Monday, 10 December 2018

Biarkan Anak Kenal Narkoba

Blogger Jogja bersama BNN Sleman
Saya adalah salah satu jamaah penganut paham 'menjadi orangtua berarti siap menjadi pembelajar seumur hidup'.

Menjadi orang tua masa kini sangat berbeda dengan orang tua di masa yang telah lewat. Begitu pun anak-anak era sekarang, begitu cepat melesat tidak jarang melampaui kemampuan dan kapasitas orang tuanya.

Sebagai orang tua, tidak patut jika terus mengekang anak-anaknya. Tapi sebagai orang tua juga tidak bisa lepas memberi kehangatan sekaligus perlindungan untuk anak-anak.

Sebuah ilustrasi di bawah ini mungkin bisa menjadi sedikit gambaran tentang fenomena masa kini.
"Anakku yang SMP pulang-pulang cerita tentang narkoba. Katanya di sekolah baru saja ada penyuluhan dari BNN tentang bahaya narkoba. Aku malah jadi takut. Kenapa anak SMP dikenalkan narkoba."
"Malah bagus, kan, bu. Anaknya jadi tahu banyak tentang narkoba dan bahayanya. Kedepannya jadi bisa hati-hati."
"Oh begitu ya? Tapi dia kan jadi tanya-tanya terus ke saya tentang narkoba."
"Itu lebih bagus lagi, Bu. Setidaknya dia bertanya kepada orang tuanya bukan kepada orang lain. Memang harusnya orang tualah yang memberikan pemahaman itu. Bukan hanya narkoba tapi juga pemahaman lainnya. Jika anak bertanya pada orangtuanya berarti anak itu percaya pada orangtuanya. Dan itu bagus dari pada dia bertanya pada orang lain dan diberi pemahaman yang keliru."
"Benar juga, Mbak. Tapi gimana dong kalau sebagai orang tua ternyata enggak paham dengan yang ditanyakan anak-anak."
"Belajar, Bu. Banyak baca dan bertanya pada orang yang lebih ahlinya. Jadi orangtua itu tidak hanya bisa melahirkan dan membesarkan tapi juga memberi pemahaman."

Obrolan semacam ini sering muncul di lingkungan saya. Dan biasanya yang mau ngobrol demikian adalah para orang tua yang punya kesadaran lebih akan kemajuan anaknya namun tidak punya banyak kemampuan untuk mendampingi anaknya.

Obrolan semacam ini tidak pernah saya temui di lingkungan dengan orang tua yang sudah kehilangan rasa pedulinya pada anak.

Padahal sekali lagi saya yakini bahwa anak-anak manusia bukanlah anak kucing yang usai menyusu dibiarkan bebas berkeliaran tetaplah jadi kucing.
#stopnarkoba

Bicara Narkoba

Tanggal 5 Desember 2018 kemarin saya mendapat kesempatan untuk ikut dalam acara forum diskusi grup dengan BNN Sleman bersama para Blogger Jogja.
Hari itu pembahasan fokus kepada Indonesia Darurat Narkoba.
Sumber: BNN Sleman
Bukan tanpa alasan kenapa saya ingin ikut gabung dalam acara ini. Saya sudah sangat lama ingin tahu lebih jauh tentang isu narkoba, terlebih ketika emak saya pernah bilang ada tetangga yang menanam narkoba (baca: ganja), yang ternyata itu bukan sejenis narkoba melainkan bentuknya saja yang mirip.
Sumber: BNN Sleman
Selain itu saya juga sedang menyiapkan diri untuk mencari bermacam-macam bekal non formal agar kelak bisa saya manfaatkan untuk memberi pemahaman kepada mereka yang membutuhkan.

Apa itu Narkoba?

Sumber: BBN Sleman

Narkotika adalah zat atau obat dari tanaman/ bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Sementara psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintesis bukan narkotika yang berkhasiat proaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Sedangkan zat adiktif adalah zat/bahan lain yang bukan termasuk golongan narkotika dan psikotropika namun dalam penggunaannya bisa menimbulkan ketergantungan.

Dari definisi ini dapat disimpulkan bahwa narkoba itu sesuatu yang sebenarnya boleh dipergunakan asal sesuai dengan ketentuan. Mungkin lebih tepatnya dengan resep dokter.
Masalahnya, yang menjadikan zat ini berbahaya adalah karena adanya penyalahgunaan di masyarakat.

Mitos dan Fakta Narkoba


Mitos: penyalahgunaan narkoba hanya melukai pengguna
Fakta: pengguna itu korban dan efeknya bisa mempengaruhi lingkungan sekitar dan keluarga
Mitos: narkoba bisa membantu melupakan masalah
Fakta: narkoba justru akan menimbulkan banyak masalah baru di kemudian hari
Mitos: Ada narkoba yang berbahaya dan ada yang tidak
Fakta : Semua narkoba itu sangat berbahaya maka perlu pengawasan ketat

Fakta fakta yang terjadi 

Sumber: BNN Sleman

1. Bisnis Narkoba menghasilkan uang yang sangat besar 
2. NARKOBA mudah masuk khususnya melalui jalur laut dan sungai-sungai
3. Masih rendahnya niat para penyalahguna untuk pulih
4. Tingginya angka coba pakai dan teratur pakai
5. Maraknya peredaran narkoba di lapas sehingga bandar dapat beroperasi di lapas
6.  Peredaran sudah merambat ke desa desa bahkan sampai siswa SD menjadi sasaran
7. Modus operandi peredaran narkoba yang berubah-ubah

Potret permasalahan narkoba di Indonesia

Sumber: BBN Sleman

1. Angka prevalensi yang tinggi menyebabkan Indonesia menjadi sasaran peredaran gelap narkoba
2.
3. Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba menyusupi semua lapisan masyarakat bahkan sampai pelosok desa
4. Modus operandi narkoba berubah-ubah dan ditemukan 53 jenis narkoba baru di Indonesia
5. Sepanjang tahun 2016, BNN mengungkap 21 kasus

Strategi operasional penanganan permasalahan narkoba

1. Pencegahan
2. Pemberantasan
3. Rehabilitasi


Dua masalah narkoba
1. Penyalahgunaan narkoba
2. Peredaran gelap narkoba

Aduan tentang penyalahgunaan narkoba
Sumbee: BNN Sleman







Sunday, 9 December 2018

Mimpi Seorang Anak Menjadi Wakil Rakyat

Blogger Jogja


Anak Indonesia


Kalau boleh menuliskan lagi cita-cita yang ingin saya capai, maka menuliskan kata "menteri" menjadi salah satu hal yang niscaya.

Jika ada yang mengikuti status-status saya pasti akan mengerti seberapa ingin saya menjadi seorang menteri. Sebuah tanggung jawab besar dengan segala resiko dan tantangan namun sungguh keberadaannya sekarang ini sangat penting buat masyarakat.

Bukan tanpa alasan saya ingin menjadi menteri. Menteri apa itu yang belum sreg. Sesekali ingin jadi menteri perlindungan perempuan dan anak, dikala lain ingin jadi menteri pertanian dan yang paling ingin adalah menjadi menteri lingkungan hidup/ kehutanan.
Ngobrol tentang negara

Cita-cita jadi menteri bukanlah cita-cita sejak kecil, melainkan cita-cita saya setelah dewasa ini. Cita-cita itu berangkat dari fenomena kehidupan di sekitar saya.

Sebagai anak Indonesia, saya cukup bangga dengan kekayaan yang Indonesia miliki. Di sisi lain saya juga sangat sedih sebab ternyata tidak semua anak Indonesia punya kepedulian besar kepada bangsanya. Padahal Indonesia jelas akan bertahan hingga ratusan bahkan ribuan tahun lagi jika anak bangsanya saling bergandengan untuk memperjuangkannya.

Lantas apakah menjadi menteri bisa memperbaiki keadaan ''kurang menyenangkan" hari ini?
Saya masih percaya: orang-orang akan mendengarkan mereka yang punya jabatan.

Bukan bermaskdu menyelewengkan jabatan, tapi jabatan bisa jadi jembatan untuk dakwah. (Tolong jangan panggil saya ibu ustadzah)

MPR RI

Seragam Baru
Lalu sebuah pertanyaan baru muncul: gimana kalau jadi wakil rakyat saja di MPR RI?

Saya akan langsung berkata: tidak.

Bukan saya tidak percaya pada MPR atau DPR, tapi saya lebih sadar diri jika kemampuan saya tidak ada di sana. Utamanya pengalaman saya tidak terlalu bagus dalam berorganisasi. Pula saya bukan seorang yang fanatik terhadap partai politik.

Sementara yang saya tahu, anggota majelis permusyawaratan berasal dari kalangan politisi.

Politik tidak salah. Politik itu sudah ada sejak zaman dahulu kala bahkan di zaman nabi nabi. Kadang kala yang menjadikannya terpuruk dan tak lagi dihormati adalah ulah mereka yang tak bertanggung jawab: hanya mementingkan diri sendiri lupa pada tujuan utama sebuah politik 

Ngobrol Bareng MPR RI

Bersama Sesjen MPR RI Bapak Ma'ruf Cahyono
Tanggal 4 Desember 2018 kemarin boleh dibilang adalah perjumpaan kedua saya dengan pihak MPR RI. Kali pertama berlangsung tahun 2016 lalu.

Saya berjumpa lagi dengan Pak Ma'ruf. Bukan hanya jumpa fisik tapi beliau juga memberikan 'ceramah' seperti biasanya.
Saya tertarik dengan isi dari sambutan beliau.

Ya meski sangat disayangkan pertemuan kali ini hanya berlangsung beberapa jam saja. Sedikit tidak puas dan terburu-buru. Banyak hal lain dan baru yang ingin saya ketahui namun belum sempat dibahas.

Tapi ya sudahlah tak apa-apa, kelak insyaAllah bakal ada perjumpaan lagi dan lagi.

Menjaga Kebhinekaan


Pada malam itu Bapak Ma'ruf kembali mengingatkan agar sebagai anak bangsa; pemilik masa depan suatu negara agar selalu kuat menjaga nilai-nilai nasionalisme.

Setiap generasi penerus mempunyai kewajiban untuk merawat kemerdekaan Indonesia.

Lebih dekat dengan MPR RI

Konon, bangsa tidak akan menjadi besar jika tanpa berdasar nilai-nilai. Sementara itu Indonesia sudah sejak lahir selalu berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila.

4 Pilar Kebangsaan

BLOGGER JOGJA X MPR RI
4 pilar kebangsaan meliputi:
1. Pancasila
2. Bhineka tunggal Ika
3. NKRI
4. UUD

Agar tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak diharapkan (misal terorisme) maka seorang anak hendaknya sejak kecil sudah diberi pemahaman mengenai agama dan Pancasila. Diajarkan tentang demokrasi secara santun.
Suasana ngobrol bareng MPR RI

Nilai-nilai dari Pancasila selalu menempatkan manusia diatas segalanya. Jadi tidak dibenarkan adanya pelanggaran HAM.

Dalam ''ceramahnya", Pak Ma'ruf juga menekankan bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara harus selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan juga mengedepankan nilai-nilai hukum.