Perkara Mandi Parfum Hingga Memilih Jodoh

Sebagai Gadis Anggun lajang diusia mendekati kepala tiga, rasanya banyak banget yang memandang kasihan kepada saya. Dari tatapan dan ucapan orang-orang di sekitar, bisa disimpulkan bahwa mereka menganggap keadaan saya begitu menyedihkan. Seolah saya ini makhluk yang kurang kasih dan sayang.

Tidak jarang nasehat (baik yang diucapkan secara santun mau pun terkesan menghakimi) sering datang menghampiri. Rasanya ada saja yang bisa mereka omongkan tentang saya.

Saya yang kesepian. Saya yang tidak punya teman. Saya yang introver. Saya yang sangat nelangsa. Saya yang terpuruk. Saya yang tidak bahagia. Saya yang belum bisa membahagiakan orangtua. Saya yang menua tanpa pendamping. Saya yang dibilang tidak laku. (Mendadak ingin jualan sesuatu).

Bukan hanya kaum old, mereka yang seumuran dengan saya rajin sekali bertanya. Mengorek segala macam hal. Mending kalau sekali dijawab udah, lha ini semacam kejar-kejaran.
Udah melebihi wartawan saja. Padahal wartawan yang selama ini mewawancarai saya biasa aja gak pernah tanya kapan saya bakal nikah. Ehe

Oh, baik lah. Masih banyak yang lain lagi. Saya tidak dan kadang bertanya apakan ini  ujian atau candaan yang dikirim Tuhan agar saya selalu bisa tertawa sekaligus berjuang menghadapi suara-suara dari kanan kiri?

Apa pun judulnya, saya  mencoba terbiasa dengan situasi ini. Bahkan lebih dari itu, saya mulai menikmatinya. Seolah sedang menikmati  gelato di siang nan terik.

Usia saya sudah bukan masanya usia emosian. Bukan pula usia galauan. Bagaimana nasibnya saya kalau sebentar-sebentar galauan? Padahal hampir setiap hari ada saja 'tatapan kasihan' untuk saya.

Belum lagi saya malas kalau harus muncul kerutan di wajah. Sia-sia dong rutinitas skin care dan mandi parfum yang tiap hari saya jalani. Oh tidak, saya tidak perlu mengeluarkan energi untuk menanggapi ocehan kanan kiri.


Dulu sekali memang saya sempat menargetkan diri untuk nikah di tahun 2020. Nyatanya di bulan ketiga tahun 2020 ini saya justru santai, jangankan mikirin nikah. Saya malah main-main dengan diri sendiri. Menantang diri sendiri untuk ini itu. Rasanya akan banyak hal yang kelak akan susah saya lakukan jika sudah menikah.

Lagian, di tahun ini saya kembali menjomblo dan masuk dalam barisan jomblo jomblo bahagia. Jadi pikiran untuk nikah segera tersingkir diganti dengan rencana rencana memanjakan diri sendiri. Mandi parfum, rebahan santuy, masak-masak, dan lirik sana sini. *Ampun ratjun memang

Bukan maksud abai dengan warning kepala tiga.  Saya hanya berkeyakinan kalau untuk mencintai orang lain maka pertama-tama yang harus dilakukan adalah mencintai diri sendiri dulu.

Orang-orang yang kenal saya lebih dari satu dekade akan beranggapan saya ini orangnya pemilih. Padahal sebenarnya tidak juga. Saya bukannya pemilih. Tapi saya ini sering banyak enggak cocoknya. *Apa sih kalimat ini membingungkan sekali.

Intinya, saya ini orangnya kelewat pasrah. Tidak banyak menuntut. Namun jika ada satu hal yang enggak saya suka, ambyar sudah semuanya. Kadang saya menganggap diri sendiri terlalu tega. Terlalu jahat.
Udah ketemu orang baik-baik sesuai kriteria, eh begitu tahu ada  satu saja kebiasaan yang enggak saya banget, langsung lambaikan tangan: bhay.
Semudah itu bilang 'enggak'.

Perkara Jodoh


Katanya, jodoh kita adalah cerminan dari diri kita.
Ya sudah maka saya harus mencintai diri sendiri agar pasangan saya nanti juga seorang yang juga mau mencintai dirinya sendiri.
Simpel! Atau ribet?

Orang-orang yang mencintai diri sendiri biasanya enggak akan mudah merusak diri sendiri pun menyakiti orang lain. (Mini GK 2020)

Penting tahu siapa calon kita sebelum beneran mengikat hubungan yang akan dijalani sepanjang sisa hidup ini.
Ditahap ini asli saya masih gelap abu-abu. Nyali pun masih kembang kempis. Hari ini hayuk, besoknya nanti-nanti. Emang iya ini anaknya susah keluar dari zona nyaman. Tolong jangan dicontoh!

Pernah saya ketemu orang, baik banget, tapi suatu hari saya putuskan kalau orang ini enggak cocok dengan saya usai jamuan makan malam. Why? Kenapa bisa? Saat makan malam itu saya baru tahu kalau dia suka menyisakan makanan. Ini enggak benar. Ini enggak cocok buat saya.

Saya sangat mencintai makanan, maksudnya jika ada makanan di piring maka saya akan berusaha menghabiskannya.
Saya bukan orang yang berlebihan dalam makan pun dalam belanja. Selain karena hemat juga karena ingat gimana rasanya zaman pernah kelaparan. Susahnya ampun. Maka kalau sekarang bisa makan, yuk makan dengan bijak.
Gaya hedon, big no.

Saya juga tidak cocok dengan orang yang makannya berantakan. YaLord, beneran lihat orang dewasa makan dengan berantakan itu bikin stress. Okelah kalau makan sendiri di rumah sendiri tanpa orang lain. Kalau di tempat umum? Ah, tidak. Saya tidak cocok.

Daripada saya mengerutkan kening setiap hari, mending sudahi saja yang belum terlampau jauh.
Lebih damai dan nyaman.

Bagaimana dengan perokok?
Saya tidak pernah cocok dengan asap rokok. Gak ada zamannya bisa temenan sama satu ini. So, meski setampan apa pun laki-laki di depan saya, jika dia ketahuan hobi merokok, auto mundur alon-alon.

Saya baru akan sedikit merespon jika ada orang yang gaya komunikasinya asyik. Jika ngobrol bisa meluas sampai mana-mana pula tidak suka menghakimi. Saya tidak butuh orang yang sok jenius sok pinter sok maha tahu. Tapi butuh orang yang bisa mempertanggungjawabkan apa yang sudah diucapkannya.

Katanya dari mata turun ke hati. Okelah, jujur penampilan fisik kadang masih jadi hal pertama yang saya lihat. Ya iyalah, mana bisa menilai kadar keimanan seseorang padahal baru sekali jumpa. Udah pastilah fisik yang mudah diindera.
Bukan perkara dia glowing atau tinggi menjulang bak oppa-oppa Korea atau macem Orlando Bloom. Bukan, bukan yang gituan. Meski kalaupun ada yang gituan, bolehlah.

Fisik di sini lebih ke dia yang mencerahkan mata. Yang nyenengin dipandang. Enggak butek.
Punya tampilan yang rapi. 
Saking saya sukanya sama laki-laki rapi, sampai saya juga ikut-ikutan merapikan diri sendiri dulu. Malu oe kalau ketemu laki-laki rapi tapi sebagai Gadis Anggun malah saya terlihat semrawut.
Tolong dicatat, rapi yes, bukan glamor atau penuh dengan branded.

Penting juga laki-laki itu harum. Saya akan auto males kalau ketemu sama orang yang apek (baukkk). Hidung pesek ini terlalu sensitif untuk aroma-aroma.
Wangi bukan berarti harus guyur parfum sebotol juga, yes. *Saya pernah ketemu laki yang beginian, sungguh diluar ekspektasi

Yang standar kualitas super saja. Gak bau ketek. Rajin sampoan. Pakai parfum.
Nah demi mendapat someone yang demikian, maka saya mendukung diri dengan macak demikian adanya.
Saya juga haruslah wangi.
Kadar cinta saya  pada diri sendiri akan naik saat tubuh dalam keadaan wangi harum semerbak.

Saya sampoan minimal dua hari sekali. Mandi harus, meski kadang males parah.
Iya oe, demi dapat jodoh yang wangi saya harus rela pula mandi sering-sering.

Tapi kata teman, kalau sudah masuk kamar mandi maka saya akan lama keluarnya.
Ya gimana ya, mandi itu memulainya memang susah tapi kalau sudah nyentuh air maka akan susah buat udahan.
Demi menunjang keharuman paripurna saya stok body wash yang cocok.

Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash adalah satu merek body wash yang harumnya cocok untuk saya. Aromanya menenangkan dan enggak norak. Bagai mandi parfum jika sudah menyentuh lembut sabunnya.
Saya koleksi tiga jenis Vitalia body wash;
1. White Glow (Skin brightening) dengan kandungan Licorice dan Susu membantu mencerahkan kulit.
2. Fresh Dazzle (Skin refreshing) dengan kandungan Jeruk Yuzu dan Teh Hijau memberikan kesegaran saat mandi dan membuat mood lebih baik.
3. Soft Beauty (Skin nourishing) dengan kandungan Alpukat dan Vitamin E membantu menutrisi kulit dan menjadikannya lembap.

Sebenarnya saya sudah lama berhenti memakai sabun pabrikan. Itu karena salah satu teman mencoba produksi sabun sendiri. Saya lihat mulai dari cari bahan dan alat (termasuk beli susu) sampai pembuatannya. Jadi saya aman pakai sabun darinya.
Kasusnya beda lagi dengan Vitalis ini. Packaging cute. Botolnya tidak yang gede banget jadi bisa dipakai kalau mau jalan-jalan. Pula bukan botol kecil banget yang mulai saya hindari.

Pilihan mencoba mandi parfum dengan Vitalis tentu saja karena aroma. Saya suka wanginya. Hidung saya mudah luluh kalau ketemu aroma yang asyik. Dan auto ngomel kalau ketemu bau tak sedap.
Saat menyentuh kulit, sabunnya begitu lembut. Ada sensasinya saat dibalurkan ke kulit lalu dipijat sebelum diusap dan dibilas.
Ya semenarik ini ritual mandi saya, wajar kalau sering lama sampai membuat teman senewen.
Gak ada ceritanya mandi kok cuma lima menit. Ya mending gak usah mandi.
Lima menit itu cuma cukup buat cuci muka sama tuang sabun doang.

Selain wangi Saya juga akan merasa cocok dengan laki-laki penyuka buku.  Saya bisa berlama-lama dekat dengan orang yang punya hobi baca dan suka dongeng. Meski suara saya tidak terlalu seksi, tapi saya suka mendongeng. Jadi akan satu rasa jika ketemu orang yang bisa mencintai dongeng.

Jadi  teman-teman yang baca postingan ini, jikalau kalian menemukan ada laki-laki lajang cerdas dengan riwayat pekerja keras, good looking dengan keharuman paripurna sedang mencari jodoh, boleh berkabar ke Gadis Anggun.
Yah, namanya usahakan suka-suka, boleh-boleh saja.

Mengenal Covid 19 dan Pencegahannya


Mengenal Covid 19 dan Pencegahannya

Tiket pesawat ke Bali sudah ada di tangan. Terjadwal berangkat awal Maret. Saya akan terbang ke Bali kurang lebih lima hari. Bukan untuk acara piknik tapi semacam tugas negara untuk kemuliaan.

Saya sudah merancang banyak agenda selama di Bali. Ubud, Tanah Lot, Bedugul adalah sekian dari banyak tempat yang harus masuk dalam daftar kunjungan saya kali. Namun tiba-tiba susunan rencana acara saya sedikit berantakan. Pasalnya emak hampir-hampir tidak mengizinkan saya pergi. Ini semua karena berita yang heboh terkait Novel Corona atau dikenal dengan sebutan Covid 19.

Sejujurnya saya juga sempat worry. Virus ini sudah saya dengar kabarnya sejak perjalanan saya sebelumnya ke Madura. Dalam perjalanan itu (Januari) saya bersama kawan dari Hongkong membicarakan virus yang sedang naik daun tersebut. Virus yang lahir dari kota Wuhan yang menggemparkan hampir seluruh dunia.
Saya kehabisan cara untuk memenangkan emak. Maklum emak saya bukan orang kekinian yang akan croscek sesuatu namun lebih memilih untuk langsung menelan segala sesuatu yang disodorkan padanya. Pun termasuk berita tentang corona. Beruntung mamak bukan pengguna WA atau medsos lain jadi kepanikan hanya sebatas dari mendengar kanan kini dan televisi.

Untuk meredam kegelisahan dan ketakukan mamak akan covid 19, maka beberapa hari sebelum berangkat ke Bali  saya menyempatkan diri untuk menghadiri semacam seminar, temu netizen yang diprakarsai oleh Kemenkes RI. Acara ini cukup menarik untuk saya. Di sini saya mencari info sebanyak-banyaknya untuk bekal perjalanan sekaligus memberi ketenangan pada mamak. Saya rela bolos kuliah demi mengikuti sesi semiar yang hampir berjalan selama seharian full. Saya tidak masalah, yang penting ilmu saya terupgrade dan tidak membabi buta atau panik berlebihan dalam menghadapi covid 19.

Corona virus, novel corona, covid 19, apakah ini?
Sebelumnya kita mengenal yang namanya MERS atau istilah medisnya adalah middle east respiratory syndrome. Yaitu merupakan penyakit pernapasan yang penyebab utamanya adalah virus korona jenis baru (novel coronavirus). Penyakit ini sebelumnya ada pertama kali ditemukan di Arab Saudi tahun 2012.
Virus korona sendiri merupakan bagian dari keluarga virus yang bisa menyebabkan penyakit mulai dari penyakit ringan (flu, misalnya) hingga bisa menyebabkan penyakit yang lebih parah atau serius seperti SARS (severe acute respiratory syndrome).

Yang sedang mewabah saat ini juga adalah masih seputaran virus corona yang awal mulanya terjadi di Wuhan.  Novel corona virus 2019-nCoV masih belum jelas penularannya. Diduga 
selama ini dari hewan ke manusia.

Bagaimana gejala terserang virus corona?
Corona hampir mirip dengan influenza. Gejala umumnya adalah demam lebih dari 80ºC, batuk dan sesak napas. Gejala ini akan semakin berat bagi mereka yang sudah berusia lanjut atau mempunyai riwayat penyakit lainnya. Namun tidak semua yang bercirikan demikian berarti positif terserah virus corona. Harus dicermati dan diperiksa lebih lanjut lagi.

Radang paru dan gejala sakit perut juga sering dialami oleh mereka penderita sakit ini.
Tapi ada juga orang yang terjangkit virus corona namun tidak menunjukkan gejala apa pun. Biasanya mereka akan tidak sengaja terjangkit virus ini karena sebelumnya berinteraksi dengan pasien lain yang positif mengidap virus.

Bagaimana cara penularan virus corona?
Selama ini banyak berita salah yang mengabarkan bahwa virus corona menular melalui handphone atau pakaian. Yang benar adalah virus ini tidak bisa menular melalui benda mati. Namun ia menular lewat perantara cairan tubuh misalnya sperma dan air liur. Maka diwajibkan bagi orang yang sakit untuk menggunakan masker.

Sementara mereka  yang sehat, disarankan untuk tidak perlu menggunakan masker.

Bagaimana cara pencegahan covid 19?
Meski terbilang penyebarannya sangat cepat dan luas, namun virus corona bisa saja dicegah. Beberapa cara pencegahannya adalah dimulai dari diri sendiri dengan membiasakan hidup sehat. Usahakan tubuh untuk selalu dalam kondisi fit/ prima. Terapkan pola makan yang sehat, bergizi dan seimbang. Rajin olahraga fisik dan istirahat cukup. Menghindari begadang dan jika merasa lelah tidak sungkan untuk istirahat. Selalu makan makanan yang dimasak sempurna dan jangan memakan daging dari hewan yang berpotensi menularkaan atau membawa penyakit. Jika muslim selalu ingat untuk makan makanan yang halal. Selalu menjaga kebersihan diri juga lingkungan tempat tinggal. Jika sedang flu/ sakit wajib menggunakan masker dan jika batuk untuk menutupnya dan juga menghindari interaksi dengan orang lain.
Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir juga menjadi satu kunci pokok pencegahan penularan virus corona.


Kesiapan Indonesia menghadapi serangan Covid 19
Dari yang saya dengar, pemerintah Indonesia sudah menyiapkan banyak rumah sakit untuk menanggulangi pasien virus corona. Indonesia termasuk negara yang lebih akhir terkena dampak corona namun persiapan terus diberlakukan.
Untuk wilayah Yogyakarta, RSUD dr. Sardjito dan Rumah Sakit Panembahan Senopati Wirosaban adalah dua rumah sakit yang akan menjadi rujukan jika ada pasien yang dirasa terduga terserang virus corona.

Virus ini memang sudah menyebar ke seluruh negara di dunia. Namun bukan berarti kita harus panik. Waspada penting, panik jangan. Selalu update berita terpercaya dan menghindari bepergian jauh rasanya lebih baik. Tidak mengapa sesekali tidak ikut keramaian demi menjaga diri.

Info lebih lanjut mengenai virus corona, pencegahan, sebaran dan himbauan lainnya bisa di cek di akun media sosial kemenkes RI, website sehatnegeriku.kemenkes.go.id  kemenkes.go.id
Jika ada yang mendesak dan butuh pertolongan mengenai virus corona, silakan hubungi kontak berikut:
021 – 5210 411
0812 1212 3119

Resolusi 2020 Membangun Kerajaan

Sudah jadi kodrat manusia selalu ingin hidup lebih dan lebih. Satu keinginan tercapai, muncul keinginan lain. Bahkan keinginan lain sering kali muncul bebarengan keinginan yang sebelumnya. Persis seperti anak kembar yang tidak pernah putus, datang lagi dan lagi. Terus terus tanpa ada ujung.

Hari ini makan tempe, berharap besok makan ayam. Hari ini punya cincin, besok berharap gelang, kalung, logam mulia dan lainnya kalau perlu tambak emas jadi milik pribadi.

Apakah orang dengan sifat demikian bisa dinamakan rakus?
Atau wajar saja?

Saya pernah mengalami isi dompet kosong, tanpa ada ATM. Bahkan itu di luar kota. Pernah juga suatu hari karena ingin sangat hemat, terpaksa naik bus paling murah meski tampak tidak nyaman. Sering sekali batal 'nongkrong' hanya demi biar besok bisa makan lagi.

saya tidak tahu kenapa bisa sangat hemat. Sampai kadang mikir jangan-jangan ada yang salah dengan pola pikir dan mental saya.
Tapi rasanya selama saya punya cita-cita maka selama itu pula saya masih waras. Saya akan bilang mental ini bermasalah jika tidak punya gairah untuk bermimpi, untuk menginginkan sesuatu.
Bukankah seorang yang pasrah, selesai dengan dunia pun pada akhirnya tetap mengharapkan keridhoan Ilahi Semesta?

Di penghujung tahun 2019 kemarin cita-cita saya nambah.
Kalau kemarin dulu saya bercita-cita semoga selalu diberi kecukupan (finansial dan lain sebagainya) biar bisa terus berada dalam barisan orang-orang tenang menyenangkan, maka mulai akhir 2019 kemarin saya  berdoa semoga menjadi orang kaya (harta ilmu sabar iman dan sebagainya) dan selalu bermanfaat.

'Jadi manusia jangan mau miskin, bangun, bangun, bangun kerajaanmu.'  Begitulah kira-kira jeritan dari sisi diri saya yang lain.

Membangun kerajaan, bukan lantas ujug-ujug memproklamirkan diri sebagai Ratu dan Raja macem Kerajaan Abadi Sejagat Raya, bukan itu. Kalau yang itu mah namanya halu.

Membangun kerajaan itu ya mulai membangun diri dari kerikil menjadi berlian. Tidak mudah, memang. Tapi setidaknya pelan namun pasti. Apalagi saya ini tipikal orang yang lebih senang 'santai' tapi ada 'hasil' meski tidak terlalu muluk. Intinya keluarga keringat sedikit, hasilnya bisa puas. Haha. Saya yakin banyak deh yang semacam ini.
Tapi kalau gini terus lantas kapan kayanya?

'Ngapain sih bermimpi jadi orang kaya?'
'Orang banyak harta justru nanti repot lho. Lama dihisabnya. Banyak ditanya di akhirat nanti.'
'Kalau kaya harus siap-siap jadi bank yang bisa dihutang lho. Harus juga rajin-rajin traktir. Kalau enggak nanti bakal dijulidin sedunia raya.'

Yes, enggak salah omongan itu. Orang kaya selalu identik dengan bahan ghibahan rang-orang. Orang kaya kalau gak dermawan bakal jadi omongan tidak jarang jadi mangsa penjahat. Nauzubillah, semoga Allah senantiasa menjaga niat dan jiwa kita, aamiin.

Sejujurnya saya emang takut sih jadi kaya. Tapi kalau ketakutan ini enggak segera dimusnahkan pasti yang ada si kaya enggak jadi datang, males duluan.

Padahal ada banyak alasan kenapa saya mendadak ingin jadi orang kaya.

Tidak lain karena fenomena yang sering saya temui. Lewat di jalan, banyak pengemis atau peminta-minta. Sering lihat orang kelaparan atau tidak punya rumah. I know gimana rasanya seperti ini. Saya pernah kelaparan dan saya pernah merasa hidup dalam sebuah gubuk. Tidak jarang saya harus berhadapan dengan adik-adik yang saya kenal secara personal atau pun hanya sekali jumpa yang curhat betapa sejujurnya mereka ingin sekolah namun tidak punya biaya.

Saya pernah menjalani hidup seperti itu. Ingin ini ingin itu. Ingin sekolah tapi kandas karena dicekik oleh biaya. Mata saya meleleh menerima banyak curhatan dari adik-adik yang ingin melanjutkan sekolah tapi terkendala biaya juga restu. I know seperti apa perasaan mereka.

'Miss, aku ingin sekolah tapi orangtua tidak mengizinkan karena biayanya mahal.'
'Miss, aku dapat beasiswa tapi Paklik gak kasih izin aku sekolah soalnya gak bisa mencukupi biasa makan sehari-hari.'

Ada juga yang curhat itu adalah mereka anak-anak dari korban broken home namun masih punya semangat juang sebab berada di lingkungan yang baik.
Sungguh saat mereka mendekat, berbicara dan meneteskan air mata, saya hanya mampu merengkuhnya dalam pelukan tanpa bisa membantu lebih. Misalnya saya kaya, saya berharap sekali tidak hanya memeluk tapi menjadi kakak asuh untuk mereka. Kenyataannya saat ini bahkan status saya adalah Anak Asuhan Negara. Lain kali saya ceritakan tentang Anak Asuhan Negara ini.
Sekolah yang saya jalani saat ini murni dari dana negara.

Jadi jika hari ini saya seolah tampak sibuk atau begitu ambisius, percayalah itu bukan karena saya berubah jadi orang tidak asyik, melainkan karena saya sedang mencoba mengatur pola yang tepat untuk segala cita-cita saya.
Banyak yang saya pikirkan. Sedikit yang terwujud. Maka itu saya mencoba untuk menemukan jalan-jalan baru. Saya percaya pada nasihat dalam kitab suci bahwa 'Tuhan tidak akan mengubah suatu kaum tanpa usaha kaum itu sendiri'.

Semakin banyak cita-cita saya semakin banyak pula yang saya percaya. Padahal dulu, sangat enggak bagi saya untuk mempercayai sesuatu. Akan banyak pertimbangan sebelum memutuskan iya atau tidak.

Buat Apa Berkunjung ke Cagar Budaya Indonesia?

Buat Apa Berkunjung ke Situs Cagar BudayaIndonesia?

Oleh: Mini GK (Tri Darmini)

Satu hal yang kurang saya suka namun harus terpaksa sering saya lakukan, yaitu menunggu. Tarik napas dan hembuskan. Apa ada yang senasib dengan saya?

Biasanya untuk membunuh waktu (ya membunuh waktu bukan sebuah kejahatan) saya membaca buku. Seperti sore tadi. Hampir satu jam sudah saya menunggu sepupu yang janji mau ngajak jalan namun tidak jua ia muncul. Sementara lembaran buku yang saya baca sudah lebih dari lima belas halaman. Saya sedang membaca sejarah tentang Serangam Umum 1 Maret. Bukan kebetulan saya membaca buku yang memuat kisah tersebut melainkan sengaja sebab dalam beberapa hari kedepan ada tugas yang berkaitan dengan sejarah Serangan Umum 1 Maret.

Monumen Stasiun Radio AURI PC2
Saya hampir saja beranjak pergi tepat saat sepupu muncul di pintu.
“Jadi jalan?” tanyanya begitu berjarak sekian jengkal dari muka saya.
“Jadilah. Lama banget sih.”
“Tadi ada urusan sedikit. So, mau ke mana kita hari ini?”
“Ke monumen Radio AURI PC2 sekalian ke Cagar Budaya Bleberan.” Setidaknya dua tempat itu yang ada dalam benak saya sejak tiga hari lalu.
Sepupu saya melotot dan langsung berucap, “ngapain ke sana? Buat apa main ke cagar budaya?”

Saya mengerjap. Buat apa main ke cagar budaya? Pertanyaan itu membuat saya terdiam cukup lama. Apakah harus ada alasan khusus untuk main ke cagar budaya?
“Tapi kalau kamu mau ke sana, ayolah.”

Saya mengangguk. Lanjut dengan sepupu naik motor menuju daerah Bleberan Playen. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Hanya butuh waktu 10 menit perjalanan santai untuk tiba di lokasi.

Situs Cagar Budaya Bleberan Saksi Peradaban Masa Megalitikum

Karena waktu yang sudah sore, saya minta untuk lebih dulu mengunjungi Situs Cagar Budaya Bleberan. Lokasinya jauh dari jalan raya. Harus masuk dan lewat pemukiman warga. Beruntung saya suka dengan suasana desa dan tegalan yang mengelilingi Situs Cagar Budaya Bleberan.

Pagarnya baru saja digembok saat motor saya tiba di lokasi. Petugasnya masih ada dan baru berbalik badan, maka buru-buru saya mendekat untuk minta waktu barang sejenak demi menengok koleksi benda sejarah yang ada dalam lokasi cagar budaya.
Cagar Budaya Situs Bleberan

Kalau orang yang tidak paham maka akan mengira kalau yang tergeletak di situ  hanyalah batu-batu biasa yang enggak ada sejarahnya. Itu kalau orang yang tidak paham, seperti halnya sepupu saya. Ia kebingungan saat menyisir lokasi dan yang dilihat hanya batu-batu tertata, seperti sengaja ditidurkan dengan obat bius.

Tempat ini sudah menjadi penampungan cagar budaya sejak tahun 1998. Dari sejarah yang saya baca, di daerah Bleberan inilah ditemukan menhir utuh dan insitu berukuran tinggi 408 cm, lebar 33 cm dan tebal 27 cm. 
Menhir yang saya tahu adalah sebuah batu tegak yang sering dipakai untuk ritual pemujaan pada masa megalitikum. Menhir biasanya ditancapkan tegak namun ada juga yang terlentang. Di Situs Cagar Budaya Bleberan ini ada 23 menhir, 1 buah kepala menhir, 28 peti kubur, 2 buah patok peti kubur batu dan 3 buah batu kenong. Sekarang saya setuju dengan para ahli sejarah dan arkeolog yang berpendapat bahwa daerah ini dulunya merupakan salah satu situs prasejarah di Gunungkidul.

Penampakan Situs Bleberan (20/11/2019) sedang dalam tahap renovasi
Saya jadi bertanya seperti apa kiranya peradaban masa itu berlangsung, mengingat saat ini. Saat ingin bertanya pada petugas, saya sedikit ragu soalnya waktu sudah sangat sore. Maka saya putuskan untuk esok datang lagi lebih siang. Baru kali ini saya mendatangi sebuah lokasi namun tidak merasa rugi meski tidak dapat apa-apa kecuali foto dan sedikit aura aroma masa lalu.
Meski tidak yakin paham tentang lokasi yang dikunjunginya namun sepupu tidak absen untuk berfoto ria dan bahkan membagikan video di ig-story.

Saya pamit pada petugas dan pindah lokasi ke Monumen Radio AURI PC2.

minigeka.com
Lokasi Radio AURI PC2

Kehadiran Radio AURI PC2 pada Serangam Umum 1 Maret

Tiba di lokasi, sepupu terlihat kaget.
“Ini beneran tempat bersejarah yang dimaksud dalam buku-buku?”
“Emang.”

Saya langsung ngeloyor masuk dan memotret monumen yang tidak seberapa tinggi tersebut.
Saya paham dengan keheranan sepupu. Ia mengira kalau situs sejarah yang sudah disahkan menjagi Situs Cagar Budaya ini bentuknya kuno, tampak angker dan seram. Saya yakin itu sebab sepanjang jalan tadi dia sudah menebak-nebak. Nyatanya salah, situs cagar budaya ini tampak begitu modern. Saya kira ini berkat pemugaran beberapa kali. Bahkan saya merasa lokasi ini terbilang riuh riang gembira sebab dikelilingi dengan bangunan TK yang lengkap dengan mainannya mulai dari ayunan sampai prosotan.

Inilah lokasi yang dulu pada 1 Maret 1949 berjasa menyebarkan berita bahwa pasukan Indonesia berhasil menduduki kembali posisi pemerintahan Ibu Kota Indonesia yang saat itu adalah Yogyakarta. Hal ini penting dan menguncang dunia. Sebab sebelumnya dikabarkan kalau Indonesia sudah jatuh ke tangan penjajah dan dianggap musnah. Nyatanya Indonesia masih jaya. Siaran dari radio AURI PC2 ini disebarkan hingga Sumatera dan akhirnya sampai di telinga PBB yang langsung mengambil tindakan tegas.

Pertama kali saya mendengar kisah tentang Radio AURI PC2 adalah sekitar tahun 2000an saat masih SMP. Saat itu guru Sejarah menyombongkan skripsinya yang membahas kesaktian Radio AURI PC2 dan mendapat nilai A. Jujur masa itu saya tidak begitu tertarik untuk ingin tahu lebih lanjut. Barulah akhir-akhir ini (itu juga karena didorong oleh kewajiban tugas) saya mulai membaca buku dan mencari tahu tentang peninggalan sejarah ini. Tidak disangka kemudian saya jatuh cinta.

Memang benar kata pepatah “tak kenal maka tak sayang”. Lagian saya berpikir juga alangkah ruginya jika sampai tidak paham dengan situs cagar budaya satu ini padahal namanya sudah melegenda dan saya yakin sering dibahas juga di berbagai seminar sejarah.

Radio AURI PC2 tidak akan pernah luput dibahas dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret. Dan mendadak saya bangga dong sudah pernah mengunjunginya.

Situs Candi Plembutan, dari mitos sampai etos

Karena sudah sampai Bleberan, sepupu menyarankan agar perjalanan dilanjut ke situs Candi Plembutan. Lokasinya memang hanya berjarak satu kilo dari Monumen Radi AURI PC2, maka saya pun menyetujuinya. Lumayan untuk mengunjugi tiga situs sejarah hanya dibutuhkan waktu kurang dari 2 jam dan itu sudah puas kalau hanya sekedar melihat-lihat.

Sampai di Situs Candi Plembutan, saya langsung mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan beberapa sisa candi yang masih berserakan. Saya curiga candi ini dulunya lebih luas dibanding yang sekarang. Jangan bayangkan bentuknya serupa Candi Sewu atau Borobudur.  Kamu bahkan hanya akan menemukan gundukan tanah dan beberapa batu yang tertata dan sebagian berserakan. Saya tahu, batu-batu ini adalah penyusun candi yang tengah dikumpulkan dan diobservasi sama tim cagar budaya. Saya pernah melihat hal ini di beberapa candi yang pernah saya kunjungi (dalam rangka belajar sejarah). 

Cagar Budaya Candi Plembutan
Kalau penyusunan candi belum dijalankan, ada kemungkinan banyak bagian candi yang hilang. Atau bisa jadi diambil oleh warga (yang mungkin tidak paham kalau itu bagian candi) karena bentuk batunya sekilas emang sama saja dengan batuan yang lain.
Dulu pernah juga saya diajak keliling oleh komunitas penyuka sejarah dan dari mereka saya tahu kalau batu-batu penyusun candi bisa  hanyut di sungai terbawa arus. Ada juga penduduk yang karena tidak paham jika itu batu candi memakainya untuk pondasi rumah atau malah bahan meterial penyusun rumah.

Konon sebuah rumah yang dibangun dengan memakai batu atau bagian candi bakal tidak tenang. Saya antara percaya dan tidak. Antara mitos yang beredar bakal terjadi masalah dan etos para penduduk yang sengaja ingin menyimpan barang bersejarah tersebut tanpa ada niat yang lain.

Walau sepi dan sempit, situs Candi Plembutan tampak bersih dan terawat. Lokasinya juga mudah dijangkau pula tidak tampak seram. Saya sih betah berada di sini. Bahkan berlama-lama pun tidak masalah. Situs ini sendiri punya sejarah cukup panjang. Yang saya datangi ini merupakan reruntuhan bangunan candi yang berasal dari periode klasik Hindu Budha. Para pakar memperkirakan kalau situs ini sudah ada sejak abad ke-6 hingga ke-10 Masehi.


Pemetaan pada situs ini pernah dilakukan pada tahun 1982 (saya belum lahir, omong-omong). Lantas para arkeolog melakukan ekskavasi dua kali yaitu pada tahun 1997 dan 2000. Ekskavasi tahun 1997 ditemukan fragmen Yoni, arca berbentuk trisula, arca Siwa Mahaguru serta mata uang VOC dan Hindia Belanda. Lantas ekskavasi berikutnya berhasil menemukan umpak batu, hiasan Ardha Candrakapala, fragmen tangan dengan keyura, arca Ganesha, mata uang VOC dan Belanda juga gerabah. Sangat sarat dengan sejarah kekayaan masa lalu.

Dari sisa reruntuhan dapat diketahui kalau Candi ini dulunya menghadap barat, dibangun dengan material batu putih dan memiliki denah bujur sangkar. Banyak yang meyakini kalau bangunan ini dulunya merupakan bangunan suci penganut agama Hindu.

Saya sangat ingin agar kelak ada yang bisa mencocokan batu-batuannya dan menyusun ulang. Kebayang seperti apa gagahnya peninggalan sejarah ini.

Buat apa main ke Situs Cagar Budaya?

Sebelum pulang, saya kembali teringat pertanyaan sepupu. Saya masih agak blenk dengan jawaban saya sendiri sampai akhirnya di rumah menyusun beberapa jawaban yang bisa bertambah sewaktu-waktu.
Maka jika ada yang bertanya mengapa harus ke situs cagar budaya, setidaknya saya punya 3 jawaban:
Pertama, untuk mengenal sejarah dan peradaban. Bukan untuk orang lain tapi untuk pengetahuan saya pribadi.

Kedua, tentu saja untuk membangkitkan rasa cinta dan memiliki. Sebab setelah kenal biasanya akan timbul rasa mencintai dan nyaman.

Ketiga, menumbuhkan rasa untuk ingin selalu merawat, menjaga dan melestarikan situs cagar budaya tersebut. Ya bayangin aja seandainya situs cagar budaya semacam situs Candi Plembutan tidak dirawat, gimana bisa saya menemukan fakta yang pernah ada dan terjadi di sana. Begitu pun dengan Radio AURI PC2, masak iya cuma sekadar tahu namanya saja tapi tidak mengeri bentukannya. Cagar budaya harus selalu dirawat dan didengungkan keberadaannya biar tidak jadi sesuatu yang usang dan atau malah musnah. Anggap saja dengan merawatnya, kita sudah ikut menghargai dan membuat tersenyum para pejuang masa lampau yang mewariskan hal luar biasa untuk kita dan penerus kita kelak.

Saya baru sadar kalau selama di lokasi tidak banyak foto diri dengan latarbelakang situs cagar budaya dan saya merasa nyaman.
Agaknya memang benar kata kenalan saya bahwa mendatangi sebuah tempat jangan hanya karena napsu ingin selfie atau foto-foto melainkan usahakan untuk mencari rasa dan pengetahuan yang belum tentu bisa ditemukan di lokasi lain.
Saya terharu akhirnya bisa juga menulis kisah yang beraroma sejarah dan budaya.

Kisah ini memang tidak seberapa tapi saya meniatkan tulisan ini untuk ikut kompetisi “Blog Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah!”

Manfaat Jahe Sebagai Teman di Segala Musim

Seperti janji sebelumnya, November datang kembali. Tak lupa ia membawa dua kawan karibnya hujan dan angin. November dan hujan pertama  tahun ini  telah hadir memeluk malam.
Hujan pertama yang selama ini ditunggu akhirnya pecah. Aroma tanah menguar memenuhi udara bersama hadirnya hujan bulan November.

Seperti rasa, hujan juga punya cerita.

Sejak kembali menyandang status sebagai mahasiswa, malam-malam saya lebih riuh dari sebelumnya. Meja penuh dengan  makalah dan tugas kampus yang selalu menumpuk. Deadline tulisan sampai revisian kerjaan juga selalu minta perhatian lebih. Semuanya bergenit-genit manja minta disentuh duluan.

Sayangnya saya tidak bisa mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan gunungan tanggung jawab tersebut. Itu artinya tenaga harus selalu dalam kondisi prima. Begitupun penyakit ngantukan harus lekas dihempaskan. Karena enggak lucu juga gagal deadline gara-gara ketiduran.
November ini kesibukan saya sedikit lebih meroket dibanding sebelumnya. Tidak jarang jadwal bertabrakan dan harus rela melepas satu demi yang sudah dipilih. Tidak jarang pula harus pulang larut dan kedinginan. Ya secara rumah saya di Gunungkidul, 30 kilo lebih dari kota Yogyakarta tempat biasa banyak saya habiskan untuk aktivitas di siang hari.

Ingin sambat tapi kok ya malah nambah capek. Mending dinikmati dan disyukuri saja masih bisa beraktivitas dengan gembira bahagia. 

Selain harus mengatur jadwal, tentu juga kudu siap menjaga mood dan stamina. Jangan sampai dong kesibukan jadi alasan untuk enggak hidup sehat. Harus sebaliknya, hidup sehat biar bisa terus aktivitas lancar. 

Meski seharian di luar, setiap malam saya menyempatkan diri untuk sekedar koreksi atau mempersiapkan tugas yang memang belum dikerjakan. *Hiks kadang saya ini juga kurang disiplin, plis jangan ditiru

Untuk menambah semarak malam, saya biasanya memaksa kucing untuk ikutan sibuk di dekat laptop. Ribut di awal, sebentar juga mereka sudah tidur. Lagi-lagi saya kesepian.
Untuk menemani malam yang sepi dan sedikit dingin, saya biasakan menghidupkan radio atau winamp. Bukan lagu-lagu yang saya putar tapi kebanyakan instrumen yang dipercaya bisa membuat rileks. Setelahnya saya  menyediakan secangkir hangat minuman jahe. Bisa susu jahe, teh jahe atau sari jahe.  

Musik sari jahe dan buku di waktu malam nan dingin adalah perpaduan syahdu yang sulit ditampik.

Kecintaan saya dengan jahe tidak perlu diragukan. Belum pada tahap kecanduan tapi selalu tidak bisa menolak jika tersedia.

Siapa sih yang bisa menolak godaan jahe? Rasanya saya belum pernah ketemu orang yang menolak dikasih minuman jahe. *Iya main saya kurang jauh

Lebih dari teman, jahe jugalah teman yang bermanfaat

Dari kulakan materi ke banyak situs bacaan, saya tahu kalau jahe punya banyak manfaat.

Selain menghangatkan badan, sari jahe juga baik untuk membantu pencernaan. Ini karena bahan-bahan yang terkandung dalam jahe berfungsi untuk menstimulus air liar dan meredakan gejala iritasi dalam usus dan lambung. Perut begah karena banyak angin juga bisa diatasi dengan konsumsi jahe. Oh iya, jahe juga bisa lho dicampur untuk bumbu masak.

Buat yang suka muntah atau mabuk kendaraan disarankan untuk berteman baik dengan jahe. Karena mengkonsumsi jahe dalam bentuk atau olahan apa pun bisa membantu meredakan mual. Begitu pun mual pada ibu hamil, ternyata jahe bisa sebagai alternatif menangkal mual di pagi hari.

Bagi perempuan dalam masa subur dan setiap bulan selalu kadatangan tamu (baca: menstruasi)  sangat disarankan untuk rajin konsumsi minuman sari jahe. Sifat jahe yang hangat serta kandungan zat di dalamnya terbukti ampuh mengurangi nyeri akibat datang bulan. Yang ini sih saya percaya, sudah membuktikan sendiri soalnya.

Tadinya saya tidak percaya kalau konsumsi minuman jahe bisa juga dipakai untuk menurunkan berat badan. Nyatanya memang bisa. 

Meski tidak berefek drastis buat tubuh saya, namun jahe bisa membawa pengaruh baik untuk berat badan. Untuk khasus ini memang harus telaten dan rajin. Kalau mogok-mogok  (baca: malas minun teratur) di jalan, ya berat badannya akan stabil atau malah meroket.

Saya sendiri suka jahe karena dia sangat alami, mudah di dapat dan tidak mahal.

Https://minigeka.com

Jahe, mau apa pun macam olahannya selalu mampu meluluhkan hati. Aromanya selalu bisa menenangkan, itu baru aroma, belum kalau sudah menyeruput dari bibir cangkir. Roti jahe juga satu dari sekian banyak cemilan favorit saya.
Sayang yang semacam ini kucing enggak doyan. Ehe.

Hampir semua penghuni rumah senang dengan minuman jahe. Jadi kalau sedang selo dan sangat niat, biasanya saya akan berkutat di dapur. Mulai dari mengupas sampai memasak wedang jahe campur serai. Itu kalau sedang rajin.

Kalau lagi malas tapi ingin menikmati kebaikan jahe maka cepat-cepat ambil satu sachet herbadrink sari jahe lalu campur dengan air panas, aduk sebentar dan jadikan teman  melepas letih. Praktis tanpa perlu ribet.

Mengolah jahe hingga bubuk jahe

Mengolah jahe juga tidak terlalu sulit (seperti yang sudah saya bilang di atas sebelumnya). Apalagi kalau jahe segar hasil ambil dari kebun sendiri. 

Halaman  rumah bapak  tempat saya tinggal banyak ditanami tanaman herbal, salah satunya jahe dan jahe merah. 

 Kalau mau beli jahe segar di pasar juga banyak.  Hanya memang akan sedikit repot ngupas dan lain sebagainya. Ada juga yang jual bubuk jahe. Atau sari jahe alami.

Saya jarang beli yang bentuk bubuk di pasar, soalnya kalau gak pintar milih nanti bisa malah bubuk itu sudah dikasih tambahan bahan lainnya misal gula. Sementara saya sendiri kurang bisa menikmati gula berlebih.
Kalau mau bubuk sari jahe, memang pas kalau beli yang kemasan pabrik. Saya beli yang merek herbadrink. Sari jahe tanpa gula, free sugar. Enak diseduh dengan air panas untuk teman malam atau pas lagi hujan. Atau kalau pas siang terik bisa dicampur es batu. 

Tapi kalau mau membuat bubuk jahe sendiri juga bisa. Gampang. Tinggal pilih jahe yang dimau, dikupas, dijemur lalu digiling. Tapi jangan lupa sebelumnya harus dicuci bersih dan dijaga kelembaban atau harus benar-benar kering biar tidak menggumpal.

Bisa deh jadi stok untuk teman galau di sore hari. Ya karena moment paling pas buat menikmati secagkir minuman jahe ya di sore bersama hujan.

Kalau bosen dibuat minuman, bisa juga kok sari jahe itu dibuat roti jahe. Bisa diolah dengan cara dikukus atau dipanggang. Semuanya saya suka. Bikinnya juga tidak banyak mengeluarkan tenaga, asal bubuk sari jahenya suda tersedia.

Bertemu Tere Liye di Klan Matahari

Apa sih hal paling bisa mendekatkanmu pada buku?
Atau jika dibalik, kenapa sih kamu suka buku?

Pernah kah ada yang bertanya demikian pada diri sendiri?
Saya sering. Iseng-iseng jadi sebuah kebiasaan. Untungnya kebiasaan baik jadi bisalah ditularkan kepada kesayangan-kesayangan.

Rasa-rasanya sejak bisa membeli buku sendiri, saya jadi semakin sayang dan enggak bisa lepas dari buku.
Rasanya seneng banget kalau punya buku baru, entah karena beli atau dapat hadiah. Sering kali malah sengaja banget nyari buku-buku lawasan yang murah meriah untuk mengembalikan aroma masa lalu.

Buku dan saya, atau saya dan buku adalah dua sahabat yang sulit untuk dipisahkan.
Layaknya sahabat, kami (saya dan buku) juga sering mengalami yang namanya 'bentrok' atau peristiwa sedih.
Berantem mungkin lebih tepatnya.
Saya menginginkan dia (buku) tapi seringnya dia jual mahal (dalam arti sesungguhnya) lantas saya harus berusaha sebisa mungkin untuk menuntaskan cinta yang sudah kadung tumbuh ini.

Salah satu cara saya untuk selalu berdekatan, atau memelihara cinta dengan buku yaitu gabung dengan beberapa klub buku dan baca.

Sudah empat tahun, kalau tidak salah ingat, saya gabung dengan klub baca Jogja dan klub ulat buku. Sebuah klub suka suka yang aktivitasnya baca buku suka-suka dengan cara suka-suka.

Sudah banyak sekali buku yang akhirnya saya baca setelah ikutan klub baca. Klub ini hadir sebulan sekali dengan buku beda dan pemantik diskusi yang beda pula.

But, di postingan ini saya enggak akan banyak-banyak cerita tentang klub baca Jogja.
Why? Because saya mau cerita klub baca lain yang kebetulan belum lama ini didirikan.

Sebut saja namanya Klub Baca DPK. Ntar saya ceritakan DPK itu apa. Tapi nanti pas saya Selo, #eh

Klub baca DPK dibentuk oleh kantor perpustakaan daerah Gunungkidul. Ya tujuannya emang membuat klub baca yang mewadahi mereka-mereka yang tertarik dengan bukubuku, khususnya anak anak usia SMP.

Senang saya bisa ikut terlibat dalam klub baca ini. Selain mengampu kelas menulis sastra (yang saya merasa sejujurnya agak gimana gitu karena ilmu yang enggak seberapa) eh sekarang malah didapuk juga untuk mengampu klub baca.
Senang karena di sini ketemu anak anak baru yang dulu sesuai mereka saya ingat banget kalau saya susah untuk ketemu buku yang saya ingin.

Klub baca menjadi wadah yang pas untuk mereka yang menyukai  baca. Akan menjadi satu motivasi untuk menyelesaikan bacaan yang sudah menumpuk.

Tidak jarang atmosfer yang ada dalam klub bisa jadi amunisi sampai berbulan-bulan kemudian.

Di klub baca, siapa saja bisa mengajukan untuk diskusi buku, kapan waktunya dan buku siapa yang akan dibahas. Buku sendiri juga sangat boleh.

Tempo hari saya mengusulkan novel MATAHARI karya TERE LIYE.
iye Tere Liye yang itu, pliss enggak usah julid.
Saya mengusulkan buku tersebut karena sangat cocok dengan klub baca yang isisnya anak anak SMP. Lagian di perpustakaan buku ini lumayan banyak jadinya bisa banyak yang pegang.

Pemilihan judul buku memang sengaja banget menyesuaikan dengan jumlah buku yang ada di rak perpustakaan.
Hal ini tidak lain buat mempermudah jalannya diskusi.
Satu orang baca, yang lain mendengarkan sambil menyimak.

Untung prediksi saya tidak meleset. Banyak yang sudah kenal karya TERE Liye. Untuk yang MATAHARI ini ada beberapa yang udah tamat. Jadi diskusi singkatnya langsung jalan dengan enak banget.
Meski bukan pecinta Tere Liye garis keras, saya cukup berterima kasih kepada kesempatan yang pernah memberikan waktu kepada saya untuk jumpa dengan Tere Liye secara nyata tidak hanya dalam karya.

Saya yakin, sebagian orang masih berharap bisa jumpa dengan novelis satu ini. Begitu pun dengan anggota klub baca.

Sekian waktu mengasuh kelas menulis sastra (yang mana di sini kadang saya merasa kurang pantas karena keterbatasan ilmu) akhirnya diberi kesempatan untuk juga mengampu klub baca.
Klub baca bagi saya adalah satu penyaluran energi.

Saya menyukai klub-klub yang konsen dengan buku dan baca. Bukan berati saya enggak doyan gabung ke klub kecantikan. Bagi saya mah, baca wajib, tampil cantik harus, jago masak luar biasa.

Jadi, sudahkah kamu membaca pikiran dan mauku hari ini??

Wajah dan Suara Batu Alien Kaliurang

Selama ini ada sedikit salah paham tentang tempat tinggal saya hanya karena mencantumkan Yogyakarta dalam setiap perkenalan, resmi mau pun casual.

Ya enggak salah dong kalau saya bilang tinggal di Yogyakarta. Yang salah itu yang mengartikan bahwa Yogyakarta itu adalah Malioboro atau Kaliurang. Padahal Yogyakarta yang ada di KTP itu artinya Provinsi. Sementara Yogyakarta sendiri punya empat kabupaten dan satu kotamadya.

Banyak teman yang mengira kalau rumah saya ini deket gitu sama Kaliurang. Padahal ya itu mah dari gunung satu ke gunung yang lain. Jauh.
Ya tapi gak apalah. Namanya juga mereka kan gak tahu. Lagian yang menganggap demikian biasanya mereka yang belum pernah atau belum tahu banyak tentang Yogyakarta.

Akan sangat galau jika ada kawan yang secara tidak sengaja ngajak jumpa tapi lokasinya jauh dari jangkauan. Misalnya ngajak ketemuan di Kulonprogo padahal saya di Gunungkidul. Lagian saya enggak pernah ke Kulonprogo.

"Besok ketemuan yuk."
"Di mana?"
"Aku lagi nginep di Sentolo. Aku bawa oleh-oleh nih."
Yeahhh, jawuh tapi tertarik juga sama oleh-olehnya tapi ya sayang juga sama tenaganya.

"Kak Min, meetup yuk. Aku lagi di Jogja."
"Hayuk. Kapan?"
"Sekarang aja. Ntar jam 8 keretaku udah jalan lagi."
Dan jam 8 itu tinggal duwa jam lagi. Saya di mana dia di mana...


Jadi saudara, sejujurnya rumah saya ini sama bandara masih jauh, dari stasiun jauh, dari terminal jauh. Dari XXI, plis jangan ajak nonton di tengah malam, jawuh jalan pulang.
Kalau ngajak ngedate bolehlah tapi jangan mepet waktunya. Anu, itu juga, tempat date sama makannya harus yang okey punya. Jangan sampai sia-sia waktu yang sudah saya siapkan dari rumah.
Oh iya, bicara Yogyakarta, apa sih yang ada dalam benakmu saat dengar: weekend di Jogja?

Malioboro? Pantai pasir putih? Alun-alun yang syahdu? Atau macet?
Boleh-boleh. Semua itu benar. Yogyakarta semakin hari semakin seksi. Semakin banyak macet dan semakin banyak patah hati juga.

Yogyakarta sepertinya surga piknik bagi sebagian besar pengunjungnya. Juga sebagai tempat mengenang kenangan bagi yang pernah tinggal di sana.
Bagi saya, Yogyakarta adalah napas tanpa habis.
Weekend di Jogja bagi saya sama dengan kerja.
Ya, sudah beberapa weekend ini saya habiskan untuk mencari rupiah demi membangun rumah dan tangga harmonis.
Bangun lebih pagi adalah hal utama dalam rutinitas weekend saya.
Yang lain, weekend sama dengan glundungan dan anti mandi mandi club', buat saya weekend adalah olah rasa olah emosi olah jiwa.
Mandi lebih bersih. Dandan lebih cetar. Wangi lebih semerbak.

Minggu adalah jadwalnya jalan sama adik-adik bengkel Sastra.
Di pertemuan kedua, dijadwalkan outbound ke Kaliurang.
Tidak hanya murid dari Gunungkidul tapi semua peserta bengkel sastra se-provinsi DIY.

Lumayan bisa lihat Dedek dedek gemes meski gak bisa mengingat satu satu namanya: yaiya, 30 nama di kelas aja gak hapal apalagi yang lain.
Perjalanan ke Kaliurang cukup lumayan. Maka kami kumpul pukul 06.00 WIB.
Itu berarti bangun saya lebih pagi dong. Secara mandi dan dandan aja butuh waktu minimal sejam.
Enggak sempat sarapan. Dan ini fatal. Karena saya merasa telah menyakiti tubuh sendiri. Saya sudah menerapkan jam makan sesuai kebutuhan. Cuma emang sesekali melanggarnya dengan banyak alasan.

Sudah lama enggak naik bus, dan harus naik bus buat menemani adik-adik, saya cuma iya iya saja.
Awalnya semua aman. Ada dua bus. Saya ikut di rombongan bus kedua.
Sepuluh kilo pertama adik-adik ini masih ramai, masih saling ledek sana sini. Masih bisa cakapcakap masa lalu dan orang yang ditaksir.
Lima kilo selanjutnya satu dua mulai pusing menuju mabuk. Dan agaknya yang seperti ini menular. Terjadilah hal yang mengerikan itu di lima kilo berikutnya. Satu mabok, lalu yang lain ikutan mabok.
Sudahlah sisa perjalanan diisi mereka dengan menahan mual.

Kasihan. Tapi saya tidak bisa apa apa kecuali ngajakin mereka untuk latihan napas. Napas ini bisa membuat tubuh rileks, setidaknya demikian yang saya pahami.
Sampai di lokasi. Satu-satu mulai ribut cari toilet. Menuntaskan apa yang sudah dimulai di bus sebelum selanjutnya diajak outbound sama panitia acara.

Anak-anak yang outbound, saya yang nonton (sambil nunggu makan dibagikan). Guwe enggak sarapan, enggak pula dikasih Snack.
Outbound cukup lama hingga jelang Zuhur. Usai makan siang, barulah acara jalan-jalan dimulai.
Seperti biasa. Sampai Kaliurang rasanya gak asyik kalau enggak lava tour; naek Jeep menuju Merapi.

Ada beberapa destinasi wisata yang kami kunjungi. Namun untuk kali ini, saya cuma mengulas tentang Batu Alian.

Sebelumnya saya mau menjerit. Silakan dibayangkan, naik Jeep disiang bolong. Ketika matahari di atas kepala, pas tanpa kurang.
Mana saya seperti salah kostum. Belum lagi enggak bawa kacamata dan penutup muka apalagi topi, maka sama dengan silakan mandi sinar matahari dengan bubuk debu.
Batu Alien?
Awalnya saya kira ini semacam alien alien, semacam buatan gitu serupa yang di sebelahnya.
Ternyata bukan saudara.
Kalau kalian pikirnya apa?

Jadi dinamakan alien itu sebenarnya dari kata alian. Alian itu sendiri dari bahasa Jawa yang artinya berpindah.
Jadi Batu Alien artinya batu berpindah.
Entah pindah dari mana ke mana.
Mungkin dari Gunung Merapi ke lokasinya ini.

Batunya gede banget. Kalau kata pemandu wisata sih bentuknya mirip wajah manusia.
Emang mirip sih, tapi bukan itu yang menarik buat saya.
Satu-satunya yang menarik adalah panorama gunung Merapi yang begitu gagah seolah tak mau untuk disentuh.
Jarak tempat saya berpijak kurang lebih enam kilo dari Merapi.

Saat saya ke sini cuaca lagi bagus-bagusnya. Ada awan berarak yang bikin suasana makin syahdu. Tidak sampai menutupi tubuh sang Merapi.
Sebenarnya asyik untuk berlama-lama. Masalahnya berlama-lama di sini juga enggak asyik mengingat banyaknya pengunjung yang datang dan pergi.
Pemandangan alam seperti ini paling enak kalau dinikmati berdua atau malah sendirian. Kalau ramai-ramai malah jatuhnya berisik.
Telah sejak beberapa akhir ini saya memang membatasi diri dalam berteman, yang berisik gak jelas biasanya enggak begitu diakrabi 🙃

Habis dari Batu Alien sebenarnya masih banyak spot yang menarik lainnya. Cuma saja nanti nanti deh saya tulisnya.
Kalau habis ini ada yang bilang: "yuk min meetup di batu Alien",  kalau jawaban saya lama enggak perlu ditunggu, karena kemungkinan jawabannya: tidak bisa. Jawuh. Kecuali kalau disewaain Jeep.

Beruntung Abang Drivernya jago dan suka cerita. Dalam Jeep itu hanya ada saya, driver dan 3 kawan cewek lainnya. Yang ngobrol cuma saya dan si driver.
Tiga kawan cewek sibuk nutupin wajah dari debu dan dosa.
Maklum musim kemarau, debunya makin tebel.
Kalau musim hujan udah fix ini jalan bakal penuh mandi lumpur.