Cerpen: Dua Tiga Dan Keadailan


Cerpen ini pernah tayang di tabloid ROSE HONG KONG dan sampai hari ini honornya enggak cair. Ehe
Cerita Poligami

Dua Tiga Dan Keadilan 

Oleh : Mieny Angel

Aku diam di depan pintu ruang perawatan. Aku masih ragu untuk masuk. Di dalam terbaring istriku yang tengah istirahat sejak seminggu yang lalu melahirkan. Bukan aku tak sayang istriku, aku takut untuk melangkah karena aku masih terngiang ucapannya beberapa hari yang lalu.

Tepatnya tiga hari yang lalu setelah dia dipindahkan ke ruang perawatan ini. Aku masih ingat dengan jelas.

“Uda, nikahilah Yuyun. Dia sangat sayang pada anak-anak kita. Dia juga yang rela memberikan ASInya untuk anak kita yang baru lahir. Kasihan dia. Karena musibah itu dia harus  
kehilangan suami dan anaknya. Ayolah Uda, menikahlah dengannya. Demi anak kita juga.”

“Sudahlah Diak, jangan kau paksa aku.” 
Aku tak pernah menyangka, istriku yang baru keluar dari ICU meminta hal yang seperti ini padaku. Semuanya terlalu cepat, bahkan semuanya tidak pernah ada dalam otak atau  
imajinasiku. 

“Diak gak memaksa. Mungkin karena Uda belum sayang sama Yuyun jadi semua terasa berat.” Ucapnya yakin.

“Percayalah Uda, suatu hari nanti sayang itu akan tumbuh dengan sendirinya.”

Galau. Aku kacau dengan permintaan Haisah, istriku. Dengan tiba-tiba dia memintaku untuk menikahi pengasuh anak kami. Aku tidak bisa, aku bingung. Tak pernah Haisah meminta sesuatu, sekali meminta ternyata permintaannya jauh dari bayanganku. Dia memintaku menikah lagi.

Alasan yang dia lontarkan lantaran dia sakit. Menurut dokter kanker. Tapi menurutku itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk memintaku menikah lagi. 

Semuanya seakan dalam sebuah sinetron di televise. Istri untuk suamiku.

Percakapan tiga hari yang lalu benar-benar menguras tenagaku. Dan kini, apa yang harus aku katakana jika aku berada di ruangan bersama istri, anak juga Yuyun.

“Masuklah Uda, jangan di balik pintu saja.” 
Ternyata dia melihatku sedari tadi termenung di depan pintu.

Dengan langkah berat, aku masuk ke ruangan. Di ranjang istriku berbaring. Sementara di pojok ruangan, Yuyun tengah menggendong anak kedua kami yang masih berumur seminggu. Masih bayi merah.

“Uda…” suaranya menggantung. 
“Tuhan, ku mohon semoga dia tidak membahas masalah kesedianku untuk menikahi Yuyun.” Batinku. 
“Uda sudah pikirkan semuanya? Permintaan Adiak tidak beratkan Uda?” ucapnya lirih. 
Benar. Ternyata dia masih memikirkan permintaannya. Aku harus menjawab apa untuk semua ini. Aku tak mau menyakiti hati siapa pun.

“Diak…” aku bingung. 
“Tidak Uda. Menikahlah dengan Yuyun.” Ucapnya lagi sembari menatapku dan Yuyun bergantian. Dan yang lebih mengagetkan lagi, dia melepas cincin di jarinya menyerahkannya padaku dengan anggukan kepalanya. 
Aku terpukul.

“Diak tetap cinta pada Uda. Tapi mungkin waktu Diak tak lama lagi. Anak kita butuh seorang ibu. Yuyun juga tak akan keberatan menjadi ibu untuk anak kita, dia telah menjadi ibu yang baik. Air susu Yuyun telah menggantikan air susuku yang haram. Aku sakit Uda. Ayolah, kabulkan permintaan Diak."

Air mata mulai mengalir dari mata indahnya. Aku bingung dengan semua ini. Apa aku harus menikahi Yuyun? Aku belum sanggup. Dua istri saja aku tak sanggup adil, apa lagi tiga istri? Aku tak akan mampu adil.

Dulu istri pertamaku menyuruhku menikahi Haisah lantaran dia tak mampu mempunyai anak. Kini Haisah menyuruhku menikahi Yuyun karena sakit yang dideritanya.

Ya Allah, kenapa semua ini terlalu rumit? Aku belum bisa adil pada istriku Ya Allah. Apa aku harus mengabulkan permintaan istriku? Haisah terus memohon sedang Yuyun hanya menunduk. Tubuhku lemas, jujur aku ingin pingsan tapi kenapa tidak pingsan saja?

Dua dan kini hendak tiga istri. Sesuatu yang tak lagi-lagi tak pernah kuharapkan dalam hidupku ini. Entah mengapa sejak aku menikah hidupku penuh dengan likuan cobaan. Kalau boleh aku ingin hanya memiliki satu orang istri. Namun ternyata Tuhan berkata lain, aku harus  
berbagi perhatian dengan istri keduaku. Aku tak pernah tahu apa rencana Tuhan dengan skenario hidupku ini.

Kata seorang ustad, Poligami itu diperbolehkan asal kita mampu untuk berbuat adil. Dan poligami itu ada tuntunannya tersendiri. Aku masih terlalu kerdil untuk memaknai semuanya. 

Tidakkah ini sebuah cara Tuhan untuk menegurku?  
Dalam kegalauan yang teramat tiba-tiba pintu terbuka. Seorang wanita yang sudah kukenal terlihat senyum manis menghampiri ranjang.

“Assalamualaikum.” Ucapnya semangat. 
“Waalaikumsalam.” Jawab semua penghuni ruangan. 
“Uni Khatimah.” Sambut Haisah tak kalah semangatnya. 


Kini lengkap sudah. Dua orang istri di depan mataku dan satu calon istri yang belum aku kasih kepastian.

Wanita di hadapanku adalah wanita yang sama-sama aku sayangin juga wanita yang tangguh. Keduanya banyak mengajariku tentang hidup. Keduanya juga yang menyuruhku secara tak langsung untuk berbuat adil.

Keduanya tidak pernah bertengkar, sekalipun keduanya adalah istri pertama dan keduaku.

“Uda, Khatimah tahu. Sekarang semua terserah Uda. Haisah juga aku sudah memikirkan semuanya. Kalau pun Yuyun satu atap dengan kita, tidak masalah Uda.” Ucap Khatimah tegas.

Tubuhku benar-benar lemas. Mampukah aku berbuat adil untuk semua ini? Iman ini masih terlalu kecil Ya Allah. 


Dua dan kini tiga. Aku pandang wajah mereka satu persatu. Berat rasanya untuk mengatakan sanggup.

**** 
Wonosari, April 19.2011 
Keadilan itu diperlukan dalam sebuah rumah tangga 
Jadilah seorang imam yang benar-benar menjadi nahkoda dalam kapal yang kau bawa



*Catatan: cerita ini di-posting tanpa editan. Jika ada typo dan salah tanda baca, memang seperti itu awal saya menulis dulu.

Balon Gas, Novel dan Catatan Pendek

Balon Gas 

Belum lama ini saya dapat sebuah nasehat dari kawan yang pernah study di Cairo. Nasehatnya sih simpel, tapi efeknya berimbas ke hati. 

“Jangan bangga menjadi balon gas. Ia mungkin bisa terbang tinggi dan tinggi. Tapi sesungguhnya di dalamnya hanyalah kosong. Jika gasnya habis, maka hancurlah balon tersebut.”

Simpel. Balon gas.

Saya sedikit tersentak seperti ditusuk peniti tajam. Ungkapan ‘jangan seperti balon gas’ tak ubahnya kata lain dari ‘jangan sombong’. Boleh jadi kita sekarang sedang di atas, namun kita tidak sadar bahwa itu semua berkat sesuatu, dan sesuatu itu kelak akan ada masa kadaluarsanya.
Novel Romantis


Minggu pertama di ramadhan ini saya mendapat undangan mengisi acara di sebuah butik yang juga merupakan galeri seni. Awalnya bingung juga mau ngisi dengan materi apa. Berbicara di depan banyak orang memang sudah menjadi hobi saya. Bukan sesuatu yang melelahkan justru menyenangkan. Namun untuk menemukan materi baru agar orang yang mendengarkannya tidak bosan kadang tidak mudah. Hal ini membuat saya harus berpikir ekstra.

Kalau Anda pikir saya seorang komika maka jawabannya salah. Saya bukan komika melainkan hanyalah seorang yang kebetulan sangat menggilai dunia tulis menulis dan akhirnya berhasil menerbitkan novel dan kebetulan yang sangat manis berkat hal tersebut ada saja komunitas atau perorangan yang meminta saya untuk mengisi kelas yang mereka buat.

Begitu Tirana House—nama butik dan galeri seni—mengontak saya untuk tampil ditempatnya, saya langsung mengatur strategi. Mulai saya pikirkan apa yang harus saya bawakan di hadapan hadirin yang nanti datang. Lalu tercetuslah ide untuk membuat acara dengan tema #ngaBUKUrit, merupakan perpaduan dari ngabuburit ditemani buku.

Novel dan Catatan Pendek


Kebetulan banget beberapa bulan sebelum ramadhan, novel saya yang berjudul ‘Pameran Patah Hati’ terbit. Rasanya kok menarik kalau sambil ngisi waktu menjelang buka puasa diadakan bedah novel sekalian pembacaan beberapa halaman dari novel tersebut.

Ide itu langsung saya utarakan ke pemilik Tirana House dan langsung disetujui.

“Ilmu dibagi tidak akan habis justru akan semakin bertambah.” 

Kesempatan ini saya pakai untuk membagikan pengalaman dan sedikit ilmu yang saya dapat dari dunia kepenulisan. Seperti kata kawan saya tadi, jangan hanya jadi balon gas. Lewat acara #ngaBUKUrit tersebut teman-teman yang hadir diperbolehkan bertanya apa saja yang ingin mereka tahu tentang dunia kepenulisan dan saya kebagian jatah untuk menjawab semampu saya.
Cerita Pendek

Dengan dibantu pihak penerbit saya juga bisa berbagi novel gratis kepada teman-teman yang datang. Itu semua untuk menghargai mereka yang sudah bersedia meluangkan waktu dan tenaga, karena ternyata hadirin tidak hanya dari Jogja (tempat acara berlangsung) tapi juga ada yang dari Surabaya dan Malang.

Karena waktu #ngaBUKUrit hanya pendek, bahkan pendek sekali, rasanya saya belum puas. Lebih-lebih karena agenda pembacaan karya hanya dapat beberapa halaman saja.

Saya berharap ramadhan mendatang atau kesempatan lain (waktu diluar ramadhan) masih ada yang mengundang saya untuk membuat acara serupa ini. Semakin sering bertemu banyak orang maka akan semakin banyak ilmu baru yang didapat. Sehingga saya tidak akan berakhir hanya jadi serupa balon gas kehabisan gas. [MIN

*Catatan pendek 2015

Kue Kacang Lebaran

Kue Kacang Lebaran

Kue kacang lebaran masuk dalam list makanan favorit saya. Kue kacang lebaran rasa-rasanya agak lain dibanding kue kacang pada hari biasanya. Entah benar demikian atau hanya sisi baper saya saja yang menganggapnya demikian.
Kue Kacang
Meski pun kue kacang adalah panganan kesukaan namun sudah dipastikan tiap lebaran kue ini tidak pernah hadir di meja tamu rumah. Tidak hadir di meja tamu bukan berarti hadir di meja makan. Tepatnya dia nihil, tak pernah hadir. Keluarga saya tidak pernah membeli kue ini. Meski jelas saya sangat menyukainya. Saya pun tidak juga beli karena biasanya lebaran sudah dipakai untuk beli jenis panganan yang lain. Yang awet dan pantas untuk dihidangkan di meja tamu. Padahal aslinya lebaran gak pakai pajangan kan bisa. Namun lagi-lagi ini tradisi, wajar dibudayakan.

Balik lagi ke kue kacang. Ia nyata beda dengan nastar kastengel atau putri salju yang rajin hadir melalui perantara bingkisan. Agaknya kue kacang kurang familiar dibuat sebagai parcel. Pamornya kalah telak dengan nastar. Padahal rasanya sama enaknya, bikin seret juga.

Setiap lebaran, saya seolah niat silaturahim bareng berburu kue kacang. Tidak banyak tetangga atau saudara yang memajang panganan ini, agaknya emang kue kacang tidak populer. Untungnya masih ada satu atau dua rumah yang menyediakan kue kacang. Saya senang meski juga kadang malu untuk ambil hanya gara-gara letaknya yang jauh dari posisi duduk.

Kue kacang adalah kebanggaan. Selain kue kacang ada juga lidah kucing dan kue jahe. Ini adalah kue-kue kering yang selalu membuat saya meleleh. Dibanding astor atau nastar, saya lebih memilih kue jadul ini. Hanya saya enggan untuk beli sendiri, kecuali kue jahe. Kue kacang rasanya aneh kalau beli. Lebih aneh lagi saya yang doyan tapi malas beli. Untungnya kalau sedang gabut justru mau membuatnya.

Kue Kacang tanpa oven

Belum lama ini saya untuk pertama kali dalam sejarah membuat kue kacang. Untuk pemula, hasilnya cukup memuaskan. 7 dari 10. Kalau disuruh mengulang lagi, saya tidak keberatan asal peralatan tempurnya memadai. Setidaknya saya harus punya oven.
Kue Kering

Kue kacang perdana yang saya buat tidak memakai takaran pula memanggangnya tidak pakai oven. Saya gak punya timbangan, gak punya mixer dan gak punya oven. Loyang juga gak punya. Cetakan buat bentuk bintang atau setengah lingkaran atau bentuk lain saya gunakan apa saja yang bisa dipakai. Saya bentuk bulat pakai tutup botol sirup. Ringkas gak pakai ribet dan murah, bentuknya cakep.
Resep Kue Kacang Anti Ribet

Untuk mengakali oven, saya pakai lemper yang dipanaskan di atas tungku kayu. Super ribet tapi memuaskan. Adonan pertama hasilnya gosong tapi masih enak dimakan. Adonan kedua masih agak gosong. Selanjutnya aman secara sudah tahu gimana menjaga api. Api aja aku jagain apalagi hatimu, uhuk.

Enggak pakai capek buat kue kacang. Yang ada bahagia. Bahannya juga simpel dan mudah didapat. Pokoknya tinggal niat dan motivasi aja. Kalau suka masak-masak maka akan mudah membuat kue kacang. Saya yang masak segan makan doyan aja bisa sukses, kamu harusnya bisa juga dong ya.

Kue Kacang  Dapur Mini

Kalau stok kacang di rumah masih banyak, rencana lebaran nanti saya akan buat kue kacang lagi. Bukan untuk jagain tamu yang bakal singgah, kan gak ada acara halal bihalal harus jaga jarak. Kue kacang itu akan jadi stok pangan sampai saya bosan. Enggak tahu kapan bakal bosannya. Sama kek perasaanku ke kamu, gak ada bosan dan limitnya.

Praktik Social Distancing di Desa


Social Distancing di Desa

Kultur dan kebiasaan masyarakat Indonesia sangat menarik untuk dikaji. Sesuatu yang tidak tepat namun karena sudah biasa dijalankan kadang kala berakhir dengan menemui kata pemakluman.

Belum lama ini pemerintah Indonesia, langsung dari Presiden, memberi himbauan agar masyarakat untuk melakukan social distancing atau dalam bahasa Indonesia lebih tepat dibilang jaga jarak. Pada 15 Maret 2020 Presiden Joko Widodo menginstruksikan agar masyarakat melakukan aktivitas sekolah, beribadah, kuliah dan bekerja dilakukan dari rumah. Pak Presiden juga mengharap agar masyarakat menjauhi kerumunan demi mencegah penyebaran covid-19 yang mengempur Indonesia.

Social distance atau social distancing sendiri merupakan himbauan agar masyarakat menghindari pertemuan besar atau kerumunan orang. Jarak ideal jika berada di sekitar orang lain adalah sekitar dua meter.
Social Distancing

Kemarin saya pergi ke ATM. Sengaja datang sangat pagi demi menghindari kerumunan. Sayangnya di depan ATM sudah ada sedikitnya empat orang mengantre. Karena ingin menaati instruksi pemerintah sekaligus ingin menjaga diri, maka saya memilih antre dengan jarak beberapa lengan (kira-kira hampir dua meter). Jeda sepuluh  menit antrean saya belum berubah. Saya masih menunggu dengan santai dan sangat sabar. Tiba-tiba datanglah orang baru, langsung menempati celah (jarak) yang saya ciptakan dengan orang di depan saya sebelumnya.

Awalnya saya biarkan, saya maklumi meski antrean diserobot. Saya mundur lagi, menciptakan jarak yang hampir sama seperti sebelumnya (hampir dua meter). Eh datang orang baru, kembali lagi menempati celah yang saya buat. Kali ini saya tidak terima dan mengingatkan orang tersebut. Meski dengan muka agak kusut,  orang tersebut mau pindah ke belakang. Sayangnya dia tidak mencoba membuat jarak seperti saya membuat jarak dengan depan saya. Lantas saya kembali maklum dengan berpikir kalau orang di belakang saya itu belum paham konsep social distance.

Praktik Social Distancing 


Masalah sosial distancing sepertinya belum dipahami sepenuhnya oleh banyak kalangan. Utamanya kalangan pedesaan semacam tempat tinggal saya. Saya kaget waktu  melihat berita di televisi tentang cek kesehatan untuk warga Solo yang pernah kontak langsung dengan salah satu korban meninggal positif corona. Cek kesehatannya tidak masalah dan memang dianjurkan. Namun sayangnya prosedurnya belum tepat. Warga itu berkumpul dalam satu tempat dan waktu. Mereka duduk mengantre dengan jarak yang sangat dekat bahkan tampak saling bercakap layaknya sehari-hari. Ini justru mengerikan. Karena tidak tahu apakah mereka sehat atau ada diantara mereka membawa virus. Bisa jadi satu dari mereka pembawa virus meski tanpa gejala. Dan jika benar demikian maka ini sangat mengkhawatirkan.

Menurut New York Times social distancing (jaga jarak) itu berarti masyarakat diharapkan untuk melakukan hal-hal berikut antara lain: menghindari transportasi umum, bekerja dan atau belajar dari rumah, menghindari pertemuan dengan banyak orang (menghindari keramaian), keluar sebentar boleh namun harus dengan kepentingan jelas (misal olahraga atau belanja, cari makan bagi anak kosan), memakai masker. Tujuannya demi meminimalkan peluang penyebaran virus. Tapi bagi masyarakat pedesaan agaknya praktik social distance agaknya sulit diterapkan. Kultur masyarakat desa yang guyup rukun, sopo aruh, penuh sopan santun tidak mengajarkan atau membiasakan untuk saling menjaga jarak dengan orang lain.

Meski social distance tidak dapat mencegah 100% penularan virus corona tapi dengan melakukan langkah sederhana ini, yaitu jaga jarak, maka berarti telah ikut melindungi diri dan orang lain dari penularan virus. Selain itu kita juga harus ingat dan mampraktikkan anjuran sederhana lainnya yaitu untuk sering cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menghindari menyentuh wajah, mulut dan mata.

Tapi harus dipahami juga dalam melakukan social distance haruslah sesuai dengan arahan pihak berwenang. Jangan sampai kena SP dari kantor karena ‘meliburkan diri’ padahal kantor tidak memberikan instruksi untuk ‘libur’. Pula harus selalu pantau info terbaru dari portal terpercaya untuk terus membantu menghentikan penyebaran virus.
*

Penulis:
Mini GK, Mahasiswa Hukum Sekolah Tinggi Agama Islam Yogyakarta, penulis dan Duta Damai

Online Class Bukan Budaya Kita

Online Online Class Bukan Budaya Kita

Online class itu bukan budaya kita, budaya kita itu masuk kelas rasan-rasan terus gak mempedulikan dosen.
Benarkah demikian?

Saat keluar imbauan dan edaran agar setiap instansi pendidikan melakukan online class dan menutup sementara kelas-kelas tatap muka, sejujurnya saat itu saya sedikit kecewa dan sedih. Kecewa karena sebenarnya kelas tatap muka itu lebih saya butuhkan dibandingkan online. Sedih karena dengan keluarnya edaran itu maka pandemi covid memang sudah dalam tahap mengkhawatirkan.
Online class

Bagaimana saya tidak kecewa. Ini tahun-tahun pertama saya resmi jadi mahasiswa. Lagi on banget istilahnya. Belum lagi masuk kelas cuma weekend meski dihajar dari pukul 08.00 sampai 17.00 WIB non stop. Tapi setidaknya ini menyenangkan. Seperti biasa, saya tipikal orang yang senang ngobrol dan bergaul. Kampus menjadi satu tempat menyenangkan untuk menyalurkan dua hal tersebut. Dosen dan teman yang bisa jadi patner belajar. Ya meski enggak semua teman, bahkan sejujurnya hanya segelintir saja, yang bisa atau sepemahaman dengan cara pikir saya.

Online class itu tidak enak

Saya rasa bukan hanya saya yang beranggapan demikian. Sepupu dan murid-murid sudah mulai kehilangan gaya saat harus benar-benar belajar dari rumah via online. Ternyata bagi mereka anak sekolahan, sekolah tetaplah hal menyenangkan dibanding di rumah tak ada teman.
Kalau saya, tidak suka online class karena banyak tugas dan materi yang disampaikan kurang bisa diserap. Ya bayangin aja, pas masuk kelas itu paling dosen masuk cuma sekian menit saja sesudahnya kelas bubar. Sementara online class, dosen yang biasanya jarang masuk atau justru masuk cuma setengah jam, mendadak jadi sibuk sering memberi tugas setiap jam beliau. Duh, sungguh saya ini belum paham materi dan harus dicambuk dengan tugas. Mana pandemi ini saya gak bisa ke perpustakaan mencari referensi. Duh pokoknya gak enak. Nelangsa.

Saat saya berkeluh kesah ini itu di saat yang sama banyak orang yang enggak bisa akses pendidikan sama sekali. Kalau mengingat ini, mendadak saya merasa kurang bersyukur. Tapi begitu balik ke realita yang dihadapi, kok ya benar-benar memuakkan. Teman-teman yang seenaknya saja saat online class dan malah cenderung hilang. Datang cuma untuk presensi. Sungguh ini membuat muak.
Aplikasi Belajar Online

Online class itu bukan budaya kita, budaya kita itu masuk kelas sebentar habis itu cinlok.

Ya meski untuk kasus ini saya belum pengalaman juga sih. Ya gimana mau cinlok kalau yang diharapkan tidak ada di kelas. Hehe,

Meski begitu, adanya online class mau tidak mau sebagai satu alternatif yang dapat membantu. Lebih baik online class dibanding enggak kelas sama sekali. Meski kendala banyak banget tapi setidaknya itu menjadi pembelajaran agar kelak tidak lagi latah dalam segala situasi.
Mau bagaimana juga saat ini dan kemajuan zaman telah menjadikan budaya online sebagai satu alternatif baru untuk digunakan.

Sejujurnya untuk online-online ini saya sudah akrab meski tidak terlalu terjun di sana. Sejak memutuskan untuk jadi freelance dan berhenti jadi buruh, kegiatan online adalah satu jalan yang saya tempuh untuk mencari sesuap nasi.
Hanya orang-orang 'malas' saja yang akan kerepotan di era ini. Era teknologi dan informasi memang membuat kita dituntut untuk kreatif dan belajar mandiri. Kalau semua semua 'disuapi' maka tidak akan berkembang.

Ini baru awal online class, wajar banyak yang gagap. Bahkan para pengajar pun tampak belum siap. Esok, kita tidak pernah tahu apa yang bakal terjadi.

Pendidikan Nasional Pendidikan Indonesia


Pendidikan Nasional Pendidikan Indonesia

Setiap membahasa pendidikan, saya selalu susah untuk move-on. Bukan, bukan karena pernah cinlok di SD atau jatuh cinta sama guru, bukan itu.
Hal yang membuat saya tidak bisa untuk menghindar adalah perkara 'jarak'. Aduh ini bukan bahasa LDR, please fokus.

Betapa jarak pendidikan di kota dan desa sangat jauh. Kita sama-sama memahaminya. Belum lagi dengan pulau-pulau terdalam (pelosok), sangat mungkin anak-anak di tempat ini tidak kenal bangku sekolah.
Lalu saya jadi ingat film 'Sakola Rimba'. Kesenjangan pendidikan terpotret dengan gamblang, membuat dada nyeri. Belum lagi 'Laskar Pelangi', meski disajikan dengan nuansa santai dan sedikit jenaka namun sungguh kisah di dalamnya sarat makna. Bagaimana pendidikan itu penting dan wajib diperjuangkan.

Semalam Mas Menteri Nadiem dalam siaran televisi menyatakan kekagetannya tentang Indonesia yang belum semua daerahnya bisa akses listrik. Saya mendadak ingin teriak: selama ini kemana aja, Mas? Rasanya gemes sekali.

Padahal hal ini sudah terlihat nyata. Makanya kemarin waktu ada program belajar dari rumah via gadget, banyak anak-anak negeri yang kesusahan akses. Hal ini disebabkan banyak faktor, tidak hanya akses listrik yang belum merata. Tidak punya gadget dan sinyal internet juga menjadi kendala paling utama.

Bayangkan saja, di zaman ini masih banyak keluarga yang tidak melengkapi diri dengan android. Ini nyata. Kalau pun ada, biasanya milik orangtuanya, bapak atau ibu. Dan sudah barang tentu ponsel pintar tersebut dipakai orang tua untuk berkegiatan. Misalnya yang punya ponsel hanya bapak, sementara bapak pakai ponsel untuk kerja ojek online. Maka sudah dipastikan anak di keluarga itu tidak bisa mengikuti/ mengerjakan tugas tepat waktu.

Pandemi Corona telah benar-benar menyadarkan kita bahwa masih banyak PR bagi dunia pendidikan Indonesia.

Saya jadi ingat cerita dari Sinak. Seorang guru yang berkisah bagaimana anak didiknya yang belum fasih baca tulis padahal sudah jenjang SMP.  Belum cerita lain bagaimana dia harus berjuang di antara teriakan senapan yang kadang meluncur tiba-tiba. Cerita-cerita lainnya sangat menyentuh sekaligus membuat saya bersyukur tinggal di daerah yang akses pendidikan cukup baik.

Cerita lain datang dari Talaud. Semasa pandemi Corona, anak-anak didik tidak lagi mengadakan 'pelajaran' bahkan jarak jauh pun tidak.

"Sekolah libur. Tidak ada kelas online. Sinyal saja sudah."
"Lalu anak-anak belajar apa?" Kejar saya.
"Apa saja yang mereka dapatkan dari rumah masing-masing."

Beda lagi cerita keseharian saya. Ketika akses pendidikan begitu mudah, gadget dan sinyal internet melimpah, anak-anak didiknya justru 'keracunan' dan malas-malasan. Jangankan untuk diajak berpikir kritis, diberi tugas satu soal saja tidak semua mengerjakan pun kadang mengumpulkannya kelewat deadline.


Pendidikan dan Menteri

Kesenjangan, kecurangan dan kegelisahan perkaran pendidikan nasional pendidikan Indonesia sepertinya tidak akan terselesaikan dalam waktu dekat. Akan lebih mudah jika masing-masing individu menyadari peran diri dan pentingnya pendidikan. Kalau tidak ada kesadaran akan pentingnya kecerdasan, maka akan sulit untuk mengedukasi ke arah lebih maju.

2020 bukan lagi saat untuk berpangku tangan atau mengawang apa yang akan terjadi esok. Tahun ini hendaknya sudah siap menyingsinkan lengan dan berdiri tegap menghadapi 'kebodohan'.
Lantas saya kembali berpikir apa cita-cita untuk menjadi menteri sebaiknya kembali saya hidupkan? Sungguh berat.

Saya Perempuan dan Saya Buruh

Saya perempuan dan saya buruh

Meski tidak bertahan lama, saya pernah tercatat sebagai salah satu buruh di sebuah pabrik garmen. Karier sebagai buruh sudah saya tempuh jauh hari bahkan sebelum menginjak kepala dua.

Ketika teman-teman SMA sibuk mengurus rencana pendidikan selanjutnya, saya harus legowo hati untuk sejenak mengubur mimpi meraih gelar sarjana. Kondisi ekonomi keluarga tentu jadi faktor utama.

Ketika yang lain melangkah menuju halaman universitas, saya justru melangkah ke sebuah pabrik usang nan ganas. Itulah pertama kalinya saya benar-benar resmi mengenal dunia buruh.
Tidak butuh persyaratan sulit, sekali wawancara langsung diterima. Namun syarat utama yang sesungguhnya adalah sebelum kerja harus mau mengikuti 'kelas training'.

Saya diterima di pabrik garmen pakaian dalam. Yang belakangan saya tahu bahwa pabrik seperti ini banyak sekali di Indonesia.
Selama sebulan mengikuti training tanpa dibayar dan justru harus bayar kos dan makan. Bodohnya saat itu saya iya iya saja, namanya gak paham.
Belum lagi pas masuk jadi karyawan (buruh) ternyata kerjanya berat, agak kurang sebanding dengan target yang diharapkan pabrik. Kerjanya juga semacam kerja rodi.

Pengalaman saya zaman masih jadi buruh diikuti oleh sepupu. Bedanya, sepupu kerja di pabrik baru dan dia tekun jadinya kelihatan nyata hartanya (hasilnya). Sepertinya pabrik zaman sekarang sudah mulai sadar untuk menerapkan UMR non kaleng-kaleng. Beda zaman saya dulu.
Lagi, upah lembur lebih manusiawi. Sayangnya jatah istirahat (libur) masih tak ada bedanya dengan zaman kolonial dulu. Sepupu bahkan tidak bisa balik sebulan sekali. Libur hanya hari Minggu itu kadang juga kemakan jadwal lembur.
Iya sih, uang lembur itulah yang kadang bisa bikin kaya. Kalau enggak ngambil lembur, jangan harap bisa kredit rumah. Ehe.

Dari pengalaman yang pernah tercipta dalam sejarah hidup, tidak heran jika sekarang setiap hari buruh nasional banyak para pekerja yang melakukan demo. Tujuannya sama saja, mencari keadilan dan kesejahteraan. Ya meski sering harus 'menelan' kecewa.

Perkara buruh memang tidak bisa selesai dalam setahun dua tahun. Adalah PR panjang bagi pemimpin-pemimpin negeri. Buruh, seperti halnya saya tidak bisa kalau hanya mengandalkan 'kekuatan' sendiri.
Terlalu banyak regulasi yang harus didobrak. Bagaimana pun tidak ada orang yang sudi untuk terus jadi 'budak'.

Hari buruh nasional yang diperingati setiap tanggal 1 Mei menjadi momentum sekaligus pengingat, masih banyak ketidakberesan dalam dunia tenaga kerja.
Undang-undang perlindungan tenaga kerja butuh dikaji lebih lagi. Agar bisa melindungi kaum buruh bukan mereka pada jutawan. Agar tidak lagi terjadi diskriminasi.

Motivasi

Mengingat zaman menyedihkan kala jadi buruh saya mendadak  sedikit menyesal. Harusnya saya pilih melanjutkan sekolah saja dibanding sok daftar jadi buruh. Toh nyatanya saya dan buruh tidak pernah cocok. Tepatnya, saya adalah orang yang ogah kalau harus tunduk dan mengikuti aturan semena-mena.

Kalau saja saat itu saya punya motivasi atau orang yang mendukung pendidikan saya, paling tidak menyemangati, mungkin saat ini saya sudah 'jadi orang'. Mungkin ya, mungkin.

Tapi apapun ceritanya pada akhirnya saya hanya bisa menerima. Kalau menyalahkan masa lalu, kok ya kelihatan banget gak bersyukur.
Toh meski  pernah jadi buruh dan sekarang kerja seenaknya saja (bukan serabutan, sebut saja freelance) saya tetaplah perempuan mandiri. Perempuan yang masih kuat menantang kekejaman dunia. Pula tidak pernah tergantung pada pihak lain.