Pendidikan Nasional Pendidikan Indonesia


Pendidikan Nasional Pendidikan Indonesia

Setiap membahasa pendidikan, saya selalu susah untuk move-on. Bukan, bukan karena pernah cinlok di SD atau jatuh cinta sama guru, bukan itu.
Hal yang membuat saya tidak bisa untuk menghindar adalah perkara 'jarak'. Aduh ini bukan bahasa LDR, please fokus.

Betapa jarak pendidikan di kota dan desa sangat jauh. Kita sama-sama memahaminya. Belum lagi dengan pulau-pulau terdalam (pelosok), sangat mungkin anak-anak di tempat ini tidak kenal bangku sekolah.
Lalu saya jadi ingat film 'Sakola Rimba'. Kesenjangan pendidikan terpotret dengan gamblang, membuat dada nyeri. Belum lagi 'Laskar Pelangi', meski disajikan dengan nuansa santai dan sedikit jenaka namun sungguh kisah di dalamnya sarat makna. Bagaimana pendidikan itu penting dan wajib diperjuangkan.

Semalam Mas Menteri Nadiem dalam siaran televisi menyatakan kekagetannya tentang Indonesia yang belum semua daerahnya bisa akses listrik. Saya mendadak ingin teriak: selama ini kemana aja, Mas? Rasanya gemes sekali.

Padahal hal ini sudah terlihat nyata. Makanya kemarin waktu ada program belajar dari rumah via gadget, banyak anak-anak negeri yang kesusahan akses. Hal ini disebabkan banyak faktor, tidak hanya akses listrik yang belum merata. Tidak punya gadget dan sinyal internet juga menjadi kendala paling utama.

Bayangkan saja, di zaman ini masih banyak keluarga yang tidak melengkapi diri dengan android. Ini nyata. Kalau pun ada, biasanya milik orangtuanya, bapak atau ibu. Dan sudah barang tentu ponsel pintar tersebut dipakai orang tua untuk berkegiatan. Misalnya yang punya ponsel hanya bapak, sementara bapak pakai ponsel untuk kerja ojek online. Maka sudah dipastikan anak di keluarga itu tidak bisa mengikuti/ mengerjakan tugas tepat waktu.

Pandemi Corona telah benar-benar menyadarkan kita bahwa masih banyak PR bagi dunia pendidikan Indonesia.

Saya jadi ingat cerita dari Sinak. Seorang guru yang berkisah bagaimana anak didiknya yang belum fasih baca tulis padahal sudah jenjang SMP.  Belum cerita lain bagaimana dia harus berjuang di antara teriakan senapan yang kadang meluncur tiba-tiba. Cerita-cerita lainnya sangat menyentuh sekaligus membuat saya bersyukur tinggal di daerah yang akses pendidikan cukup baik.

Cerita lain datang dari Talaud. Semasa pandemi Corona, anak-anak didik tidak lagi mengadakan 'pelajaran' bahkan jarak jauh pun tidak.

"Sekolah libur. Tidak ada kelas online. Sinyal saja sudah."
"Lalu anak-anak belajar apa?" Kejar saya.
"Apa saja yang mereka dapatkan dari rumah masing-masing."

Beda lagi cerita keseharian saya. Ketika akses pendidikan begitu mudah, gadget dan sinyal internet melimpah, anak-anak didiknya justru 'keracunan' dan malas-malasan. Jangankan untuk diajak berpikir kritis, diberi tugas satu soal saja tidak semua mengerjakan pun kadang mengumpulkannya kelewat deadline.


Pendidikan dan Menteri

Kesenjangan, kecurangan dan kegelisahan perkaran pendidikan nasional pendidikan Indonesia sepertinya tidak akan terselesaikan dalam waktu dekat. Akan lebih mudah jika masing-masing individu menyadari peran diri dan pentingnya pendidikan. Kalau tidak ada kesadaran akan pentingnya kecerdasan, maka akan sulit untuk mengedukasi ke arah lebih maju.

2020 bukan lagi saat untuk berpangku tangan atau mengawang apa yang akan terjadi esok. Tahun ini hendaknya sudah siap menyingsinkan lengan dan berdiri tegap menghadapi 'kebodohan'.
Lantas saya kembali berpikir apa cita-cita untuk menjadi menteri sebaiknya kembali saya hidupkan? Sungguh berat.

Saya Perempuan dan Saya Buruh

Saya perempuan dan saya buruh

Meski tidak bertahan lama, saya pernah tercatat sebagai salah satu buruh di sebuah pabrik garmen. Karier sebagai buruh sudah saya tempuh jauh hari bahkan sebelum menginjak kepala dua.

Ketika teman-teman SMA sibuk mengurus rencana pendidikan selanjutnya, saya harus legowo hati untuk sejenak mengubur mimpi meraih gelar sarjana. Kondisi ekonomi keluarga tentu jadi faktor utama.

Ketika yang lain melangkah menuju halaman universitas, saya justru melangkah ke sebuah pabrik usang nan ganas. Itulah pertama kalinya saya benar-benar resmi mengenal dunia buruh.
Tidak butuh persyaratan sulit, sekali wawancara langsung diterima. Namun syarat utama yang sesungguhnya adalah sebelum kerja harus mau mengikuti 'kelas training'.

Saya diterima di pabrik garmen pakaian dalam. Yang belakangan saya tahu bahwa pabrik seperti ini banyak sekali di Indonesia.
Selama sebulan mengikuti training tanpa dibayar dan justru harus bayar kos dan makan. Bodohnya saat itu saya iya iya saja, namanya gak paham.
Belum lagi pas masuk jadi karyawan (buruh) ternyata kerjanya berat, agak kurang sebanding dengan target yang diharapkan pabrik. Kerjanya juga semacam kerja rodi.

Pengalaman saya zaman masih jadi buruh diikuti oleh sepupu. Bedanya, sepupu kerja di pabrik baru dan dia tekun jadinya kelihatan nyata hartanya (hasilnya). Sepertinya pabrik zaman sekarang sudah mulai sadar untuk menerapkan UMR non kaleng-kaleng. Beda zaman saya dulu.
Lagi, upah lembur lebih manusiawi. Sayangnya jatah istirahat (libur) masih tak ada bedanya dengan zaman kolonial dulu. Sepupu bahkan tidak bisa balik sebulan sekali. Libur hanya hari Minggu itu kadang juga kemakan jadwal lembur.
Iya sih, uang lembur itulah yang kadang bisa bikin kaya. Kalau enggak ngambil lembur, jangan harap bisa kredit rumah. Ehe.

Dari pengalaman yang pernah tercipta dalam sejarah hidup, tidak heran jika sekarang setiap hari buruh nasional banyak para pekerja yang melakukan demo. Tujuannya sama saja, mencari keadilan dan kesejahteraan. Ya meski sering harus 'menelan' kecewa.

Perkara buruh memang tidak bisa selesai dalam setahun dua tahun. Adalah PR panjang bagi pemimpin-pemimpin negeri. Buruh, seperti halnya saya tidak bisa kalau hanya mengandalkan 'kekuatan' sendiri.
Terlalu banyak regulasi yang harus didobrak. Bagaimana pun tidak ada orang yang sudi untuk terus jadi 'budak'.

Hari buruh nasional yang diperingati setiap tanggal 1 Mei menjadi momentum sekaligus pengingat, masih banyak ketidakberesan dalam dunia tenaga kerja.
Undang-undang perlindungan tenaga kerja butuh dikaji lebih lagi. Agar bisa melindungi kaum buruh bukan mereka pada jutawan. Agar tidak lagi terjadi diskriminasi.

Motivasi

Mengingat zaman menyedihkan kala jadi buruh saya mendadak  sedikit menyesal. Harusnya saya pilih melanjutkan sekolah saja dibanding sok daftar jadi buruh. Toh nyatanya saya dan buruh tidak pernah cocok. Tepatnya, saya adalah orang yang ogah kalau harus tunduk dan mengikuti aturan semena-mena.

Kalau saja saat itu saya punya motivasi atau orang yang mendukung pendidikan saya, paling tidak menyemangati, mungkin saat ini saya sudah 'jadi orang'. Mungkin ya, mungkin.

Tapi apapun ceritanya pada akhirnya saya hanya bisa menerima. Kalau menyalahkan masa lalu, kok ya kelihatan banget gak bersyukur.
Toh meski  pernah jadi buruh dan sekarang kerja seenaknya saja (bukan serabutan, sebut saja freelance) saya tetaplah perempuan mandiri. Perempuan yang masih kuat menantang kekejaman dunia. Pula tidak pernah tergantung pada pihak lain.

Puisi-puisi Sepanjang Hari

Puisi-puisi Sepanjang Hari


Puisi-puisi sepanjang hari memenuhi bangku-bangku taman. Berlembar-lembar ingin menari.
Puisi serupa nasi yang biasa kita makan. Ada kalanya nasi pun ditukar dengan karbohidrat lain. Pula ditambah sayur dan lauk untuk menambah semarak rasa. Puisi yang ibarat nasi, begitu mudah beradaptasi.
27 April lalu kita memperingati hari puisi nasional. Konon tanggal ini diambil dari hari lahir si pencipta 'binatang jalang'. Siapa tak kenal Chairil Anwar? Polah, rupa juga diksi yang ia lahirkan adalah kenyataan. Orang-orang mengganjarnya dengan bapak puisi modern
Selain Chairil Anwar, Taufik Ismail juga adalah deretan tokoh perpuisian Indonesia. Sajak panjang, adalah diksi-diksi yang beliau lahirkan.

Hari ini saban hari puluhan bahkan ratusan puisi tercipta. Lahir dari tangan dan renungan seorang. Sesekali puisi itu melenggang, melompot hingga menyentuh awan. Dielukan, dipuja, diperbincangkan pula disalin untuk sekedar menggombal.
Lantas banyak pula puisi berhenti dalam anggokan debu-debu dalam laci. Selembar kertas kusut tampak hasil karya tangan tak sabaran. Puisi-puisi bisu, menunduk lesu karena tuannya tak menghendaki.

Pada suatu masa yang lain. Seorang Gadis Anggun duduk pada hamparan rumput. Tak ada kertas, tak ada bolpoin. Jemarinya asyik mengetuk keyboard ponsel. Seolah itu saja cukup. Padahal tidak. Jika kita maju sejengkal lebih dekat, ada garis-garis kesal di wajahnya. Mungkin dia marah lantaran lupa membawa serta kertas dan bolpoin yang selama ini jadi kawan karibnya.

Atau bisa jadi Gadis itu sedang murka pada keadaan.
Biarlah nanti kita tengok lewat puisi yang ditulisnya.

Puisi adalah doa. Begitu sebagian orang memaknai. Doa perantara yang menghubungkan rasa dan rupiah. Aha, sedikit menggelitik tapi memang demikian.
Tahu betapa banyak sastrawan yang hidup dari lembaran puisi?
Berapa banyak panggung panggung puisi yang tak begitu menjanjikan namun selalu candu untuk terus disinggahi?

Aan Mansyur tentu contoh nyata betapa puisi adalah pundi-pundi kehidupan. Musisi-musisi memulai bait lagu dari puisi. Puisi mengalir pada setiap jiwa-jiwa yang menginginkan.

Berpuisi seolah kita sedang menyantap makan malam. Kadang sedikit terlambat, sedikit sederhana tidak jarang kelewat mahal. Tak ada takaran pas. Tak ada kata baku. Semua boleh ambil peran.

Begitu pun Gadis Anggun yang duduk di padang rumput. Puisi ciptaannya telah hadir. Ia menepuk paha, berdehem lantas berucap:
'jika memang harus berakhir
Mengapa kita merengek?
Kita sama-sama bahagia
Atau sama-sama luka?
Biarkan saja akhirnya seperti ini.
Seperti puisi.'
(Seperti Puisi, Gadis Anggun | 2020)

Puisi-puisi hadir sepanjang waktu.  Bahkan meski ini akhir dari segalanya, puisi-puisi selalu ada. Sebab dia adalah juga doa.

Salah Kaprah Disinfektan

Salah Kaprah Disinfektan

Saat tulisan ini ditulis, perkara corona virus belum juga ada gambaran bakal berhenti. Untungnya kabar mereka yang berangsur sembuh mulai bermunculan, semakin hari semakin bertambah. Namun sedih juga dengan kabar semakin banyak pula yang dinyatakan positif corona.
Disinfektan

Berbagai cara dilakukan baik oleh pemerintah pusat, daerah mau pun masyarakat juga individu guna meminimalkan penyebaran virus ini. Salah satunya adalah penyemprotan disinfektan.

Hampir mirip dengan hand sanitizer, disinfektan juga mulai langka. Selanjutnya orang-orang Indonesia yang terkenal dengan kreativitasnya mulai membuat hand sanitizer dan disinfektan secara mandiri. Cukup berbekal tutorial gratisan dari Youtube atau media lain, masing-masing kita sudah bisa membuat disinfektan.


Hanya saja kadang cukup was-was tentang takaran/ ukuran pasnya sebuah bahan. Pula bahan-bahan dasarnya. Kadang kala bahannya diganti dengan bahan lain yang seadanya karena memang kemungkinan di pasar bahan utamanya sudah tidak ada lagi atau langka. Hal-hal yang seperti ini hendaknya perlu mendapat perhatian lebih. Belum lagi penggunaannya tidak sebagai mana mestinya.

Pernah dengar ada orang yang harus basah kuyub masuk ke sebuah gang karena di pintu gang harus ‘mandi disinfektan’? Atau pernah dengar keluhaan abang ojol atau abang tukang paket yang memilih untuk tidak masuk gang dibanding harus rela disemprot disinfektan? Atau pernah melihat/ mendengar hadirnya ‘kotak semprot disinfektan’ yang khusus untuk menyemprot orang-orang yang lewat di sekitarnya? Pasti sudah pernah baca berita ini. Atau malah mengalami sendiri.

Padahal disinfektan ini adalah zat kimia, yang oleh sebagian kita dibuat dari campuran pemutih baju dan pembersih lantai. Secara logika saja hal ini tentu sangat bahaya jika terkena kulit/ tubuh manusia. Bahkan karena banyaknya yang menggunakan disinfektan untuk ‘memandikan’ orang maka Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan imbauan bahwa disinfektan tidak aman diperuntukkan bagi manusia.

Salah kaprah disinfektan lainnya adalah orang yang bertindak menyemprotkan disinfektan tidak melindungi diri dengan kaos tangan dan alat pelindung diri yang lain. Padahal sudah jelas kalau disinfektan tidak seharusnya kontak langsung dengan tangan.

Kegalauan saya yang begitu panjang akhirnya mendapat jawaban dari seorang kawan yang merupakan relawan PMI cabang Banjarmasin. Ia membagi selembar tulisan yang berisikan ‘Pedoman Disinfektan’. Lega rasanya ada yang ikut prihatin dengan banyaknya pertanyaan dalam benak saya. Rasa-rasanya selembar itu bagaikan penghapus yang mampu membersihkan coretan tak jelas di atas kertas. #halah

Setidaknya dalam lembaran itu saya membaca bahwa wajib bagi seseorang untuk menggunakan sarung tangan sekali pakai saat sedang mebersihkan dan mendisinfeksi permukaan (apa aja). Setelahnya habis pemakaian maka sarung tangan tersebut harus dibuang. Kalau pun memakai sarung tangan yang bisa digunakan berulang kali maka penggunaan sarung tangan itu hanya khusus untuk acara disinfeksi bukan yang lain-lain.

Sampai di sini paham saya. Juga jadi sedikt worry dengan mas-mas yang sering ke rumah untuk semprot-semprot. Tujuannya baik namun ada yang luput. Semoga besok enggak seperti itu lagi dan semoga semua baik-baik saja. Jika corona virus ini lenyap banyak hal yang ingin saya lakukan; salah satunya adalah berkunjung ke ....

Manfaatkan Moment Lebaran untuk Mengembangkan Bisnis Kue Kering


Kue Kering

Dalam kondisi krisis seperti sekarang ini banyak diantara usaha yang mengalami kemunduran. Mengingat kondisi ekonomi di negara yang sedang tidak baik. Pastinya Anda juga memutar otak untuk bisa tetap menghasilkan uang bukan.

Namun jangan khawatir nyatanya tetap ada peluang bisnis menggiurkan yang dapat Anda geluti. Apalagi sebentar lagi masuk moment Ramadhan, dimana pada saat ini memang ada banyak sekali peluang usaha yang bisa Anda coba.

Moment Lebaran

Salah satu diantaranya adalah dengan menjajal mengelola bisnis kue kering. Berikut ini diantaranya beberapa pengalaman membuka usaha kue kering sangat menjanjikan saat bulan Ramadhan, yaitu:

1. Sudah menjadi sebuah tradisi bagi masyarakat untuk menyuguhkan beragam jenis kue di atas meja ruang tamu ketika menyambut lebaran. 
Hal ini tidak lepas dari saat hari raya Idul Fitri adalah moment silaturahmi dari satu rumah ke rumah yang lainnya.
Pemilik rumah pastinya wajib menyuguhkan sesuatu di atas meja bukan, dari jenis kue coklat lalu nastar dan sebagainya. Sehingga tamu yang datang nantinya juga bisa mencoba kue tersebut.

2. Permintaan akan semakin tinggi jelang lebaran,
Hampir semua orang menyuguhkan kue lebaran di rumah. Hanya saja memang tidak semuanya memilih membuat sendiri, dengan alasan memakan terlalu banyak waktu dan juga kurang praktis.

Berbeda halnya dengan membelinya langsung, karena lebih praktis dan dari segi rasa sendiri juga dijamin enak. Anda bahkan tak hanya dapat menjualnya secara langsung saja, melainkan juga penjualan sistem online. Sehingga nantinya segmen antar target market yang dituju juga jauh lebih banyak.


Untuk mendapatkan rasa kue terbaik, maka tidak bisa dipungkiri jika seandainya bahan baku turut menentukan hal ini.

 Jadi pastikan bahwa Anda hanya menggunakan bahan baku berkualitas terbaik untuk pembuatannya. Seperti diantaranya adalah keju dan bahan kue lainnya, untuk pembelian bisa beragam jenis bahan baku tersebut nyatanya juga sangatlah mudah, karena bisa Anda lakukan secara online. Yaitu langsung lewat TokoWahab, kunjungi langsung situs resminya dan pilih-pilih saja.

Perkara Mandi Parfum Hingga Memilih Jodoh

Sebagai Gadis Anggun lajang diusia mendekati kepala tiga, rasanya banyak banget yang memandang kasihan kepada saya. Dari tatapan dan ucapan orang-orang di sekitar, bisa disimpulkan bahwa mereka menganggap keadaan saya begitu menyedihkan. Seolah saya ini makhluk yang kurang kasih dan sayang.

Tidak jarang nasehat (baik yang diucapkan secara santun mau pun terkesan menghakimi) sering datang menghampiri. Rasanya ada saja yang bisa mereka omongkan tentang saya.

Saya yang kesepian. Saya yang tidak punya teman. Saya yang introver. Saya yang sangat nelangsa. Saya yang terpuruk. Saya yang tidak bahagia. Saya yang belum bisa membahagiakan orangtua. Saya yang menua tanpa pendamping. Saya yang dibilang tidak laku. (Mendadak ingin jualan sesuatu).

Bukan hanya kaum old, mereka yang seumuran dengan saya rajin sekali bertanya. Mengorek segala macam hal. Mending kalau sekali dijawab udah, lha ini semacam kejar-kejaran.
Udah melebihi wartawan saja. Padahal wartawan yang selama ini mewawancarai saya biasa aja gak pernah tanya kapan saya bakal nikah. Ehe

Oh, baik lah. Masih banyak yang lain lagi. Saya tidak dan kadang bertanya apakan ini  ujian atau candaan yang dikirim Tuhan agar saya selalu bisa tertawa sekaligus berjuang menghadapi suara-suara dari kanan kiri?

Apa pun judulnya, saya  mencoba terbiasa dengan situasi ini. Bahkan lebih dari itu, saya mulai menikmatinya. Seolah sedang menikmati  gelato di siang nan terik.

Usia saya sudah bukan masanya usia emosian. Bukan pula usia galauan. Bagaimana nasibnya saya kalau sebentar-sebentar galauan? Padahal hampir setiap hari ada saja 'tatapan kasihan' untuk saya.

Belum lagi saya malas kalau harus muncul kerutan di wajah. Sia-sia dong rutinitas skin care dan mandi parfum yang tiap hari saya jalani. Oh tidak, saya tidak perlu mengeluarkan energi untuk menanggapi ocehan kanan kiri.


Dulu sekali memang saya sempat menargetkan diri untuk nikah di tahun 2020. Nyatanya di bulan ketiga tahun 2020 ini saya justru santai, jangankan mikirin nikah. Saya malah main-main dengan diri sendiri. Menantang diri sendiri untuk ini itu. Rasanya akan banyak hal yang kelak akan susah saya lakukan jika sudah menikah.

Lagian, di tahun ini saya kembali menjomblo dan masuk dalam barisan jomblo jomblo bahagia. Jadi pikiran untuk nikah segera tersingkir diganti dengan rencana rencana memanjakan diri sendiri. Mandi parfum, rebahan santuy, masak-masak, dan lirik sana sini. *Ampun ratjun memang

Bukan maksud abai dengan warning kepala tiga.  Saya hanya berkeyakinan kalau untuk mencintai orang lain maka pertama-tama yang harus dilakukan adalah mencintai diri sendiri dulu.

Orang-orang yang kenal saya lebih dari satu dekade akan beranggapan saya ini orangnya pemilih. Padahal sebenarnya tidak juga. Saya bukannya pemilih. Tapi saya ini sering banyak enggak cocoknya. *Apa sih kalimat ini membingungkan sekali.

Intinya, saya ini orangnya kelewat pasrah. Tidak banyak menuntut. Namun jika ada satu hal yang enggak saya suka, ambyar sudah semuanya. Kadang saya menganggap diri sendiri terlalu tega. Terlalu jahat.
Udah ketemu orang baik-baik sesuai kriteria, eh begitu tahu ada  satu saja kebiasaan yang enggak saya banget, langsung lambaikan tangan: bhay.
Semudah itu bilang 'enggak'.

Perkara Jodoh


Katanya, jodoh kita adalah cerminan dari diri kita.
Ya sudah maka saya harus mencintai diri sendiri agar pasangan saya nanti juga seorang yang juga mau mencintai dirinya sendiri.
Simpel! Atau ribet?

Orang-orang yang mencintai diri sendiri biasanya enggak akan mudah merusak diri sendiri pun menyakiti orang lain. (Mini GK 2020)

Penting tahu siapa calon kita sebelum beneran mengikat hubungan yang akan dijalani sepanjang sisa hidup ini.
Ditahap ini asli saya masih gelap abu-abu. Nyali pun masih kembang kempis. Hari ini hayuk, besoknya nanti-nanti. Emang iya ini anaknya susah keluar dari zona nyaman. Tolong jangan dicontoh!

Pernah saya ketemu orang, baik banget, tapi suatu hari saya putuskan kalau orang ini enggak cocok dengan saya usai jamuan makan malam. Why? Kenapa bisa? Saat makan malam itu saya baru tahu kalau dia suka menyisakan makanan. Ini enggak benar. Ini enggak cocok buat saya.

Saya sangat mencintai makanan, maksudnya jika ada makanan di piring maka saya akan berusaha menghabiskannya.
Saya bukan orang yang berlebihan dalam makan pun dalam belanja. Selain karena hemat juga karena ingat gimana rasanya zaman pernah kelaparan. Susahnya ampun. Maka kalau sekarang bisa makan, yuk makan dengan bijak.
Gaya hedon, big no.

Saya juga tidak cocok dengan orang yang makannya berantakan. YaLord, beneran lihat orang dewasa makan dengan berantakan itu bikin stress. Okelah kalau makan sendiri di rumah sendiri tanpa orang lain. Kalau di tempat umum? Ah, tidak. Saya tidak cocok.

Daripada saya mengerutkan kening setiap hari, mending sudahi saja yang belum terlampau jauh.
Lebih damai dan nyaman.

Bagaimana dengan perokok?
Saya tidak pernah cocok dengan asap rokok. Gak ada zamannya bisa temenan sama satu ini. So, meski setampan apa pun laki-laki di depan saya, jika dia ketahuan hobi merokok, auto mundur alon-alon.

Saya baru akan sedikit merespon jika ada orang yang gaya komunikasinya asyik. Jika ngobrol bisa meluas sampai mana-mana pula tidak suka menghakimi. Saya tidak butuh orang yang sok jenius sok pinter sok maha tahu. Tapi butuh orang yang bisa mempertanggungjawabkan apa yang sudah diucapkannya.

Katanya dari mata turun ke hati. Okelah, jujur penampilan fisik kadang masih jadi hal pertama yang saya lihat. Ya iyalah, mana bisa menilai kadar keimanan seseorang padahal baru sekali jumpa. Udah pastilah fisik yang mudah diindera.
Bukan perkara dia glowing atau tinggi menjulang bak oppa-oppa Korea atau macem Orlando Bloom. Bukan, bukan yang gituan. Meski kalaupun ada yang gituan, bolehlah.

Fisik di sini lebih ke dia yang mencerahkan mata. Yang nyenengin dipandang. Enggak butek.
Punya tampilan yang rapi. 
Saking saya sukanya sama laki-laki rapi, sampai saya juga ikut-ikutan merapikan diri sendiri dulu. Malu oe kalau ketemu laki-laki rapi tapi sebagai Gadis Anggun malah saya terlihat semrawut.
Tolong dicatat, rapi yes, bukan glamor atau penuh dengan branded.

Penting juga laki-laki itu harum. Saya akan auto males kalau ketemu sama orang yang apek (baukkk). Hidung pesek ini terlalu sensitif untuk aroma-aroma.
Wangi bukan berarti harus guyur parfum sebotol juga, yes. *Saya pernah ketemu laki yang beginian, sungguh diluar ekspektasi

Yang standar kualitas super saja. Gak bau ketek. Rajin sampoan. Pakai parfum.
Nah demi mendapat someone yang demikian, maka saya mendukung diri dengan macak demikian adanya.
Saya juga haruslah wangi.
Kadar cinta saya  pada diri sendiri akan naik saat tubuh dalam keadaan wangi harum semerbak.

Saya sampoan minimal dua hari sekali. Mandi harus, meski kadang males parah.
Iya oe, demi dapat jodoh yang wangi saya harus rela pula mandi sering-sering.

Tapi kata teman, kalau sudah masuk kamar mandi maka saya akan lama keluarnya.
Ya gimana ya, mandi itu memulainya memang susah tapi kalau sudah nyentuh air maka akan susah buat udahan.
Demi menunjang keharuman paripurna saya stok body wash yang cocok.

Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash adalah satu merek body wash yang harumnya cocok untuk saya. Aromanya menenangkan dan enggak norak. Bagai mandi parfum jika sudah menyentuh lembut sabunnya.
Saya koleksi tiga jenis Vitalia body wash;
1. White Glow (Skin brightening) dengan kandungan Licorice dan Susu membantu mencerahkan kulit.
2. Fresh Dazzle (Skin refreshing) dengan kandungan Jeruk Yuzu dan Teh Hijau memberikan kesegaran saat mandi dan membuat mood lebih baik.
3. Soft Beauty (Skin nourishing) dengan kandungan Alpukat dan Vitamin E membantu menutrisi kulit dan menjadikannya lembap.

Sebenarnya saya sudah lama berhenti memakai sabun pabrikan. Itu karena salah satu teman mencoba produksi sabun sendiri. Saya lihat mulai dari cari bahan dan alat (termasuk beli susu) sampai pembuatannya. Jadi saya aman pakai sabun darinya.
Kasusnya beda lagi dengan Vitalis ini. Packaging cute. Botolnya tidak yang gede banget jadi bisa dipakai kalau mau jalan-jalan. Pula bukan botol kecil banget yang mulai saya hindari.

Pilihan mencoba mandi parfum dengan Vitalis tentu saja karena aroma. Saya suka wanginya. Hidung saya mudah luluh kalau ketemu aroma yang asyik. Dan auto ngomel kalau ketemu bau tak sedap.
Saat menyentuh kulit, sabunnya begitu lembut. Ada sensasinya saat dibalurkan ke kulit lalu dipijat sebelum diusap dan dibilas.
Ya semenarik ini ritual mandi saya, wajar kalau sering lama sampai membuat teman senewen.
Gak ada ceritanya mandi kok cuma lima menit. Ya mending gak usah mandi.
Lima menit itu cuma cukup buat cuci muka sama tuang sabun doang.

Selain wangi Saya juga akan merasa cocok dengan laki-laki penyuka buku.  Saya bisa berlama-lama dekat dengan orang yang punya hobi baca dan suka dongeng. Meski suara saya tidak terlalu seksi, tapi saya suka mendongeng. Jadi akan satu rasa jika ketemu orang yang bisa mencintai dongeng.

Jadi  teman-teman yang baca postingan ini, jikalau kalian menemukan ada laki-laki lajang cerdas dengan riwayat pekerja keras, good looking dengan keharuman paripurna sedang mencari jodoh, boleh berkabar ke Gadis Anggun.
Yah, namanya usahakan suka-suka, boleh-boleh saja.

Mengenal Covid 19 dan Pencegahannya


Mengenal Covid 19 dan Pencegahannya

Tiket pesawat ke Bali sudah ada di tangan. Terjadwal berangkat awal Maret. Saya akan terbang ke Bali kurang lebih lima hari. Bukan untuk acara piknik tapi semacam tugas negara untuk kemuliaan.

Saya sudah merancang banyak agenda selama di Bali. Ubud, Tanah Lot, Bedugul adalah sekian dari banyak tempat yang harus masuk dalam daftar kunjungan saya kali. Namun tiba-tiba susunan rencana acara saya sedikit berantakan. Pasalnya emak hampir-hampir tidak mengizinkan saya pergi. Ini semua karena berita yang heboh terkait Novel Corona atau dikenal dengan sebutan Covid 19.

Sejujurnya saya juga sempat worry. Virus ini sudah saya dengar kabarnya sejak perjalanan saya sebelumnya ke Madura. Dalam perjalanan itu (Januari) saya bersama kawan dari Hongkong membicarakan virus yang sedang naik daun tersebut. Virus yang lahir dari kota Wuhan yang menggemparkan hampir seluruh dunia.
Saya kehabisan cara untuk memenangkan emak. Maklum emak saya bukan orang kekinian yang akan croscek sesuatu namun lebih memilih untuk langsung menelan segala sesuatu yang disodorkan padanya. Pun termasuk berita tentang corona. Beruntung mamak bukan pengguna WA atau medsos lain jadi kepanikan hanya sebatas dari mendengar kanan kini dan televisi.

Untuk meredam kegelisahan dan ketakukan mamak akan covid 19, maka beberapa hari sebelum berangkat ke Bali  saya menyempatkan diri untuk menghadiri semacam seminar, temu netizen yang diprakarsai oleh Kemenkes RI. Acara ini cukup menarik untuk saya. Di sini saya mencari info sebanyak-banyaknya untuk bekal perjalanan sekaligus memberi ketenangan pada mamak. Saya rela bolos kuliah demi mengikuti sesi semiar yang hampir berjalan selama seharian full. Saya tidak masalah, yang penting ilmu saya terupgrade dan tidak membabi buta atau panik berlebihan dalam menghadapi covid 19.

Corona virus, novel corona, covid 19, apakah ini?
Sebelumnya kita mengenal yang namanya MERS atau istilah medisnya adalah middle east respiratory syndrome. Yaitu merupakan penyakit pernapasan yang penyebab utamanya adalah virus korona jenis baru (novel coronavirus). Penyakit ini sebelumnya ada pertama kali ditemukan di Arab Saudi tahun 2012.
Virus korona sendiri merupakan bagian dari keluarga virus yang bisa menyebabkan penyakit mulai dari penyakit ringan (flu, misalnya) hingga bisa menyebabkan penyakit yang lebih parah atau serius seperti SARS (severe acute respiratory syndrome).

Yang sedang mewabah saat ini juga adalah masih seputaran virus corona yang awal mulanya terjadi di Wuhan.  Novel corona virus 2019-nCoV masih belum jelas penularannya. Diduga 
selama ini dari hewan ke manusia.

Bagaimana gejala terserang virus corona?
Corona hampir mirip dengan influenza. Gejala umumnya adalah demam lebih dari 80ºC, batuk dan sesak napas. Gejala ini akan semakin berat bagi mereka yang sudah berusia lanjut atau mempunyai riwayat penyakit lainnya. Namun tidak semua yang bercirikan demikian berarti positif terserah virus corona. Harus dicermati dan diperiksa lebih lanjut lagi.

Radang paru dan gejala sakit perut juga sering dialami oleh mereka penderita sakit ini.
Tapi ada juga orang yang terjangkit virus corona namun tidak menunjukkan gejala apa pun. Biasanya mereka akan tidak sengaja terjangkit virus ini karena sebelumnya berinteraksi dengan pasien lain yang positif mengidap virus.

Bagaimana cara penularan virus corona?
Selama ini banyak berita salah yang mengabarkan bahwa virus corona menular melalui handphone atau pakaian. Yang benar adalah virus ini tidak bisa menular melalui benda mati. Namun ia menular lewat perantara cairan tubuh misalnya sperma dan air liur. Maka diwajibkan bagi orang yang sakit untuk menggunakan masker.

Sementara mereka  yang sehat, disarankan untuk tidak perlu menggunakan masker.

Bagaimana cara pencegahan covid 19?
Meski terbilang penyebarannya sangat cepat dan luas, namun virus corona bisa saja dicegah. Beberapa cara pencegahannya adalah dimulai dari diri sendiri dengan membiasakan hidup sehat. Usahakan tubuh untuk selalu dalam kondisi fit/ prima. Terapkan pola makan yang sehat, bergizi dan seimbang. Rajin olahraga fisik dan istirahat cukup. Menghindari begadang dan jika merasa lelah tidak sungkan untuk istirahat. Selalu makan makanan yang dimasak sempurna dan jangan memakan daging dari hewan yang berpotensi menularkaan atau membawa penyakit. Jika muslim selalu ingat untuk makan makanan yang halal. Selalu menjaga kebersihan diri juga lingkungan tempat tinggal. Jika sedang flu/ sakit wajib menggunakan masker dan jika batuk untuk menutupnya dan juga menghindari interaksi dengan orang lain.
Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir juga menjadi satu kunci pokok pencegahan penularan virus corona.


Kesiapan Indonesia menghadapi serangan Covid 19
Dari yang saya dengar, pemerintah Indonesia sudah menyiapkan banyak rumah sakit untuk menanggulangi pasien virus corona. Indonesia termasuk negara yang lebih akhir terkena dampak corona namun persiapan terus diberlakukan.
Untuk wilayah Yogyakarta, RSUD dr. Sardjito dan Rumah Sakit Panembahan Senopati Wirosaban adalah dua rumah sakit yang akan menjadi rujukan jika ada pasien yang dirasa terduga terserang virus corona.

Virus ini memang sudah menyebar ke seluruh negara di dunia. Namun bukan berarti kita harus panik. Waspada penting, panik jangan. Selalu update berita terpercaya dan menghindari bepergian jauh rasanya lebih baik. Tidak mengapa sesekali tidak ikut keramaian demi menjaga diri.

Info lebih lanjut mengenai virus corona, pencegahan, sebaran dan himbauan lainnya bisa di cek di akun media sosial kemenkes RI, website sehatnegeriku.kemenkes.go.id  kemenkes.go.id
Jika ada yang mendesak dan butuh pertolongan mengenai virus corona, silakan hubungi kontak berikut:
021 – 5210 411
0812 1212 3119