Ada Rumah Belanja Harga Keluarga

Ada Buti

Perempuan selalu identik dengan dunia makeup dan fashion. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu. Kalau masih tidak percaya baik saya ralat, maksudnya saya. Saya hidup dengan tidak mengesampingkan perkembangan dunia fashion dan make up. Ya meski tidak selalu harus terlibat di dalamnya, cukup tahu saja.

Maka ketika teman mengajak saya untuk datang ke launcing store baru di JCM, saya begitu semangat dan langsung mengiyakan.

Ada, begitu nama store itu. Merupakan rumah fashion bagi mereka yang hobi berbelanja baju. 
Ada, saya sering mendengar nama ini namun belum pernah belanja di sana. Konon Ada ini satu atap dengan Buti. Well, untuk Buti saya cukup familiar, setidaknya pernah ke sana nganter temen dan akhirnya malah kecantol.

Ada JCM yang diresmikan tanggal 21 Oktober 2017 lalu merupakan store ke-3 di Yogyakarta. Setelah sebelumnya ada di Hartono mal dan Lippo Plaza Jogja.

Tentang Ada

Ada store Jogja City Mal nerupakan store ke-75 dari seluruh store yang ada di Indonesia. Sangat membanggakan bagi dunia fashion, terlebih selama ini Ada dan Buti selalu memberdayakan produk lokal Indonesia.

Dunia fashion Indonesia juga cukup berkembang pesat. Ada menangkap peluang itu untuk terus bersama-sama menjaga geliat sekaligus mempertahankan produk lokal.
Meski lokal, namun kualitas tetap terjamin dan juara.

Ada lahir dari atusiasme masyarakat yang selalu ingin tampil trandi namun tidak perlu keluarga biaya banyak.
Dalam pertumbuhannya Ada dan Buti store selalu berusaha untuk lebih dekat dengan kepuasan pelanggan. Ada store menyediakan pakaian baik untuk perempuan mau pun laki-laki. Antara lain jumpsuit, knitwear, shirt, t'shirt, bluse, short, trouser, tank top, cardigan, jeans, sepatu, tas dan lain lain.

Saya pernah mengajak kawan (laki-laki) ke Ada store dan dia kalap karena banyak baju yang ia inginkan ada di sini. Dengan kisaran harga yang lumayan pula. Sebab hampir semua harganya terjangkau, kisaran 60ribuan sampai 300ribuan. Belum lagi kalau ada promo diskon bisa sampai 70%.

Besok-besok saya akan sering ke JCM untuk mengecek diskon. Lumayanlah.


Ada Fashion

Kemarin saat datang ke ADA JCM, saya terhibur dengan penampilan fashion show dan flashmob dancer.

Saya datang lebih terakhir dibanding teman-teman yang sejak siang sudah memenuhi area Ada. saya kira, saya akan sendirian di Ada, nyatanya sampai larut malam juga masih pada gentayangan mencari baju-baju berkulitas hargaa keluarga.

Saya bahkan ketemu kawan lawas banget di Ada. Sesuatu yang membuat saya serasa pulang ke rumah.


Berburu Matahari di Sleman


#ayokeSleman

Menyenangkan itu kalau ada yang nawarin piknik bareng-bareng. Saya sudah membayangkan suasana yang menyenangkan, seru dan tentunya kenalan-kenalan baru.

Kamis (19/10) kemarin saya diajak keliling obyek wisata baru di Sleman. Ada sekitar 20 orang yang diajak, terdiri dari blogger dan potografer. Kami memakai Rich Hotel sebagai titik kumpul, namun karena saya terlalu jauh jika harus ke sana, saya memilih untuk menunggu di Tebing Breksi. Sekalian aja saya nenda di Breksi secara sudah berhari-hari berkegiatan di Breksi. Sudah macem pahatan batu saja.

Janjian ketemuan di Breksi sekitar pukul 13.00, ternyata saya datang lebih awal dibanding teman-teman yang lain. Ketika saya tiba, belum ada orang yang saya kenal kecuali Kakak Arif dari Shiva Valley pengelola Jeep. Saya mah kalau perkara piknik pantang buat telat.
Saya menunggu di Breksi sembari menikmati pemandangan Breksi yang kokoh.

BREKSI

Banyak yang mengira jika Breksi hanyalah batu raksasa yang dipahat sedemikian hingga dan akhirnya menjadi sebuah tempat wisata.
Salah. Breksi yang terlihat itu sesungguhnya adalah saksi sejarah. Memang benar jika saat ini kita melihat Breksi sebagai batu raksasa icon wisata. Namun lebih dari itu semua, Breksi adalah sejarah dan bukti jika zaman dulu daratan Jawa adalah lautan.

Jika mau meneliti lebih jauh, tengok guratan-guratan yang ada di batu Breksi. Berhenti untuk mendatangi Breksi hanya demi foto selfie. Sesekali datanglah untuk meneliti, mengenal sejarah dan melindungi warisan leluhur.
Sebelum ke Breksi ada baiknya jika baca-baca dulu tentang literatur bebatuan. Agar bisa lebih memahami dan merasa memiliki sesuatu yang sangat berharga.

Sebelum jadi tempat wisata, dulunya Breksi dipakai warga untuk mencari penghasilan dengan cara menjadi penambang batu. Seiring banyaknya penelitian ternyata batuannya mengandung bahan vulkanik dari Gunung Api Purba Nglanggeran, maka resmilah daerah ini menjadi cagar budaya yang wajib dilindungi. Sadar akan hal itu, penduduk pun berhenti menambang dan atas inisiatif banyak pihak jadilah Breksi menjadi tempat wisata dengan tebingnya yang kokoh dan pemandangan yang memukau dari tebing.
Jika sedang di Breksi kita bisa melihat panorama kota Yogyakarta yang memukau dari ketinggian.

Perlu pula diketahui jikalau sudah sampai Breksi ada baiknya mengambil jalur tour selanjutnya. Biar pikniknya lebih berfaedah.

Kemarin Kamis saya enggak nyangka banget jika akan diajak piknik ketiga tempat sekaligus. Plus bonus pikniknya ditemani Bapak Bupati Sleman. Nah kan, asyik bin pengalaman yang mungkin akan sulit terulang.

Saya dan teman-teman naik Jeep dari Breksi ke Watu Payung lalu ke Bukit Teletubbies lalu mengejar sunset di Bukit Klumprit.

Watu Payung

Sebagai #DutaDamai saya enggak asing lagi dengan tempat wisata satu ini. Letaknya ada di atas Candi Ijo. Kalau dari Tebing Breksi kira-kira sepuluh menit naik jeep.
Tempatnya syik, hijau dan damai. Dari atas bisa menyaksikan pemandangan di kejauhan yang tampak hijau.
Tempat yang wajib dikunjungi oleh mereka mereka yang selama hidup sudah capek melihat gerumbulan gedung dan kemacetan jalan.
Kalau saya ke sini, bawaannya pingin nyunggi tenda dan bermalam sampai beberapa hari. Adem banget jadi wajib bawa jaket.

Disebut Watu Payung karena ternyata ada sau batu besar banget yang posisinya semacam payung gitu, penyangganya kecil namun batunya kokoh.

Kalau lagi main ke sini hati-hati ya jangan sampai merusaknya.
                                                                      

Bukit Teletubbies                                                                 

Bukit ini lucu dengan taman kecil yang hijau. Dari sini kita bisa melihat rumah Teletubies, rumah Dome yang bewarna-warni. Dome itu dibangun menyerupai rumah di kartun teletubies. Usianya sudah sepuluh tahun lebih. Saat ini ada sekitar 30 unit rumah. 20 dihuni penduduk, sisanya merupakan kantor, home stay dan tempat pertemuan.

Dulunya rumah ini dibangun untuk menampung warga yang kena gempa dahsyat 2006 silam. Bangunannya dibangun oleh bantuan luar negeri. Hari ini selain sebagai tempat tinggal, daerah ini juga sebagai tempat wisata.

Bukit Klumprit

Saya harus berjalan dari tempat parkir jeep menuju Bukit Klumprit.
Saya tidak masalah karena sudah menyiapkan kostum sesuai dengan keadaan alam, saya sudah mikir bakal piknik di gunung maka harus siap-siap. Saya aman, teman-teman saya aman, Pak Bupati tidak terlalu. Pasalnya beliau memakai seragam Kamis Pahingan, yaitu surjan jarik berikut selop. Ya bayangin aja gimana susahnya naik gunung dengan alas kaki berupa selop.

Namun nyatanya beliau bergembira seperti yang lain.
Kalau saya mah setiap saat juga bergembira.

Tiduran di atas batu raksasa menghadap langit dengan ditemani angin sore sungguh menyenangkan. Rasa-rasanya saya malas kalau disuruh bangkit lagi.
Saya datang habis ashar, masih agak sore dan harus menunggu sampai matahari terbenam. Tujuan utama tentu saja sunset.
Apa pun pokoknya demi sunset.

Awalnya saya bahagia saja karena cuaca cukup hangat, nyatanya semakin petang udara semakin lembab. Tangan saya berubah keriput jika tidak beraktivitas. Tempat ini menyenangkan dan jauh dari polusi, kecuali beberapa plastik yang merusak pemandangan. Pohon-pohon berjajar cukup apik.

Ada beberapa penduduk yang mencari rumput di sekitaran bukit. Saya bertanya-tanya di mana kira-kira mereka tinggal secara begitu tingginya tempat ini. Saya jadi mikir dong seberapa besar perjuangan ibu-ibu pencari rumput tersebut.

Yang jelas kalau sudah sampai Breksi jangan lupa untuk keliling tempat wisata yang lain. 
Berburu sunset dengan suasana tenang memang cocok di Bukit Klumprit. Jika mau berinstastory jangan khawatir karena tempat ini terjangkau sinyal 4G.

Jika ingin mnyewa Jeep, ada baiknya saya kasih tahu tarifnya:
- jarak pendek 200 ribu dengan waktu tempuh sekitar satu setengah jam.
- jarak medium butuh biaya 300 ribu dengan waktu tempuh dua setengah jam.
- jarak jauh sekitar 400 ribu dengan waktu tiga jam.
 
                                                                                
 

Jelajah 4 Museum Dalam Waktu 4 Jam


Jelajah 4 Museum

Abu-abu langit pagi itu membuat saya sedikit gelisah. Siang nanti ada janji bersama teman-teman Genpi untuk ikut acara Malam Museum. Jika abu-abu di langit berubah menjadi titik-titik yang selama ini dirindukan tanah, maka saya bisa apa?

"Kamu ke kota jam berapa?" pesan dari kawan yang hendak berangkat bersama.
Saya masih mikir-mikir. Ponsel di tangan terayun manja. Harusnya saya sudah ada di kota sesuai rencana jauh hari. Nyatanya saya masih di rumah bahkan mandi saja belum.

"Mungkin jam 12 aku baru berangkat dari rumah. Aku enggak jadi nonton."
"Okey. Semoga enggak hujan. Jogja tadi pagi hujan."

Cap cip cup, kota sudah diguyur hujan, tinggal menunggu angin sampai hujan itu merambati pekarangan rumah.
Saya lekas siap-siap, karena jika telat sedikit saja atau jika saya keluar rumah lebih lambat sepuluh menit dari rencana awal maka sudah diperkirakan jika di jalan akan ugal-ugalan. Saya benci saya yang dalam kondisi ini. #malahcurhat


Well, saya ini orang yang enggak peduli dengan omongan orang lain bahwa weekend itu identik dengan piknik. Saya mah kapan aja piknik hayuk ajah. Mau ramai-ramai atau solo juga hayuk. Tapi kalau ada yang bayarin itu lebih baik lagi. Paket komplit itu piknik sambil kerja dibayarin ramai-ramai dan ketemu pria tamvan. #halah

Menanam Cerita di Halaman Sastra FKY 29


Angin begitu ganasnya ketika saya mulai mengambil kata pertama dalam cerita kali ini. Ada gigil yang saya rasa usai bermotor dengan jarak hampir satu setengah jam perjalanan. Radio Buku halaman sastra FKY 29
Festival kesenian Yogyakarta selalu menghadirkan konsep menarik setiap tahunnya. Kali ini bertajuk 'umbar Mak byar', istirahat untuk lebih gemilang. Salah satu agenda dari FKY yaitu Sastra FKY. Radio Buku / Indonesia boekoe menjadi tuan rumah yang nyaman, ramah dan ngangenin. Halaman ditata apik untuk memberi senyum kepada pengunjung.

Saya hadir di saat pembukaan dan penutupan. Sempat salah tingkah saat sampai di halaman Radio Buku, sebab ketika tiba, sudah banyak orang yang berkumpul. Hari itu pembukaan diisi dengan dongeng dari pendongeng asli Yogyakarta yang sudah go internasional.

Karena bangku sudah penuh, saya memilih berdiri di depan panggung utama demi melihat penampilan Kak Arif Rahmanto yang baru saja bersiap dengan mikrofon. Tak disangka, beliau melambaikan tangan ke saya dan melempar senyum. Saya pun menyambutnya dengan hangat.

Lantas, cerita itu berlanjut ketika dari arah belakang sang aktor utama dalam "Istirahatlah Kata Kata" sang Wiji Thukul, mendadak mendatangi saya lantas memberikan bangku kosong yang tadi diangkatnya dari bawah pohon mangga.
"Duduk."
"Terima kasih," ucap saya karena enggak tahu harus bilang gimana lagi karena masih diliputi kaget.
Kakak Mida, teman yang memberdayakan saya hanya senyum-senyum pula merasa gimana gitu.



Kadang kala saya ini memang norak. Tapi saya bangga dengan kenorakan saya. Belum selesai keterkejutan dengan Mas Gunawan Maryanto a.k.a Wiji Thukul, lagi-lagi Kak Arif membuat saya semakin norak. Beliau di hadapan hadirin, sebelum mulai mendongeng, berucap, "selamat datang Kak Mini GK. Penulis kondang kita."

Okey, saya bener bener malu tapi bangga.  Kakak Mida lanjut berbisik, "kalau udah tahu kamu artis harusnya datang jangan telat dong. Malu tauk."
"Ya mana aku tau bakal disapa sedemikian hingga."

Lalu kami diam. Diam-diam saya masih senyum senyum sendiri dengan perilaku mereka orang-orang baik di sekeliling saya. Ah semakin yakin saya jika kenaikan akan tumbuh jika kita selalu menanamnya. Acaranya mendongeng sore itu berjalan lancar. Ramai dan pula menimbulkan tawa hebat bukan hanya anak-anak tapi semua hadirin segala usia.

Acara Sastra FKY 29 dimulai dari tanggal 30 Juli dan berakhir semalam, 3 Agustus. Banyak macam agenda, ada mendongeng, workhosp menulis, talkshow sastra anak, prosa juga teater.

 Saya sempat mengikuti talkshow sastra anak yang diampu oleh dua orang keren, Muhidin M. Dahlan dan Gunawan Maryanto. Dengan antusias sebab materi yang disampaikan benar membuat saya tercengang. Mengenai fenomena perbukuan, khususnya buku buku anak.

Tanya jawab dengan hadirin menjadi satu sesi yang menarik, dimana banyak hadirin yang kebetulan adalah guru saling mengutarakan kegundahan mereka dengan murid murid. Usai talkshow saya menunggu hingga malam untuk menyaksikan teater.

Ada dua teater yang tampil membawakan sastra lakon, yaitu teater Kamasutra dan Terjal. Dua duanya dari Universitas Gajah Mada.

Menurut Gunawan Maryanto, kenapa memilih sastra lakon bukan naskah lakon sebab dewasa ini sastra lakon seolah-olah tak dikenal atau ditinggalkan. Ia satra lakon ini berada di zona yang tidak jelas antara teater atau kepenulisan, maksudnya orang teater seolah-olah enggak berhak memegang begitu pun dengan orang penulis. Akhirnya dia jadi tenggelam.

 Kami bahagia kami suka dan kami menunggu sastra FKY selanjutnya.

Pesona Pasar Kangen Jogja 2017


#sabtuyou
Hai kamu, iya kamu yang malem Minggu senyum senyum sendiri...
Kamu dapat salam dari kami, barisan pemuda pemudi Indonesia yang penuh pesona dan berkarisma, kami #calonmantukesayanganmertua

Kamu tahu gak kalau dalam hitungan menit #PasarKangenJogja akan berkemas, menutup diri, liburan dan selimutan hingga setahun mendatang?
Nah, kamu udah tengok tengok belum? Siapa tahu ada kangen yang kau jumpai di #pesonapasarkangen.



Kalau kami sih udah melakukan serangan sejak hari pertama bahkan sejak kendi tanda pembukaan dijatuhkan dari atas panggung. Dapet  #benggol pula buat pengganti uang masa kini.

Oh iya meski kami terlihat kompak dipoto, aslinya kami datang enggak pakai janjian, kalau ngumpul gini itu semua karena kekuatan pandangan dan suara kami. Yang satu di mana yang lain di mana tinggal teriakin nama udah pasti ngumpul, menuhmenuhin jalan pula berisik (utama Kak Erwin yang sibuk promosi kejombloan dirinya, dasar #jomblo)

Jadi pas hari pertama, maaf maaf jika ada yang keberisikan atas kehadiran kami; maklumlah kami ini admin admin #lambeselo 😅😅 Maaf; kami tidak takut #Mantan

#perjalananMini #traveler #beauty #gadisAnggun #MiniGK #author #gosip #hits #lifestyle #vakansi #piknik #tamanbudaya #kuliner

Nglathak Olahan Kambing Anti Prengus


Saya dan kambing 

Dua puluh tahun lebih saya menjadi pribadi yang emohemoh jika disuruh mamam olahan daging kambing.
Mau dimasak macem apa, pokoknya emoh. Saya bukan tidak bersyukur tapi entah mengapa aroma prengus selalu jadi momok jahat yang membuat saya menjauh dari (olahan) kambing. Padahal saat kecil, saya enak enak aja mamam gulai kambing.


Kenal Nglathak

Minat saya kepada olahan kambing akhirnya muncul lagi setelah tahun lalu secara sengaja mencoba main di kedai Nglathak. Sebuah kedai mungil yang menjual aneka olahan daging kambing.

Kedainya nyaman. Berada di lingkungan kampus UNY dan UGM. Sangat dekat dengan kota, dekat sekali. Sedekat kita dengan kekasih, #eh
Nah karena lokasinya yang dekat kota dan strategis ini maka enggak jarang disebutnya Nglathak tengah kota.
Ya secara di Yogyakarta itu dulu kalau denger kata sate klatak atau Nglathak gitu pasti identiknya dengan kawasan di ujung selatan sana.



Masih agak takut-takut dengan olahan kambing, maka saya anteng gitu ketika teman-teman sibuk memilih menu. Saya masih menunggu sampai ada rekomendasi dari teman-teman, pokoknya enggak mau salah pilih.

Beruntung hari itu sang owner, sebut saja Mas To, ada di tempat dan bersedia berbagi cerita tentang kambing-kambing dan segala macam yang membersamainya.
Dengan diawali senyum manis, salam sapa, Mas To mulai bercerita....


Nglathak lahir dan sukses bersama kawan
Sedikitnya ada dua alasan kenapa saya akhirnya berani untuk kembali mencicipi olahan kambing (khususnya di kedai Nglathak, entah kalau di tempat lain, belum nyobain) yaitu; pertama sebab Mas Toko selaku owner sangat ramah dan penuh inspiratif. Alasan kedua adalah cerita Mas To yang selalu berprinsip untuk menghasilkan makanan halal Toyib dengan memperdayakan pangan lokal.

Jadi gini lho gaes, aslik ini cerita udah sedikitnya dua kali Mas To ceritakan namun tetep selalu berhasil membuat saya mengangguk dan angkat topi. Bagaimana tidak, untuk membuat kedai Nglathak agar terus beroperasi sang owner bekerjasama dengan rekan bisnis yang juga ternyata teman sendiri. Nglathak tidak berdiri sendiri. Dia mendapatkan sumber bahan pokok dari usaha teman teman yang lain. 
Mulai dari daging, beras, bunga Telang (bunga ajaib menurut saya), daun kelor dan lain lain.

"Kami mengedepankan produk produk lokal." Itu yang selalu Mas Owner bilang.

Ketika saya tanya, "gimana kalau aku enggak suka kambing tapi pingin nyicip?"

"Tenang. Bagi yang enggak doyan kambing, di Nglathak juga menyediakan menu ayam, kok. Dan harus ditanya dulu kenapa enggak suka makan olahan kambing? Mungkin karena bau prengusnya...."

"Iya itu," sambat saya cepat.

"Nah itu dia. Bau prengus itu sebenarnya ada sebabnya. Karena itulah kami selalu menjaga mutu daging yang dipilih. Tidak sembarang kambing pula tidak sembarang dalam menyembelih. Harus benar-benar halal dan bersih."

Oh.... Mendengar itu saya terpana. Jadi ternyata penyebab kenapa olahan kambing sering bau prengus itu bisa jadi karena cara menyembelihnya kurang tepat, tempatnya kurang bersih, kadang dagingnya diletakkan didekat kotoran sisa-sisa penyembelihan dan lain sebagainya.
Ini ilmu baru yang baru. Ilmu yang enggak didapat dari mana-mana hanya ada di Nglathank.

Enak bener, udah mamam enak bonus dapat ilmu pulak.

Cerita saya ke Nglathak cukup membuat teman dari luar kota tertarik.
"Besok kalau aku ke Jogja ajakin ke sana, Kak Min. Aku punya problem sama denganmu dulu. Gak doyan kambing karena prengus dan alot."

Nah masalah alot, di Nglathak olahan daging kambingnya juara. Enggak alot. Empuk dan gak nyangkut di gigi. 

Belum lagi minuman khasnya. Ada teh biru dan minuman daun kelor. Ada juga yogurt. Lama lama saya bisa menyimpulkan jika Nglathak​ selain merupakan usaha jejaring dengan memberdayakan produk lokal juga merupakan kedai sehat. Ya cek aja sendiri menu menunya lalu cari tahu khasiat khasiatnya.

Saya sih enggak keberatan pergi ke Nglathak untuk yang kesekian kalinya. Menu barunya adalah masih goreng kambing dengan bumbu rempah ala timur tengah. Gustiiiiiiii, saya suka banget nasi goreng ini.

Selamat Ulang Tahun Jogja Scrummy

Jogja Scrummy

Poto by Ig Jogja Scrummy

Perkenalan saya dengan oleh oleh satu ini sudah terjalin sejak tahun lalu. Tepatnya saat Dude Herlino memutuskan untuk membuka cabang baru di daerah Brigjen Katamso Yogyakarta.
Saya tidak terlalu mengenal outlet yang di Jalan Kaliurang, namun untuk yang di Brigjen Katamso saya lumayan hafal setiap sudutnya. Saya juga masih ingat oleh oleh apa saja yang dijual di sana selain kue ala ala Jogja Scrummy.

Kalau dibilang buzzer atau media partner dari Jogja Scrummy, tidak, saya bukan bagian dari toko oleh oleh tersebut. Murni saya hanya masyarakat biasa yang kebetulan blogger dan kebetulan dapat kesempatan untuk ikut menyaksikan dan mencicipi Jogja Scrummy.

Eh, tunggu, jangan jangan pembaca blog ini masih ada yang belum tahu apa itu Jogja Scrummy?
Apa perlu saya cerita apa itu Jogja Scrummy?
Okey, sedikit ya sebagai awalan. Jadi gini, Jogja Scrummy itu adalah outlet oleh oleh yang berdiri di Yogyakarta dan milik artis Dude Herlino. Oleh-oleh yang utama di sini adalah olahan roti padat mengenyangkan yang diberi nama Scrummy.

Outlet Jogja Scrummy


23 Juni 2016 adalah awal berdiri Jogja Scrummy yang pertama kali. Hingga akhir tahun 2016 Jogja Scrummy akhirnya punya total empat outlet yang tersebar di banyak tempat di Yogyakarta. Antara lain; jalan Kaliurang, Malioboro (tepatnya Utara pasar Pathuk), Jalan Brigjen Katamso dan Jalan Adisucipto.

Konon salah satu misi dari didirikannya rumah oleh-oleh kekinian ini adalah untuk ikut terlibat dalam rangka mendongkrak pariwisata Yogyakarta khususnya disektor kuliner.

Oleh-oleh kekinian


Berkaca dari niat mulia, akhirnya Jogja Scrummy tidak hanya menjajakan Scrummy saja melainkan banyak juga menerima titipan oleh-oleh kekinian dari banyak UMKM. Ini misal kalian punya produk makanan dan hendak kerjasama jangan sungkan untuk datang dan ngobrol ke Jogja Scrummy, insya Allah akan disambut dengan keramahan dan hasil yang diinginkan.
Sudah ada sekitar 200 produk olahan yang dijual di semua outlet Jogja Scrummy. 

Varian Jogja Scrummy


Total dalam setahun ini sudah ada 11 varian rasa dari Jogja Scrummy. Yaitu Jogja Scrummy Reguler dengan 6 varian yaitu cheese, chocolate, mangga, srikaya, taro dan caramel. Percaya saya sudah mencicipi semua rasa ini. Satu potong cukup mengenyangkan bagi saya.

Bulan Maret tahun ini Jogja Scrummy kembali mengeluarkan produk premium dengan bahan utamanya adalah wortel.
Kenapa wortel? Konon ini sebagai salah satu bentuk apresiasi Jogja Scrummy pada para petani wortel di sekitaran lereng gunung Merapi. Semakin menguat kan bahwa Jogja Scrummy peduli dan selalu mendukung pihak pihak yang ingin maju dan bekerjasama.

Inilah lima varian premium carrot cake; frozting cheese, caramel, peanut, cheese dan chocolate.
Jangan tanya saya bagaimana rasanya karena jujur saya baru merasakan yang peanut dan chocolate. Untuk dua rasa itu saya suka terutama yang chocolate. Harga perkotaknya 65.000 dan itu penuh banget. Gak kopongan. Cocok buat oleh oleh atau cemilan selama perjalanan panjang. Aslik kenyang. Agak gak mungkin kalau habis dimakan sendirian.

Jogja Scrummy dan Kesehatan


Jogja Scrummy diolah dari bahan-bahan sehat. Tidak menggunakan bahan pengawet. Hati-hati kalau beli Jogja Scrummy tapi kok bisa awet sampai sebulan, perlu dipertanyakan itu asli Jogja Scrummy atau hanya tipu-tipu. Pastikan beli di outlet yang asli.
Selain itu semua bahannya juga halal, Thoyib serta bernilai gizi tinggi.
Tepung yang digunakan menggunakan tepung kentang yang sudah mendapat pengakuan sebagai tepung non gluten yang baik dikonsumsi oleh orang-orang yang punya masalah dengan pencernaan.

Bagi yang pertama kali makan Jogja Scrummy mungkin akan merasa aneh. Tapi tidak dengan saya, saya enak enak aja dan enggak nolak kalau sering sering ada yang kirimin roti satu ini.