Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Cita-cita Mahasiswa Hukum STAIYO

Cita-cita Yang Sempat Tertunda

Januari 2022. Tahun ini salah satu cita-cita saya adalah sering-sering berkunjung dan mengisi blog ini dengan banyak cerita. Hal ini demi memuaskan hasrat pribadi yang terpengaruh juga sama para fans. Thank you so much buat para pembaca Mini GK. And then yang utama sebenarnya saya mau banyak cerita tentang masa-masa sekolah hukum.

Banyak yang enggak percaya saya sekolah hukum sampai akhir tahun kemarin kaget lihat postingan sidang semu yang saya jalani. Itu adalah sidang semu pidana perdata yang saya hadir sebagai salah satu pemainnya. Walau aslinya bukan kelas saya yang main sidang semu. 

Jadi saya baiknya mulai cerita dari mana? Agak aneh gak sih kalau ujug-ujug bahas sidang semu sementara awalan sekolah aja belum ada yang tahu. Tapi rasanya enggak penting juga sih pendidikan saya untuk pembaca. Malah nanti nampak narsis. Tapi kenyataannya emang saya kan narsis. Kadang kelewat kebangetan semangatnya padahal gak penting buat orang lain.

"Halah pokoknya ga urusan deh apa kata orang, yang penting aku bahagia tanpa meresahkan yang lain."

Permulaan Cerita Mahasiswa Hukum

Baiklah, jadi begini lho awal mulanya cerita cita-cita saya untuk sekolah. Duh harusnya saya nulis ini sejak dua setengah tahun lalu biar enak yang mengikuti. Tapi ya sudahlah toh waktu itu cuma NIAT doang tapi enggak nulis nulis juga.

Saat ini saya statusnya sudah otw semester 6. Semester genap yang konon isinya sudah banyak praktik lapangan alih-alih teori di kelas. Jujur senang banget akhirnya sudah sampai pada tahap ini. Mengingat kalau balik ke yang dulu rasanya kok agak mustahil. Antara biaya dan juga waktu. Sampai akhirnya takjub sendiri bisa pada tahap ini.

Makasih banyak buat diri sendiri yang sudah mau dengan sadar balik lagi ke meja sekolah. Sudah mau meluangkan Sabtu Minggu si weekend yang berharga untuk menyerap teori yang begitu, ya ampun, teori hukum mana ada sih yang mudah. Saya kuat dan saya masih sering ngakak lepas.

Kalau gak ingat ini sekolah benar-benar melewati perjuangan hebat, mungkin saya enggak akan seserius sekarang. Iya bagi teman-teman sekampus, saya ini orang serius dalam segala bidang. Padahal aslinya mah cuma punya rasa ingin tahu yang lebih dari yang lain. Dari rasa ingin tahu ini muncul tindakan-tindakan untuk mencari jawabannya. Sudah macem teori filsafat belum ini saya ngomongnya?

Semester Demi Semester Anak Hukum

Semester satu cukup menyenangkan meski banyak mengeluhnya. Iya saya sering capek pada keadaan kelas yang sering enggak kondusif. Capek sama teman-teman yang ternyata beda tujuan. Sering enggak paham juga dengan beberapa dosen yang kalau boleh jujur malah enggak masuk akal saya. Haha. Bakalan panjang ini kalau tulisan sampai terbaca para dosen. Tapi ya gak apalah, saya sudah sering juga membicarakannya.

Semester dua sudah mulai penyesuaian. Segala macam polah kelas sudah paham. Sudah mulai santai, masuk sudah enggak mruput seperti sebelumnya. Yes, saya ini manusia on time. Jadi kalau jadwalnya jam delapan maka jam setengah delapan atau mepet jam delapan pas pasti sudah sampai kampus. Tapi realitanya saya sering gak paham kenapa selalu jadi orang pertama datang selama beberapa semester.

Semester tiga sudah mulai berani berencana. Bahkan berdiskusi dengan para dosen. Sungguh menurut saya ini pencapaian meski bagi orang lain bilangnya enggak sopan. Dosen-dosen saya di Hukum Keluarga Islam itu menyenangkan kok. Awal-awal emang kami mahasiswa takut-takut lebih ke arah sungkan. Tapi lama-lama biasa saja, sama-sama manusia ini. Sungkan lebih kepada hormat. Akhlak dong harus nomer satu. Meski dekat sama dosen tapi tetap paham status, mana mahasiswa mana dosen. Tetap buat jarak biar enggak banyak kerancuan.

Pemberontakan Mahasiswa

Bukan Mahasiswa Jika Tidak Ada Jiwa Pemberontak.

Sementara empat, seperti biasa pemberontakan ada. Tapi lebih kepada teman sekelas. Jengkel gitu kok bisa visi misinya pada jauh banget dengan tujuan sekolah. Saya kira enggak akan banyak drama tapi ternyata ya ampun, bisa mungkin berjilid-jilid. Tapi ya tetaplah mending mandangin pasal-pasal saja dari pada mengurusi sesuatu yang menyepelekan kita. 

Sampai akhirnya kemarin semester lima. Enggak terasa cepat banget. Semester lima yang saya kira mata kuliahnya sedikit ternyata lebih banyak dari semester tiga. Mana saya terlibat banyak kegiatan di semester lima ini. Jauh dari harapan awal yang menginginkan diri jadi mahasiswa kupu-kupu, kuliah pulang kuliah pulang.

Di semester lima ini pula sepertinya saya satu-satunya mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Yogyakarta (STAIYO) khususnya program Hukum Keluarga Islam yang banyak datang ke kampus. Status kegiatan belajar mengajar masih online, tapi selalu aja ada alasan saya datang ke kampus. Bahkan pernah dua pekan full berangkat pagi pulang larut lebih dari jam sembilan malam.

Ngapain? Banyaklah, kapan-kapan saya cerita sendiri tentang ini.

Rasanya Dalam Ruang Sidang

Balik lagi ke sidang semu tadi. Semester lima belum ada praktik pengadilan. Mata kuliah ini hanya ada di semester tujuh. Tapi dengan secara pribadi meminta saya yang miskin ilmu ini untuk membantu acara sidang semu kakak tingkat. Ya langsung dong saya sanggup. Wong rencana emang mau menyusup hadir untuk menyaksikannya. Eh malah ide ini sejalan dengan keinginan dosen. Jadilah teman satu kelas saya ikut menyaksikan sidang semu pidana dan perdata dalam satu hari.

Alasan bagaimana bisa teman ikut acara sidang semu tak lain tak bukan adalah demi nilai UAS. Itu juga yang melintas dalam pikiran saya. Bakalan menyenangkan kalau sidang semu sekalian untuk soal ujian akhir semester.

Saya lebih menyukai tugas-tugas praktik seperti ini dari pada soal-soal ujian materi. Kalau materi bisa baca dari mana saya tapi kalau praktik perlu terjun langsung dan ada pengawasan dari ahlinya.


Meski sidang semu seharian, mana hujan pula, saya merasa bahagia. Cukup puas meski tidak maksimal. Saya tidak bisa cerita banyak tentang peran yang ada. Sebab saya waktu itu berperan sebagai saksi-saksi. Saksi penggugat untuk sidang perdata dan saksi ahli untuk sidang pidana.

Menyenangkan karena bisa bermain peran dengan apik. Seolah-olah jadi seorang profesor lulusan luar negeri. Meski hanya sebatas peran, siapa tahu dari sidang semu ini  kelak saya jadi profesor beneran. Aamiin.

Untuk Semester Mendatang

Bulan besok atau pekan besok saya sudah semester enam. Artinya tinggal satu setengah tahun (paling lama) saya berstatus mahasiswa hukum. Setelahnya entah takdir akan membawa saya ke mana lagi. Ingin sekali rasanya ambil beasiswa S2. Iya beasiswa. Sampai hari ini saya belum terpikirkan untuk kuliah atau sekolah dengan biaya sendiri. Apa pun nanti, semoga yang terbaik untuk saya. Juga untuk kamu pembaca curhatan yang tak seberapa ini. Aamiin.

Sebenarnya banyak yang ingin saya ceritakan, tuliskan dan bagikan. Tapi saya bingung memilah dan memilih. Bagaimana jika kamu yang pilih? Kamu boleh minta tulisan atau cerita apa saja. Nanti saya tuliskan khusus untuk kamu. Enggak harus yang tema-tema hukum tapi bisa juga membahas hubungan atau curhatan kamu. Ingin banget deh bisa menikmati cerita tapi bukan hanya dari saya tapi juga dari para pembaca.

Saya tunggu deh cerita yang ingin kalian dengar. Atau pertanyaan yang ingin kalian tahu jawabannya. Bahkan jika kalian bertanya tentang 'kapan nikah', so no problem. Saya selalu siap dengan apa pun itu.


Luv,

Mini GK perempuan teman perjalanan buku dan kamu 👠


Sangu Buku

 Sangu buku sebuah gerakan nyata untuk mendekatkan anak pada buku. Sangu buku bisa menjadi trand baru dalam sosial masyarakat. 

Anak Zaman Now hingga Era Industri 4.0

Perbedaan sering terjadi dalam sebuah komunikasi. Itu sesuatu yang lumrah. Hal seperti ini sering pula saya alami. Tidak hanya dalam berinteraksi dengan kawan sebaya namun juga dengan salah satu juri lomba. Kami sempat beradu argumen tentang ‘boleh tidaknya gawai diberikan kepada anak sekolah’.

Dunia terus berkembang. Tantangan semakin besar. Hanya mereka yang tangguh dan mampu mengimbangi kemajuan yang diprediksi bisa bertahan melaju.

Itu sebabnya anjuran untuk tidak memberikan gawai kepada anak bukan lagi musimnya. Mereka yang tidak melengkapi diri dengan gawai bisa dikatakan ketinggalan zaman. Bahkan sekolah dengan sistem asrama juga menfasilitasi arena dengan jaringan internet (meski ada batasan jam akses).

sangu buku
@minigeka instruktur kepenulis, novelis, duta baca, duta damai


Peran Orang Tua

Lalu pertanyaan muncul dari banyak kalangan: apa dampak jika anak terlalu sering pegang gawai? Lantas apa solusi yang dapat diambil untuk kasus ini?

Pernah bahkan sering saya mendengar ibu-ibu mengeluh karena anaknya tidak mau baca buku dan malah sibuk dengan ponsel. Agaknya ibu-ibu itu terlalu dini memandang ‘keburukan’ anak tanpa mau tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Sebagai pribadi yang tumbuh barengan dengan kemajuan teknologi, saya setuju bahwa teknologi (internet) hadir bukan sebagai musuh melainkan kawan baru yang akan ikut membantu dalam perjalanan menuju masa depan. Memang benar kemajuan teknologi (dan kemajuan bidang lain) selalu ada dua sisi mata uang. Tapi harus sadar, kitalah yang bisa mengendalikannya.

Menurut saya tidak masalah jika anak-anak sering memegang ponsel, lagian ini sudah zamannya demikian. Hal terpenting dari semua itu adalah kerelaan orangtua untuk lebih sering memerhatikan dan memberi contoh pada anak. Memerhatikan bukan hanya melihat namun juga berkomunikasi dari hati ke hati.

Orangtua bijak adalah kawan bagi anak-anak. Sorang anak, saya rasa akan meniru kelakuan orang-orang di sekitarnya. Jadi solusi yang paling jitu jika ingin anak-anak gemar membaca maka tidak lain adalah memberi contoh bahwa orangtua juga seorang pembaca yang baik. Memberi contoh lebih efektif dibanding memarahi anak.

Bukan perkara mudah mendekatkan anak-anak pada buku, namun juga bukan perkara mustahil. Idealnya memperkenalkan anak pada buku sudah harus dilakukan sejak dini. Tugas orangtua bukan untuk membuat anak pandai membaca sejak dini. Jika pemikiran ini yang masih berkelebat, maka akan susah membudayakan gemar membaca. Yang utama adalah menumbuhkan rasa cinta buku sejak kanak-kanak.

Usia dini adalah usia bermain dan mengenal. Biarkan lebih dulu anak-anak mengenal dan mencintai buku-buku. Ini akan menjadi dasar bahwa buku adalah kebutuhan. Ibarat bepergian, buku adalah sangu/ bekal yang wajib dimiliki dan dibawa kemana pun. Fenomena hari ini, orang akan rela putar balik saat mengetahui ponsel ketinggalan. Maka kelak giliran buku jadi serupa ponsel.

Memilih buku yang tepat juga menjadi salah satu metode keberhasilan menanamkan rasa cinta pada buku. Mulai dari buku bantal, buku berdimensi, buku bergambar penuh warna, buku bercerita dan terus meningkat sampai si anak kecanduan untuk terus mencintai buku.

Kenapa harus berliterasi?

Saya termasuk orang yang sering mengesampingkan tentang peringkat minat baca Indonesia yang katanya berada di ujung ekor. Bukan saya tidak prihatin namun lebih memilih mengapresiasi kemajuan meski hanya selembar dalam sehari.

Katakanlah benar kita berada di ujung ekor menurut PISA. Tapi bukan berarti Indonesia tidak mengalami perkembangan. Saya rasa minat baca khususnya generasi kekinian semakin bagus. Sudah sering saya jumpai orang sangu buku saat di pesawat, kereta atau dalam antrian.

Pada dasarnya budaya Indonesia adalah budaya bertutur. Orang berkumpul lebih senang bicara dan mendengarkan daripada asyik membaca sendiri. Maka trend hari ini muncullah ruang-ruang diskusi buku, klub buku, klub baca dan lain sebagainya. Ini adalah salah satu cara baik untuk mempertahankan (atau memperkenalkan) dunia literasi.

Membaca saja tidak cukup sebab berliterasi tidak berhenti hanya dalam tahap membaca. Berliterasi berarti juga mengadopsi pemahaman yang diperoleh lewat bacaan dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Literasi bukan hanya baca, tapi merujuk pada kolaborasi antar tindakan membaca, menulis, bicara, mengeluarkan pendapat, berhitung pula menghasilkan ide atau memecahkan sebuah masalah.

Literasi mengajak kita agar tidak mudah terhasut atau mudah terprovokasi pihak lain. Dengan berliterasi berarti kita sudah membentengi diri dari serangan ketinggalan zaman.

Balon Gas, Novel dan Catatan Pendek

Balon Gas 

Belum lama ini saya dapat sebuah nasehat dari kawan yang pernah study di Cairo. Nasehatnya sih simpel, tapi efeknya berimbas ke hati. 

“Jangan bangga menjadi balon gas. Ia mungkin bisa terbang tinggi dan tinggi. Tapi sesungguhnya di dalamnya hanyalah kosong. Jika gasnya habis, maka hancurlah balon tersebut.”

Simpel. Balon gas.

Saya sedikit tersentak seperti ditusuk peniti tajam. Ungkapan ‘jangan seperti balon gas’ tak ubahnya kata lain dari ‘jangan sombong’. Boleh jadi kita sekarang sedang di atas, namun kita tidak sadar bahwa itu semua berkat sesuatu, dan sesuatu itu kelak akan ada masa kadaluarsanya.
Novel Romantis


Minggu pertama di ramadhan ini saya mendapat undangan mengisi acara di sebuah butik yang juga merupakan galeri seni. Awalnya bingung juga mau ngisi dengan materi apa. Berbicara di depan banyak orang memang sudah menjadi hobi saya. Bukan sesuatu yang melelahkan justru menyenangkan. Namun untuk menemukan materi baru agar orang yang mendengarkannya tidak bosan kadang tidak mudah. Hal ini membuat saya harus berpikir ekstra.

Kalau Anda pikir saya seorang komika maka jawabannya salah. Saya bukan komika melainkan hanyalah seorang yang kebetulan sangat menggilai dunia tulis menulis dan akhirnya berhasil menerbitkan novel dan kebetulan yang sangat manis berkat hal tersebut ada saja komunitas atau perorangan yang meminta saya untuk mengisi kelas yang mereka buat.

Begitu Tirana House—nama butik dan galeri seni—mengontak saya untuk tampil ditempatnya, saya langsung mengatur strategi. Mulai saya pikirkan apa yang harus saya bawakan di hadapan hadirin yang nanti datang. Lalu tercetuslah ide untuk membuat acara dengan tema #ngaBUKUrit, merupakan perpaduan dari ngabuburit ditemani buku.

Novel dan Catatan Pendek


Kebetulan banget beberapa bulan sebelum ramadhan, novel saya yang berjudul ‘Pameran Patah Hati’ terbit. Rasanya kok menarik kalau sambil ngisi waktu menjelang buka puasa diadakan bedah novel sekalian pembacaan beberapa halaman dari novel tersebut.

Ide itu langsung saya utarakan ke pemilik Tirana House dan langsung disetujui.

“Ilmu dibagi tidak akan habis justru akan semakin bertambah.” 

Kesempatan ini saya pakai untuk membagikan pengalaman dan sedikit ilmu yang saya dapat dari dunia kepenulisan. Seperti kata kawan saya tadi, jangan hanya jadi balon gas. Lewat acara #ngaBUKUrit tersebut teman-teman yang hadir diperbolehkan bertanya apa saja yang ingin mereka tahu tentang dunia kepenulisan dan saya kebagian jatah untuk menjawab semampu saya.
Cerita Pendek

Dengan dibantu pihak penerbit saya juga bisa berbagi novel gratis kepada teman-teman yang datang. Itu semua untuk menghargai mereka yang sudah bersedia meluangkan waktu dan tenaga, karena ternyata hadirin tidak hanya dari Jogja (tempat acara berlangsung) tapi juga ada yang dari Surabaya dan Malang.

Karena waktu #ngaBUKUrit hanya pendek, bahkan pendek sekali, rasanya saya belum puas. Lebih-lebih karena agenda pembacaan karya hanya dapat beberapa halaman saja.

Saya berharap ramadhan mendatang atau kesempatan lain (waktu diluar ramadhan) masih ada yang mengundang saya untuk membuat acara serupa ini. Semakin sering bertemu banyak orang maka akan semakin banyak ilmu baru yang didapat. Sehingga saya tidak akan berakhir hanya jadi serupa balon gas kehabisan gas. [MIN

*Catatan pendek 2015

Online Class Bukan Budaya Kita

Online Online Class Bukan Budaya Kita

Online class itu bukan budaya kita, budaya kita itu masuk kelas rasan-rasan terus gak mempedulikan dosen.
Benarkah demikian?

Saat keluar imbauan dan edaran agar setiap instansi pendidikan melakukan online class dan menutup sementara kelas-kelas tatap muka, sejujurnya saat itu saya sedikit kecewa dan sedih. Kecewa karena sebenarnya kelas tatap muka itu lebih saya butuhkan dibandingkan online. Sedih karena dengan keluarnya edaran itu maka pandemi covid memang sudah dalam tahap mengkhawatirkan.
Online class

Bagaimana saya tidak kecewa. Ini tahun-tahun pertama saya resmi jadi mahasiswa. Lagi on banget istilahnya. Belum lagi masuk kelas cuma weekend meski dihajar dari pukul 08.00 sampai 17.00 WIB non stop. Tapi setidaknya ini menyenangkan. Seperti biasa, saya tipikal orang yang senang ngobrol dan bergaul. Kampus menjadi satu tempat menyenangkan untuk menyalurkan dua hal tersebut. Dosen dan teman yang bisa jadi patner belajar. Ya meski enggak semua teman, bahkan sejujurnya hanya segelintir saja, yang bisa atau sepemahaman dengan cara pikir saya.

Online class itu tidak enak

Saya rasa bukan hanya saya yang beranggapan demikian. Sepupu dan murid-murid sudah mulai kehilangan gaya saat harus benar-benar belajar dari rumah via online. Ternyata bagi mereka anak sekolahan, sekolah tetaplah hal menyenangkan dibanding di rumah tak ada teman.
Kalau saya, tidak suka online class karena banyak tugas dan materi yang disampaikan kurang bisa diserap. Ya bayangin aja, pas masuk kelas itu paling dosen masuk cuma sekian menit saja sesudahnya kelas bubar. Sementara online class, dosen yang biasanya jarang masuk atau justru masuk cuma setengah jam, mendadak jadi sibuk sering memberi tugas setiap jam beliau. Duh, sungguh saya ini belum paham materi dan harus dicambuk dengan tugas. Mana pandemi ini saya gak bisa ke perpustakaan mencari referensi. Duh pokoknya gak enak. Nelangsa.

Saat saya berkeluh kesah ini itu di saat yang sama banyak orang yang enggak bisa akses pendidikan sama sekali. Kalau mengingat ini, mendadak saya merasa kurang bersyukur. Tapi begitu balik ke realita yang dihadapi, kok ya benar-benar memuakkan. Teman-teman yang seenaknya saja saat online class dan malah cenderung hilang. Datang cuma untuk presensi. Sungguh ini membuat muak.
Aplikasi Belajar Online

Online class itu bukan budaya kita, budaya kita itu masuk kelas sebentar habis itu cinlok.

Ya meski untuk kasus ini saya belum pengalaman juga sih. Ya gimana mau cinlok kalau yang diharapkan tidak ada di kelas. Hehe,

Meski begitu, adanya online class mau tidak mau sebagai satu alternatif yang dapat membantu. Lebih baik online class dibanding enggak kelas sama sekali. Meski kendala banyak banget tapi setidaknya itu menjadi pembelajaran agar kelak tidak lagi latah dalam segala situasi.
Mau bagaimana juga saat ini dan kemajuan zaman telah menjadikan budaya online sebagai satu alternatif baru untuk digunakan.

Sejujurnya untuk online-online ini saya sudah akrab meski tidak terlalu terjun di sana. Sejak memutuskan untuk jadi freelance dan berhenti jadi buruh, kegiatan online adalah satu jalan yang saya tempuh untuk mencari sesuap nasi.
Hanya orang-orang 'malas' saja yang akan kerepotan di era ini. Era teknologi dan informasi memang membuat kita dituntut untuk kreatif dan belajar mandiri. Kalau semua semua 'disuapi' maka tidak akan berkembang.

Ini baru awal online class, wajar banyak yang gagap. Bahkan para pengajar pun tampak belum siap. Esok, kita tidak pernah tahu apa yang bakal terjadi.

Pendidikan Nasional Pendidikan Indonesia


Pendidikan Nasional Pendidikan Indonesia

Setiap membahasa pendidikan, saya selalu susah untuk move-on. Bukan, bukan karena pernah cinlok di SD atau jatuh cinta sama guru, bukan itu.
Hal yang membuat saya tidak bisa untuk menghindar adalah perkara 'jarak'. Aduh ini bukan bahasa LDR, please fokus.

Betapa jarak pendidikan di kota dan desa sangat jauh. Kita sama-sama memahaminya. Belum lagi dengan pulau-pulau terdalam (pelosok), sangat mungkin anak-anak di tempat ini tidak kenal bangku sekolah.
Lalu saya jadi ingat film 'Sakola Rimba'. Kesenjangan pendidikan terpotret dengan gamblang, membuat dada nyeri. Belum lagi 'Laskar Pelangi', meski disajikan dengan nuansa santai dan sedikit jenaka namun sungguh kisah di dalamnya sarat makna. Bagaimana pendidikan itu penting dan wajib diperjuangkan.

Semalam Mas Menteri Nadiem dalam siaran televisi menyatakan kekagetannya tentang Indonesia yang belum semua daerahnya bisa akses listrik. Saya mendadak ingin teriak: selama ini kemana aja, Mas? Rasanya gemes sekali.

Padahal hal ini sudah terlihat nyata. Makanya kemarin waktu ada program belajar dari rumah via gadget, banyak anak-anak negeri yang kesusahan akses. Hal ini disebabkan banyak faktor, tidak hanya akses listrik yang belum merata. Tidak punya gadget dan sinyal internet juga menjadi kendala paling utama.

Bayangkan saja, di zaman ini masih banyak keluarga yang tidak melengkapi diri dengan android. Ini nyata. Kalau pun ada, biasanya milik orangtuanya, bapak atau ibu. Dan sudah barang tentu ponsel pintar tersebut dipakai orang tua untuk berkegiatan. Misalnya yang punya ponsel hanya bapak, sementara bapak pakai ponsel untuk kerja ojek online. Maka sudah dipastikan anak di keluarga itu tidak bisa mengikuti/ mengerjakan tugas tepat waktu.

Pandemi Corona telah benar-benar menyadarkan kita bahwa masih banyak PR bagi dunia pendidikan Indonesia.

Saya jadi ingat cerita dari Sinak. Seorang guru yang berkisah bagaimana anak didiknya yang belum fasih baca tulis padahal sudah jenjang SMP.  Belum cerita lain bagaimana dia harus berjuang di antara teriakan senapan yang kadang meluncur tiba-tiba. Cerita-cerita lainnya sangat menyentuh sekaligus membuat saya bersyukur tinggal di daerah yang akses pendidikan cukup baik.

Cerita lain datang dari Talaud. Semasa pandemi Corona, anak-anak didik tidak lagi mengadakan 'pelajaran' bahkan jarak jauh pun tidak.

"Sekolah libur. Tidak ada kelas online. Sinyal saja sudah."
"Lalu anak-anak belajar apa?" Kejar saya.
"Apa saja yang mereka dapatkan dari rumah masing-masing."

Beda lagi cerita keseharian saya. Ketika akses pendidikan begitu mudah, gadget dan sinyal internet melimpah, anak-anak didiknya justru 'keracunan' dan malas-malasan. Jangankan untuk diajak berpikir kritis, diberi tugas satu soal saja tidak semua mengerjakan pun kadang mengumpulkannya kelewat deadline.


Pendidikan dan Menteri

Kesenjangan, kecurangan dan kegelisahan perkaran pendidikan nasional pendidikan Indonesia sepertinya tidak akan terselesaikan dalam waktu dekat. Akan lebih mudah jika masing-masing individu menyadari peran diri dan pentingnya pendidikan. Kalau tidak ada kesadaran akan pentingnya kecerdasan, maka akan sulit untuk mengedukasi ke arah lebih maju.

2020 bukan lagi saat untuk berpangku tangan atau mengawang apa yang akan terjadi esok. Tahun ini hendaknya sudah siap menyingsinkan lengan dan berdiri tegap menghadapi 'kebodohan'.
Lantas saya kembali berpikir apa cita-cita untuk menjadi menteri sebaiknya kembali saya hidupkan? Sungguh berat.

Bertemu Tere Liye di Klan Matahari

Apa sih hal paling bisa mendekatkanmu pada buku?
Atau jika dibalik, kenapa sih kamu suka buku?

Pernah kah ada yang bertanya demikian pada diri sendiri?
Saya sering. Iseng-iseng jadi sebuah kebiasaan. Untungnya kebiasaan baik jadi bisalah ditularkan kepada kesayangan-kesayangan.

Rasa-rasanya sejak bisa membeli buku sendiri, saya jadi semakin sayang dan enggak bisa lepas dari buku.
Rasanya seneng banget kalau punya buku baru, entah karena beli atau dapat hadiah. Sering kali malah sengaja banget nyari buku-buku lawasan yang murah meriah untuk mengembalikan aroma masa lalu.

Buku dan saya, atau saya dan buku adalah dua sahabat yang sulit untuk dipisahkan.
Layaknya sahabat, kami (saya dan buku) juga sering mengalami yang namanya 'bentrok' atau peristiwa sedih.
Berantem mungkin lebih tepatnya.
Saya menginginkan dia (buku) tapi seringnya dia jual mahal (dalam arti sesungguhnya) lantas saya harus berusaha sebisa mungkin untuk menuntaskan cinta yang sudah kadung tumbuh ini.

Salah satu cara saya untuk selalu berdekatan, atau memelihara cinta dengan buku yaitu gabung dengan beberapa klub buku dan baca.

Sudah empat tahun, kalau tidak salah ingat, saya gabung dengan klub baca Jogja dan klub ulat buku. Sebuah klub suka suka yang aktivitasnya baca buku suka-suka dengan cara suka-suka.

Sudah banyak sekali buku yang akhirnya saya baca setelah ikutan klub baca. Klub ini hadir sebulan sekali dengan buku beda dan pemantik diskusi yang beda pula.

But, di postingan ini saya enggak akan banyak-banyak cerita tentang klub baca Jogja.
Why? Because saya mau cerita klub baca lain yang kebetulan belum lama ini didirikan.

Sebut saja namanya Klub Baca DPK. Ntar saya ceritakan DPK itu apa. Tapi nanti pas saya Selo, #eh

Klub baca DPK dibentuk oleh kantor perpustakaan daerah Gunungkidul. Ya tujuannya emang membuat klub baca yang mewadahi mereka-mereka yang tertarik dengan bukubuku, khususnya anak anak usia SMP.

Senang saya bisa ikut terlibat dalam klub baca ini. Selain mengampu kelas menulis sastra (yang saya merasa sejujurnya agak gimana gitu karena ilmu yang enggak seberapa) eh sekarang malah didapuk juga untuk mengampu klub baca.
Senang karena di sini ketemu anak anak baru yang dulu sesuai mereka saya ingat banget kalau saya susah untuk ketemu buku yang saya ingin.

Klub baca menjadi wadah yang pas untuk mereka yang menyukai  baca. Akan menjadi satu motivasi untuk menyelesaikan bacaan yang sudah menumpuk.

Tidak jarang atmosfer yang ada dalam klub bisa jadi amunisi sampai berbulan-bulan kemudian.

Di klub baca, siapa saja bisa mengajukan untuk diskusi buku, kapan waktunya dan buku siapa yang akan dibahas. Buku sendiri juga sangat boleh.

Tempo hari saya mengusulkan novel MATAHARI karya TERE LIYE.
iye Tere Liye yang itu, pliss enggak usah julid.
Saya mengusulkan buku tersebut karena sangat cocok dengan klub baca yang isisnya anak anak SMP. Lagian di perpustakaan buku ini lumayan banyak jadinya bisa banyak yang pegang.

Pemilihan judul buku memang sengaja banget menyesuaikan dengan jumlah buku yang ada di rak perpustakaan.
Hal ini tidak lain buat mempermudah jalannya diskusi.
Satu orang baca, yang lain mendengarkan sambil menyimak.

Untung prediksi saya tidak meleset. Banyak yang sudah kenal karya TERE Liye. Untuk yang MATAHARI ini ada beberapa yang udah tamat. Jadi diskusi singkatnya langsung jalan dengan enak banget.
Meski bukan pecinta Tere Liye garis keras, saya cukup berterima kasih kepada kesempatan yang pernah memberikan waktu kepada saya untuk jumpa dengan Tere Liye secara nyata tidak hanya dalam karya.

Saya yakin, sebagian orang masih berharap bisa jumpa dengan novelis satu ini. Begitu pun dengan anggota klub baca.

Sekian waktu mengasuh kelas menulis sastra (yang mana di sini kadang saya merasa kurang pantas karena keterbatasan ilmu) akhirnya diberi kesempatan untuk juga mengampu klub baca.
Klub baca bagi saya adalah satu penyaluran energi.

Saya menyukai klub-klub yang konsen dengan buku dan baca. Bukan berati saya enggak doyan gabung ke klub kecantikan. Bagi saya mah, baca wajib, tampil cantik harus, jago masak luar biasa.

Jadi, sudahkah kamu membaca pikiran dan mauku hari ini??

The Secret of Indonesia

Sisi lain dari tersesat

Seberapa sering kamu dihadapan pada situasi yang sebenarnya bukan dalam kekuasaanmu?
Boleh dibilang semacam salah jurusan gitu?
Saya selalu berusaha untuk tidak tersesat dalam sebuah perjalanan. Untuk mengatasi hal-hal itu saya menyiapkan diri sebaik mungkin, misal dengan cek google map atau tanya kepada teman yang mengetahui kondisi daerah yang ingin dituju.
Masalahnya kadang kala harapan tidak sesuai kenyataan, dan cerita tersesat pun terjadilah lagi dan terus berulang (bahkan di daerah yang sama), semacam enggak belajar dari pengalaman.
Selanjutnya apa yang sebaiknya dilakukan jika tersesat?
Panik? Iya tentu saja. Tapi entah dapat kekuatan dari mana, saya selalu menikmati setiap cerita tersesat dengan begitu syahdu. Seakan-akan ini adalah hadiah dari Tuhan agar bisa lebih eksplor lebih dalam.

Satu hal yang saya takutkan saat tersesat: kehabisan bahan bakar.
Ala ala Miss

Pesan Masuk dari Mereka 

Sekitar setahun lalu, sebuah pesan masuk ke WhatsApp pribadi saya. Inti dari pesan itu adalah meminta kesediaan saya sebagai seorang penulis untuk mengisi kelas menulis di sebuah Sekolah Tinggi Bahasa Asing.

Pesan seperti itu memang sering mendarat di WhatsApp mau pun DM sosial media @minigeka. Ekspresi yang pertama muncul tentu saja rasa bahagia. Bukan karena job di depan mata melainkan merasa dihargai oleh mereka yang sudah Sudi meluangkan waktu untuk membaca dan mencari tahu tentang saya.

Kalau enggak cari tahu, dari mana bisa kenal saya dan karya-karya saya.

Singkatnya, pesan itu saya respon dengan jawaban bersedia untuk mengambil jatah kelas sekian jam. Ya saya bilang kelas sebab memang acaranya di kelas dan ternyata ini bagian dari mata pelajaran yang harus mereka terima.
Lantas apa hubungannya antara tersesat dan mengisi kelas menulis?
Apakah saya tersesat sampai kampus yang dituju? Iya saya tersesat tapi bukan itu masalahnya.

Saya tersesat karena saya merasa punya ilmu sangat terbatas. Kalau ibarat telur, masih sebatas debu yang nempel di cangkang. Jauh dari kuning telur.
Saya harus menyesuaikan diri dengan pengundang acara. Sebelum hari acara saya berkomunikasi terus menerus minta kepastian apa saja yang harus saya sampaikan. Begitu pun dengan mereka, panitia tidak hentinya bertanya apa saja yang saya butuhkan dan juga berapa sebenarnya honor yang harus mereka keluarkan
Punya Murid dari Indonesia Timur
Sejujurnya kekhawatiran itu bukan perkara honor yang kurang. Saya sangat yakin mereka yang berani memanggil saya sudah yakin akan biaya yang harus dikeluarkan.
Toh saya juga tidak terlalu mematok berapa fee yang harus saya terima. Ada memang harga yang saya tawarkan, namun biasanya kalau dalam hal-hal tertentu. Untuk hal-hal yang lain kadang malah saya memberinya gratis, sesuai dengan kebutuhan.

Lagi-lagi yang membuat khawatir adalah apakah materi yang saya sampaikan nantinya cukup membantu atau malah justru tidak penting bagi mereka (peserta).

Alhamdulillah selama ini belum pernah saya menerima keluhan dari mereka yang pernah masuk kelas saya. Tapi entahlah itu mereka beneran paham atau tidak peduli.
Kadang orang diam itu karena sangat paham atau sebaliknya, tak mau peduli.
Penguasaan bahasa asing saya buruk, saya akui itu. Itulah yang kadang membuat kurang PD, terlebih jika harus berdiri di podium di mana mereka yang menjadi audiens adalah orang-orang yang mempunyai gelar atau riwayat pendidikan lebih tinggi di atas saya.
Saya seolah tersesat. Tersesat di jalan yang benar.
Dari panitia yang menjemput dan tim LO (saya kurang paham LO atau bukan) saya tahu kalau mereka menemukan nama saya karena kabar dari mulut ke mulut.

'Teman saya punya kakak. Kakaknya kuliah di UAD. Waktu kami bilang kesulitan mencari pembicara, kakak itu menyarankan nama Kak Mini GK." Seorang memulai menjawab pertanyaan yang sering saya ajukan: dari mana tahu saya.

Yang lain menimpali, "lalu saya tanya juga ke tempat lain. Cari tahu tentang penulis di Yogyakarta. Dan salah satu temen memberitahu nama Mbak Mini. Ya sudah kami langsung menghubungi Mbak Mini. Dan ternyata direspon sangat cepat."

Untung mereka menghubungi saya tahun lalu (2018) coba aja kalau mereka menghubungi saya 5 atau 7 tahun lampau, pasti akan saya cuekin. Lagian zaman itu kan Mini GK belum terkenal juga ding, boro-boro menerima pesan buat ngisi acara, terima pesan dari kamu saja enggak pernah, #halah
Berbekal keyakinan 'nama baik' dari dua orang yang entah siapa namanya (karena waktu saya tanya ternyata mereka lupa), saya akhirnya siap untuk menghabiskan setengah hari di depan mahasiswa semester 3 ini untuk mengenalkan dunia sastra. *Padahal pemahaman saya pada sastra aja kacau
Manis

The secret of Indonesia

Tema yang diberikan agak-agak membuat saya merinding. Saya selalu 'kesulitan' untuk menguak sesuatu yang Indonesia banget.
Bukan karena saya tidak cinta atau tidak peduli. Melainkan karena saya selalu ingin menampilkan sesuatu yang tidak main-main.
Hal ini membuat riset saya panjang.

Kepada murid-murid baru ini saya izinkan mereka untuk bercerita tentang apa saja yang mereka rasakan tentang Jogja.
Saya lupa tugas apa yang saya berikan namun karya yang mereka hasilkan cukup membuat saya senyum. Walau ada beberapa yang tidak sesuai tema.

Pertama kali lihat pamflet dengan wajah sendiri tertempel di papan informasi
Dari sekian jam, saya paling senang acara tanya jawab dan pembacaan karya. Saya suka cara mereka membacakan karyanya. Tampak sekali jika mereka bahagia dengan hasil tulisan yang mereka garap sekian menit.
Begitu pun saat tanya jawab. Pertanyaan mereka banyak tentang pertanyaan dasar. Ini berarti mereka memang masih belum banyak tahu tentang menulis cerita. Saya jadi bisa menambahkan bumbu-bumbu drama di sini.

Pada akhirnya di mana pun saya berdiri, cerita cerita selalu menjadi teman sejati yang selalu asyik untuk dikenang lain waktu.
Setiap langkah dan pertemuan adalah cerita-cerita panjang yang belum tentu orang lain mengalaminya.

Saya tidak pernah merasa rugi menghabiskan waktu dengan bermesraan bersama kata dan cerita.
Kalau boleh, saya justru ingin terus bisa mengakrabi dan mengawinkan kata dengan kata.

Bengkel Sastra Pertemuan Pertama

"tak akan miskin saat engkau sedekah, tak akan hilang ilmu saat engkau berbagi"

Kepercayaan saya mulai tumbuh laksana biji kecambah dalam tanah basah. Mula-mula hanya sejengkal rasa lantas keadaan mengizinkan rasa itu terus tumbuh tumbuh dan semakin subur sampai-sampai musim berbunga bahkan panen di depan mata.

Mohon maaf sebelumnya kalau dalam postingan kali ini saya akan sering mengulang kata 'kalau tidak salah' atau 'seingat saya' 

 Mungkin ada yang beranggapan 'halah cuma percaya aja lebay, mbok biasa saja, manusia hidup ya kudu saling percaya'.
Kenyataannya saya bukan tipe manusia yang masuk golongan manusia pada umumnya. Ada rasa sensitif dan perasaan sendiri yang kadang diri sendiri saja susah menjelaskan, dan ragu pula orang lain akan memahaminya.

Bagi saya, kata percaya tidak hanya sebatas menepati janji. Terlalu kompleks untuk dijabarkan.

Percaya itu sulit, menurut saya. Mungkin karena saya beberapa kali mengalami kecewa, tepatnya berharap lebih dan ternyata hasilnya jauh dari angan.
Ini bukan tentang secuil rasa tentang dia atau rindu. Kita sedang membicarakan kepercayaan dalam konteks luas, lebar lebih jauh dari sekedar pelukan semalam.

Mungkin karena kurangnya rasa percaya pada diri sendirilah yang selama ini menghambat jalan saya. Bolehlah dibilang kalau saya ini pernah mengalami yang namanya kurang percaya diri. Ya percaya diri seperti yang kalian bayangkan.
Kapan itu? Bahkan sampai detik ini saya masih merasakannya.
Kalau pun saya terlihat terlalu PD, katakan itu karena terlalu banyak aura dan kepercayaan yang hinggap di sekeliling saya.
 Saya lupa kapan tepatnya, mungkin empat atau lima tahun yang lalu semua ini bermula.
Mula-mula biasa saja, saya tidak banyak berharap. Hingga harapan meminta dan menunjuk saya untuk berpihak padanya.

Awal saya jatuh cinta pada dunia menulis ya karena suka saja, tidak ada alasan atau embel-embel yang lain. Bertahun-tahun saya hidup di situ, serasa jalan di tempat, namun begitu nyaman
 Biasa saja. Tidak ada target yang saya kejar: tepatnya saya tidak terlalu percaya pada dunia tulis menulis. Kalau masih bertahan di sana itu karena memang suka, tidak kurang tidak lebih.

Beberapa tulisan saya hasilkan. Hasilnya cukup memuaskan meski tidak lantas membuat saya percaya pada diri Sendiri.
Kalau tidak percaya sama diri Sendiri, bagaimana bisa percaya pada orang lain?

Maka setelah "kunjungan dari hati ke hati"  pada suatu waktu, saya tersadar akan sesuatu.

Malam jelang dini, berhadapan dengan seorang kawan saya diberi petuah yang sampai hari ini masih saya ingat jelas: kamu itu punya kekuatan yang sama dengan yang lain (sama-sama kuat), hanya saja kamu itu belum menggunakan kemampuanmu bahkan seperempat saja belum.

Sampai di sini saya mengartikan bahwa sesungguhnya jika saya kerahkan tenaga lebih banyak maka saya akan menjadi SAYA YANG KUAT.

Sejak itu saya mencoba berdamai dengan segala h, termasuk keadaan yang membuat hari berantakan.
Hasilnya? Saya tetap kacau. Masih saja seperti kemarin bahkan lebih buruk, setidaknya saya merasakan begitu

 Singkat cerita, sebuah karya menarik saya untuk berdiri lebih tinggi dibanding yang lain. Kalau dibilang titik balik, mungkin seperti inilah mulanya: karya saya diganjar dengan sebuah penghargaan yang cukup menggiurkan bagi mereka yang paham dunia buku. Dari situ kesibukan dan hari-hari saya berubah.

Memang sebelum ada penghargaan ini saya sudah beberapa kali "didaulat" untuk ngoceh di depan ratusan anak muda dalam acara talkshow dan lain-lain. Sebelum dapat penghargaan, saya sudah sering menerima tawaran berbagi motivasi ke banyak kampus atau sekolah. Padahal saat itu kondisi saya yang sesungguhnya sedang dalam keadaan kurang percaya diri

 Sejak penghargaan itu datang, banyak kepercayaan ikutan menyusul, datang dan minta saya untuk menerimanya.
Maka saya pun merentangkan tangan membuka hati untuk "jalan baru".

Aktivis menulis terus jalan, ditambah harus "manggung" memenuhi undangan dari sana sini. Yang pada akhirnya saya rasa justru bukan saya yang MEMBERI melainkan saya yang MENERIMA banyak ilmu dan semangat dari orang yang saya jumpai.

Masih tersimpan beberapa catatan dari para peserta yang pernah masuk kelas saya.
Padahal hari itu saya bahkan belum punya sertifikat atau piagam yang layak untuk dijadikan pegangan menjadi seorang "pembicara".
 Baru setelah lima tahun atau empat tahun belakangan, saya sudah mengantongi lebih dari 3 sertifikat / pengakuan dari pihak lain yang  bisa jadi bekal kalau saya LAYAK untuk menjadi TEMAN BERBAGI

Benar kiranya kata mereka bahwa dengan berbagi kita tidak akan miskin, justru sebaliknya, semakin kaya dan tidak bodoh.

Ilmu menulis saya memang cuma cukup sebatas itu itu saja. Namun beberapa kesempatan membuat saya harus bisa lebih dari yang sudah. NAIK KELAS kalau kata teman jalan.
Dan tahun 2019 ini saya entah atas pertimbangan apa diangkat untuk menjadi MENTOR/ pembimbing dalam kelas BENGKEL SASTRA.

BENGKEL SASTRA sendiri merupakan program tahunan yang diadakan oleh Balai Bahasa Yogyakarta sejak puluhan tahun lampau.
Zaman saya SMA, saya sudah mendengar adanya program ini: namun sangat disayang, jangankan ikut jadi peserta, tahu cara daftarnya saja enggak.

Kini ketika saya sudah berumur, kesempatan itu datang dan "jabatannya" sungguh luar biasa. Bagi saya posisi mentor ini sangat luar biasa, karena saya tahu, mentor itu bagaikan seorang yang maha tahu dan selalu bisa jadi idola.
Sayangnya, saya merasa jauh dari sifat itu

Yang saya paham, saya bisa nulis dan saya tidak keberatan untuk berbagi pengalaman. Apa pun wadahnya.
Dan Tuhan mewadahi saya dalam bengkel sastra, yang tidak pernah saya tolok bahkan dalam pikiran.

 Saya beruntung bisa terlibat tahun ini. Semakin beruntung karena mengampu kelas di Gunungkidul. Artinya tidak terlalu jauh dari gua pertapaan.

Kelas bengkel sastra memang cuma seminggu sekali dan hanya sekian jam, tapi senangnya karena hari itu berarti saya ketemu dengan perwakilan  dari sekolah-sekolah setingkat SMA/K/MA.

Saya mengampu kelas CERPEN. ada sedikitnya 30 murid. Jangan tanya apakah saya hafal namanya. TYDAK.
Seperti saya yang tydak hafal wajah AAN MANSYUR.

Ritual Minggu saya mulai pukul 07.00 hingga 12.00 WIB adalah duduk manis di salah satu ruang di SMK Muhammadiyah Wonosari, tempat bengkel sastra dilaksanakan.
Sudah ada jadwal sekitar 10 kali pertemuan. Ya saya hanya mengajar 10 kali, namun cukup panjang sebab materi yang diberikan melebihi materi anak kuliahan semester pertama.
Pertemuan pertama kali ini tidak banyak materi yang saya berikan.  Karena waktunya juga singkat sebab dipotong dengan acara upacara pembukaan; sudah semacam acara resmi dari dinas-dinas.

Waktu yang sedikit itu saya pakai untuk perkenalan (ya meski sampai pertemuan berikutnya saya juga belum hafal bahkan satu pun gak ingat).
Selain itu saya juga memberikan materi tentang macam-macam jenis tulisan. Ya, sebuah materi yang 'njelehi' tapi pada akhirnya jadi sesuatu yang menarik setelah di tangan saya.

Sejak saya percaya pada diri sendiri, saya juga percaya pada orang lain. Jadi dengan landasan percaya, maka saya mencoba menyuguhkan hal-hal yang tidak mengecewakan.

Kalau kata para influencer, no kaleng kaleng pertemuan yang saya berikan.
Materi dan bahan bisa saja dicari di mana saja, namun untuk gaya penyajian setiap orang pasti beda.
Dan ketika saya selesai dengan satu gaya baru, saya merasa puas, sebab di sana saya melihat senyum dari orang-orang yang juga mengormati saya.

Agaknya benar, cara mudah untuk menjadi sosok TERHORMAT adalah dengan bisa dipercaya.

karena saya percaya dengan sebuah kebaikan, maka kebaikan memeluk saya dengan selimut kehormatan yang hangat. Tidak sia-sia saya begadang membuat bahan presentasi.

Setelah postingan ini, saya sudah menyiapkan postingan lanjutan. Sebab ketika saya menulis ini sesungguhnya Bengkel Sastra sudah berjalan tiga kali pertemuan.

Penulis Melek Hak Kekayaan Intelektual

“Oh ini Mbak Mini GK yang penulis itu?”
“Mbak Mini, aku suka banget sama buku mbak mini yang Pameran Patah Hati. Aku kopi buku Mbak Mini lalu aku bagikan ke temen-temenku.”
“Mbak Mini, bagi ide dong untuk calon tulisanku.”
“Mbak Mini, kemarin aku lihat buku Mbak Mini di lapak online, harganya murah Cuma sepuluh ribu. Pas aku beli ternyata isinya jelek banget. Cuma kopian.”

Nah lho, pernah gak berhadapan dengan yang seperti ini?
Saya pernah. Dan itu nyata.

Jadi siapa bilang jadi seniman (baca: penulis) itu mudah? Tidak sayang, jalan seorang penulis itu sunyi dan berliku. Untuk kamu yang mau jadi penulis, coba deh pikir-pikir lagi.

Gini lho, kalau jadi penulis itu susah; setidaknya saat buat KTP saja, diform enggak ada itu profesi penulis. Paling pol ya merujuknya ke seniman.

Setelah kemarin heboh dengan kasus ‘buku bajakan’ lanjut dengan kasus ‘plagiat’, lagi-lagi kasus baru muncul: pencurian ide.

Sebagai penulis, saya kadang merasa takut dan galau untuk mempublis (bahkan meski itu hanya berupa kutipan). Lalu bagaimana seharusnya seorang penulis melindungi ‘anak’ (baca: buku) dari buah pikirnya?

Saya sudah sering membaca atau diskusi tentang hak cipta. Tidak jarang juga ikut-ikutan membahas isu tentang plagiat atau buku-buku bajakan. Tapi sampai saat ini saya tidak tahu sejauh mana sih seseorang bisa diperkarakan karena ‘mencuri’ karya orang lain?

Beruntung hari ini saya berkesempatan untuk ikut hadir di acara #forumHKIkominfo_yogya dengan fokus bahasan #cerdashukum di ballroom Sheraton Hotel.

Acara ini terselenggar atas kerjasama Direktorat Jenderal Informasi Dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informasi, Dinas Koperasi UMKM, transmigrasi dan tenaga kerja, Kemenkuham.

Tujuan acaranya sendiri cocok dengan kepentingan saya yaitu:
1.   mencari tahu tentang Hak kekayaan intelektual
2.   meningkatkan partisipasi publik untuk mendapatkan pengetahuan tentang kekayaan intelektual
ya biar enggak buta-buta banget deh kalau sudah berhadapan dengan kasus intelektual.

Ngomongin regulasi hukum berkaitan dengan kekayaan intelektual tidak akan selesai hanya seekali duduk. Sering saya menjumpai mereka yang sering membicarakan perkara hak cipta, merk, dan segala hukum yang memayunginya. Namun jujur sampai detik ini enggak paham sama sekali.


Pertanyaan muncul: kenapa kekayaan intelektual perlu untuk dilindungi? Jawabannya karena tentang nilai ekonomi yang menyertainya.

Saya baru tahu ternyata kalau tidak semua karya manusia dapat dilindungi oleh rezim kekayaan intelektual. Hanya karya-karya yang memenuhi syarat undang-undang dan peraturan.

Saya pikir semua isi dari novel saya bisa dilindungi. Minimal kalau ada yang mencuplik kutipan dari buku saya, saya kira bisa meminta royalti kepadanya. TERNYATA TIDAK.

Dari penjelasan Pak Handi Nugraha, SH, MH selaku kasi kerjasama lembaga non pemerintah dan monitoring kemenkuham, saya ada gambaran sedikit tentang kekayaan intelektual juga tentang hak cipta (yang berhubungan dengan buku/ karya terbit).

Lalu bagaimana sih caranya agar kita bisa melindungi kekayaan intelektual yang kita punyai?

Pertama ya kita harus tahu apa itu Hak kekayaan Intelektual: kekayaan intelektual atau intellectual property dalam pengertian yang luas dapat diartikan sebagai sekumpulan hak-hak hukum yang dihasilkan dari aktivitas intelektual di bidang industri, karya ilmiah, sastra dan seni.

Jadi gaes, kalau kamu penulis atau pelukis atau penyanyi lalu dibilang TIDAK INTELEK, plis deh bukan kamu yang kurang piknik tapi rangorang yang mengatai dirimu demikian. percayalah dengan menghasilkan karya (ya meski Cuma satu, hiks) kamu sudah bisa dikatakan seorang pernah melakukan aktivitas intelektual.

Cara Melindungi Kekayaan Intelektual
  1.    Dengan cara melakukan pengumuman, bisa melalui internet atau media massa
  2.    Harus didaftarkan ke pihak yang berwenang
  3.    Bisa dengan cara diam-diam karena termasuk rahasia dagang

Jenis-jenis kekayaaan intelektual:
1.   Hak cipta dan hak terkait
2.   Hak kekayaan industri
-      Paten
-      Merek dan indikasi Geografis
-      Desain Industri
-      Desain tata Letak Sirkuit Terpadu
-      Rahasia Dagang
-      Perlindungan varietas Tanaman (yang terakhir ini sering dikesampingkan)

Asas-asas umum Kekayaan Intelektual
  • 1.   Berlaku Nasional/ teritorial
  • 2.   First to file system (kecuali Hak Cipta first to publish)
  • 3.   Mensyaratkan kebaruan/ Novelty dan Orisinalitas (kecuali merek)
  • 4.   Ada janga waktu perlindungan dan tidak bisa diperpanjang kecuali merek
  • 5.   Jenis deliknya delik aduan
  • Artinya hanya pemegangnya yang bisa melaporkan jika ada pelanggaran terkait KI yang dimilikinya, orang lain tidak bisa
  •  

Hak yang terkait dengan hak cipta:
  • 1.   Hak artis (performer)
  • 2.   Hak produser rekaman (producer of phonogram)
  • 3.   Hak lembaga siaran


Di acara ini juga saya berkesempatan ketemu kawan-kawan UMKM dan juga dari Dinas UMKM tenagakerja dan transmigrasi.
Permasalahan utama UMKM
1.                 Aspek teknoligi - kurangnya pengetahuan teknologi produksi, promosi dan pemasaran - kurang mengikuti perkembangan teknologi
2.                 Aspek pemasaran - kurang memahami permintaan pasar - pengetahuan pemasaran - keterbatasan kemampuan menyediakan barang/ jasa sesuai keinginan pasar
3.                 Aspek Permodalan - kurang pemahaman akses pembiayaan formal - modal kecil
4.                  Aspek Manajemen manajemen tradisional baik keuangan, produksi dan pemasaran
5.                 Aspek legalitas umumnya tidak memiliki izin usaha seperti IUM atau persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP dan KI


 Masalahnya ada banyak juga orang yang enggak gampang untuk mengurus HKI. Cara gampang pertama lakukan penelusuran dulu di google agar tidak terjadi persamaan pada pokok merek yang sudah terdaftar.

OSN 2019 Mencintai Sains Mengukir Masa Depan

GENERASI MUDA INDONESIA

Sore itu hati ini  dibuat haru sekaligus takjub dengan jawaban dari adik-adik yang saya temui. Mungkin itu adalah pertemuan pertama saya dengan mereka, setidaknya itulah yang dapat saya tangkap dalam jangkauan ingatan saya.

"Soalnya tidak serumit yang saya bayangkan."
"Soal-soalnya lebih mudah dibanding tahun lalu."
"Soalnya jauh lebih mudah dari ekspektasiku."
"Aku yakin bisa pulang bawa mendali."
"Optimis."
"Ya apa pun hasilnya yang penting sudah usaha."

Itulah sebagian kalimat-kalimat yang membuat dada saya membuncah dan hampir-hampir air mata mengucur deras. Ya, saya memang mudah terkoyak-koyak dengan suasana.
Kalimat kalimat itu muncul dari mereka adik-adik yang bahkan usianya belum genap separuh total usia saya hari ini.
Mereka adik-adik pilihan terhimpun dari 34 provinsi di Indonesia. Bukan sembarang 'manusia' namun hanya mereka yang memiliki kelebihan dan memenuhi kriteria.

Ah, memang tidak akan habis mengungkapkan apa yang saya saksikan dan rasakan sore itu.
Ballroom Alana Hotel jadi saksi gegap-gempita yang tercipta dari para pemilik bahagia, para peserta juga keluarga OSN 2019.

Postingan kali ini saya ingin mengulas sedikit mengenai Olimpiade Sains Nasional. Sebuah ajang tahunan yang selalu menyita perhatian banyak kalangan.

Olimpiade Sains Nasional 2019


Tidak jauh beda dengan  tahun sebelum-sebelumnya, OSN 2019 ini terbagi menjadi: OSN SD, OSN SMP, OSN SMA.

Waktu pelaksanaannya dimulai dari tanggal 30 Juni 2019 dan berakhir 6 Juli 2019. Diikuti oleh perwakilan dari 34 provinsi.

Untuk OSN 2019 dilaksanakan di dua kota: Manado untuk OSN SMA 2019 sementara OSN SD 2019 dan OSN SMP 2019 dilaksanakan di kota Yogyakarta.

Bidang sains yang dilombakan di OSN SMA adalah:
- Matematika diikuti oleh 77 peserta
- Fisika diikuti oleh 79 peserta
- Kimia diikuti oleh 74 peserta
- Biologi diikuti oleh 77 peserta
- Komputer dan informatika diikuti oleh 75 peserta
- Astronomi diikuti oleh 72 peserta
- Kebumian diikuti oleh 77 peserta
- Geografi diikuti oleh 77 peserta
- Ekonomi diikuti oleh 77 peserta

Empat belas tahun lalu saya juga mengikuti acara seperti ini. Namun namanya belum OSN. saya sempat masuk bidang biologi dan tahun berikutnya ganti ke Fisika. Padahal fisika saya kurang bagus untuk teori, kalau praktik baru lumayan bagus. Untuk kimia lumayan cukup menguasai baik teori mau pun praktik.
Cuma kalau suruh berhadapan dengan adik-adik peserta OSN, saya sudah yakin ketinggalan jauh.

Sementara  itu untuk lokask OSN SMP  bidang Matematika dilaksanakan di SMP 8 Yogyakarta dan bidang IPA IPS berlangsung di Universitas Negeri Yogyakarta.

Maksud dan Tujuan OSN 2019

Sekretaris Jenderal Kemendikbud, Didik Suhardi dalam sambutannya mengatakan bahwa ONS 2019  ini bukan hanya sebatas tempat lomba atau mencari medali tapi juga sebagai sarana untuk silaturahmi antar generasi muda khususnya yang ikut dalam perlombaan ini.

OSN juga diharapkan mampu mengoptimalkan daya juang, kerja keras, kemandirian dan membangun komunikasi yang baik antar peserta. Hal ini penting untuk mencetak karakter dan kepribadian calon pemimpin Indonesia di masa depan.

Mencintai Sains Mengukir Masa Depan

Mencintai sains mengukir masa depan, kiranya tema ini cukup mempengaruhi geliat kerja keras para peserta OSN.

Apa pun yang telah mereka perjuangkan sejatinya adalah bentuk dari rasa mencintai pendidikan demi masa depan Indonesia lebih cerah.
Saya yakin meski tidak semua peserta berhasil membawa pulang medali atau uang pembinaan, mereka tetaplah anak-anak pilihan. OSN 2019 ini bukan satu-satunya ajang yang bisa mereka masuki, namun masih banyak pintu lain yang menunggu.
Salah satunya adalah ajang olimpiade internasional di India dan Qatar.

Semoga kedepannya acara-acara dengan menjaring minat pada generasi muda terus dikembangkan dan didukung penuh tidak hanya oleh Kemendikbud  tapi juga seluruh lapisan masyarakat.

Untuk info seputar Olimpiade Sains Nasional 2019 dan yang berkaitan dengan pendidikan, teman teman bisa follow atau pantengin situs resmi Kemendikbud di:

Twitter : https://Twitter.com/DikdasmenDikbud
Instagram: https://instagram.com/dikdasmen_kemdikbud