catatan mini

Kuota, Filsafat dan Hukum

1/05/2022 11:00:00 pm Mini GK 0 Comments

5 Januari 2022

Apa yang sebaiknya saya ceritakan hari ini? Dua kucing yang baru jadi penghuni atau tentang emaknya Akbar yang beberapa hari lalu suntik kawin? Akbar itu nama sapi, omong-omong. Tapi masak cerita sapi. Macam gak ada cerita lain saja. Ini sudah Januari hari kelima lho. Apa cerita tentang kebutuhan hampir semua orang, yaitu kuota.



Baiklah, mending cerita random sajalah. Tapi untuk kucing dan sapinya pending dulu. Random kali ini masih berhubungan dengan kampus, dosen dan komunikasi. Sepertinya sudah saatnya makin banyak terbuka tentang perkuliahan. Biar besok-besok gak perlu press release kalau lulus dan siapa tahu jadi jaksa. Aamiin. Calon jaksa kehabisan kuota. Menarik juga.

Hukum Keluarga Islam Bahagia

Seperti yang sudah teman-teman tahu, saya secara sadar masuk ke kelas prodi Hukum Keluarga Islam. Di kelas mah asyik-asyik saja. Enggak pernah merasa yang tertekan atau gimana. Paling cuma beberapa kali saja meledak saking keselnya. Waks, meledak kok tiap semester.

Sebenarnya saya bukan orang cekatan, tapi ternyata teman-teman percaya kalau saya bisa jadi jembatan penghubung dengan dosen. Dosen juga berpikiran demikian (mungkin). Jadilah tiap ada something orang yang pertama dapat kabar ya saya. Baru setelahnya forward ke teman atau sebaliknya ke dosen.

Awal-awal dulu semuanya lancar. Sebelum ponsel butut saya ini ngambek. Bulan-bulan akhir di 2021 kemarin ponsel sudah mulai gak waras. Bisa terima pesan tapi gak bisa kirim pesan. Kalau ada telpon masuk, berdering doang tapi gak ada keterangan siapa yang telpon dan tombol angkat telpon. Astaga sedih banget lho. Makin sedih ternyata tiap habis restart ponsel baru ketahuan kalau yang telpon adalah dosen.

Filsafat Hukum Islam

Semester lima ini saya ada mata kuliah filsafat hukum islam. Bayangkan, sudah filsafat, tambah hukum, Islam pula, lengkap pokoknya level beratnya. Filsafat saja sudah membingungkan, apalagi tambah hukum plus Islam. Menikmatinya adalah yang bisa saya lakukan. Termasuk menikmati ponsel yang entah kenapa tidak bisa angkat telpon dosen filsafat hukum Islam tersebut.



Tidak usah sebut nama, pokoknya pak dosen ini keren. Latarbelakang beliau cukup meyakinkan meski saya tidak kenal banget. Pokoknya dari cara beliau bicara pertama kali, saya sudah meyakini bakal ketemu hal seru dan beda. Ternyata benar begitu adanya. Saya suka cara beliau mengajar dan memberi soal-soal. Ya emang metode mengajarnya ceramah tapi ceramahnya itu seringnya sambil macem orang cerita atau curhat gitu. Jadilah kuliah tapi berasa dengar teman ngomong.

Saking semangatnya sering itu waktu begitu cepat. Teman-teman saya senang karena kelasnya cepat selesai. Saya sendiri juga senang kalau kelas cepat tapi berkualitas. Sayangnya kelas filsafat ini kadang santai tapi berat. Agak susah menceritakannya. Teman-temanya sebenarnya sudah familiar, cuma begitu tertuang dalam teori jadi ambyar. Kalau suruh hapalan, emang lemah saya tuh. Pak dosen juga masih terlalu sering mengulang apa yang sudah tersampaikan. Mungkin karena kelasnya cuma kulit luar maka bahasannya itu itu terus.

Beli Kuota Murah dan Angkat Telpon

Hehe, Januari dan saya masih belum bisa beli ponsel baru. Insyaallah kalau uangnya mah sudah ada, maksudnya ada tabungan. Tapi bukan prioritas untuk beli ponsel. Masih sebatas mimpi ada ponsel baru. Semboyan saya kan kalau masih bisa kenapa harus pensiun. Ya meski susah banget kalau ada telpon.



Dosen filsafat hukum Islam ini termasuk yang sering telpon dan enggak keangkat gara-gara ponsel saya mleyot. Jika sudah demikian saya akan kepikiran. Merasa gak enak hati dan buru-buru kirim chat. Takut kalau ada yang bilang kurang sopan.

Saya mengira dengan mengirim chat akan beres. Belum cuint. Dosennya kadang lama balas malah kadang enggak balas sampai berhari-hari. Lalu telpon lagi dan enggak saya angkat lagi. Lalu minta maaf lewat chat lagi lalu gak ada tanggapan lagi. Wuih capek kan jadinya. Makin was-was jangan-jangan saya salah besar.

Tapi begitu besoknya ada balasan, saya langsung bahagia. Itu artinya saya masih bisa jadi komunikator yang baik. Masih bisa jadi jembatan yang bisa tanggap. Dan jelas masih bisa dosen percaya. Sedih lho kalau sampai kehilangan kepercayaan. Maka komunikasi itu penting.

Karena Kuota Saya Ada

Dari kemarin siang, saya kehabisan kuota. Maka jelas mereka yang menghubungi saya akan kesusahan. Begitu tadi siangan dapat kuota, astaga kagetlah tahu kalau pak dosen telpon tapi gak nyambung.

Mulai was-was lagi. Mulai bersalah lagi. Mulai ngechat balik lagi. Sudah Januari hari kelima dan masih gitu terus. Hamdalah tadi dosennya langsung jawab dan terus ada obrolan.

Alhamdulillah ternyata masih bisa jadi jembatan.

Memang ya kuota itu termasuk dalam kebutuhan primer.  Zaman now tanpa kuota duh berasa tinggal di gua. Tapi ada juga ding komentar yang sedikit nyelekit: buat makan aja susah ngapain beli kuota.

Padahal kan kebutuhan orang beda-beda. Siapa yang mengira jika cara beberapa orang untuk dapat makan ya dari postingan sosial media. Kan kuota itu enggak hanya buat stalking atau sakadar hahahihi tapi banyak yang memakainya untuk kebutuhan kerjaan. Saya sendiri demikian. Buat hubungi dosen misalnya. Ehe

You Might Also Like

0 comments: