Gaya

Untuk Kamu Para Pemuja Gengsi

8/05/2019 10:12:00 pm Mini GK 22 Comments

Pameran Produk UMKM akan berlangsung sampai tanggal 6 Agustus 2019

Pernah gak sih datang ke sebuah acara  tahu-tahu ada orang lain yang pakaiannya sama persis punya kita? Mana yang sama enggak cuma satu orang, padahal gak ada dress code di acara itu.

Gimana perasaanmu? Pasti kesel banget. Apalagi kalau orang yang samaan itu enggak kita kenal.

Saya pernah di posisi ini, ekspresi pertama tentu saja nyengir sambil tolah-toleh serupa orang salah tingkah gitu. Kalau lagi sama temen, biasanya temen langsung bisik-bisik: stt, kembaran ni ye. 

Kalau yang ngajak kembaran itu gantengnya sundul langit, ya gak apa-apa, malah berasa new couple gitu, tapi kalau sebaliknya, ih tengsin dong. Mau ditaruh mana image yang sudah dibangun bahkan sejak dalam embrio?

Ya emang sih model, warna dan bentuknya bisa mirip serupa, tapi harga belum tentu. Kesel aja kalau barang yang udah kita beli mehong ternyata disamain sama mereka yang beli lebih terjangkau. Dikiranya nilai yang kita pakai jadi samaan. Hal-hal yang seperti ini akan jadi masalah bagi para pemuja branded. Barang kesayangan sudah ada bajakannya di lapak-lapak sebelah.
Tas bisa dibeli di @dzaikahandmade  || 0858 7842 4699


Seberapa besar kamu memuji barang-barang branded?


Kalau pertanyaan itu ditujukan ke saya, akan butuh waktu sekian detik untuk menjawabnya.

Saya suka segala macam bentuk keindahan namun sayangnya saya bukan 'penyembah' hal-hal branded.
Alasannya banyak, salah satunya harganya yang selangit.
Saya ini termasuk penghamba prinsip ekonomi purba; keluar dana minim dengan harapan keuntungan maksimal. Dengan kata lain, kalau gak butuh butuh banget sebisa mungkin jangan belanja. Harus tahu fungsi dan sadar isi (dompet). Selanjutnya saya ini termasuk orang yang enggak seneng kalau ada yang nyamain. Seperti yang tadi saya bilang di awal.

Lebaran kemarin  kakak saya pulang kampung, tapi dia enggak bawa perlengkapan make-up. Sebagai adik yang baik dan kebetulan sebelumnya habis dapat kiriman make-up baru dari salah satu brand lokal, maka saya inisiatif minjemin makeup ke kakak.

Saya kira kakak akan bahagia  sebab makeup yang saya sodorkan produk baru dan belum banyak di pasaran. Eh taunya, serupa menggarami lautan; perbuatan saya tidak dinilai sama sekali. Hiks.

"Ini merek apa?" tanya Kakak.
"Merek baru. Ini mereknya." Saya menyebutkan satu merek brand lokal.
"Gak terkenal. Gak mau aku. Buat kamu aja." Kakak saya menolak dengan lembut tapi cukup membuat hati saya nyeri. *Baperan saya ini 
Cakep dan tampak mahal, produksi UMKM

Adakah yang segitu fanatiknya sama merek terkenal? Lantas sejauh mana merek itu dianggap terkenal? Apakah kalau banyak yang pakai, banyak dijual di toko, atau malah sering iklan di tv?

Saya tipe yang enggak begitu peduli dengan iklan seliweran di tv, majalah atau baleho. Sejak kenal dunia influencer (meski cuma secara cangkang doang) saya semakin paham trik-trik marketing. Jadi enggak akan kagetlah jika banyak merek-merek yang dipajang sana sini. Enggak mudah juga tergiur oleh iklannya.

Saya malah lebih suka sama produk-produk yang belum banyak dikenal. Kalau memungkinkan malah yang custom buatan sendiri. Kalau istilah kerennya sih handmade gitu.
Seiring berkembangnya teknologi, banyak hal-hal yang bisa dibuat sesuai kebutuhan. Bahkan kuliner, fashion, aksesoris, make-up sampai elektronik semua bisa dicustom.

Saya bilang ini merupakan alternatif untuk penggemar gaya unik, beda dan ogah disamain yang lain. Selain bisa buat sesuatu sesuai kebutuhan, bisa juga disesuaikan dengan dana yang ada.

Ya jadinya enggak bermerek dong?

Justru itu, kita jadi bisa buat merek sendiri. Tinggal bilang aja sama pengerajinnya lalu dikasih merek kita sendiri. Dan yang pasti sih produk handmade itu dibuatnya limited edition. Bisa lebih berkelas dibanding produk merek ternama namun dibuat secara grosiran. Dan lagi, sudah pasti asli bukan KW KW atau tiruan.
Produk brand lokal lho ini, tapi tampilan import

Sering lihat orang nongkrong/ jalan, gaya-gayaan pakai barang dengan merek ini itu (merek terkenal) tapi barangnya KW emperan (bukan bermaksud merendahkan lapak emperan), perasan jadi gimana gitu.
Soalnya saya juga pernah di posisi itu, memakai barang bermerek tapi abal-abal, harganya sekian puluh lebih murah dibanding harga asli.

Ya emang gak ada yang bakal komentar macem-macem sih, misalnya ngebully karena pakai barang abal-abal, tapi rasanya jadi enggak pede gitu. Mungkin ini hanya sayanya aja karena pernah suatu hari dengar teman banding-bandingkan barang sesama temannya.

Karena mengejar barang branded dengan kualitas super itu sulit buat saya, maka alternatif ya jatuh ke barang handmade.

Kalau sudah ngomongin handmade ya udah pasti ujungnya merujuk kepada para pelaku UMKM. Barang yang mereka lahirkan udah pasti handmade. Kadang malah cuma satu kali buat sesudahnya enggak bakal buat lagi. Saya lebih merasa percaya diri dan naik kelas saat memakai barang-barang handmade dari UMKM (tanpa merek terkenal) dibanding pakai barang seolah bermerek padahal abal-abal.

Padahal pede adalah kunci dari bersosial. Sejak sering memakai barang-barang (utamanya fashion) handmade, saya merasa semakin shining. *Lebay dikit

Barang handmade itu cakep kalau dipakai buat kado atau hantaran. Saya sadar ini setelah tempo hari seorang teman ulangtahun dan dia bilang bahagia banget saat saya kasih hadiah berupa Bros hasil dari ikut kursus singkat. Katanya: aku suka banget kado yang dibuat sendiri seperti ini. jadi berapa istimewa.

Saya yang dengar dan merasa dipuji jadi melting. Meleleh seketika dan semakin semangat untuk menghasilkan karya baru (demi kepentingan memberi kesan baik, bukan untuk jualan).
De Wita Handmade  @dethawita  || 085726154507
Abang, besok beli cincin kawinnya custom aja di Mbak Wita, bisa rikues kita sesuai kebutuhan.

@dethawita yang berlokasi di Joglo Tanjung juga memproduksi aksesori dari bahan clay. Apa itu clay? Clay adalah bahan aksesori yang dibuat dari tepung.
Tepung untuk dibuat perhiasan? Sungguh tidak sampai imajinasi saya.
Aksesoris ini bahan dasarnya tepung

Kemarin saat sedang cari-cari referensi kado, saya nyasar dengan sengaja ke halaman Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta. Emang sudah dengar sih kalau di sini lagi ada acara #harnasUMKM, makanya sengaja mampir untuk cuci mata.
Niat saya yang enggak tinggi itu berbuah manis. Enggak seperti pameran-pameran lainnya, pameran kali ini lebih meriah, lebih banyak stand, lebih banyak barang, lebih luas, lebih lama acaranya dan yang pasti lebih bisa menguras isi dompet. lebih banyak juga yang bisa dicicipi

Kalau biasanya saya hanya membatasi diri buat jajan makanan saja atau fashion saja, kemarin khilaf ingin baju, ya ingin makan, ya ingin aksesoris, untungnya bisa ngerem untuk enggak tergoda tas dan sepatu. Tergoda sih tapi siasat hemat dengan cara tidak banyak bawa uang cash ternyata cukup berhasil untuk memantapkan diri membeli yang sesuai kebutuhan bukan sesuai keinginan mata.

Produk UMKM enggak kalah dengan barang branded

Elegan dan memukau, tampak mahal

Bagi yang ngikutin Instagram atau status saya pasti tahu kalau saya ini tergila-gila pada tenun Nusantara. Pokoknya yang berbau tenun selalu meluluhkan. Maka begitu jumpa dengan stand yang nge-display sepatu kulit dengan sentuhan tenun, saya langsung belok dan malas beranjak.

Saya jongkok lama pegang sepatu-sepatu itu, enggak semua hanya beberapa yang sungguh menarik. Mbak-mbak yang jaga stand sampai gak tega gitu lihat kegilaan saya, maka diizinkanlah saya untuk mencoba sepatu dan tas yang ada.

Siapa aja yang ngelihat barang-barang itu pasti akan langsung berujar "mahal" atau kata selanjutnya "impor dari mana?", yaelah padahal itu ya bikinan ibukibuk UKMK sekitar Jogja aja.

Kadang otak kita emang sudah kedistrak dan kedikte bahwa barang-barang bagus dan keren itu pasti mahal karena produk impor. Ingin sekali mencuci otak yang sudah kena radiasi macem ini. Belum apa-apa sudah membuat label sendiri.

Kalau misal hasil UMKM itu mahal, ya wajar sih karena melalui yang namanya proses dan pemilijan barang. Tapi semahal-mahalnya hasil karya UMKM, saya kok masih percaya lebih murah dibanding barang branded asli. Harusnya pemikiran dibenerin dulu, karya UMKM itu enggak mahal tapi kamunya aja yang enggak sanggup beli.

Macem saya yang akhirnya enggak beli sepatu kulit sapi balut tenun karena memang belum butuh.

Produk UMKM Bisa Menaikkan Gengsi

2020 sudah di depan mata dan kamu masih enggak paham kalau manusia itu punya gengsi gede banget.

Pernah gak ngalamin seperti ini:
ngajak makan temen tapi dianya rempong dengan bilang, "ih jangan makan di sana, aku gak biasa makan di tempat seperti itu" atau jawab dengan begini, "di sana enak tapi mahal", atau yang seperti ini, "boleh deh di sana, tapi bayarin ya".
Pernah? Pasti.

Gimana perasaanmu? Kesel? Pasti dong. Kerempongan macem ini adalah bentuk dari menjaga gengsi namun dengan cara membuat kesal teman-temannya.
Kalau saya ketemu orang seperti ini biasanya akan langsung senewen. Ujungnya besok-besok udah males lagi jalan sama dia. Mending jajan, cari makan sendiri yang sesuai gengsi sendiri daripada nurutin gengsi orang lain.
Buat kamu pecinta pedes

Kalau kamu ada teman diajak jajan di pameran UMKM, enggak mau, alesannya kurang percaya kehigienisan dan kehalalan makanan yang disajikan, suruh temanmu itu bertelur saja.

Hari gini masih gak paham juga sehebat dan bagaimana perkembangan UMKM? Pasti orang-orang yang seperti ini pikniknya kurang jauh, pasti enggak ngerti kalau di dunia ini ada yang namanya Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta. Baiknya orang macem ini emang disuruh cuci kaki dan bobo cepet daripada kelayapan menuh-menuhin jalanan.

Sepanjang saya kenal para pelaku UMKM, enggak pernah saya njuk jatuh pingsan habis makan jajan mereka. Malahan saya jadi terinspirasi dari mereka. Ya gimana enggak, sama-sama berbahan dasar kentang; kalau saya cuma bisa mengolah jadi masakan itu itu saja, ditangan UMKM kentang bisa jadi komoditas jualan mahal. Mereka terlalu kreatif.
Contoh kemasan yang belum bisa masuk stand bandara

Higienis dan Halal

Untuk masalah higienis dan kehalalan, UMKM sudah paham pakemnya. Mereka bahkan lebih tahu dibanding kamu, bagaimana cara mengurus surat izin usaha juga syarat mendapat label halal. Jadi ketika kemarin temen sok-sokan bilang:  "Min, kok kamu makan ini sih? Ini kan dari (sebut nama bahan gak halal)" saat itu juga saya jawab: hello, ini lho label halal gede (nunjuk kemasan) dan ini lho hasil karya teman-teman IPEMI, ikatan pengusaha muslimah Indonesia, muslimah cuint, udah pasti halal dong". Temen saya melengos gagal ngerjain saya.

Selain itu, produk UMKM sekarang juga memperhatikan packaging. Dan saya baru tahu kalau ternyata untuk kemasan makanan (kuliner)  yang full plastik (makanannya terlihat jelas) tidak bisa masuk bandara atau sektor ekspor. Jika ingin ikut dijual di bandara (dinas koperasi UMKM punya stand di bandara) maka harus memakai kemasan yang tertutup.
Contoh kemasan yang bisa masuk stand di bandara

Nenteng jajanan dari produksi UMKM itu enggak akan menjatuhkan harga dirimu justru sebaliknya akan meningkatkan citra dan gengsimu di mata rekan-rekan barumu. Kalau gak percaya ya silakan buktikan sendiri.

Saya sih udah pernah; bawa oleh-oleh hasil dari UMKM, udahannya pada tertarik untuk titip dibeliin (dipaketkan).

Daftar jajan


You Might Also Like

22 comments:

  1. Wua... Sayangnya saya melewatkan kesempatan lihat pameran ini.. Sudah terlanjur ikut yang acara njeron benteng aku tu...terlalu banyak acara menarik di Jogja akhir-akhir ini.. Hiks...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, makane harus bisa pilih mana acara yang sesuai kita mana yang enggak terlalu penting

      Delete
  2. Barang-barangnya menarik juga. Bagiku tergantung kondisi saja mau yang brandid atau lokal tidak menjadi persoalan ehehe

    salam
    kidalnarsis.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu aku pilih yang murah. Sekarang pilih yang ramah kantong, lingkungan dan juga mata

      Delete
  3. kece kece buangeettt produk UMKM kita ya Mbaaa
    Makin BANGGA pakai produk dalam negeri :D
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagus kak. Lagian yang bisa membesarkan produk lokal ya orang lokal juga harusnya

      Delete
  4. Aku juga sukanya barang2 handmade yang ga branded kok. Apa lagi kalau unik dan kualitas bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku suka banget yang handmade bisa rikues sendiri. Capek aja kalau bisa punya barang beda dengan yang lain

      Delete
  5. produksi UMKM itu keren banget apalagi kalau dipoles dan dipasarkan dengan tepat
    semoga semakin berkibar produk UMKM

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget. Udah banyak kok yang go internasional, cuma ya sama orang sini aja langsung dibuat KWnya, ehe

      Delete
  6. Replies
    1. Ayo belanja kak biar punya barang baru, eh

      Delete
  7. Ini yang menang lomba itukah? Bagus isi dan foto artikelnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan sih kak. Ini yang acara sesudahnya tapi ya asyik juga soalnya banyak banget standnya

      Delete
  8. wah klo produk UMKM saya selalu suka meski gak bermerk terkenal.. selain kualitas bagus.. harga juga terjangkau

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harga itu kadang relatif juga ya kak. Kalau bahannya susah dan sangat alami, dan prosesnya njelimet udah pasti uwih udah pasti melambung

      Delete
  9. Klo aku asal produknya murah berkualitas. Jangan ditanya udah aku incer heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini keknya 90% orang bakal ngincer yang ini, jadi ayo siap siap kita cakar cakaran

      Delete
  10. Bangga doonk...pakai produk buatan Indonesia asli.
    **diajarin Mama mertua yang sering beli tas di Tanggulangin, Sidoarjo.

    Kualitasnya oke banget...
    Hanya memang design nya masih sangat terbatas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah mungkin bisa kasih usulan desain. Kalau tas aku belum paham. Kalau baju baju mending udah ada gambaran maunya kekmana

      Delete
  11. Kalau jalan-jalan ke pameram itu memang paling seru lihat hasil kerajinan umkm nya ya, mbak. Soalnya pasti unik dan menarik. Duh sudah lama nih saya nggak mampir ke pameran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan yang jelas bikin ngiler. Kalau dituruti bisa habis deh kantong

      Delete