Kartini isi bioskop penuh. Hampir tidak ada kursi kosong. Ini membuktikan bahwa banyak masyarakat yang menanti adanya film beraroma sejarah.

Film Kartini dan warna di dalamnya

Rumah saya jauh dari kota. Jika saya ingin ke bioskop maka butuh waktu kurang lebih satu setengah jam.
Saya datang ke acara premier film kartini sejak pukul 17.00 sementara pintu teater pertama tempat saya mau nonton baru dibuka bukul 20.10, sebegitunya saya demi tiket nonton Film Kartini.

Seorang teman bertanya, "Gimana dengan film Kartini?"
Saya selalu susah untuk menjawab pertanyaan yang demikian, bukan apa-apa, cuma saya punya sudut pandang berbeda dengan orang lain. Apa yang saya bilang bagus belum tentu bagus bagi orang lain. begitu pun sebaliknya.

Yang dapat saya bilang, film Kartini ini ada bagian-bagian yang membuat saya berurai air mata; misal saat Kardinah (adik Kartini) harus dinikahkan secara paksa dengan laki-laki yang tidak diinginkannya hanya karena demi status. Berurai air mata pula saat ibu Kartini dan Kartini saling bicara dari hati ke hati. Masih beruarai air mata ketika akhirnya Kartini menerima pinangan Bupati Rembang dan tiga hari setelah menikah ternyata proposal beasiswanya ke Belanda diterima. Ini nyesek banget, andai Kartini belum menikah, bisa jadi ia berangkat ke Belanda.

Saya juga dibuat tertawa, bukan hanya saya tapi hampir seisi bioskop dibuat ketawa saat adegan Kartini dipingit bareng adik-adiknya yaitu Kardinah dan Roekmini. Kartini merasa senior dan dia mengerjai kedua adiknya. Di film ini banyak sekali adegan-adegan yang membuat saya kaget dan bertanya, "begitukah Kartini?".

Kehadiran Reza Rahardian, iya memang hanya beberapa cuplikan saja, sekilas hanya mirip figuran, cukup menyita perhatian. Bukan karena Reza Rahardiannya (saya bukan fans Reza) tapi karena akting beliau yang CUKUP PAS. Dialog yang dibawakan Reza (yang berperan sebagai kakak Kartini yang tinggal di Belanda) cukup membuat saya terhenyak.

"....Kamu tidak bisa sendirian."
"....Ini kunci, masuklah kamarku di sana ada pintu yang bisa membawamu keluar dari pingitan."
Dan ternyata pintu yang dimaksud adalah lemari isi buku-buku.

pertanyaan saya mendadak muncul, misal Kartini tidak punya kakak seperti dia jangan-jangan dia tidak akan semahsyur hari ini atau bagaimana nasibnya???

Duta Damai Mewarnai Indonesia


 Rabu (22/02) tim gabungan dari Pojok DutaDamaiAyog DutaDamai dan Komunitas Blogger Yogyakarta membuka kelas blogging bagi pemula. Acara ini diberi tajuik ‘Mewarnai Indonesia’. Acara ini diikuti lebih dari 20 peserta. Acara di adakan di Rumah Kreatif Yogyakarta, Sagan.
Panitia acara yang merupakan gabungan dari tim Duta Damai Yogyakarta sengaja membatasi peserta agar lebih serius dan fokus dalam kelas. 20 orang dirasa lebih dari cukup untuk mengajarkan hal baru kepada pemula. Acara berlangsung mulai dari pukul 9 pagi dan berakhir pukul 2 sore.
Anrtusias peserta bisa dilihat dengan banyaknya interaksi antara peserta dan pengajar, atau bisa dibilang teman sharing.
Lebih istimewa lagi karena acara ini tidak hanya diikuti oleh masyarakat biasa pada umumnya namun juga menggandeng para penyandang difabel yang punya minat khusus pada dunia blogging.
Andhika salah satu peserta dari peyandang difabel sangat mengapresiasi acara ini dan berharap bulan depan bisa gabung lagi.
Rencana acara para Duta Damai ini akan berlanjut setiap sebulan sekali. (MIN)
Be Sociable, Share!

Menjadi bagian dari Duta Damai