wisata,

Wajah dan Suara Batu Alien Kaliurang

8/23/2019 07:05:00 pm Mini GK 10 Comments

Selama ini ada sedikit salah paham tentang tempat tinggal saya hanya karena mencantumkan Yogyakarta dalam setiap perkenalan, resmi mau pun casual.

Ya enggak salah dong kalau saya bilang tinggal di Yogyakarta. Yang salah itu yang mengartikan bahwa Yogyakarta itu adalah Malioboro atau Kaliurang. Padahal Yogyakarta yang ada di KTP itu artinya Provinsi. Sementara Yogyakarta sendiri punya empat kabupaten dan satu kotamadya.

Banyak teman yang mengira kalau rumah saya ini deket gitu sama Kaliurang. Padahal ya itu mah dari gunung satu ke gunung yang lain. Jauh.
Ya tapi gak apalah. Namanya juga mereka kan gak tahu. Lagian yang menganggap demikian biasanya mereka yang belum pernah atau belum tahu banyak tentang Yogyakarta.

Akan sangat galau jika ada kawan yang secara tidak sengaja ngajak jumpa tapi lokasinya jauh dari jangkauan. Misalnya ngajak ketemuan di Kulonprogo padahal saya di Gunungkidul. Lagian saya enggak pernah ke Kulonprogo.

"Besok ketemuan yuk."
"Di mana?"
"Aku lagi nginep di Sentolo. Aku bawa oleh-oleh nih."
Yeahhh, jawuh tapi tertarik juga sama oleh-olehnya tapi ya sayang juga sama tenaganya.

"Kak Min, meetup yuk. Aku lagi di Jogja."
"Hayuk. Kapan?"
"Sekarang aja. Ntar jam 8 keretaku udah jalan lagi."
Dan jam 8 itu tinggal duwa jam lagi. Saya di mana dia di mana...


Jadi saudara, sejujurnya rumah saya ini sama bandara masih jauh, dari stasiun jauh, dari terminal jauh. Dari XXI, plis jangan ajak nonton di tengah malam, jawuh jalan pulang.
Kalau ngajak ngedate bolehlah tapi jangan mepet waktunya. Anu, itu juga, tempat date sama makannya harus yang okey punya. Jangan sampai sia-sia waktu yang sudah saya siapkan dari rumah.
Oh iya, bicara Yogyakarta, apa sih yang ada dalam benakmu saat dengar: weekend di Jogja?

Malioboro? Pantai pasir putih? Alun-alun yang syahdu? Atau macet?
Boleh-boleh. Semua itu benar. Yogyakarta semakin hari semakin seksi. Semakin banyak macet dan semakin banyak patah hati juga.

Yogyakarta sepertinya surga piknik bagi sebagian besar pengunjungnya. Juga sebagai tempat mengenang kenangan bagi yang pernah tinggal di sana.
Bagi saya, Yogyakarta adalah napas tanpa habis.
Weekend di Jogja bagi saya sama dengan kerja.
Ya, sudah beberapa weekend ini saya habiskan untuk mencari rupiah demi membangun rumah dan tangga harmonis.
Bangun lebih pagi adalah hal utama dalam rutinitas weekend saya.
Yang lain, weekend sama dengan glundungan dan anti mandi mandi club', buat saya weekend adalah olah rasa olah emosi olah jiwa.
Mandi lebih bersih. Dandan lebih cetar. Wangi lebih semerbak.

Minggu adalah jadwalnya jalan sama adik-adik bengkel Sastra.
Di pertemuan kedua, dijadwalkan outbound ke Kaliurang.
Tidak hanya murid dari Gunungkidul tapi semua peserta bengkel sastra se-provinsi DIY.

Lumayan bisa lihat Dedek dedek gemes meski gak bisa mengingat satu satu namanya: yaiya, 30 nama di kelas aja gak hapal apalagi yang lain.
Perjalanan ke Kaliurang cukup lumayan. Maka kami kumpul pukul 06.00 WIB.
Itu berarti bangun saya lebih pagi dong. Secara mandi dan dandan aja butuh waktu minimal sejam.
Enggak sempat sarapan. Dan ini fatal. Karena saya merasa telah menyakiti tubuh sendiri. Saya sudah menerapkan jam makan sesuai kebutuhan. Cuma emang sesekali melanggarnya dengan banyak alasan.

Sudah lama enggak naik bus, dan harus naik bus buat menemani adik-adik, saya cuma iya iya saja.
Awalnya semua aman. Ada dua bus. Saya ikut di rombongan bus kedua.
Sepuluh kilo pertama adik-adik ini masih ramai, masih saling ledek sana sini. Masih bisa cakapcakap masa lalu dan orang yang ditaksir.
Lima kilo selanjutnya satu dua mulai pusing menuju mabuk. Dan agaknya yang seperti ini menular. Terjadilah hal yang mengerikan itu di lima kilo berikutnya. Satu mabok, lalu yang lain ikutan mabok.
Sudahlah sisa perjalanan diisi mereka dengan menahan mual.

Kasihan. Tapi saya tidak bisa apa apa kecuali ngajakin mereka untuk latihan napas. Napas ini bisa membuat tubuh rileks, setidaknya demikian yang saya pahami.
Sampai di lokasi. Satu-satu mulai ribut cari toilet. Menuntaskan apa yang sudah dimulai di bus sebelum selanjutnya diajak outbound sama panitia acara.

Anak-anak yang outbound, saya yang nonton (sambil nunggu makan dibagikan). Guwe enggak sarapan, enggak pula dikasih Snack.
Outbound cukup lama hingga jelang Zuhur. Usai makan siang, barulah acara jalan-jalan dimulai.
Seperti biasa. Sampai Kaliurang rasanya gak asyik kalau enggak lava tour; naek Jeep menuju Merapi.

Ada beberapa destinasi wisata yang kami kunjungi. Namun untuk kali ini, saya cuma mengulas tentang Batu Alian.

Sebelumnya saya mau menjerit. Silakan dibayangkan, naik Jeep disiang bolong. Ketika matahari di atas kepala, pas tanpa kurang.
Mana saya seperti salah kostum. Belum lagi enggak bawa kacamata dan penutup muka apalagi topi, maka sama dengan silakan mandi sinar matahari dengan bubuk debu.
Batu Alien?
Awalnya saya kira ini semacam alien alien, semacam buatan gitu serupa yang di sebelahnya.
Ternyata bukan saudara.
Kalau kalian pikirnya apa?

Jadi dinamakan alien itu sebenarnya dari kata alian. Alian itu sendiri dari bahasa Jawa yang artinya berpindah.
Jadi Batu Alien artinya batu berpindah.
Entah pindah dari mana ke mana.
Mungkin dari Gunung Merapi ke lokasinya ini.

Batunya gede banget. Kalau kata pemandu wisata sih bentuknya mirip wajah manusia.
Emang mirip sih, tapi bukan itu yang menarik buat saya.
Satu-satunya yang menarik adalah panorama gunung Merapi yang begitu gagah seolah tak mau untuk disentuh.
Jarak tempat saya berpijak kurang lebih enam kilo dari Merapi.

Saat saya ke sini cuaca lagi bagus-bagusnya. Ada awan berarak yang bikin suasana makin syahdu. Tidak sampai menutupi tubuh sang Merapi.
Sebenarnya asyik untuk berlama-lama. Masalahnya berlama-lama di sini juga enggak asyik mengingat banyaknya pengunjung yang datang dan pergi.
Pemandangan alam seperti ini paling enak kalau dinikmati berdua atau malah sendirian. Kalau ramai-ramai malah jatuhnya berisik.
Telah sejak beberapa akhir ini saya memang membatasi diri dalam berteman, yang berisik gak jelas biasanya enggak begitu diakrabi 🙃

Habis dari Batu Alien sebenarnya masih banyak spot yang menarik lainnya. Cuma saja nanti nanti deh saya tulisnya.
Kalau habis ini ada yang bilang: "yuk min meetup di batu Alien",  kalau jawaban saya lama enggak perlu ditunggu, karena kemungkinan jawabannya: tidak bisa. Jawuh. Kecuali kalau disewaain Jeep.

Beruntung Abang Drivernya jago dan suka cerita. Dalam Jeep itu hanya ada saya, driver dan 3 kawan cewek lainnya. Yang ngobrol cuma saya dan si driver.
Tiga kawan cewek sibuk nutupin wajah dari debu dan dosa.
Maklum musim kemarau, debunya makin tebel.
Kalau musim hujan udah fix ini jalan bakal penuh mandi lumpur.


You Might Also Like

10 comments:

  1. Kak Min, mitap yuks... Aku pingin naik jeep ituh

    ReplyDelete
  2. Nek disewain jeep, aku juga mau kak meetup sama kamu di sana muahahahahaha

    ReplyDelete
  3. Wihhh langitnyaa dramatis ngunu miss, adaa yang biru dan ada yang tertutup awan hitam, akutu belum pernah naik jeep keliling merapi taukkk syedih

    ReplyDelete
  4. sejak kapan dikasih nama wisata batu alien yaaa? kayaknya pas terakhir kesana itu kurleb beberapa bulan setelah letusan besar, tapi belum ada namanyaaa :D

    ReplyDelete
  5. Wiwin | pratiwanggini.net25 August 2019 at 09:23

    Wkwkwkwk.. Kita berseberangan gunung, ya Mini.. aku Yogyakartanya di lereng Gunung Merapi, Mini Yogyakartanya di Gunungkidul. Ketemunya kalo ada event blogger di tengah kota Yogyakarta hehehe..

    ReplyDelete
  6. Selama menjejak ke Kaliurang, aku baru denger sih mbak Mini sama obyek wisata ini. Mungkin karena kurang jauh mainnya aku. Tapi emang menarik sih, ketika suatu fenomena dijadikan nama dari suatu tempat. Batu alien.Orang jadi pada penasaran :D

    ReplyDelete
  7. Waduh, aku malah baru tahu.Harus menjadwalkan diri ke sana nih. Penasaran.

    ReplyDelete
  8. Waaa kakak Mini berpetualang di batu Alien ya, hihihi. Aku ke sini cuma foto aja waktu itu, ga sampai kemana-mana. Foto background Merapi saat cerah-cerahnya waktu itu.

    ReplyDelete
  9. Mantap kaka ,sepertinya seru banget ya

    ReplyDelete
  10. Wqwq, pemilihan namanya unik...
    Banyak orang wisata, batu nya yang mana toh?

    ReplyDelete