Pendidikan

Pendidikan Nasional Pendidikan Indonesia

5/03/2020 08:47:00 pm Mini GK 4 Comments


Pendidikan Nasional Pendidikan Indonesia

Setiap membahasa pendidikan, saya selalu susah untuk move-on. Bukan, bukan karena pernah cinlok di SD atau jatuh cinta sama guru, bukan itu.
Hal yang membuat saya tidak bisa untuk menghindar adalah perkara 'jarak'. Aduh ini bukan bahasa LDR, please fokus.

Betapa jarak pendidikan di kota dan desa sangat jauh. Kita sama-sama memahaminya. Belum lagi dengan pulau-pulau terdalam (pelosok), sangat mungkin anak-anak di tempat ini tidak kenal bangku sekolah.
Lalu saya jadi ingat film 'Sakola Rimba'. Kesenjangan pendidikan terpotret dengan gamblang, membuat dada nyeri. Belum lagi 'Laskar Pelangi', meski disajikan dengan nuansa santai dan sedikit jenaka namun sungguh kisah di dalamnya sarat makna. Bagaimana pendidikan itu penting dan wajib diperjuangkan.

Semalam Mas Menteri Nadiem dalam siaran televisi menyatakan kekagetannya tentang Indonesia yang belum semua daerahnya bisa akses listrik. Saya mendadak ingin teriak: selama ini kemana aja, Mas? Rasanya gemes sekali.

Padahal hal ini sudah terlihat nyata. Makanya kemarin waktu ada program belajar dari rumah via gadget, banyak anak-anak negeri yang kesusahan akses. Hal ini disebabkan banyak faktor, tidak hanya akses listrik yang belum merata. Tidak punya gadget dan sinyal internet juga menjadi kendala paling utama.

Bayangkan saja, di zaman ini masih banyak keluarga yang tidak melengkapi diri dengan android. Ini nyata. Kalau pun ada, biasanya milik orangtuanya, bapak atau ibu. Dan sudah barang tentu ponsel pintar tersebut dipakai orang tua untuk berkegiatan. Misalnya yang punya ponsel hanya bapak, sementara bapak pakai ponsel untuk kerja ojek online. Maka sudah dipastikan anak di keluarga itu tidak bisa mengikuti/ mengerjakan tugas tepat waktu.

Pandemi Corona telah benar-benar menyadarkan kita bahwa masih banyak PR bagi dunia pendidikan Indonesia.

Saya jadi ingat cerita dari Sinak. Seorang guru yang berkisah bagaimana anak didiknya yang belum fasih baca tulis padahal sudah jenjang SMP.  Belum cerita lain bagaimana dia harus berjuang di antara teriakan senapan yang kadang meluncur tiba-tiba. Cerita-cerita lainnya sangat menyentuh sekaligus membuat saya bersyukur tinggal di daerah yang akses pendidikan cukup baik.

Cerita lain datang dari Talaud. Semasa pandemi Corona, anak-anak didik tidak lagi mengadakan 'pelajaran' bahkan jarak jauh pun tidak.

"Sekolah libur. Tidak ada kelas online. Sinyal saja sudah."
"Lalu anak-anak belajar apa?" Kejar saya.
"Apa saja yang mereka dapatkan dari rumah masing-masing."

Beda lagi cerita keseharian saya. Ketika akses pendidikan begitu mudah, gadget dan sinyal internet melimpah, anak-anak didiknya justru 'keracunan' dan malas-malasan. Jangankan untuk diajak berpikir kritis, diberi tugas satu soal saja tidak semua mengerjakan pun kadang mengumpulkannya kelewat deadline.


Pendidikan dan Menteri

Kesenjangan, kecurangan dan kegelisahan perkaran pendidikan nasional pendidikan Indonesia sepertinya tidak akan terselesaikan dalam waktu dekat. Akan lebih mudah jika masing-masing individu menyadari peran diri dan pentingnya pendidikan. Kalau tidak ada kesadaran akan pentingnya kecerdasan, maka akan sulit untuk mengedukasi ke arah lebih maju.

2020 bukan lagi saat untuk berpangku tangan atau mengawang apa yang akan terjadi esok. Tahun ini hendaknya sudah siap menyingsinkan lengan dan berdiri tegap menghadapi 'kebodohan'.
Lantas saya kembali berpikir apa cita-cita untuk menjadi menteri sebaiknya kembali saya hidupkan? Sungguh berat.

You Might Also Like

4 comments:

  1. jadi pengen ajak pak menterinya ke pelosok-pelosok lainnya biar tahu di sana masih banyak selain listrik, akses sekolah berkilo-kilo dan jalanan rusak, sekolahan yang sangat tidak layak, kekurangan guru, ga ada internet dan lainnya. semoga setelah tahu ini pak menterinya mulai mengembangkan pendidikan di daerah-daerah yang masih belum layak fasilitasnya, aamiin

    ReplyDelete
  2. Masih banyak daerah yang belum bisa menikmati fasilitas listrik, apalagi internet. Lagipula di banyak daerah (lapisan masyarakat), handphone Android masih menjadi barang mewah 'kan ya... Yuk, Mini,.. aku dukung dirimu jadi Menteri Pendidikan. Kalo tahun 2024 terlalu mepet, ya periode berikutnya deh.. :)

    ReplyDelete
  3. back ground film Laskar Pelangi, yang digambarkan sebagai kejadian sekian puluh tahun lalu, tapi nyatanya kondisi tersebut (bahkan sangat mungkin ada yang lebih parah) masih banyak di alami oleh anak-anak di negeri ini.

    Btw, yuk mbak jadi Menteri Pendidikan, ta dukung sama Mbak Wiwin.

    ReplyDelete
  4. Masalah pendidikan di negara kita memang seperti PR yang tak berkesudahan. Kualitas pendidikan yang tidak merata adalah salah satu persoalannya. Belum lagi kurikulum yang selalu ganti-ganti. Memang bikin pening ya...😅

    ReplyDelete