Pertanyaan Menanti Jawaban




Sebuah pertanyaan mendatangi saya, “hai berapa usiamu sekarang? Apa yang sudah kamu lakukan? Masihkah kamu berharap tentang sesuatu?” 
Pertanyaan-pertanyaan itu selalu datang di kehidupan saya. Tidak hari ini saja namun sudah berpuluh tahun lalu dan celakanya saya belum bisa menjawab bahkan satu pertanyaan sekali pun.

23 Februari selalu menjadi hari yang ‘istimewa’ untuk saya. Semacam pengingat bahwa saya ini bukan lagi anak kemarin sore yang hobi merengek pula menyadarkan saya bahwa saat ini siapa diri ini?
Kalau ingin bercerita tentang saya, maka hanya akan menjadi prosa panjang yang mungkin tidak akan ada manfaatnya sama sekali. Bercerita tentang masa lalu saya pun tidak ada hal yang menarik. Sementara jika mencoba menerka masa depan, sungguh bahkan saya sendiri tidak tahu seperti apa. Membayangkan saja masih terasa abu-abu, bagaimana mungkin berusaha untuk menggambarkan sketsa sketsanya.

Ternyata lebih mudah menanti jodoh (yang tak lekas datang) dibanding menggambarkan masa depan.

Tentang Mencintai
Seorang yang baik pernah berkata pada saya, “Kelak cintailah laki-laki yang bisa mencintai dirinya sendiri. Bila laki-laki itu bisa mencintai dirinya sendiri maka dia akan menjadi pendamping yang tepat untukmu.”

Saya harus mencerna kalimat itu dengan kekuatan penuh. Harus ekstra sabar dan hati-hati. Kadang, otak saya yang kecil ini sulit untuk menerima hal-hal yang filsuf. Mengandalkan hati pun kadang tidak cukup mengingat betapa hati ini sering melow tidak jelas dan sering sok berkuasa.


23 Februari, Gadis Anggun
Ini Kamis bersejarah bagi saya. Sekian puluh tahun lalu tepat di hari Kamis emak bertarung nyawa untuk saya. Saya tidak tahu segenting apa hari itu. Namun saya selalu yakin hari itu penuh dengan doa doa.


Emak saya adalah perempuan paling segalanya. Sampai hari ini beliau masih terus berjuang untuk saya, saya yang tidak mengerti apa apa ini.


Pernah suatu hari emak beli susu kaleng hanya karena tidak ingin melihat saya (yang bukan lagi bocah) tumbang.


Saya tidak pernah bisa menembus 'dunia' emak. Ada masa kami saling bersebrangan, bukan karena paksaan tapi karena saya yang sok merasa berkuasa padahal siapa saya ini (?). Emak tahu semua tentang saya (mungkin), meski kami bukan keluarga yang harmonis macem sinetron.
Emak membebaskan saya sekaligus 'mengekang'. Untuk yang ini ceritanya akan panjang dan menerbitkan banyak aroma, jadi kita lewati saja.


Emak bukan pecinta gula mau pun kue. Jika kamu mau berkunjung ke rumah, minggu depan (eh iya kapan berkunjung?) tak perlulah repot bawa ini itu. Kamu hanya cukup menyiapkan diri untuk dipertanyakan oleh tetangga, dan emak tentu saja.


Dua puluh tahun lalu saya tidak pernah punya bayangan akan seperti ini kehidupan yang saya jalani sekarang.
Sampai detik ini saya pun masih bertanya mau seperti apa dan sudah sampai mana?


Kalau jenuh, emak adalah pelarian yang tepat. Saya akan bertanya, "mak sayang aku gak?" Lalu emak akan menjawab dengan mengelus-elus, "gustialah, nek ora sayang opo gelem nggedekke nganti sak mene? sayang. tak gendong. tak dulang. aku ki sayang sayang. terangane sak iki wes tuwo." Emak enggak nyebut dewasa tapi tuwo 😐



Kalau sudah begitu ujungnya ditanyalah hal hal yang menjengkelkan itu. Halah.

Tapi saya bahagia saja. Karena perasaan bahagia membuat saya awet cantik. Hokya.
Dan anggap saja ini penampakan aura aura kecantikan saya meski diusia yang tak lagi muda.

23 Februari, tak ada lilin yang dipadamkan dengan sengaja. Biarkan saja dia menyala dan kelak padam oleh sebab yang lain.

Selamat ulang tahun Dedek Mini
 #gadisAnggun 😘



Sekolah Tumbuh Sekolah Bagi Semua Kalangan



Sebuah pembatas buku dengan gambaran tangan penuh warna, mobil dari bekas botol minum dan miniatur bendera dari kertas warna menjadi hal menarik untuk saya dekati.
Serumpun bibit tanaman tertiup angin, hai, ini hijau bagus sekali.

“Ini dari kawan-kawan kami di Australia,” kata seorang kakak yang merupakan guru di SD 3.
“Ini balasan dari yang kami kirim juga. Jadi kami semacam sahabat pena. Kami saling bertukar karya.”


Saya selalu bahagia setiap bertemu dengan anak-anak kreatif dan pandai bicara (maksudnya bicara sopan).
Bahagia ketika kemarin teman dari Tirana Art Management mengabari bahwa akan ada pameran dari Sekolah Tumbuh. Bayanganku Sekolah Tumbuh itu semakin sekolah alam yang membebaskan anak-anaknya untuk eksplor alam. Saya sudah lama denger tentang Sekolah Tumbuh, namun belum pernah bersinggungan dengan mereka.

Hans On, Mind On, Heart On Jogja Educational Spirit, begitu kiranya tema yang diangkat dalam pameran Sekolah Tumbuh kali ini. Ini merupakan pameran 11 tahun Sekolah Tumbuh. Acaranya mulai dari tanggal 14-19 Februari 2017 di Jogja National Museum (JNM). Menarik.
Semakin menarik acara ini dibuka oleh GKR Hemas dan dihadiri pula KPH Wironegoro.
Masuk gratisss.

Saya datang agak sorean, di pintu masuk disambut dengan taman hidroponik yang merupakan kerajinan murid Sekolah Tumbuh. Habis ngisi buku tamu saya langsung masuk. Taraaa, sebuah tenda kemah warna kuning menyapa dengan mencolok. Ada kayu kayu semacam untuk api unggu. Di atasnya ada tulisan ‘pojok baca’, ih keren banget.

Acaranya banyak banget. Ada fashion show, pelayanan pojok konseling, pentas teatrikal, pemutaran film, pentas teatrikal puisi, workshop jumpuitan, workshop BTYL (Bio technology for young leatners): bookmart art from flower pygment, sewing workshop dan lain lain.
Di kanan kiri saya ada tulisan mengenai pernyataan KPH Wironegoro tentang sejarah Sekolah Tumbuh.

Ini sedikit cuplikan tulisan yang terpampang di depan:
....Kami menyimpulkan model pendidikan ‘bergaya’ Jogja yang memfasilitasi keberagaman kebutuhan anak yang unik, active learning, resource based, berbasis multikultur dan memfasilitasi anak-anak berkebutuhan khusus di dalamnya yang disebut sebagai konsep inklusi.
Dilandasi ‘trust’ dan percaya bahwa Jogja dan Indonesia yang beragam, membutuhkan model pendidikan seperti ini. Kemudian kamu memutuskan, mari kita membuat Sekolah dasar. Intinya kami ‘nekat’ dan sudah bulat tekadnya untuk mendirikan sebuah Sekolah dasar yang akhirnya bernama Tumbuh. Tumbuh (yang bermakna kami ingin selalu tumbuh) di bawah naungan Yayasan Edukasi Anak Nusantara (YEAN) sebagai legalitias payung hukumnya.
......


Sekolah Tumbuh
Sekolah Tumbuh merupakan sekolah inklusi dan multikultural. Semua orang bisa sekolah tidak pandang bulu. Bahkan anak berkebutuhan khusus juga diterima.
Saya sempat bertemu juga dengan anak-anak keren ini di ruang potografi.

Sebagai sekolah inklusi dan multikultural sekolah ini hanya menampung 22 murid setiap kelas. Gurunya 2 dan ada 1 guru bayangan. Sekolah Tumbuh sudah punya banyak kampus.

SD Tumbuh 1
Jl. Am Sangaji No.48 Yogyakarta
Tlp/ fax; (0274) 557970

SD Tumbuh 2
Jl. Amri Yahya No.1 Gampingan Wirobrajan
Tlp (0274) 589680

SD Tumbuh 3
nDalem Mangkubumen KT III/264 Yogyakarta
tlp/ fax (0274) 384246

SD Tumbuh 4
Jl. KH. Ali Maksum Panggungharjo Sewon Bantul
Tlp. 082222206895

Tumbuh High Scholl
(SMP Nasional dan Internasional) (SMA Nasional)
Jl. KH. Ali Maksum Panggungharjo Sewon Bantul
Tlp. 085100390162



 INFORMASI
Sekolah Tumbuh 0822-2220-6895
Tirana Art Management 081-827-7073



Bertemu Sejarah UBER di Digitalk


Sesekali engkau butuh merasakan ketidakberdayaan dalam kesepian karena bisa jadi penderitaanmu hari ini kelak akan menjadi penawar mujarab untuk anak cucumu (Mini GK)

Meski orang Yogyakarta asli, maksudnya lahir besar dan menetap di Gunungkidul yang merupakan bagian dari DIY ternyata saya masih sering tersesat keliling kota.

Bukan sekali dua kali adegan tersesat itu berlangsung. Sudah sangat sering dan itu antara menjengkelkan dan menggelikan.

Baiklah saya kasih ilustrasi sedikit. Kemarin siang, Kamis (16/02) setelah malamnya bertanya pada teman tentang arah jalan lurus menuju FISIPOL UGM, saya dengan PD keliling kompleks UGM. Gedung fakultas yang saya cari ketemu setelah bertanya dengan mbak-mbak manis yang lewat.

Kebetulan hari itu UGM sedang padat merayap macem jalan menuju rumah mertua. Saya mencoba mencari tanda-tanda dimana kiranya acara Digitalk CFDS_UGM berlangsung. Keliling gedung fisipol, hasilnya nihil.

Saya coba ingat-ingat dimana harusnya berada. Ternyata di gedung BC. Well, saya sudah berada tepat di sana, namun ternyata selasar yang saya cari tidak ketemu. Saya harus minta bantuan lagi dan kali ini dibantu ibu chatering bersama mas-mas berkacamata yang sayangnya cukup menyita perhatian. *ini nggak penting diceritain jadi skip saja*

Singkatnya saya sampai di selasar yang dimaksud, yaitu tempat berlangsungnya Digitalk bersama UBER Indonesia.

Di depan lift, Kak Riskacang sudah menunggu saya dengan senyum manisnya (yang bisa jadi membuat diabetes bagi cowok-cowok yang melihatnya). Kak Riska selaku panitia lalu menunjukkan meja registrasi.

Sempat terjadi dialog;
“Sudah mulai, Kak?” tanya saya sambil membenarkan topi. Yoha saya pakai topi kesayangan.
“Belum. Sembilan empat lima baru mulai. Itu masih akustikan. Yuk.”
Sambil ngecek nama duo kakak (yang sangat micin sibuk luluran) saya menjawab, “okey. Aku cek nama temen dulu.”

Setelah registrasi selesai plus dapat nasi kotak, saya duduk di tikar. Yoman acaranya lesehan asyik gitu. Boleh makan sambil denger akustikan.
Tak lama kemudian acara intinya dimulai.
Jeder. Duh Gusti, pemateri, atau bintang utama dari UBER berdiri selemparan koin di hadapan saya. Postur tubuhnya beneran menggoda. *tapi demi keamanan pembaca blog ini maka akan saya skip bagian ini*

Sebaiknya saya perkenalkan dulu siapa bintang tamu dari UBER, beliau yaitu kakak tamvan #priaberkacama sebut saja namanya SATYA DJOJOSUGITO, biar asyik nanti saya akan menyebutnya Abang Satya. Beliau menjabat sebagai operasional manager di UBER regional Yogyakarta.
Abang Satya ini dulunya tinggal lama di San Fansisco, sekitar 4,5 atau 5,5 tahun gitu sayanya agak lupa. Kuliah sembari kerja. Idaman banget deh pokoknya. Beliau lalu bercerita tentang sejarah UBER.

ini tangannya sungguh terlalu

Yang jelas, Abang Satya ini  lama di San Fansisco, begitu balik ke Jakarta langsung disuruh pegang perusahaan. Bagian ini keren. Begitu di pindah ke Yogyakarta, baru juga beberapa bulan bahkan bahasa Jawa saja ngakunya belum cas-cus, eh ujungnya tetep jauh-jauh ke Yogya pada akhirnya hanya pepotoan dengan Mini GK. *mendadak saya merasa berdosa, merasa bersalah sudah membuat Abang berbahu kokoh ini sedikit terkontaminasi, namun begitu saya tidak keberatan disuruh mengulang lagi, eh*



SEJARAH UBER
Seperti quote yang saya suguhkan di awal, UBER dulunya lahir karena sebuah keadaan yang kurang mengasyikkan dari penderinya. Diceritakan pendirinya (maaf saya lupa nama) dulu tinggal di Amerika, lalu mengikuti acara di Prancis. Pada saat itu malam dan salju begitu lebat. Ia ingin menyetop taxi untuk mengantar ke penginapan. Malangnya tak ada satu pun taxi yang mau distop.
Saat itu juga ia (si pendiri UBER) dijatuhi ide dari Tuhan, “alangkah nyamannya jika sekali pencet ponsel langsung datang mobil jemputan”, atas ide jenius itulah maka muncul UBER sebuah alat transportasi yang bisa dipesan dengan sekali pencet tombol ponsel.

UBER sudah lama berdiri di luar negeri. Ia sudah hadir di semua benua melintasi sekitar 71 negara. Hampir 500sekian kota sedunia. Di Indonesia mulai berdiri pada akhir 2014. Dan hadir di Yogyakarta Desember 2016.
Di Indonesia, UBER sudah ada di beberapa kota yaitu; Jakarta, Bali, Bandung, Surabaya, Yogyakarta dan Malang. Kedepan akan merambah Kalimantan dan Sumatera.


UBER motor hanya ada di Indonesia. Itu karena menyesuaikan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Macam-macam pelayanan UBER:
1.      Uber X
2.      UberPool
3.      UberXL
4.      UberMotor
5.      UberBlack; semacam mobil esklusif
6.      UberTrip




Dua Jam Membahas Cerita Anak di Pacitan

Mini GK, Kepala Perpustakaan, Tim Divapress dan sebagian peserta

“Mbak Mini, ya?”

“Iya.”

“Ya ampun sekarang beda banget. Lebih feminim dari waktu pertama ke sini.”

Saya bisa apa jika orang berkomentar demikian tentang saya.
Apa dibilang, lebih feminim? Mungkin kawan saya satu itu sedang dalam kondisi bahagia atau justru sebaliknya, mabuk, sebab hanya dua kemungkinan itu seseorang bisa memuji saya dengan sebegitunya.

Hari ini untuk kedua kalinya saya mendaratkan diri di tanah kelahiran mantan presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono yang lagi ngetrend dengan kicauan twitternya mengenai “Bapak Presiden dan Kapolri bolehkah saya bertanya….”

Ah, sudahlah yang itu bukan jatah saya untuk membahasnya.
Saya tiba di Pacitan sekitar pukul Sembilan pagi. Itu juga setelah melewati medan macem offroad, ya sedikit gambaran saja jalan Yogyakarta ke Pacitan melewati Gunungkidul dan Wonogiri di tengahnya sedang ada perbaikan. Medannya cukup sulit ditembus bagi yang awam, untungnya kawan saya adalah pilot handal yang bisa mengatasi jalan itu dengan cukup saya menutup mata (baca: tidur). Perjalanan menarik dan penuh cerita meski tidak banyak orang yang berpapasan dengan rombongan saya. Maklum cuaca lebih menarik mengajak bobok disbanding harus menembus derasnya gelombang langit. Lagian ini hari Minggu, emang waktunya bobok dan bercengkrama dengan keluarga.
demi literasi kami harus tetap semangat

Tujuan saya kali ini dalah kantor Perpustakaan dan Arsip daerah (konon namanya sudah ganti, tapi saya lupa).
Kehadiran saya ditunggu untuk member materi tentang menulis cerita anak.

Saya dan cerita anak
Saya sedikit kaget sebab lupa dengan arahan Mas Indra sebelumnya. Padahal Mas Indra a.ka. Aconk sudah sempat bilang kalau hari ini saya akan mengisi kelas tema menulis cerita anak.
Okey baiklah. Jangan panik. Penulis dilarang panik dalam keadaan apapun. Tentang menulis cerita anak, bisalah dibahas, toh sebelumnya saya juga habis masuk kelas anak. Iya dong meski sudah bisa menulis tetap saja harus banyak belajar.

Awalnya saya ingin bercerita tentang novel anak, namun ternyata begitu berdiri di hadapan dua ratus lima puluh ribu pemirsa, pendirian saya berubah, lebih-lebih di sana banyak remaja (alias dedek gemes), jadilah saya membahas cara menulis novel. Teknik ini bisa dipakai untuk menulis novel apa pun, dewasa remaja mau pun anak.
Saya kira hadirin akan kecewa, nyatanya saya banyak dilempari coklat dan tepuk tangan. #tsah

Pertanyaan dari peserta
Rasanya tidak lengkap jika saya berdiri membawakan materi (yang sebenarnya biasa saja) tanpa ada pertanyaan.
Selalu saya menyisakan waktu untuk membuka pertanyaan; bahkan saya biasa menyisakan waktu panjang untuk sesi Tanya jawab. Jadi jika saya kena jatah ngisi acara dua jam (sudah dengan tanya jawab) maka saya akan batasi diri untuk ngoceh. Dua jam saya bagi; dua puluh sampai dua lima menit untuk ngoceh tiada tara sisanya yang panjang itu saya lempar ke pemirsa untuk dibagi-bagi dalam sesi tanya jawab.

Mengapa harus demikian?
Tidak ada alasan khusus, sih. Apa karena tanya jawab itu sakral? Apa karena Tanya jawab itu semacam sesi kencan singkat? Atau apa karena tanya jawab itu membutuhkan komitmen? *ini bahas apa cobak?*
Bukan. Bukan itu.
Saya menyengaja agar tanya jawab panjang tidak lain karena saya sering bingung mau menyampaikan materi apa. Dor!

Bukan maksudnya nggak punya bahan, melainkan saya sangat hati-hati. Iya kalau yang saya omongin ini diperlukan sama pendengar, kalau ternyata tidak, apakah itu namanya bukan sia-sia?
Jadi saya membuka kesempatan pada peserta untuk menanyakan apa yang mereka ingin tahu. Iyalah, kalau sudah tahu atau tidak ingin tahu kenapa pula saya harus membicarakannya. Yang ada nanti justru bertepuk sebelah tangan. Lebih sakit itu bicara namun lawan bicara kita tidak menikmati apa yang kita bicarakan. #Hello

panggung utama di Pesta Buku Murah Pacitan Divapress

Dan pertanyaan pun muncul kemudian dari para peserta. Anehnya seperti biasanya, pertanyaan peserta itu sudah lebih dulu saya tahu jawabannya disbanding pertanyaannya. Ralat: sebelum pertanyaan diajukan saya sudah tahu jawabannya. Ralat 2: pertanyaan peserta rata-rata hampir sama dengan pertanyaan yang sering saya terima dari peserta di tempat lain dan saya menjawabnya seperti biasanya.

“Bolehkah saya bertanya kenapa Kak Mini masih sendirin sampai hari ini?”
Jelas bukan ini pertanyaan yang dilontarkan peserta. Meski saya yakin ada juga yang sebenarnya ingin bertanya hal ini. Sebab saya tahu di sana ada #priaberkacama.

“Bagaimana cara untuk menjaga mood? Bagaimana juga agar saya bisa menulis padahal setiap hari sibuk sekolah adan ekstra sampai-sampai tak ada waktu untuk sekedar menulis pesan pendek.”
Pertanyaannya syahdu setelah mengalami editan dari tangan saya.

Pertanyaan itu sering muncul. Dan apa jawaban saya:
“Musuh terbesar penulis (mau pun yang lain) adalah diri sendiri. Kemalasan tercipta bukan tanpa sebab. Semua karena kita mengizinkannya. Jadi, satu pertanyaan untuk kalian renungkan: pilih menulis satu novel namun tuntas dan terbit atau memilih menulis seribu novel namun hanya setengah jalan dan tidak terbit selama-lamanya?”
Peserta mengangguk dengan kyusuk. Saya menyeringai (karena kalau tersenyum hamper mirip menyeringai)

“Kalau sudah niat maka kembali ke niat. Tuntaskan apa yang sudah kalian mulai. Hajar kemalasan yang merongrong jiwa raga kalian. Jatuh cintalah dengan yang kalian cita-citakan maka dengan begitu kalian akan memperjuangkannya.”
Hadirin mengeluarkan tissue. Menghapus titik titik di bawah mata. Bukan air mata namun keringat. Cuaca memang sedang asyik mempermainkan keadaan. Kalau hadirin bisa memakai tissue apalah saya yang berdiri di depan dengan keringat yang tak kalah hebohnya namun tetap harus tampil meyakinkan.

“Jangan khawatir, jika lelah maka istirahatlah. Pergilan bermain. Piknik. Hirup kebebasan. Jangan melulu di depan laptop. Beri kesejukan untuk mata dan segenap tubuhmu. Jangan kau biarkan ia merana demi ambisimu.”
Jeda sejenak.

“Maka dari itu penulis butuh outline. Kerangka cerita agar jika ditinggal sewaktu-waktu kelak bisa pulang dengan jalan yang benar.”
Terbit senyum. Seorang peserta meneriakkan nama saya; Kak Mini ai laf yu.

“Dan jika kalian merasa tidak punya waktu untuk menulis, mari saya ajarkan rumus matematika.”
Menahan keringat yang semakin deras.

“Kita memiliki mengantongi waktu dalam jumlah sama. Duwa puluh empat jam sehari. Maka anggaplah delapan jam habis dipakai di sekolah/ kerja. Duwa jam diperjalanan. Sisa empat belas jam. Untuk tidur habis enam jam. Sisa delapan jam. Bayangkan delapan jam sisa waktu kita. Anggap saja ini waktu untuk lain-lain. Maka curilah waktu lain-lain itu barang duwa jam atau sejam untuk menulis.” Saya menjeda sejenak. “Sejam dalam sehari untuk menulis. Saya rasa bisa.”
Si penanya sepertinya tercerahkan. Wajahnya yang tadi membiru berubah ke kuning. (entah apa penyebabnya)

“Hitungan matematika lagi. Novel kita ambil satu novel 200 halaman. Buatlah novel itu menjadi 20 bab. Maka perbab minimal harus 10 halaman. 10 halaman bisa dikerjakan berapa hari? Anggap saja sehari nulis dua halaman, berarti 10 halaman bisa dikerjakan lima hari. Lima hari untuk satu bab. Maka untuk 20 bab butuh waktu 100 hari atau kurang lebih tiga bulan sepuluh hari. Nah itu bisa kamu ambil sejam dari 24 jam yang kamu miliki setiap harinya. Dalam empat bulan kamu bisa punya satu novel.”

Ruangan yang tak lebih lebar dari lapangan bola itu mendadak hening. Semua pasang mata tertuju pada saya. Saya jadi kering, soalnya haus belum minum ditambah panas dan ngoceh tiada henti.
Maka sebelum peserta sadar saya langsung bilang, “Apakah jawaban saya membantu? Semoga membantu. Dan selamat menikmati dua lembar tulisan perhari. Saya tunggu naskah kalian.”

Saya mundur dan mengembalikan waktu pada moderator. Setelahnya saya hanya mengusap keringat dengan tissue. Sesekali saya lihat hadirin masih sering menatap saya meski dari kejauhan. Saya bisa apa selain melempar senyum sebab melempar koin saya tak ada.

Pacitan, dua jam saya membersamai adik-adik di sana.
Kehadiran saya untuk memeriahkan ulang tahun Pacitan.
Saya bangga ternyata saya dan Pacitan punya kesamaan, sama-sama lahir di bulan Februari. Bulan penuh keromantisan.
Semoga lain kali bisa dating lagi ke Pacitan dengan semangat dan kebahagian yang semakin berlimpah. [MIN]


Agenda di Pacitan, Minggu 12/02/2017

Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta 2017


“Mengapa orang Tionghoa memakai kebaya?” pertanyaan itu muncul dari kenalan yang juga merupakan panitia PBTY.

Saya menggeleng. Belum pernah sebelumnya kepikiran akan pertanyaan ini.

“Tidak tahu?” Beliau tersenyum. “Itu karena ibu mereka berasal dari Jawa. Namun karena bapaknya masih orang Tionghoa maka dibuatnya penyesuaian. Jadi bisa dilihat perbedaan kebaya Jawa dan Tionghoa.”

Menarik bagi saya.
Pekan Budaya Tionghoa baru saja dibuka. Masyarakat antusias untuk menyaksikan acara tersebut.
Berbeda dari tahun sebelumnya yang digelar lima hari, kali ini PBTY 2017 digelar mulai tangga 5-11 Februari 2017.
Seperti tahun sebelumnya, selalu ada tema dalam setiap perayaan. Kali ini “Pelangi Nusantara” menjadi tema utama. Hal ini diambil sebagai bentuk keberagaman budaya yang ada di Nusantara.
Acara ini terselenggara berkat kerjasama masyarakat Tionghoa, paguyuban dan pengusaha yang telah terorganisir. Dari tahun ke tahun pengunjung PBTY selalu meningkat. Dalam sehari saja pengunjung bisa sampai 7 ribu.
Kalau tahun lalu panitia PBTY berhasil menampilkan banyak budaya dari luar Jawa, maka PBTY 2017 kali ini akan lebih banyak menonjolkan tentang akulturasi budaya Tionghoa Jawa dan juga menghadirkan penari International. Tiga penari dari dua negara, Jepang dan India.

Setelah Imlek sebelum Cap Gomeh
“Kenapa acara ini dilaksanakan sesudah Imlek? Kenapa nggak pas Imlek atau jelang Imlek?”
Pertanyaan tersebut terjawab langsung oleh panitia.
Saya baru tahu jika Imlek itu mirip dengan Lebaran di tradisi Islam.
Tidak jauh beda bahwa hari pertama Imlek orang-orang akan sembahyang lalu menghabiskan waktu berkumpul dengan keluarga. Hari kedua sungkeman. Hari ketiga jalan ke rumah saudara-saudara.
Jadi sangat pas jika PBTY diadakan usai Imlek.
“Budaya itu indah tanpa perbedaan. Melebur. Meyeluruh.”

Akulturasi Budaya
Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta kali ini lebih menonjolkan kepada akulturasi makanan dan pakaian.
Akan banyak dibuka stand makanan yang menjajakan makanan-makanan tradisonal Nusantara yang dulunya lahir karena akulturasi budaya dari Tionghoa. Bekerjasama dengan 134 foodtruck.
Nanti juga akan ada pameran rumah budaya Tionghoa. Rumah itu akan diisi dengan koleksi-koleksi barang khas Tionghoa. Mulai dari alat makan sampai tempat tidur.

Sejarah Pekan Budaya Tionghoa
Tahun 2005, Ibu Muryati selaku dosen pertanian UGM berencana menerbitkan buku berupa Kumpulan Resep Masakan Tionghoa. Beliau lantas sowan kepada pemegang kekuasaan Yogyakarta dan justru oleh Sri Sultan diberi penawaran untuk membuat semacam pekan budaya khusus Tionghoa.
Hal ini selaras dengan misi Sri Sultan yang hendak menjadikan Yogyakarta sebagai kota penuh toleransi, Jogja City of toleran.
Gayung bersambut, tahun berikutnya resmi dibuka untuk pertama kalinya PBTY dengan ketua panitia Ibu Muryati.

Ketandan sebagai pusat Kampung China
Sering orang bertanya; kenapa harus di Ketandan?
Perlu diketahui bahwa Ketandan adalah kampung cina pertama di Yogyakarta.
Lebih dari itu bahwa Ketandan punya cerita sejarah yang panjang.
Tahun 1980, Ketandan merupakan kawasan tempat tinggal Tondo; kepangkatan dalam pejabat petugas pajak. Adalah Tuan Tan Jin Sing seorang kapiten Tionghoa pejabat pajak yang sangat dekat dengan Sri Sultan III dan tinggal di daerah Ketandan. Kala itu rumah beliau meliputi area pasar Bringharjo hingga mal Ramayana. Tahun itu Ketandan baru berusia 260.
Atas alasan inilah Ketanda menjadi pusat dari rangkaian acara.
“Akan kehilangan makna jika acara pindah tempat.”

Sejujurnya ini kali pertama saya mendengarkan langsung mengenai sejarah Kampung Ketandan dan juga tentang Pekan Budaya Tionghoa.
“Akulturasi itu terjadi seara diam-diam, berjalan bagus sesuai kebutuhan.”

Saya manggut-manggut dan kembali menyeruput teh manis sembari mengingat perkataan Om Jimmy sebelumnya, “baru di sini teh diberi gula. Di tradisi Tionghoa tidak seperti itu.” (MIN)