Mini Workshop,

The Secret of Indonesia

8/19/2019 08:06:00 pm Mini GK 13 Comments

Sisi lain dari tersesat

Seberapa sering kamu dihadapan pada situasi yang sebenarnya bukan dalam kekuasaanmu?
Boleh dibilang semacam salah jurusan gitu?
Saya selalu berusaha untuk tidak tersesat dalam sebuah perjalanan. Untuk mengatasi hal-hal itu saya menyiapkan diri sebaik mungkin, misal dengan cek google map atau tanya kepada teman yang mengetahui kondisi daerah yang ingin dituju.
Masalahnya kadang kala harapan tidak sesuai kenyataan, dan cerita tersesat pun terjadilah lagi dan terus berulang (bahkan di daerah yang sama), semacam enggak belajar dari pengalaman.
Selanjutnya apa yang sebaiknya dilakukan jika tersesat?
Panik? Iya tentu saja. Tapi entah dapat kekuatan dari mana, saya selalu menikmati setiap cerita tersesat dengan begitu syahdu. Seakan-akan ini adalah hadiah dari Tuhan agar bisa lebih eksplor lebih dalam.

Satu hal yang saya takutkan saat tersesat: kehabisan bahan bakar.
Ala ala Miss

Pesan Masuk dari Mereka 

Sekitar setahun lalu, sebuah pesan masuk ke WhatsApp pribadi saya. Inti dari pesan itu adalah meminta kesediaan saya sebagai seorang penulis untuk mengisi kelas menulis di sebuah Sekolah Tinggi Bahasa Asing.

Pesan seperti itu memang sering mendarat di WhatsApp mau pun DM sosial media @minigeka. Ekspresi yang pertama muncul tentu saja rasa bahagia. Bukan karena job di depan mata melainkan merasa dihargai oleh mereka yang sudah Sudi meluangkan waktu untuk membaca dan mencari tahu tentang saya.

Kalau enggak cari tahu, dari mana bisa kenal saya dan karya-karya saya.

Singkatnya, pesan itu saya respon dengan jawaban bersedia untuk mengambil jatah kelas sekian jam. Ya saya bilang kelas sebab memang acaranya di kelas dan ternyata ini bagian dari mata pelajaran yang harus mereka terima.
Lantas apa hubungannya antara tersesat dan mengisi kelas menulis?
Apakah saya tersesat sampai kampus yang dituju? Iya saya tersesat tapi bukan itu masalahnya.

Saya tersesat karena saya merasa punya ilmu sangat terbatas. Kalau ibarat telur, masih sebatas debu yang nempel di cangkang. Jauh dari kuning telur.
Saya harus menyesuaikan diri dengan pengundang acara. Sebelum hari acara saya berkomunikasi terus menerus minta kepastian apa saja yang harus saya sampaikan. Begitu pun dengan mereka, panitia tidak hentinya bertanya apa saja yang saya butuhkan dan juga berapa sebenarnya honor yang harus mereka keluarkan
Punya Murid dari Indonesia Timur
Sejujurnya kekhawatiran itu bukan perkara honor yang kurang. Saya sangat yakin mereka yang berani memanggil saya sudah yakin akan biaya yang harus dikeluarkan.
Toh saya juga tidak terlalu mematok berapa fee yang harus saya terima. Ada memang harga yang saya tawarkan, namun biasanya kalau dalam hal-hal tertentu. Untuk hal-hal yang lain kadang malah saya memberinya gratis, sesuai dengan kebutuhan.

Lagi-lagi yang membuat khawatir adalah apakah materi yang saya sampaikan nantinya cukup membantu atau malah justru tidak penting bagi mereka (peserta).

Alhamdulillah selama ini belum pernah saya menerima keluhan dari mereka yang pernah masuk kelas saya. Tapi entahlah itu mereka beneran paham atau tidak peduli.
Kadang orang diam itu karena sangat paham atau sebaliknya, tak mau peduli.
Penguasaan bahasa asing saya buruk, saya akui itu. Itulah yang kadang membuat kurang PD, terlebih jika harus berdiri di podium di mana mereka yang menjadi audiens adalah orang-orang yang mempunyai gelar atau riwayat pendidikan lebih tinggi di atas saya.
Saya seolah tersesat. Tersesat di jalan yang benar.
Dari panitia yang menjemput dan tim LO (saya kurang paham LO atau bukan) saya tahu kalau mereka menemukan nama saya karena kabar dari mulut ke mulut.

'Teman saya punya kakak. Kakaknya kuliah di UAD. Waktu kami bilang kesulitan mencari pembicara, kakak itu menyarankan nama Kak Mini GK." Seorang memulai menjawab pertanyaan yang sering saya ajukan: dari mana tahu saya.

Yang lain menimpali, "lalu saya tanya juga ke tempat lain. Cari tahu tentang penulis di Yogyakarta. Dan salah satu temen memberitahu nama Mbak Mini. Ya sudah kami langsung menghubungi Mbak Mini. Dan ternyata direspon sangat cepat."

Untung mereka menghubungi saya tahun lalu (2018) coba aja kalau mereka menghubungi saya 5 atau 7 tahun lampau, pasti akan saya cuekin. Lagian zaman itu kan Mini GK belum terkenal juga ding, boro-boro menerima pesan buat ngisi acara, terima pesan dari kamu saja enggak pernah, #halah
Berbekal keyakinan 'nama baik' dari dua orang yang entah siapa namanya (karena waktu saya tanya ternyata mereka lupa), saya akhirnya siap untuk menghabiskan setengah hari di depan mahasiswa semester 3 ini untuk mengenalkan dunia sastra. *Padahal pemahaman saya pada sastra aja kacau
Manis

The secret of Indonesia

Tema yang diberikan agak-agak membuat saya merinding. Saya selalu 'kesulitan' untuk menguak sesuatu yang Indonesia banget.
Bukan karena saya tidak cinta atau tidak peduli. Melainkan karena saya selalu ingin menampilkan sesuatu yang tidak main-main.
Hal ini membuat riset saya panjang.

Kepada murid-murid baru ini saya izinkan mereka untuk bercerita tentang apa saja yang mereka rasakan tentang Jogja.
Saya lupa tugas apa yang saya berikan namun karya yang mereka hasilkan cukup membuat saya senyum. Walau ada beberapa yang tidak sesuai tema.

Pertama kali lihat pamflet dengan wajah sendiri tertempel di papan informasi
Dari sekian jam, saya paling senang acara tanya jawab dan pembacaan karya. Saya suka cara mereka membacakan karyanya. Tampak sekali jika mereka bahagia dengan hasil tulisan yang mereka garap sekian menit.
Begitu pun saat tanya jawab. Pertanyaan mereka banyak tentang pertanyaan dasar. Ini berarti mereka memang masih belum banyak tahu tentang menulis cerita. Saya jadi bisa menambahkan bumbu-bumbu drama di sini.

Pada akhirnya di mana pun saya berdiri, cerita cerita selalu menjadi teman sejati yang selalu asyik untuk dikenang lain waktu.
Setiap langkah dan pertemuan adalah cerita-cerita panjang yang belum tentu orang lain mengalaminya.

Saya tidak pernah merasa rugi menghabiskan waktu dengan bermesraan bersama kata dan cerita.
Kalau boleh, saya justru ingin terus bisa mengakrabi dan mengawinkan kata dengan kata.

You Might Also Like

13 comments:

  1. Mbak mini kalau nulis, romantis. Merasa tersesat tapi tak lupa untuk mencari jalan��

    ReplyDelete
  2. Hal yang bisa saya petik dari yang di jelaskan, ketelitian. Salam dari Kota Wisata Bukittinggi mbk.

    ReplyDelete
  3. Kalimat di paragraf terakhirnya romantis banget mba..bermesraan dengan kata dan cerita..hihi..co cwit��. Sukses selalu buat kak Mini��

    ReplyDelete
  4. Seru ya acaranya...

    Iya ni, tulisannya romantis..

    ReplyDelete
  5. Makin romantis dan femes aja miss mini.Sukses ya miss

    ReplyDelete
  6. Keren keren Keren keren pokokmen diam-diam akutuh padamu lhoo

    ReplyDelete
  7. Baca sampe selesai cuma pengen bilang, aku juga pengen belajar nulis cerita dari kak mini.. Emm, puitis sekali bahasanya. Aku sampe tergoda :") keep inspiring, kak!

    ReplyDelete
  8. Hihi..romantis abis mbaa.. bisa bikin satu kata dengan kata yang lain jadi nyambung dan bikin yang baca ketawa itu hebat banget..

    Sukses ya mbaa

    ReplyDelete
  9. Suka banget sama foto Mini di atas pas menyampaikan materi. Terus bersemangat berbagi banyak hal yg bermanfaat ya Mini.

    ReplyDelete
  10. Wiwin | pratiwanggini.net23 August 2019 at 09:43

    Sukses selalu, Mini GK! Ternyata dari Gunungkidul pun ada sastrawan kece lhooo..

    ReplyDelete
  11. Keren mb... Menebar manfaat kepada orang lain, ibarat benih yang kita tanam, nanti pasti kita memanen hasil yang baik juga...

    ReplyDelete
  12. kapan kapan saya pingin banget ikut kelasnya Mbak Mini
    pengen lebih PD buat nulis dan speak up di depan umum'

    sukses mbak...

    ReplyDelete
  13. wah keren mbak...bisa ngisi kelas menulis kayak gini.. .semangat berbagi.. Meskipun temanya termasuk tida mudah ya...

    ReplyDelete