agenda,

Gaya Hidup Tanpa Menyakiti Bumi

5/25/2019 09:01:00 pm Mini GK 22 Comments

Gaya Hidup Masa Kini

Mereka berbaris rapi serupa padi yang baru ditanam oleh para petani. Saya melangkah ikut dalam barisan, antre membayar belanjaan. Tidak seperti yang lain yang repot dengan banyaknya belanjaan, saya cukup membawa belanjaan dengan kedua tangan. Dua orang (yang saya perkirakan pasangan) di depan saya belanja cukup banyak: sayur-sayuran, buah-buahan, kue kering dan beberapa kebutuhan rumah tangga lainnya.
Bukan masalah banyaknya belanjaan yang membuat saya tertarik melainkan obrolan antara keduanya.
He : Bawa totebag?
She : Bawa, cuma masih di mobil. Biar nanti aku ambil.
He : Ya. Kita harus mengurangi penggunaan plastik.
She : Kamu juga, berhenti minum dengan sedotan. Kan sudah punya bamboo straw.
He : Ya. Kita juga perlu ganti beras dengan beras organik, deh. Sayuran juga harus organik.
She : Mahal.
He : Yang penting sehat.
Obrolan berlanjut dengan tema 'bahan makanan organik'. Obrolan baru berhenti saat sudah sampai meja kasir.
Suasana Pameran UKM
Usai pisah dari kedua orang tersebut dan usai membayar, saya duduk bersandar pada pohon beringin sambil bercakap tanpa suara: sejak kapan kiranya orang-orang ini mulai peduli pada lingkungan khususnya alam? Mungkinkah kepedulian itu muncul usai postingan viral di sosial media tentang nasib paus yang mati karena banyak menelan sampah, atau  berkat rasa prihatin usai menyaksikan tayangan penyu yang harus mati lantaran sebatang sedotan, atau bisa jadi karena selembar majalah yang memperlihatkan foto ikan-ikan terjebak dalam wadah plastik. 
Banyak sekalik kemungkinan-kemungkinanyang bercakap dalam batok kepala saya.

Hingga dari sekian banyak kemungkinan dapat saya simpulkan bahwa dalam diri manusia masih banyak menyisakan kebaikan-kebaikan untuk alam, terkadang hanya butuh satu keteladanan untuk membangunkan sisa-sisa kebaikan tersebut.
Belakangan ini  trend hidup hijau sedang marak melanda Indonesia. Ramai-ramai orang mulai beralih menggunakan produk-produk ramah lingkungan. Mulai banyak yang sadar pentingnya menjaga alam. Tapi tidak sedikit juga yang ternyata hanya mengikuti 'perkembangan zaman', biar dibilang kekinian.

Meski begitu apa pun alasannya, keinginan orang-orang untuk hidup lebih hijau, hidup lebih sehat, hidup berdampingan dengan alam ditangkap oleh produsen dan jadilah produk-produk baru dengan label "ramah lingkungan". Lantas berbondong-bondong orang memilih produk dengan iming-iming "organik" tanpa lebih dulu memastikan benarkah organik atau sebatas organik dalam kemasan.
Belanjanya pun tetap di dalam minimarket, mal, swalayan bukan ke produsen langsung atau ke pusatnya.
Buah-buahan lokal
Padahal kalau mau sedikit lebih jeli, produk dengan embel-embel organik dan ramah lingkungan sejatinya sudah lama dilakoni oleh para pegiat UKM (Usaha kecil menengah). Kalau memang benar-benar ingin menjalani gaya hidup ramah lingkungan, kenapa enggak kita jajan/ belanja di UKM saja?

Buat yang belum paham, saya kasih tahu, biasanya produk-produk olahan UKM itu menggunakan bahan-bahan alami dan yang ada di sekitar. Lebih tepatnya dewasa ini para pelaku UKM tidak hanya mengolah bahan melainkan menciptakan sesuatu yang baru, bernilai jual tinggi dengan memanfaatkan bahan-bahan yang berserakan di sekitar tempat tinggal. 

UKM lahir bukan untuk mengimpor melainkan mengekspor. Jadi kalau kamu gengsi jajan/ belanja di UKM, maka perlu dipertanyakan mentalnya, sebab dalam jangka panjang sasaran pembeli UKM itu orang-orang manca atau mereka yang paham kualitas.

Mengenai produk-produk UKM sendiri, saya akan sedikit cerita tentang perjalanan saya seharian kemarin dalam acara pameran UKM di Alun-alun Sewandanan Pakualaman. Buat yang tertarik, ya mungkin saja kalian tertarik habis baca postingan ini, pameran masih berlangsung sampai Minggu, 26 Mei 2019.

UKM Istimewa

Menggunakan plastik seminimal mungkin adalah salah satu upaya untuk menjaga alam. Selain itu ada banyak hal lain yang juga sangat mudah untuk dilakukan demi menjaga alam. Hal-hal itu bisa dilakukan sambil bergaya.
Apa maksudnya? Memang bisa gaya disandingkan dengan alam?
Sangat bisa. Bukankah karena keindahan alamlah yang selama ini merangsang kita untuk berimajinasi dan melahirkan karya-karya spektakuler?
Saya ini termasuk orang yang suka tergoda setiap melihat kain. Setiap pergi ke pasar selalu kios kain menjadi satu lokasi yang wajib dikunjungi. Begitu pun saat datang ke sebuah pamerah kerajinan, fashion atau craft. Awalnya saya tertarik dengan warna dan motif, baru selanjutnya bahan kainnya (itu juga setelah diperbolehkan menyentuh).

Masalahnya sering kali saya jumpa kain yang saya ingin  ternyata hasil dari print namun penjualnya bilang itu kain batik. Banyak juga yang berasal bukaan dari pewarna alami yang sudah barang tentu membuat saya kecewa. Jujur saya mulai peduli kepada hal-hal demikian. Saya akan cerewet jika mendapati kain mahal tapi ternyata bukan dari alam atau bukan dari proses kreatif.

Ecoprint by InaLu

Kemarin begitu sampai alun-alun, saya langsung tergoda dengan stand Ina Lumora. Mereka satu-satunya produsen yang hari itu memamerkan (sekaligus menjual) baju ecoprint. Ecoprint
Nah kebetulan sekali saya ini lagi belajar teknik ecoprint, maka saya sempatkan diri untuk ngobrol sekaligus bertukar pengalaman di stand InaLu. Seru sekali.
ecoprint
Ecoprint itu udah pasti dari alam. Wong ecoprint itu artinya teknik memberi pola pada bahan atau kain menggunakan bahan alami.

Warna-warna yang dihasilkan nantinya adalah warna dari daun yang kita gunakan untuk motif.

Menariknya, diecoprint itu tidak akan ada motif lain yang sama persis. Ya secara daun-daun yang digunakan tentu saja beda tidak ada yang sama persis. Lagi, tidak semua daun akan menghasilkan warna atau motif yang sama. Bisa jadi daun jati di kain pertama bewarna ungu, namun di kain berikutnya warna kuning tua atau coklat. Tidak akan sama persis.  Ini menjadi satu tantangan, keunggulan serta keasyikan dalam mendalami ecoprint.
pasmina ecoprint
"Mbak di sini buka kelas, gak? Aku mau belajar ecoprint nih. Soalnya selama ini autodidak." Iseng saya bertanya, berharap jawabannya bisa biar saya bisa ikut daftar kelas.

"Kami belum buka, Mbak. Ecoprint itu tekniknya susah-susah gampang," jawaban dari mbaknya membuat mimpi saya berguguran laksana kapok ditiup angin.

"Yah, padahal ingin banget ni, Mbak. Omong-omong ini ada karya Mbak gak?" Saya memegang beberapa pasmina yang telah mencuri perhatian sejak pertama jumpa.

"Ada, Mbak. Tapi saya masih belajar. Sering gagal saya kalau buat."

"Lho emang ada gagalnya dalam dunia ecoprint?" 

Serius saya bertanya demikian karena menurut saya, apa pun warna dan hasilnya, ya itulah ecoprint. Tapi ternyata menurut mbak yang jaga stand (bukan pemiliknya) ada yang namanya gagal dalam membuat ecoprint. Biasanya yang disebut gagal itu kalau motif dan warnanya tidak begitu tampak jelas dan biasanya yang seperti ini tidak layak jual. padahal kalau saya mah sampai tahap ini sudah sujud syukur bahkan dipamer-pamerkan. yeah saya ini makhluk pamer
motif daun dalam ecoprint

NARENDRA BATIK

kain dari batik narendra, kombinasi tulis dan cap
Kelar ngubek-ubek stand ecoprint, pindahlah saya ke stand Narendra Batik. Di sini saya mulai kalap lagi dong. Soalnya enggak hanya kain-kain batiknya yang cakep tapi baju jadinya juga membuat jatuh hati. Kualitas kain saat dipegang juga kelihatan banget. Kebetulan saya pernah di butik jadi paham beberapa karakteristik kain.

Batiknya itu bakal adem kalau dibuat baju dan jatuhnya di badan pas/ cakepan. Lagi-lagi sebelum beli saya melakukan wawancara singkat kepada mbak yang jaga. Selain biar berasa akrab dengan cara ini saya bisa belajar berkomunikasi nanti jika ingin terjun di UMKM juga.
Dari mbak yang jaga, saya tahu kalau batik yang saya suka itu (yang tampak dalam gambar) ternyata batik kombinasi antara batik tulis dan cap.

Beda lho antara batik dan kain motif batik. Tolong dicatat ini.
Pernah, kan, ke toko mau beli batik, gayanya udah pilih ini itu udah PD, begitu besoknya dipakai eh dibilangin sama yang lain kalau itu bukan batik melainkan kain motif batik. Ya, jangan sampai dong ya gak tahu.

Sebagai anak zaman now, bolehlah cari tahu bedanya batik dan bukan batik. Secara singkat yang namanya batik itu harus melalui proses dimalam (kena sentuhan lilin malam). Kain yang lain yang enggak kena sentuhan malam maka enggak bisa disebut batik.
Batik Narendra beralamat di Jalan DI Panjaitan Yogyakarta
Begitu pun batik ada yang namanya batik tulis dan batik cap, satu lagi di Narendra ini ternyata ada batik kombinasi. Tetep cantik buat saya.

Kalau ditanya bagaimana cara membedakan batik tulis, batik cap sama kain motif batik? 
Gampangnya dilihat dari harganya. Itu paling gampang. Yang paling mahal itu pasti batik tulis.
Tapi kan kadang ada yang 'iseng', batik cap dibilang batik tulis? Cara selanjutnya untuk tahu bedanya ya dilihat dari motifnya, biasanya kalau batik tulis itu tidak rata juga kurang simetris, beda dengan batik cap.
Kalau udah biasa dan sudah cinta nanti juga akan tahu bedanya. Eyaaa

Peran Plut Jogja

Sebagai seorang penikmat yang sering kecanduan dengan hal-hal yang menarik, tentu saja saya berterimakasih kepada Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta dan PLUT-KUMKM DI Yogyakarta yang sudah mengadakan pameran inspiratif seperti ini. Saya dengar dari Mbak Narendra konon acara seperti ini akan terus berlangsung namun lokasinya pindah-pindah. Saya dong sudah rekues agar di setiap stand menampilkan produk baru. Yang baru dan ramah lingkungan tentu saja.
Sudah lama saya kenal PLUT KUMKM, setiap menghadiri acara mereka selalu menerbitkan semangat untuk ikutan jadi entrepreneur. Masalahnya saya ini kebanyakan mimpi dan terlalu syarat namun realisasinya kapan-kapan. Enggak cocok banget dengan jiwa para pegiat UKM.

Para pegiat UKM lihat daun kelor bisa jadi bakso, bakpia, coklat dll. Lha saya lihat kelor ingatnya jimat (konon gitu, kelor ada unsur mistiknya).
Heran juga saya tuh sama pegiat UKM yang bisa menyulap tulang ikan jadi keripik. Tulang ikan mah bagi saya sesuatu yang udah enggak berguna, salah ternyata bisa lho dibuat keripik enak banget.

Bakso Kelor

Omong-omong karena udah menyinggung makanan, saya juga mau cerita kalau kemarin itu sempat lihat pengolahan daun kelor menjadi berbagai macam makanan, salah satunya jadi bakso.

Sungguh ini sesuatu yang baru, berfaedah, alami dan berkhasiat. Daun ini punya berbagai macam keajaiban. Di rumah saya punya pohon kelor banyak banget. Enggak bisa mengolah selain dibuat sayur bening atau sup. Hampir tiap hari saya konsumsi ini. Dan baru sore kemarin tahu kalau kelor bisa jadi racikan bakso. Sungguh beruntung sudah mampir ke pameran ini.

Ya emang kelor kalau dimakan langsung atau dibuat urap kurang begitu menggiurkan, tapi kalau udah jadi bakso atau olahan lainnya (bahkan jadi coklat kelor) udah pastilah menggoda untuk dicicipi.
Kira-kira kebayang gak? Kalau penasaran, tenang masih ada sampai hari Minggu lho.

Oleh-oleh dari Pawon Sentono

Seperti yang saya bilang di awal, UKM itu menyasar konsumen tidak hanya lokal namun interlokal, wajar kalau banyak produk yang dibuat cocok untuk oleh-oleh.

Kemarin sempat lihat ada stand oleh-oleh khas Jogja bernama Pawon Sentono. Percayalah ini pertama kalinya saya berjumpa dengan Pawon Sentono.
Packaging wedang uwuh
Sekilas saya lihat Pawon Sentono lebih konsen ke produk-produk bahan minuman dari bahan alami. Contohnya bubuk jamu temulawak, bahan wedang uwuh, bubuk wedang jahe dan beberapa calon minuman lainnya. Kalau buat saya, ini cocok untuk diicip. Sekali beli bisa dinikmati beberapa kali. Tinggal diseduh, simpel namun tetap alami.

Ada juga sambel yang bisa tahan beberapa bulan. Sambelnya macam-macam, ada petai, tongkol, terasi dan beberapa lainnya yang sayangnya sudah habis. Untuk saya masih jumpa dengan sambel petai dan terasi. Nyobain beli yang petai soalnya di rumah pada suka petai. Dibanding beli saos, saya lebih memilih sambel. Perut saya tidak terbiasa dengan saos.
Sambel Pawon Sentono 
Masih di stand Pawon Sentono, saya jumpa kebab dan cireng. Cireng dan sambel adalah perpaduan yang cukup memikat.

Setelah melakukan transaksi singkat (karena pukul 5 sore mereka tutup) saya tahu kalau Pawon Sentono ini menyediakan bubuk minuman dari bahan alami dan juga makanan frozen tanpa bahan pengawet. Karena tanpa pengawet inilah jadinya bahan makanan itu perlu difrozen.
Selain yang sudah saya tulis tadi, masih banyak stand lain yang juga seru. Sayangnya karena kemarin saya datang kesorean jadinya belum bisa eksplor semuanya. Batik Narendra, Ecoprint dan terasi Pawon Sentono adalah sebagian yang sudah saya kunjungi (dan jajan).

Masih ada satu yang sangat menarik namun belum saya kulik-kulik, yaitu tentang shibori. Kenapa? Karena bulan lalu saya baru saja punya shibori baru. Takut nanti kalau jatuh hati lagi dan gak bisa kontrol diri. Sudah dibilangin kalau saya ini susah untuk enggak jatuh hati sama kain-kain.

Besok jika sempat saya ingin main lagi dan tanya tentang teknik pewarnaan shibori dengan pewarna alami. Sampai kapan pun saya akan selalu tertarik dengan hal-hal yang berasal dari alam. Gaya dapat, bumi juga selamat.

Bangga dong pakai baju dari kain buatan UKM dengan pewarna alami. Mumpung pada berbaik hati pula kasih diskon.

~gadisAnggun

Artikel ini diikutkan dalam Lomba Grebeg Lebaran yang diadakan oleh Dinas koperasi UKM DIY dan PLUT Jogja.

You Might Also Like

22 comments:

  1. Waini, produk lokal yang kualitasnya merambah ke pasar internasional. Aku kesengsem sama Shiborinya, bagus tuh di koleksi

    ReplyDelete
  2. Aku punya shibori handmade dong. Sekarang lagi belajar ecoprint

    ReplyDelete
  3. wah..aku suka batik-batik kayak gini..Motifnya unik..apalagi prosesnya ramah lingkungan ya...Kalo ke Jogja mau ah berburu batik ini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada di mana mana kak, enggak hanya di Jogja. dan enjoy selamat berburu

      Delete
  4. ecoprint, aku baru. :( keren banget. dan, ternyata daun kelor bisa jadi bakso juga yaa, biasanya orang-orang termasuk saya taunya utk mengusir jin. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya orang tahunya itu kelor untuk rukiah, tapi dimakan sangat aman kakak

      Delete
  5. warna yang ga terlalu gonjreng tu malah sebenernya bahannya banyak yang alami yah. kaya batik-batik tadi kan agak halus menurutku tapi aman dipakai kulit sensitif pun

    ReplyDelete
    Replies
    1. warnanya enggak norak dan itu aku suka lembut di mata

      Delete
  6. Produk-produk ukm sebenarnya g kalah keren lho..

    Cuma mungkin kurang dikenal masyarakat..

    Kebanyakan pengenalannya lewat pameran.

    Tapi skrg ada juga e comerence yg jual produk ukm..

    Biar ukm makin jaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu karena orang kita seringnya memilih buatan pabrik atau luar (merek) padahal yang buatan depan mata aja lebih aman

      Delete
  7. Jadi pengen belajar bikin ecoprint euy. Dulu pernah lihat temen di FB share hasil bikinannya. Keliatannya seru dan hasilnya unik ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku juga lagi belajar banyak tentang ecoprint, cuma kok aku lihat sekarang banyak banget orang buat ecoprint

      Delete
  8. Sebetulnya datang ke pameran ini mungkin menarik. Tapi sayang banyak foto-foto yang di-display ini gelap, sehingga kurang menciptakan ajakan untuk melihat dalaman pamerannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. mohon dimaafken kakak. nanti aku perbaiki lagi cara ngambil fotonya biar orang lain juga enak lihatnya

      Delete
  9. Duh cantik-cantik ya kainnya. mana ramah lingkungan pula. Coba kalo semua pengrajin kain begini ya, pasti lingkungan kita akan terbebas dari bahan kimia pewarna kain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepertinya sudah banyak yang peduli sama lingkungan. setiap ketemu acara gini pasti ada aja yang ramah lingkungan

      Delete
  10. Ya ampuuun, kreatif2 banget ya ya bikin.baku langsung fokus ke bakso kelornya. Secara aku doyan banget sama daun kelor. Biasa ku bikin sayur kunci. Duh seger banget 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama. aku juga suka pakai banget. makane pas ketemu ini bakso kelor hore deh

      Delete
  11. Keren mb, tulisannya enak dibaca nggak bosenin..pantesan juara... Selamaat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. mumpung ada bahan buat diolah jadi lumayanlah bisa horean dikit

      Delete
  12. Wah bagus ya coba banyak sptni ini pengrajin yg peduli lingkungan semoga makin banyak ya.. aku suka batik to blm bs bedain nih mana yg asli tulis mana yg yg jadi jadian hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebenarnya gampang saja untuk membedakannya. pertama tentu aja harga, ehe

      Delete