ageda

Dayamaya Gandeng StartUp Bantu Perekonomian Daerah 3T

12/04/2020 05:00:00 pm Mini GK 7 Comments

 

Bicara startup pasti langsung koneknya ke visual Pak Han dan segala kesuksesan yang dicapainya. Atau justru condong ke Nam Dosan dengan segala jungkir balik dan kisah romansanya yang sedikit ruwet namun susah dienyahkan?

 Ets, tunggu dulu, kali ini saya enggak sedang mau bahas drakor. Tapi ini beneran mau ngomongin tentang startup.

Jadi startup itu apa sih? Mungkin sebaiknya kita cari tahu dulu apa arti startup di sini. Sependek pengatahuan saya tanpa googling, startup itu semacam perusahaan rintisan yang untuk biaya operasionalnya mereka harus mencari suntikan dana atau investor dari sumber lain. Startup itu juga bisa dijalankan oleh para UMKM.

Pasti tahulah kalau Indonesia juga punya startup yang cukup mumpuni. Enggak perlulah saya sebutkan apa dan siapa. Yang sudah terkenal enggak usah dulu deh. Biar kali ini saya mewadahi beberapa startup yang baru-baru dan sedang dalam tahap membantu banyak masyarakat.

Belum lama ini saya tahu kalau pemerintah melalui program Badan Aksesibilitas telekomuniasi dan Informasi (BAKTI) meluncurkan program Dayamaya. Damayama ini merupakan program kominfo yang tujuannya mengajak para pelaku startup ecommerce, komunitas, kelompok masyarakat dan UMKM digital untuk sama-sama bergandengan  membesarkan potensi serta memberi jalan (solusi) pada berbagai persoalan yang ada pada masyarakat di daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal).

Kita tahu kalau daerah 3T di Indonesia perlu banyak sorotan. Tidak hanya dibidang pendidikan, kesehatan, sosial namun juga bidang ekonomi.

Dari 18 startup binaan Damayama sudah ada tiga yang kini berkontribusi dalam masyarakat. Mereka itu adalah Atourin, Cakap dan Jahitin.

atourin damayama
atourin.com


Atourin lebih berfokus kepada sektor pariwisata. Mereka berdiri sebagai perusahaan teknologi yang melayani jasa pariwisata baik online maupun offline. Atourin berkontribusi dengan membuat pelatihan dan sertifikasi bagi pemandu wisata di Natuna. Pada tahun 2019 lalu sudah ada sedikitnya 10 pemandu wisata yang akhirnya memiliki lisensi.

Atourin juga mengajarkan pelatihan membuat tur virtual dengan harapan para pemandu wisata dapat memanfaatkan internet untuk menghadirkan layanan virtual tour kepada wisatawan dalam maupun luar negeri.

cakap damayama
cakap.com

Sementara itu Cakap hadir sebagai platform online pembelajaran bahasa asing bagi warga di  NTT. Mereka hadir dengan tujuan meningkatkan kemampuan penguasaan bahasa masyarakat khususnya bahasa Inggris. Kita semua tahu, NTT merupakan salah satu daerah tujuan wisatawan baik wisatawan lokal mau pun mancanegara. Maka sudah sewajarnya pelatihan bahasa asing digiatkan di sini.

Cakap bersama Damayama telah menyelenggarakan digital assessment di Kabupaten Sabu Raijua dan Kabupaten Sumba Timur, NTT, dengan menggunakan strandarisasi The Common European Framework of Reference for Languages (CEFR). Kegiatan ini dilakukan secara daring diikuti oleh 250 pelajar SMA.

Bahasa Inggris dipilih sebab bahasa Inggris penting untuk mengembangkan sektor waisata. Bahasa asing menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah wisatawan dan kestabilan suatu daerah wisata.

Selain NTT, nantinya Cakap juga akan mengadakan pelatiha untuk daerah yang sudah mendatar melalui akun resmi Cakap. Daerah yang sudah antri untuk ikut pelatihan antara lain diantaranya Kalimantan selatan, Maluku Utara, Sulawesi Utara dan Bangka Belitung.

Nah ada satu lagi startup binaan Damayama yang juga aktif membantu masyarakat, yaitu Jahitin Academy.

jahitin academy
jahitin.com

Dilihat dari namanya saja kita sudah bisa tebak ya kan kira-kira apa ini. Yups betul, Anda menjawab dengan benar. Jahitin acdemy lebih fokus kepada meningkatkan skill para penjahit. Saat ini mereka fokus kepada pembinaan penjahit di provinsi NTT lebih khusus di Sumba Barat dan Sumba Barat aya. Tahu sendirikan dua lokasi ini terkenal banget dengan kain-kainnya nan eksitis. Wajar dan tepat kalau ada perusahaan rintisan di bidang jahit menjahit. Jahitin academy meningkatkan kemampuan SM masyarakat dengan cara memberi workshop pengolahan limbnah kain tenun. Mlewat jJhitin masyarakat diajari cara mengolah limbah tenun menjadi produk yang bernilaui jual.

Jahitin juga ikut mebantu para penjahit agar mudah mendapatkan pasar. Hingga saat ini mereka bisa menembus Dinas Perdagangan.

Selama pandemi ini, Jahitin dengan difasilitisai Bakti dan Kementerian desa dan Peberdayaan daerah Terringgal bisa mengajak para penjahit untuk turut serta dalam menyeleseaikan orderan masker sampai dengan 5000 buah.

Kehadiran startup yang difasilitasi ole pemerintah diharapkan mampu mepercepat pembangunan di daerah 3T. Semoga saja usaha ini tidak pernah sia-sia. Pula masyarakat terbantu dan juga masih tetap bisa menjaga kelestarian alam.

Menurut Kepala devisi Layanan telekomunikasi dan Insformasi untuk Maysarakat, Arie Soegeng Wahyunniarti, kegiatan Damaya BAKTI ini goal utamanya adalah untuk perbaikan dari sisi ekonomi berbasis ekonomi digital.

Sebagai generasi muda yang melek digital, sudah sepatutnya kita bangga dengan perkembangan dunia startup kita. Yang tidak hanya hadir sebagai lahan bisnis tapi juga bertujuan untuk membantu masyarakat. Meningkatkan perekonomian berarti ikut mengentaskan kemiskinan.

7 comments:

gaya hidup sehat

Lemonilo Pilihan Paula Keluarga Bosque

11/24/2020 04:55:00 pm Mini GK 12 Comments

 Lemonilo Pilihan Paula Keluarga Bosque

Lemonilo menjadi satu brand yang tak asing di telinga saya. Bukan hanya karena sering nongol iklannya di televisi tapi juga karena saya konsumsi juga produk dari brand satu ini.

Lemonilo
Lemonilo Pilihan Paula Kiano

Bukan karena tergiur iklan, saya makan mi lemonilo ya memang karena doyan. Mungkin begitu juga dengan Paula Verhoeven dari Keluarga Bosque yang juga pilih lemonilo sebagai santapan makan malamnya.

Siapa sih yang gak kenal Paula Verhoeven? Ya mungkin banyak sih pembaca #minigekacom yang belum kenal. Tapi saya yakin kalau Baim Wong pasti semua kenal. Nah Paula Verhoeven ini istri dari Baim Wong sekaligus ibu dari si gemes Kiano Tiger Wong.

Tadi saya main-main ke YouTube Keluarga Baim Wong dan kepincut sama postingan Paula lagi nyuapin si Kiano. Duh lucu bin gemesin banget deh. Kiano lahap banget makan malamnya. Paula juga terlihat sangat telaten ngurusin buah hatinya. Saya yang lihat jadi ikutan mangap juga berharap ada yang suapin.

Lemonilo Mi Sehat

Mengasuh anak pasti butuh tenaga banyak. Apalagi di video itu tampak Paula sendirian saja jaga Kiano. Gemes banget. Habis kasih makan Kiano, gantian Paula yang lapar. Enggak dilihatin seperti apa estetika dapur mereka tahu-tahu sudah ada sepiring mi lemonilo terhidang di depan Paula.

Baim Wong

"Aku suka makan mi lemonilo karena praktis, enak dan nyaman," begitu kata Paula dalam unggahan YouTube yang saya tonton. Paula tampak sangat menikmati suapan mi lemonilo. Mungkin karena sudah malam jadinya tampak syahdu.

Suka aja lihat artis yang enggak rewel perkara makanan. Ya tau sendiri banyak artis yang menghindari inilah itulah. Gak bisa makan inilah itulah.

Paula bilang juga suka mi lemonilo karena dia tahu mi ini dibuat dengan cara dipanggang bukan digoreng jadi enggak berminyak pula air rebusannya tetap jernih enggak butek atau keruh macam mi instan kebanyakan.

Karena pengolahan mi lewat dipanggang jadi disyaratkan waktu memasaknya lima menit. Sedikit lebih lama dibanding yang lain. Gak masalah sih ya, toh enggak makan waktu lama. Kita tahulah, masak itu enggak selama waktu makannya. 

Masih dari Paula, dia gak masalah beli mi instan yang lebih mahal dikit asal kualitasnya menjamin dan lebih sehat. Ini mah saya banget. Setelah ngerti gimana pentingnya kesehatan dan ngerti gimana cari duit, maka bayar lebih gak apa-apa untuk hasil yang lebih oke dan maksimal. Belinya bisa di minimarket atau ke aplikasi lemonilo ya.

Saya pribadi belakangan sering worry dengan asupan tubuh. Makan apa saja harus dilihat dulu kandungannya. Kesannya ribet tapi emang iya. Enggak masalah sih kalau aku lihat ingredient dulu dan cari tahu sebelum mengkonsumsinya. Rasanya enggak rela kalau sampai melukai diri sendiri. Saya yakin begitu juga dengan Paula, Ricis atau Nagita yang juga akhirnya beralih haluan ke produk lemonilo.

Keluarga Baim Wong
Paula dan Kiano

Sama seperti Paula yang mengidamkan makanan sehat tanpa pengawet dan pewarna buatan, saya pun juga demikian. Mi lemonilo yang pernah saya jumpai yaitu warna kuning dan hijau. Konon warna kuning mi lemonilo berasal dari kunyit. Serta warna hijau dari sari bayam.  Saya enggak doyan bayam, tapi suka kalau sudah jadi mi. Kebetulan dulu juga makannya mi yang dari bahan alami seperti ini.

Berharap nanti lemonilo bakal mengeluarkan produk olahan mi lagi dengan bahan yang lain. Siapa tahu bakal ada varian bit merah atau wortel oranye. Atau malah ungu sari bunga Telang. Kok ngebayangin saja lucu yekan.

Lemonilo Sehat

Balik ke keluarga Bosque rasanya nyaman tinggal dengan keluarga utuh kompak enggak kekurangan makan. Adanya Kiano yang sebentar lagi berusia satu tahun semakin membuat keluarga itu begitu bahagia. Ya ga apa-apa makannya mi lemonilo, yang penting sehat dan bahagia selalu.

Duh jadi ngiler pingin makan mi lemonilo juga gara-gara lihat Mbak Paula makan dengan lahap. Bisa gak sih makannya enggak usah pakai gaya menggoda, kan mupeng jadinya. Untung stok lemonilo masih ada satu kardus.

Yuk kita seduh lemonilo mumpung cuaca mendukung, hujan dan sepiring lemonilo.

12 comments:

Dapur Mini

Ria Ricis Bocorkan Giveaway Lemonilo

10/24/2020 08:30:00 pm Mini GK 17 Comments

Ria Ricis Bocorkan Giveaway Lemonilo

LEMONILO
www.lemonilo.com

Siapa sangka jika youtubers Indonesia sebut saja Ria Ricis blak-blakan membocorkan giveaway dari lemonilo? Saya tengok dari saluran youtube Ria Ricis dikabarkan kalau Lemonilo bakalan kasih giveaway dengan total jutaan rupiah. Mulai dari 400 voucher belanja, 40 smartphone, 4 Iphone, sepeda Brompton yang lagi hits dan hadiah-hadiah lainnya.

Giveaway ini berlaku pada periode 1–31 Oktober 2020. Untuk informasi lebih detail mengenai cara-cara mudah ikut giveaway Lemonilo, langsung saja kunjungi akun Instagram Lemonilo.

Pikir saya, widih banyak banget hadiahnya. Kalau saya dapat misal dapat voucher belanjanya saja udah pasti happy banget dong. Apalagi kalau dapat sepeda mahal, auto seperti Anda berubah jadi sailormoon. Karena kepo maka saya cari info lebih lanjutnya di website resmi lemonilo. Ya biar semakin yakin gitu bakal dapat hadiah, kan lumayan bahagia di masa pandemi ini.

Ria Ricis Lemonilo

#RiaRicisXLemonilo

Saya juga sempat browsing dan nemu postingan teman-teman yang mendukung info adanya giveaway dari lemonilo. Jadi gak sabar dan berharap menang. Ternyata giveaway ini dilakukan dalam rangka anniversary Lemonilo yang keempat. Sudah empat tahun berarti lumayan juga usianya. Secara saya baru kenal Lemonilo mungkin setahun yang lalu. Iya agak telat dikit deh. Sekalinya kenal langsung jatuh cinta susah moveon.

Perkenalan saya dengan Lemonilo kurang lebih mulai terjalin sejak setahun lalu. Awalnya karena ketidaksengajaan gitu. Jadi saya ini sering kelayapan ke rumah teman. Aslinya teman yang maksa untuk ditemani. Bilangnya suntuk sendirian butuh teman. Ya sudahlah saya mampir.

Anak teman senang kalau saya datang. Bocah lima tahun itu akan merengek kalau saya harus balik, jadilah sering menginap. Pas makan gitu, sering bahas mi lemonilo.

"Mah mau makan lemonilo."

"Mah ayo beli lemonilo."

"Mau mi lemonilo."

Dan seabrek rengekan lainnya.

Nah kepolah saya apa itu lemonilo hingga akhirnya ada iklannya di televisi. Klaimnya mi instan sehat. Pantas teman saya tampak enggak masalah anaknya minta mi ini. Secara setahu saya bocah TK itu sejak kecil punya diagnosa yang berakibat tidak boleh konsumsi tepung beras berlebih. Kalau bisa makanannya harus bebas gluten. Eh ternyata lemonilo punya standar yang diharapkan oleh temen saya itu. Tidak heran dia selalu stok lemonilo sebagai ganti mi instan biasa.

Pasti ada yang bergidik masak anak kecil dikasih makan mi instan. Kalau mendengar penuturan dari ownernya, lemonilo punya jaminan kalau produk mi yang dia keluarkan aman dikonsumsi anak-anak bahkan sejak usia satu tahun. Hal ini dijelaskan karena dalam kandungan lemonilo tidak ada bahan pengawet buatan juga bahan-bahan kimia berbahaya lainnya. Klaimnya ini mi sehat yang dibuat dari bahan-bahan alami dengan nutrisi yang sudah standar gizi. Aman dikonsumsi tiap hari. 

Setahu saya artis yang sudah pakai produk lemonilo selain Ria Ricis ada juga Rafi Ahmad dan keluarga The Baldis. 

Sementara itu balik lagi ke youtube Ria Ricis, dia mengaku lemonilo ini cocok banget untuk dia yang lagi diet. Katanya menu lemonilo enggak bikin nyiksa. Dia ngasih tahu beberapa tips diet antara lain jaga pola makan sehat, memilih bahan makanan yang alami, usahakan makanan yang dikonsumsi bebas dari bahan berbahaya. Ya samalah dengan pola makanan sehat yang selama ini saya gandrungi.


Selain mi, yang saya suka dari produk lemonilo adalah jajan dan anek sambalnya. Saya sudah pernah menulis juga kok  tentang betapa sukanya saya sama produk-produk lemonilo. Ya meski harganya memang agak mahalan dikit tapi kualitasnya enggak diragukan.

Kalau dulu saya tahunya lemonilo hanya bisa didapatkan lewat aplikasi atau toko-toko online, ternyata kemarin ada lho chimi ubinya di superindo. Enggak nyangka kalau sudah masuk minimarket ginian. Jadi kalau lagi jalan bisa sekalian jajan.

17 comments:

gaya hidup sehat

Lemonilo Mi Sehat Keluarga Sultan

9/20/2020 11:13:00 am Mini GK 10 Comments

Lemonilo
Lemonilo 


Lemonilo Mi Sehat

Seperti yang kita tahu kini telah hadir produk mi instan yang punya klaim sehat dan bisa dinikmati setiap hari. Namanya adalah mi lemonilo.


Kamu sudah pernah belum nyobain mi ini? Kalau saya jujur saja sudah. Beberapa varian rasa baik yang mi goreng atau mi rebus. Seperti halnya saya, ternyata banyak kalangan artis yang juga sudah konsumsi mi ini. Mendadak saya jadi berasa artis juga.

Keluarga sultan macem Raffi Ahmad merupakan salah satu contoh yang sudah konsumsi mi lemonilo. Dalam akun unggahan youtube RANS terlihat kalau Raffi, Gigi dan Rafatar sedang 'berebut' mi lemonilo.

Rafatar
Keluarga RANS di Chanel YouTube mereka


Hidup Sehat Dimulai dari Isi Piring

Pola hidup sehat antara satu orang dengan yang lain pasti beda. Tidak sedikit orang yang menerapkan diet ketat. Yang lain olahraga giat. Tidak sedikit yang memulainya dengan memperhatikan asupan makanannya.

Mie instan kekinian

Saya bukan pemilih makanan. Tapi saya punya cara sendiri dalam membuat makanan. Isi piring makan selalu diusahakan jauh-jauh dari bahan pengawet atau micin buatan pabrik. Cita rasa untuk memanjakan lidah saya dapat dari bawang merah bawang putih berpadu garam.

Saya pecinta mi. Tapi bukan mi instan. Mamak tidak pernah mengajarkan saya konsumsi mi instan. Beda dengan sepupu yang sejak kecil semacam kecanduan mi instan.

Lemonilo Ramah Anak-anak

Saat tahu ada mi lemonilo saya mencobanya. Bumbunya cocok dengan lidah. Tidak terlalu pekat dan eneg. Mungkin karena bahan bumbunya alami. Tekstur mi beda dengan mi instan kebanyakan. Tidak terlalu benyek dan tidak mudah patah. 


Dari yang saya ketahui, mi Lemonilo boleh dikasihkan ke anak-anak. Pantaslah Rafatar dikasih ini, doyan dan minta lebih. Infonya juga tidak masalah dikonsumsi tiap hari. Tapi tetep kalau saya mah jangan berlebihan. Takutnya bosan.

Seperti halnya mi yang lainnya. Mi lemonilo nikmat disantap dengan tambahan sayuran dan telor. 

Beda Lemonilo dengan mi instan lain

Kalau ngomongin beda atau keunggulannya, sudah jelas mi lemonilo dibuat dari bawan alami. Tanpa bahan pengawet buatan. Warna dari pewarna alami. No MSG jadi aman untuk tubuh. Kandungan gluten yang rendah. Lemak trans nol persen. Serta pembuatan mi tidak melalui proses penggorengan melainkan dipanggang dengan oven. Sehat yekan.

Mie sehat


Kalau penasaran seperti apa perkara gaya hidup sehat yang seru dan asik, kamu bisa main-main ke channel Youtube Lemonilo.

 
Tapi kalau penasaran sama produk-produk Lemonilo dan ingin membelinya yuk gas langsung saja lewat website lemonilo.com atau download aplikasinya di  bit.ly/aplikasilemonilo
Ada banyak promo menarik lho!

10 comments:

Sehat

Cara Mudah Membedakan Obat Herbal Pien Tze Huang Asli dan Palsu

8/13/2020 12:45:00 pm Mini GK 5 Comments

Pien Tze Huang adalah obet herbal dari China yang kaya akan manfaat. Bahkan karena khasiatnya yang begitu banyak, tak heran jika produk obat yang satu ini juga best seller dan diimpor ke berbagai negara, termasuk diantaranya adalah Indonesia.

Obat herbal ini mampu mengatasi berbagai macam gangguan kesehatan. Diantaranya mempercepat penyembuhan luka selepas operasi, mengatasi penyakit liver sampai dengan tipes dan beberapa gangguan kesehatan yang lainnya.

Jika dilihat di pasaran sendiri memang Anda bisa dengan mudah menjumpai obat herbal Tiongkok yang satu ini. Namun adakah jaminan bahwa semua obat yang dijual di pasaran tersebut asli? Tentunya tidak. 

Karena justru faktanya lebih banyak diantara produk yang dijual tersebut sebenarnya adalah obat tiruan, bukan produk yang asli. Untuk itu maka pastikan bahwa Anda berhati-hati di dalam membelinya. 

Berikut ini ada beberapa cara dalam membedakan khasiat Pien Tze Huang yang asli dan juga palsu, yaitu:

1. Keberadaan hologram dari PT Saras Subur Abadi, satu-satunya perusahaan importir yang mendapatkan hak untuk mengedarkan atau menjual obat ini di Indonesia tak lain adalah dari PT Saras Subur Abadi, sehingga untuk produk yang asli memang sudah ada hologram ini, sedangkan yang tidak asli tidak memilikinya.

Obat liver

2. Sudah terdapat nomor izin edar atas produk tersebut yang berasal dari BPOM yaitu POM TI 164 250 351, sedangkan yang tidak menggunakan nomor edar ini bisa jadi adalah produk tiruan.

Pien Tze Huang

3. Pada kemasan produk yang asli juga selalu disertai dengan stiker hologram yang ada di sisi kanan atas kemasan, pada saat mengelupas stikernya ada 16 nomor seri. Nantinya nomor tersebut juga dapat langsung di input ke situs atau website resminya untuk membuktikan keasliannya. Pada setiap nomor ini juga hanya dapat dipakai sekali input saja.

Obat herbal


4. Harga, hati-hati dengan tawaran harga murah, kebanyakan diantara produk palsunya memang dijual dengan harga murah.


Untuk hasil yang benar-benar efektif, maka pastikan hanya menggunakan obat Pien Tze Huang yang asli.

5 comments:

gaya hidup sehat,

Lemonilo Bukan Hanya Mi Instan

8/02/2020 04:50:00 pm Mini GK 7 Comments

Lemonilo Bukan Hanya Mi Instan 


Sudah pada tahu belum merek Lemonilo? Sepertinya sih sudah. Secara iklan di televisi sudah sering nongol. Lantas, apa sih yang kamu tangkap saat dengar kata Lemonilo? Lemon? Atau mi instan?
Agaknya yang kedua lebih mendekati.

Lemonilo Mi Instan

Jika kamu berpikir Lemonilo itu sama dengan mi instan sehat dengan harga yang sedikit lebih mahal dibanding mi instan pada umumnya, tenang, kamu enggak sendirian. Dulu, dulu banget aku juga beranggapan hal yang sama. Sejak pertama lihat iklannya di televisi langsung terkonsep jika lemonilo itu merek mi instan baru.
Tapi apakah beneran demikian adanya?

Ternyata tidak. Semakin aku kenal, semakin paham jika lemonilo itu semacam nama brand. Mi instan adalah salah satu produk yang dihasilkan/ ditawarkan ke konsumen. Sama seperti kamu, dulu aku mikirnya ya 'oalah mi instan', eh ternyata bukan. Kalau mau cek websitenya ternyata banyak banget produk keluaran dari brand ini. Aku yang sedikit kepo malahan sudah kesampaian konsumsi beberapa produk lainnya.

Macam-macam Produk Lemonilo

Awalnya memang tahunya cuma mi instan. Itu pun mi goreng saja. Ternyata enggak, mi rebusnya juga ada. Udah gitu varian rasanya juga beragam enggak cuma satu doang. Aku udah pernah rasain beberapa mi rebus dan goreng. Ada juga olahan keripik ubi, rasa balado dan jagung. Dua-duanya enak menurutku. Karena konsep yang diusung adalah makanan instan tanpa micin, maka keripik yang diberi nama Chimi ubi ini rasanya jauh dari micin. Enggak bikin serak atau ada yang nyangkut di leher.
Keripik Ubi Lemonilo

Cemilan yang lain yang sudah aku cobain adalah brownies crispy. Aku bukan influencer ala-ala jadi enggak mungkin review dengan bilang rasanya bikin mampus. Aku cuma cukup bilang kalau rasa brownies crispy ini cocok di lidah aku. Ada sensasi kriuk waktu beradu dengan gigi. Jadi semacam brownies yang dipanggang jadi kue kering. Aku makan ini saat perjalanan dalam kereta. Enggak penting tapi cukup teringat rasanya.
Brownies crispy


Produk lain yang sempat aku coba adalah kopi. What? Lemonilo produksi kopi? Iya. Iya banget. 
Kaget, ya?
Sama. Waktu aku dikirimi kopi dari brand ini juga sempat kaget. Ya karena taunya mi dan keripik itu tadi. Ternyata ada kopinya. Buat yang doyan banget es kopi susu, ini kopi lumayan bisa buat eksperimen. Aku nyobain juga meski bukan penikmat kopi nomer wahid.
Kopi Lemonilo

Yang suka masak ala-ala di dapur, silakan cobain tepung bumbu ayamnya lemonilo. Aku nyobain dan suka banget. Satu kotak isinya dua bungkus. Bisa buat bumbu apa aja. Lidahku yang suka gorengan ini rajin bikin tahu goreng pakai tepung bumbu ini. Kalau pas mau goreng ayam juga bisa pakai karena ini memang terlahir untuk bumbuin ayam. Aku aja yang gemes ingin selimutin tempe pakai bumbu ajaib ini.

Ada juga bubuk kaldu pelezat alami rasa sapi dan bumbu penyedap segala. Yang ini kadang aku pakai buat bumbu sayur sop. Enak aromanya. Rasa kuahnya juga nendang. Ada kerasa rempahnya. Kalau untuk sambalnya ada Chilita yaitu semacam bubuk cabe yang bisa ditaburkan di makanan. Pecinta pedes pasti suka. Aku yang enggak doyan pedes sering juga pakai bubuk cabe ini buat dimakan dengan nasi anget. Haha, pasti bisa dibayangkan deh sepiring nasi anget ditaburi bubuk cabe. Seperti itu kira-kira rasanya.
Bubuk cabai

Produk yang belum aku coba nih dan masih penasaran adalah minyak goreng yang tampilannya persis seperti air mineral. Kecap juga belum nyobain. Soalnya di sini masih susah kalau nyari di minimarket. Dan memang belanja produk ini masih dilayani secara online di website saja.

Pas ramai covid-19 kemarin, hand sanitizer langka, eh lemonilo bikin gebrakan dong. Produksi hand sanitizer dan dijual dengan harga normal wajar demi membantu banyak orang yang kehabisan stok hand sanitizer gara-gara ada oknum yang panic buying.
Hand sanitizer


Nyawa dari Lemonilo

Seperti yang sudah diduga dan diketahui oleh kamu-kamu, lemonilo adalah brand yang mengusung tema makanan sehat. Anti micin. No MSG. Bahkan mengklaim tanpa pewarna dan pengawet buatan. Jadi warna-warna yang dihasilkan dalam produknya merupakan warna dari alam, dari bahan utama penyusun produknya. Misal mi instan warna hijau, itu dari bayem. Warna kuning, itu dari kunyit.

Kemarin tanggal 28 Juli 2020 kebetulan banget aku kepilih untuk ikut acara press compres yang dilakukan secara daring lewat aplikasi zoom.

Seneng banget dong. Acaranya memang cuma sejam tapi cukuplah buat mengulik banyak hal dibalik dapur lemonilo. Menariknya lagi dalam acara itu jumpa dengan Brand Ambassador dari Lemonilo yaitu The Baldys yang merupakan keluarga dari pasangan Baldy Mulia Putra dan Nola B3. Keluarga artis yang memang sudah konsumsi lemonilo sebagai konsumsi harian.

Tentu saja pas acara ini juga sempat dengerin langsung seperti apa proses brand lemonilo tercipta. Lemonilo bisa dibilang startup dimana proses kelahirannya dibidani oleh tiga orang anak muda Indonesia: Johannes Ardiant
(Chief Product & Technology), Ronald Wijaya (Co-CEO) dan Shinta Nurfauzia (Co-CEO).
Lemonilo

Menurut Pak Ronald, misi utama hadirnya Lemonilo adalah ingin menyehatkan bangsa. Semua orang berhak sehat, salah satunya ya dengan konsumsi makanan-makanan sehat bergizi. Maka produk yang mereka hasilnya selalu menjunjung tinggi nilai sehat. Sehat, praktis dan ramah di kantong seperti yang diutarakan Mbak Shinta menjadi kunci atau nyawa dari produk-produk yang mereka hasilkan.


Dari sini semakin paham dong jika lemonilo bukan hanya mi instan semata. Tapi juga produk-produk lain yang dirancang sebagai alternatif produk sehat. 
gadis anggun



7 comments:

kuliner

Nasi Tumpeng Bunga Telang

7/01/2020 08:35:00 pm Mini GK 13 Comments

Nasi tumpeng siapa sih yang enggak kenal?  Semua orang pasti kenal dengan nasi tumpeng, meski tidak semua orang bisa membuat atau pernah memakannya. Nasi tumpeng biasanya hadir saat ada perayaan. Sebut saja contohnya perayaan ulangtahun.
Nasi Tumpeng Bunga Telang

Nasi tumpeng yang kita kenal biasanya berwarna kuning dan bentuknya menyerupai kerucut. Kering tempe, abon, suwiran ayam dan telur adalah sedikit dari teman pelengkap nasi tumpeng. Kalau mau ditelusuri lebih jauh tentu hal-hal ini mempunyai makna filosofi tersendiri. Bahkan zaman dulu enggak sembarangan orang bisa membuat nasi tumpeng.

Saya, makan nasi tumpeng sering. Membuatnya baru-baru saja. Baru dalam tahap belajar. Nasi tumpeng warna kuning jadi favorit, setidaknya sampai akhir tahun lalu. Saya yang sejak kecil belum pernah merayakan ulangtahun dengan nasi tumpeng, tiba-tiba ingin. Rasanya ada kepuasan tersendiri bisa membuat nasi tumpeng yang layak makan.
Meski belum bagus banget tapi cukup puas saat masak nasi tumpeng bisa dinikmati oleh seluruh keluarga.
Berharap kapan-kapan bisa deh bagi-bagi ke banyak orang.
Nasi kuning

Buat nasi tumpeng tidak ribet kok. Setidaknya bagi saya yang hobi 'terpaksa' mengurangi takaran dan juga banyak bahan. Kalau mengikuti resep yang ada di Cookpad atau di situs-situs resep masak bakal kewalahan. Maka diakali aja dengan bahan yang mudah terjangkau dan cocok di lidah.
Ya karena enggak semua bahan masakan bisa berdamai dengan lidah saya.

Lengkuas, serai, salam, santan, kunyit, garam adalah bahan yang tidak bisa dipisahkan dari nasi tumpeng kuning. Berkali-kali saya buat dengan bahan-bahan sederhana ini dan hasilnya tidak mengecewakan.
Belakangan setelah ketemu bunga Telang saya mulai mencoba mengganti warna kuning ke biru. Ceritanya pas lagi main ke rumah teman dan dapat bunga ini cuma-cuma. Jadilah ide masak nasi tumpeng biru.
Bunga Telang

Bunga Telang bukan hal baru dalam khazanah kuliner ala Mini GK. Sudah terlalu sering saya berhadapan dengan bunga penghasil warna ungu ke biru ini. Omong-omong, warna bunga ini sempat jadi perdebatan beberapa teman: antara ungu dan biru.

Mengolah bunga Telang menjadi pewarna untuk nasi tumpeng tidaklah sulit. Masalahnya kemarin saya perdana masak sendiri dan sok-sokan tidak baca resep. Semua bahan termasuk bunga Telang asal cemplung cemplung saja ke wadah. Iya gak apa-apa sih, nasinya tetap jadi biru. Cuma birunya memang kurang nampol. Jadi curiga antara saya yang salah masukin bunga atau kurang banyak bunganya.

Setelah saya cek di resep, ternyata saya kebanyakan gaya. Harusnya bunganya diekstrak dulu dengan direndam dalam air panas untuk mendapat warna biru. Baru setelahnya itu air dipakai buat masak nasi. Walah, tiwas sudah terlanjur mateng.

Meski warnanya enggak terlalu nampol namun rasanya cukup untuk lidah saya.
Bapak yang seumur umur belum pernah ngerti apa itu nasi biru atau nasi bunga Telang, bertanya-tanya apakah itu nasi beli atau buat sendiri.
Saya ketawa. Saat masak tadi kebetulan bapak lagi pergi jadi enggak paham dan tahu-tahu sudah ada nasi tumpeng warna biru di meja.

Nasi biru bunga telang agaknya bisa jadi alternatif untuk yang kebetulan bosen dengan nasi kuning. Bisa juga untuk kreasi agar anak yang enggak doyan nasi bisa punya gambaran lain tentang nasi biru.

Buat yang ingin praktik mencoba masak nasi tumpeng, lekas eksekusi. Jangan takut salah. Yang penting Mateng enak dimakan. Percobaan pertama mungkin kurang memuaskan, namun dengan demikian jadi semangat untuk terus nyoba dan keterusan.

13 comments:

perjalanan

Apa Kabar Covid-19?

5/12/2020 11:40:00 pm Mini GK 8 Comments

Covid-19 Karantina Mandiri

Apa kabar Covid-19 di daerahmu?

Agaknya semakin mengkhawatirkan tapi orang-orang sudah mulai cuek. Benarkah demikian?
Banyak ternyata yang masih belum paham tentang virus ini. Sebagian paham namun berusaha 'santai' saja. Tidak sedikit yang cuek dan menganggapnya bukan persoalan serius.

Padahal di media massa, sebut koran dan televisi, saban hari tidak hentinya mengabarkan tentang Corona Virus. Memang kadang cuek itu perlu, tapi ya jangan bodoh. Harus bisa memilih mana yang harusnya memang dikonsumsi dan mana yang harusnya dijauhi.

Berita positif corona dari klaster Indogrosir menurut saya perlu disimak, terutama mereka yang selama ini sering belanja di tempat ini. Sama juga dengan klaster pabrik Sampoerna. Bukan untuk menakuti tapi waspada itu penting. Mengingat covid-19 ini penyebarannya sangat cepat pula banyak yang tidak terdeteksi alias orang tanpa gejala.

Apa kabar Covid-19 di daerahmu? 

Apakah orang-orang masih sering kumpul-kumpul? Masih sering nongkrong atau gosip gak jelas sambil ngemil di warung kopi? Atau justru ramai-ramai menghadiri penutupan sebuah tempat makan?

Ini sungguh-sungguh kebodohan yang kelewat manja. Ketika banyak orang bahkan berminggu-minggu tidak keluar rumah demi menjaga diri dan orang lain, sementara banyak kaum entah yang mendadak milih berhamburan keluar rumah demi mengenang masa lalu, katanya. Berjumpelan, berdesakan, saling senggol demi bisa say goodbye dengan tempat nongkrong yang katanya legendaris.

Ingin komen panjang, tapi saya kehabisan kata-kata. Agaknya percuma saja berkomentar. Lebih baik berdoa sajalah semoga semuanya terkendali dan aman. Walau diyakini banyak orang pasti ada satu dua bibit covid-19 di antara kerumunan tersebut.

Apa kabar Covid-19 di tempatmu?

Pagi tadi, setelah sekian tahun juta cahaya purnama akhirnya saya memberanikan tepatnya memaksa diri untuk keluar rumah. Biasanya saya hanya pergi ke sawah untuk antar jemput mamak. Tapi kegiatan ini sudah tidak rutin lagi sejak puasa. Agenda ke pasar nyaris sudah terhenti sejak dua bulan lalu karena isu covid-19. Padahal saya sangat senang lama-lama belanja di pasar.

Pagi ini ekspektasi saya sekonyong-konyong lumer. Jauh dari bayangan. Sejak keluar dari jalan kampung, saya langsung dihadang dengan jalan raya yang padat, hampir mirip awal tahun lalu. Bahkan untuk belok saja saya harus nunggu sedikit lama agar sepi.
Di jalan aktivitas juga lumayan padat, lebih-lebih ada acara perbaikan aspal jalan. Seperti jelang lebaran tahun sebelumnya. Jalanan macet bahkan ada sistem buka tutup.

Saya yang tadinya mau muter jalan sebentar, akhirnya hanya seperlunya saja. Tidak jadi keliling daripada kena asap dan lain-lain. Begitu juga saat lewat depan ATM. Niatnya ingin cek saldo (iya cek saldo aja bukan tarik tunai) ternyata antrean panjang. Saya urung menepi dan melanjutkan jalan.

Apa kabar Covid-19 di sekitar rumahmu?

Karena mamak juga mulai takut dengan covid-19 maka beliau juga jarang pergi jauh. Bahkan sudah rajin pakai masker padahal ngakunya gak enak kalau mulut hidung dibekap. Emang iya, jawab saya.
Karena mamak jarang pergi pergi jauh maka urusan belanja kebutuhan rumah saya yang pegang. Dan karena hari ini keluar rumah maka diputuskan sekalian belanja.

Lantas kagetlah saya. Ternyata pusat belanja grosiran yang dekat rumah mulai ramai. Mungkin efek jelang lebaran, orang-orang banyak belanja biskuit dan sirup juga minyak. Saya kira acara belanja lebaran juga memudar garagara covid-19, ternyata tidak.
Saya yang tadinya mau beli bahan-bahan kue belok cuma beli sirup dan kue kering. Dua itu yang bisa saya jangkau dengan cepat. Saya masih worry kalau harus berdesakan dengan pembeli lain. Memang tidak saling bersentuhan tapi tetap saja saya masih galauan.

Apa kabar Covid-19?

Sampai rumah saya kepikiran, kalau semua orang masih egois dan keluar rumah, kira-kira sampai kapan covid-19 akan bertahan di muka bumi ini? Rasanya seperti tidak adil. Kita yang berusaha terus menjaga diri sampai jenuh di rumah seolah dipecundangi oleh mereka yang santai keluar rumah setiap saat.

Mau mengadu pun bingung mengadu kepada siapa. PSBB saja banyak dilanggar. Aturan-aturan yang ditetapkan juga seolah tidak jelas sanksinya. Jadi banyak yang mengabaikan. Belum lagi kebijakan tidak boleh pulang kampung atau mudik tapi mendadak bus AKAP dipersilakan lewat lagi bahkan bandara mulai dibuka kembali. Hmmm sungguh ini membingungkan kalau tidak mau dibilang kurang tegas.

Kenapa masih banyak orang tidak peduli? 

8 comments:

Film

Wregas Bhanuteja Sutradara Muda Indonesia

5/09/2020 08:40:00 pm Mini GK 9 Comments

Wregas Bhanuteja

 Wregas tidak menyangka ‘hanya’ bermodal tiga puluh lima ribu rupiah mampu menghantarkan film garapannya masuk Berlin International Film Festival.

Nama Wregas Bhanuteja sudah lama dikenal oleh sineas tanah air. Semakin bersinar dan dikenal oleh kalangan luas setelah film garapannya berjudul Prenjak menang di Cannes Film Festival sebagai film terpendek terbaik 2016.
Wregas Prenjak

Sebelum Prenjak, pria kelahiran Jakarta 20 Oktober 1992 ini telah menggarap beberapa film lainnya antar lain Senyawa, Lemantun, Lembusura, The Floating Chopian. Selain sebagai sutradara, Wregas juga seringkali bertindak sebagai penulis naskah.

Fakta Tentang Wregas yang perlu diketahui
Sebelum hijrah ke Jakarta untuk menuntut ilmu di IKJ, pria gondrong ini sekolah di SMA Debrito. Kecintaannya pada dunia film sudah tercium sejak dirinya masih duduk di bangku SMP. Tidak banyak orang yang tahu bahwa di SMP dulu ia pernah membuat film bersama teman-temannya dan ia menjadi aktor. Filmnya kala itu bercerita tentang bendahara kelas yang korupsi. Namun ternyata menjadi aktor tidak semenarik saat dia mencoba jadi sutradara.

Sejak itu dia menasbihkan diri harus bisa mengejar cita-citanya menjadi sutradara.
Wregas mengaku bahwa ia adalah angkatan terakhir IKJ yang sempat mencicipi
Film Lembusuru yang menghantarkan dirinya ke Berlin International Film Festival total hanya menghabiskan modal Rp 35.000,00.

“Film ini termasuk salah satu film esperimental. Alias coba-coba. Saat itu Jogja sempat mandi hujan abu dari Gunung Kelud. Tidak ada aktivitas luar yang bisa dijalankan. Dari dalam rumah saya mencoba mengambil video hujan abu dari balik jendala. Lalu saya berpikir bagaimana kalau video yang saya dapat diolah menjadi film. Maka saya punya ide untuk menjadikan teman saya sebagai Lembusuro tokoh penjaga gunung sedang menari. Maka jadilah film Lembusuru. Saya hanya mengeluarkan modal tiga puluh lima ripu rupiah untuk membeli topeng yang digunakan Lembusuro untuk menari. Hasilnya? Saya tidak menyangka bakal sampai ke Berlin. Ya meski saat itu belum menjadi pemenang.” 

Fakta-fakta itu diungkap Wregas dalam sebuah workshop kecil baru-baru ini di sebuah mal di Yogyakarta.

Memulai karir dari Asisten Sutradara

“Jika dulu AADC 1 saya dilarang melihat filmnya karena ada adegan ciumannya, maka kini saat AADC 2 digarap, saya justru terlibat di dalamnya bersama Mbak Cinta. Saya dipercaya untuk menggarap behind scene film tersebut.”

Fakta ini disampaikan Wregas dengan diselingi tawa khasnya.

Sejak masa kuliah pria penyuka warna hitam ini memang sudah sering terlibat dalam pembuatan film-film besar sebagai asisten sutradara. Ia pernah magang dengan Miles milik Riri Reza dan Mira Lesmana. Tercatat ada Athirah, Sakola Rimba, Nyanyian Musim Hujan, dll.

“Saya pernah jadi asisten sutradara 3. Itu berarti saya bukan terlibat dengan tokoh utama. Misal di Sakola Rimba saya tidak terlibat dengan Prisa Nasution melainkan sayalah orang yang mengarahkan tokoh-tokoh dari suku anak dalam itu. Bayangkan saja, mereka itu tidak kenal akting sebelumnnya. Membaca menulis saja susah. Tapi itulah menyenangkannya dunia saya.”

Ada sebuah pesan pendek dari Wregas untuk para filmmaker muda tanah air yaitu carilah aktor sesuai dengan karakter tokoh yang ingin kalian ceritakan, tidak perlu membuat orang lain jadi tokoh yang kamu inginkan.

Penghargaan Yang Pernah diterima

Lemantun
Film pendek terbaik, XXI Short Film Festival 2015
Film Pendek Terbaik, Apresiasi Film Indonesia 2015
Film Pendek Terbaik Piala Maya 2015
Prenjak
Leice Cine Discovery Prize, Best Short Film, 55th Semaine de la Critique, Cannes Film Festival 2016
Cinema Nova Awards, Best Short Film, Melbourne International Film Festival 2016
Piala Citra, FFI 2016
Silver screen awards, Singapore International Film Festival 2016
Best Short Film, Prague Short Film Festival 2016

The Floating Chopin masuk kompetisi dalam 40th Hong Kong International Film Festival 2016

“Dari sekian banyak penghargaan, yang paling membuat saya terharu lebih dari segalanya adalah saat Prenjak mendapat Piala Citra. Itu artinya saya sudah diterima di rumah sendiri,” aku Wregas sambil menahan haru.


Cita-cita Wregas yang tidak banyak orang tahu
Saat ini Wregas sedang mempersiapkan film panjang pertamanya. Film yang akan diproduseri oleh Miles. Sampai saat ini masih dalam proses persiapan. Diperkirakan tahun depan baru masuk proses shooting.

Seorang film maker tetap harus punya idealisme. Namun bagi Wregas tidak selamanya seorang film maker seperti itu. Ia membagi-bagi dalam beberapa porsi; ada film yang memang untuk pekerjaan artinya menghasilkan dan ada pula film yang untuk memuaskan diri alias benar-benar untuk bekarya.

“Mungkin nanti saya akan membuka warung kopi saja untuk mencari uang. Dan jadi dosen, itu cita-cita saya.”

Ada yang ngefans berat dengan Wregas Bhanuteja? Mungkin kamu bisa mendaftar jadi mahasiswanya atau jika tidak memungkinkan bisa juga ngopi di warung kopinya. (Min)


*sebenarnya ini catatan saya beberapa tahun kemarin waktu diberi kesempatan mengikuti acara keren bareng Sutradara Muda Indonesia ini setelah tayang AADC2

9 comments:

cerpen,

Cerpen: Dua Tiga Dan Keadailan

5/08/2020 08:42:00 pm Mini GK 4 Comments


Cerpen ini pernah tayang di tabloid ROSE HONG KONG dan sampai hari ini honornya enggak cair. Ehe
Cerita Poligami

Dua Tiga Dan Keadilan 

Oleh : Mieny Angel

Aku diam di depan pintu ruang perawatan. Aku masih ragu untuk masuk. Di dalam terbaring istriku yang tengah istirahat sejak seminggu yang lalu melahirkan. Bukan aku tak sayang istriku, aku takut untuk melangkah karena aku masih terngiang ucapannya beberapa hari yang lalu.

Tepatnya tiga hari yang lalu setelah dia dipindahkan ke ruang perawatan ini. Aku masih ingat dengan jelas.

“Uda, nikahilah Yuyun. Dia sangat sayang pada anak-anak kita. Dia juga yang rela memberikan ASInya untuk anak kita yang baru lahir. Kasihan dia. Karena musibah itu dia harus  
kehilangan suami dan anaknya. Ayolah Uda, menikahlah dengannya. Demi anak kita juga.”

“Sudahlah Diak, jangan kau paksa aku.” 
Aku tak pernah menyangka, istriku yang baru keluar dari ICU meminta hal yang seperti ini padaku. Semuanya terlalu cepat, bahkan semuanya tidak pernah ada dalam otak atau  
imajinasiku. 

“Diak gak memaksa. Mungkin karena Uda belum sayang sama Yuyun jadi semua terasa berat.” Ucapnya yakin.

“Percayalah Uda, suatu hari nanti sayang itu akan tumbuh dengan sendirinya.”

Galau. Aku kacau dengan permintaan Haisah, istriku. Dengan tiba-tiba dia memintaku untuk menikahi pengasuh anak kami. Aku tidak bisa, aku bingung. Tak pernah Haisah meminta sesuatu, sekali meminta ternyata permintaannya jauh dari bayanganku. Dia memintaku menikah lagi.

Alasan yang dia lontarkan lantaran dia sakit. Menurut dokter kanker. Tapi menurutku itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk memintaku menikah lagi. 

Semuanya seakan dalam sebuah sinetron di televise. Istri untuk suamiku.

Percakapan tiga hari yang lalu benar-benar menguras tenagaku. Dan kini, apa yang harus aku katakana jika aku berada di ruangan bersama istri, anak juga Yuyun.

“Masuklah Uda, jangan di balik pintu saja.” 
Ternyata dia melihatku sedari tadi termenung di depan pintu.

Dengan langkah berat, aku masuk ke ruangan. Di ranjang istriku berbaring. Sementara di pojok ruangan, Yuyun tengah menggendong anak kedua kami yang masih berumur seminggu. Masih bayi merah.

“Uda…” suaranya menggantung. 
“Tuhan, ku mohon semoga dia tidak membahas masalah kesedianku untuk menikahi Yuyun.” Batinku. 
“Uda sudah pikirkan semuanya? Permintaan Adiak tidak beratkan Uda?” ucapnya lirih. 
Benar. Ternyata dia masih memikirkan permintaannya. Aku harus menjawab apa untuk semua ini. Aku tak mau menyakiti hati siapa pun.

“Diak…” aku bingung. 
“Tidak Uda. Menikahlah dengan Yuyun.” Ucapnya lagi sembari menatapku dan Yuyun bergantian. Dan yang lebih mengagetkan lagi, dia melepas cincin di jarinya menyerahkannya padaku dengan anggukan kepalanya. 
Aku terpukul.

“Diak tetap cinta pada Uda. Tapi mungkin waktu Diak tak lama lagi. Anak kita butuh seorang ibu. Yuyun juga tak akan keberatan menjadi ibu untuk anak kita, dia telah menjadi ibu yang baik. Air susu Yuyun telah menggantikan air susuku yang haram. Aku sakit Uda. Ayolah, kabulkan permintaan Diak."

Air mata mulai mengalir dari mata indahnya. Aku bingung dengan semua ini. Apa aku harus menikahi Yuyun? Aku belum sanggup. Dua istri saja aku tak sanggup adil, apa lagi tiga istri? Aku tak akan mampu adil.

Dulu istri pertamaku menyuruhku menikahi Haisah lantaran dia tak mampu mempunyai anak. Kini Haisah menyuruhku menikahi Yuyun karena sakit yang dideritanya.

Ya Allah, kenapa semua ini terlalu rumit? Aku belum bisa adil pada istriku Ya Allah. Apa aku harus mengabulkan permintaan istriku? Haisah terus memohon sedang Yuyun hanya menunduk. Tubuhku lemas, jujur aku ingin pingsan tapi kenapa tidak pingsan saja?

Dua dan kini hendak tiga istri. Sesuatu yang tak lagi-lagi tak pernah kuharapkan dalam hidupku ini. Entah mengapa sejak aku menikah hidupku penuh dengan likuan cobaan. Kalau boleh aku ingin hanya memiliki satu orang istri. Namun ternyata Tuhan berkata lain, aku harus  
berbagi perhatian dengan istri keduaku. Aku tak pernah tahu apa rencana Tuhan dengan skenario hidupku ini.

Kata seorang ustad, Poligami itu diperbolehkan asal kita mampu untuk berbuat adil. Dan poligami itu ada tuntunannya tersendiri. Aku masih terlalu kerdil untuk memaknai semuanya. 

Tidakkah ini sebuah cara Tuhan untuk menegurku?  
Dalam kegalauan yang teramat tiba-tiba pintu terbuka. Seorang wanita yang sudah kukenal terlihat senyum manis menghampiri ranjang.

“Assalamualaikum.” Ucapnya semangat. 
“Waalaikumsalam.” Jawab semua penghuni ruangan. 
“Uni Khatimah.” Sambut Haisah tak kalah semangatnya. 


Kini lengkap sudah. Dua orang istri di depan mataku dan satu calon istri yang belum aku kasih kepastian.

Wanita di hadapanku adalah wanita yang sama-sama aku sayangin juga wanita yang tangguh. Keduanya banyak mengajariku tentang hidup. Keduanya juga yang menyuruhku secara tak langsung untuk berbuat adil.

Keduanya tidak pernah bertengkar, sekalipun keduanya adalah istri pertama dan keduaku.

“Uda, Khatimah tahu. Sekarang semua terserah Uda. Haisah juga aku sudah memikirkan semuanya. Kalau pun Yuyun satu atap dengan kita, tidak masalah Uda.” Ucap Khatimah tegas.

Tubuhku benar-benar lemas. Mampukah aku berbuat adil untuk semua ini? Iman ini masih terlalu kecil Ya Allah. 


Dua dan kini tiga. Aku pandang wajah mereka satu persatu. Berat rasanya untuk mengatakan sanggup.

**** 
Wonosari, April 19.2011 
Keadilan itu diperlukan dalam sebuah rumah tangga 
Jadilah seorang imam yang benar-benar menjadi nahkoda dalam kapal yang kau bawa



*Catatan: cerita ini di-posting tanpa editan. Jika ada typo dan salah tanda baca, memang seperti itu awal saya menulis dulu.

4 comments:

book,

Balon Gas, Novel dan Catatan Pendek

5/07/2020 10:30:00 pm Mini GK 6 Comments

Balon Gas 

Belum lama ini saya dapat sebuah nasehat dari kawan yang pernah study di Cairo. Nasehatnya sih simpel, tapi efeknya berimbas ke hati. 

“Jangan bangga menjadi balon gas. Ia mungkin bisa terbang tinggi dan tinggi. Tapi sesungguhnya di dalamnya hanyalah kosong. Jika gasnya habis, maka hancurlah balon tersebut.”

Simpel. Balon gas.

Saya sedikit tersentak seperti ditusuk peniti tajam. Ungkapan ‘jangan seperti balon gas’ tak ubahnya kata lain dari ‘jangan sombong’. Boleh jadi kita sekarang sedang di atas, namun kita tidak sadar bahwa itu semua berkat sesuatu, dan sesuatu itu kelak akan ada masa kadaluarsanya.
Novel Romantis


Minggu pertama di ramadhan ini saya mendapat undangan mengisi acara di sebuah butik yang juga merupakan galeri seni. Awalnya bingung juga mau ngisi dengan materi apa. Berbicara di depan banyak orang memang sudah menjadi hobi saya. Bukan sesuatu yang melelahkan justru menyenangkan. Namun untuk menemukan materi baru agar orang yang mendengarkannya tidak bosan kadang tidak mudah. Hal ini membuat saya harus berpikir ekstra.

Kalau Anda pikir saya seorang komika maka jawabannya salah. Saya bukan komika melainkan hanyalah seorang yang kebetulan sangat menggilai dunia tulis menulis dan akhirnya berhasil menerbitkan novel dan kebetulan yang sangat manis berkat hal tersebut ada saja komunitas atau perorangan yang meminta saya untuk mengisi kelas yang mereka buat.

Begitu Tirana House—nama butik dan galeri seni—mengontak saya untuk tampil ditempatnya, saya langsung mengatur strategi. Mulai saya pikirkan apa yang harus saya bawakan di hadapan hadirin yang nanti datang. Lalu tercetuslah ide untuk membuat acara dengan tema #ngaBUKUrit, merupakan perpaduan dari ngabuburit ditemani buku.

Novel dan Catatan Pendek


Kebetulan banget beberapa bulan sebelum ramadhan, novel saya yang berjudul ‘Pameran Patah Hati’ terbit. Rasanya kok menarik kalau sambil ngisi waktu menjelang buka puasa diadakan bedah novel sekalian pembacaan beberapa halaman dari novel tersebut.

Ide itu langsung saya utarakan ke pemilik Tirana House dan langsung disetujui.

“Ilmu dibagi tidak akan habis justru akan semakin bertambah.” 

Kesempatan ini saya pakai untuk membagikan pengalaman dan sedikit ilmu yang saya dapat dari dunia kepenulisan. Seperti kata kawan saya tadi, jangan hanya jadi balon gas. Lewat acara #ngaBUKUrit tersebut teman-teman yang hadir diperbolehkan bertanya apa saja yang ingin mereka tahu tentang dunia kepenulisan dan saya kebagian jatah untuk menjawab semampu saya.
Cerita Pendek

Dengan dibantu pihak penerbit saya juga bisa berbagi novel gratis kepada teman-teman yang datang. Itu semua untuk menghargai mereka yang sudah bersedia meluangkan waktu dan tenaga, karena ternyata hadirin tidak hanya dari Jogja (tempat acara berlangsung) tapi juga ada yang dari Surabaya dan Malang.

Karena waktu #ngaBUKUrit hanya pendek, bahkan pendek sekali, rasanya saya belum puas. Lebih-lebih karena agenda pembacaan karya hanya dapat beberapa halaman saja.

Saya berharap ramadhan mendatang atau kesempatan lain (waktu diluar ramadhan) masih ada yang mengundang saya untuk membuat acara serupa ini. Semakin sering bertemu banyak orang maka akan semakin banyak ilmu baru yang didapat. Sehingga saya tidak akan berakhir hanya jadi serupa balon gas kehabisan gas. [MIN

*Catatan pendek 2015

6 comments:

cookies,

Kue Kacang Lebaran

5/06/2020 08:15:00 pm Mini GK 1 Comments

Kue Kacang Lebaran

Kue kacang lebaran masuk dalam list makanan favorit saya. Kue kacang lebaran rasa-rasanya agak lain dibanding kue kacang pada hari biasanya. Entah benar demikian atau hanya sisi baper saya saja yang menganggapnya demikian.
Kue Kacang
Meski pun kue kacang adalah panganan kesukaan namun sudah dipastikan tiap lebaran kue ini tidak pernah hadir di meja tamu rumah. Tidak hadir di meja tamu bukan berarti hadir di meja makan. Tepatnya dia nihil, tak pernah hadir. Keluarga saya tidak pernah membeli kue ini. Meski jelas saya sangat menyukainya. Saya pun tidak juga beli karena biasanya lebaran sudah dipakai untuk beli jenis panganan yang lain. Yang awet dan pantas untuk dihidangkan di meja tamu. Padahal aslinya lebaran gak pakai pajangan kan bisa. Namun lagi-lagi ini tradisi, wajar dibudayakan.

Balik lagi ke kue kacang. Ia nyata beda dengan nastar kastengel atau putri salju yang rajin hadir melalui perantara bingkisan. Agaknya kue kacang kurang familiar dibuat sebagai parcel. Pamornya kalah telak dengan nastar. Padahal rasanya sama enaknya, bikin seret juga.

Setiap lebaran, saya seolah niat silaturahim bareng berburu kue kacang. Tidak banyak tetangga atau saudara yang memajang panganan ini, agaknya emang kue kacang tidak populer. Untungnya masih ada satu atau dua rumah yang menyediakan kue kacang. Saya senang meski juga kadang malu untuk ambil hanya gara-gara letaknya yang jauh dari posisi duduk.

Kue kacang adalah kebanggaan. Selain kue kacang ada juga lidah kucing dan kue jahe. Ini adalah kue-kue kering yang selalu membuat saya meleleh. Dibanding astor atau nastar, saya lebih memilih kue jadul ini. Hanya saya enggan untuk beli sendiri, kecuali kue jahe. Kue kacang rasanya aneh kalau beli. Lebih aneh lagi saya yang doyan tapi malas beli. Untungnya kalau sedang gabut justru mau membuatnya.

Kue Kacang tanpa oven

Belum lama ini saya untuk pertama kali dalam sejarah membuat kue kacang. Untuk pemula, hasilnya cukup memuaskan. 7 dari 10. Kalau disuruh mengulang lagi, saya tidak keberatan asal peralatan tempurnya memadai. Setidaknya saya harus punya oven.
Kue Kering

Kue kacang perdana yang saya buat tidak memakai takaran pula memanggangnya tidak pakai oven. Saya gak punya timbangan, gak punya mixer dan gak punya oven. Loyang juga gak punya. Cetakan buat bentuk bintang atau setengah lingkaran atau bentuk lain saya gunakan apa saja yang bisa dipakai. Saya bentuk bulat pakai tutup botol sirup. Ringkas gak pakai ribet dan murah, bentuknya cakep.
Resep Kue Kacang Anti Ribet

Untuk mengakali oven, saya pakai lemper yang dipanaskan di atas tungku kayu. Super ribet tapi memuaskan. Adonan pertama hasilnya gosong tapi masih enak dimakan. Adonan kedua masih agak gosong. Selanjutnya aman secara sudah tahu gimana menjaga api. Api aja aku jagain apalagi hatimu, uhuk.

Enggak pakai capek buat kue kacang. Yang ada bahagia. Bahannya juga simpel dan mudah didapat. Pokoknya tinggal niat dan motivasi aja. Kalau suka masak-masak maka akan mudah membuat kue kacang. Saya yang masak segan makan doyan aja bisa sukses, kamu harusnya bisa juga dong ya.

Kue Kacang  Dapur Mini

Kalau stok kacang di rumah masih banyak, rencana lebaran nanti saya akan buat kue kacang lagi. Bukan untuk jagain tamu yang bakal singgah, kan gak ada acara halal bihalal harus jaga jarak. Kue kacang itu akan jadi stok pangan sampai saya bosan. Enggak tahu kapan bakal bosannya. Sama kek perasaanku ke kamu, gak ada bosan dan limitnya.

1 comments:

Kemanusiaan,

Praktik Social Distancing di Desa

5/05/2020 08:50:00 pm Mini GK 11 Comments


Social Distancing di Desa

Kultur dan kebiasaan masyarakat Indonesia sangat menarik untuk dikaji. Sesuatu yang tidak tepat namun karena sudah biasa dijalankan kadang kala berakhir dengan menemui kata pemakluman.

Belum lama ini pemerintah Indonesia, langsung dari Presiden, memberi himbauan agar masyarakat untuk melakukan social distancing atau dalam bahasa Indonesia lebih tepat dibilang jaga jarak. Pada 15 Maret 2020 Presiden Joko Widodo menginstruksikan agar masyarakat melakukan aktivitas sekolah, beribadah, kuliah dan bekerja dilakukan dari rumah. Pak Presiden juga mengharap agar masyarakat menjauhi kerumunan demi mencegah penyebaran covid-19 yang mengempur Indonesia.

Social distance atau social distancing sendiri merupakan himbauan agar masyarakat menghindari pertemuan besar atau kerumunan orang. Jarak ideal jika berada di sekitar orang lain adalah sekitar dua meter.
Social Distancing

Kemarin saya pergi ke ATM. Sengaja datang sangat pagi demi menghindari kerumunan. Sayangnya di depan ATM sudah ada sedikitnya empat orang mengantre. Karena ingin menaati instruksi pemerintah sekaligus ingin menjaga diri, maka saya memilih antre dengan jarak beberapa lengan (kira-kira hampir dua meter). Jeda sepuluh  menit antrean saya belum berubah. Saya masih menunggu dengan santai dan sangat sabar. Tiba-tiba datanglah orang baru, langsung menempati celah (jarak) yang saya ciptakan dengan orang di depan saya sebelumnya.

Awalnya saya biarkan, saya maklumi meski antrean diserobot. Saya mundur lagi, menciptakan jarak yang hampir sama seperti sebelumnya (hampir dua meter). Eh datang orang baru, kembali lagi menempati celah yang saya buat. Kali ini saya tidak terima dan mengingatkan orang tersebut. Meski dengan muka agak kusut,  orang tersebut mau pindah ke belakang. Sayangnya dia tidak mencoba membuat jarak seperti saya membuat jarak dengan depan saya. Lantas saya kembali maklum dengan berpikir kalau orang di belakang saya itu belum paham konsep social distance.

Praktik Social Distancing 


Masalah sosial distancing sepertinya belum dipahami sepenuhnya oleh banyak kalangan. Utamanya kalangan pedesaan semacam tempat tinggal saya. Saya kaget waktu  melihat berita di televisi tentang cek kesehatan untuk warga Solo yang pernah kontak langsung dengan salah satu korban meninggal positif corona. Cek kesehatannya tidak masalah dan memang dianjurkan. Namun sayangnya prosedurnya belum tepat. Warga itu berkumpul dalam satu tempat dan waktu. Mereka duduk mengantre dengan jarak yang sangat dekat bahkan tampak saling bercakap layaknya sehari-hari. Ini justru mengerikan. Karena tidak tahu apakah mereka sehat atau ada diantara mereka membawa virus. Bisa jadi satu dari mereka pembawa virus meski tanpa gejala. Dan jika benar demikian maka ini sangat mengkhawatirkan.

Menurut New York Times social distancing (jaga jarak) itu berarti masyarakat diharapkan untuk melakukan hal-hal berikut antara lain: menghindari transportasi umum, bekerja dan atau belajar dari rumah, menghindari pertemuan dengan banyak orang (menghindari keramaian), keluar sebentar boleh namun harus dengan kepentingan jelas (misal olahraga atau belanja, cari makan bagi anak kosan), memakai masker. Tujuannya demi meminimalkan peluang penyebaran virus. Tapi bagi masyarakat pedesaan agaknya praktik social distance agaknya sulit diterapkan. Kultur masyarakat desa yang guyup rukun, sopo aruh, penuh sopan santun tidak mengajarkan atau membiasakan untuk saling menjaga jarak dengan orang lain.

Meski social distance tidak dapat mencegah 100% penularan virus corona tapi dengan melakukan langkah sederhana ini, yaitu jaga jarak, maka berarti telah ikut melindungi diri dan orang lain dari penularan virus. Selain itu kita juga harus ingat dan mampraktikkan anjuran sederhana lainnya yaitu untuk sering cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menghindari menyentuh wajah, mulut dan mata.

Tapi harus dipahami juga dalam melakukan social distance haruslah sesuai dengan arahan pihak berwenang. Jangan sampai kena SP dari kantor karena ‘meliburkan diri’ padahal kantor tidak memberikan instruksi untuk ‘libur’. Pula harus selalu pantau info terbaru dari portal terpercaya untuk terus membantu menghentikan penyebaran virus.
*

Penulis:
Mini GK, Mahasiswa Hukum Sekolah Tinggi Agama Islam Yogyakarta, penulis dan Duta Damai

11 comments:

Education,

Online Class Bukan Budaya Kita

5/04/2020 06:15:00 pm Mini GK 7 Comments

Online Online Class Bukan Budaya Kita

Online class itu bukan budaya kita, budaya kita itu masuk kelas rasan-rasan terus gak mempedulikan dosen.
Benarkah demikian?

Saat keluar imbauan dan edaran agar setiap instansi pendidikan melakukan online class dan menutup sementara kelas-kelas tatap muka, sejujurnya saat itu saya sedikit kecewa dan sedih. Kecewa karena sebenarnya kelas tatap muka itu lebih saya butuhkan dibandingkan online. Sedih karena dengan keluarnya edaran itu maka pandemi covid memang sudah dalam tahap mengkhawatirkan.
Online class

Bagaimana saya tidak kecewa. Ini tahun-tahun pertama saya resmi jadi mahasiswa. Lagi on banget istilahnya. Belum lagi masuk kelas cuma weekend meski dihajar dari pukul 08.00 sampai 17.00 WIB non stop. Tapi setidaknya ini menyenangkan. Seperti biasa, saya tipikal orang yang senang ngobrol dan bergaul. Kampus menjadi satu tempat menyenangkan untuk menyalurkan dua hal tersebut. Dosen dan teman yang bisa jadi patner belajar. Ya meski enggak semua teman, bahkan sejujurnya hanya segelintir saja, yang bisa atau sepemahaman dengan cara pikir saya.

Online class itu tidak enak

Saya rasa bukan hanya saya yang beranggapan demikian. Sepupu dan murid-murid sudah mulai kehilangan gaya saat harus benar-benar belajar dari rumah via online. Ternyata bagi mereka anak sekolahan, sekolah tetaplah hal menyenangkan dibanding di rumah tak ada teman.
Kalau saya, tidak suka online class karena banyak tugas dan materi yang disampaikan kurang bisa diserap. Ya bayangin aja, pas masuk kelas itu paling dosen masuk cuma sekian menit saja sesudahnya kelas bubar. Sementara online class, dosen yang biasanya jarang masuk atau justru masuk cuma setengah jam, mendadak jadi sibuk sering memberi tugas setiap jam beliau. Duh, sungguh saya ini belum paham materi dan harus dicambuk dengan tugas. Mana pandemi ini saya gak bisa ke perpustakaan mencari referensi. Duh pokoknya gak enak. Nelangsa.

Saat saya berkeluh kesah ini itu di saat yang sama banyak orang yang enggak bisa akses pendidikan sama sekali. Kalau mengingat ini, mendadak saya merasa kurang bersyukur. Tapi begitu balik ke realita yang dihadapi, kok ya benar-benar memuakkan. Teman-teman yang seenaknya saja saat online class dan malah cenderung hilang. Datang cuma untuk presensi. Sungguh ini membuat muak.
Aplikasi Belajar Online

Online class itu bukan budaya kita, budaya kita itu masuk kelas sebentar habis itu cinlok.

Ya meski untuk kasus ini saya belum pengalaman juga sih. Ya gimana mau cinlok kalau yang diharapkan tidak ada di kelas. Hehe,

Meski begitu, adanya online class mau tidak mau sebagai satu alternatif yang dapat membantu. Lebih baik online class dibanding enggak kelas sama sekali. Meski kendala banyak banget tapi setidaknya itu menjadi pembelajaran agar kelak tidak lagi latah dalam segala situasi.
Mau bagaimana juga saat ini dan kemajuan zaman telah menjadikan budaya online sebagai satu alternatif baru untuk digunakan.

Sejujurnya untuk online-online ini saya sudah akrab meski tidak terlalu terjun di sana. Sejak memutuskan untuk jadi freelance dan berhenti jadi buruh, kegiatan online adalah satu jalan yang saya tempuh untuk mencari sesuap nasi.
Hanya orang-orang 'malas' saja yang akan kerepotan di era ini. Era teknologi dan informasi memang membuat kita dituntut untuk kreatif dan belajar mandiri. Kalau semua semua 'disuapi' maka tidak akan berkembang.

Ini baru awal online class, wajar banyak yang gagap. Bahkan para pengajar pun tampak belum siap. Esok, kita tidak pernah tahu apa yang bakal terjadi.

7 comments:

Pendidikan

Pendidikan Nasional Pendidikan Indonesia

5/03/2020 08:47:00 pm Mini GK 5 Comments


Pendidikan Nasional Pendidikan Indonesia

Setiap membahasa pendidikan, saya selalu susah untuk move-on. Bukan, bukan karena pernah cinlok di SD atau jatuh cinta sama guru, bukan itu.
Hal yang membuat saya tidak bisa untuk menghindar adalah perkara 'jarak'. Aduh ini bukan bahasa LDR, please fokus.

Betapa jarak pendidikan di kota dan desa sangat jauh. Kita sama-sama memahaminya. Belum lagi dengan pulau-pulau terdalam (pelosok), sangat mungkin anak-anak di tempat ini tidak kenal bangku sekolah.
Lalu saya jadi ingat film 'Sakola Rimba'. Kesenjangan pendidikan terpotret dengan gamblang, membuat dada nyeri. Belum lagi 'Laskar Pelangi', meski disajikan dengan nuansa santai dan sedikit jenaka namun sungguh kisah di dalamnya sarat makna. Bagaimana pendidikan itu penting dan wajib diperjuangkan.

Semalam Mas Menteri Nadiem dalam siaran televisi menyatakan kekagetannya tentang Indonesia yang belum semua daerahnya bisa akses listrik. Saya mendadak ingin teriak: selama ini kemana aja, Mas? Rasanya gemes sekali.

Padahal hal ini sudah terlihat nyata. Makanya kemarin waktu ada program belajar dari rumah via gadget, banyak anak-anak negeri yang kesusahan akses. Hal ini disebabkan banyak faktor, tidak hanya akses listrik yang belum merata. Tidak punya gadget dan sinyal internet juga menjadi kendala paling utama.

Bayangkan saja, di zaman ini masih banyak keluarga yang tidak melengkapi diri dengan android. Ini nyata. Kalau pun ada, biasanya milik orangtuanya, bapak atau ibu. Dan sudah barang tentu ponsel pintar tersebut dipakai orang tua untuk berkegiatan. Misalnya yang punya ponsel hanya bapak, sementara bapak pakai ponsel untuk kerja ojek online. Maka sudah dipastikan anak di keluarga itu tidak bisa mengikuti/ mengerjakan tugas tepat waktu.

Pandemi Corona telah benar-benar menyadarkan kita bahwa masih banyak PR bagi dunia pendidikan Indonesia.

Saya jadi ingat cerita dari Sinak. Seorang guru yang berkisah bagaimana anak didiknya yang belum fasih baca tulis padahal sudah jenjang SMP.  Belum cerita lain bagaimana dia harus berjuang di antara teriakan senapan yang kadang meluncur tiba-tiba. Cerita-cerita lainnya sangat menyentuh sekaligus membuat saya bersyukur tinggal di daerah yang akses pendidikan cukup baik.

Cerita lain datang dari Talaud. Semasa pandemi Corona, anak-anak didik tidak lagi mengadakan 'pelajaran' bahkan jarak jauh pun tidak.

"Sekolah libur. Tidak ada kelas online. Sinyal saja sudah."
"Lalu anak-anak belajar apa?" Kejar saya.
"Apa saja yang mereka dapatkan dari rumah masing-masing."

Beda lagi cerita keseharian saya. Ketika akses pendidikan begitu mudah, gadget dan sinyal internet melimpah, anak-anak didiknya justru 'keracunan' dan malas-malasan. Jangankan untuk diajak berpikir kritis, diberi tugas satu soal saja tidak semua mengerjakan pun kadang mengumpulkannya kelewat deadline.


Pendidikan dan Menteri

Kesenjangan, kecurangan dan kegelisahan perkaran pendidikan nasional pendidikan Indonesia sepertinya tidak akan terselesaikan dalam waktu dekat. Akan lebih mudah jika masing-masing individu menyadari peran diri dan pentingnya pendidikan. Kalau tidak ada kesadaran akan pentingnya kecerdasan, maka akan sulit untuk mengedukasi ke arah lebih maju.

2020 bukan lagi saat untuk berpangku tangan atau mengawang apa yang akan terjadi esok. Tahun ini hendaknya sudah siap menyingsinkan lengan dan berdiri tegap menghadapi 'kebodohan'.
Lantas saya kembali berpikir apa cita-cita untuk menjadi menteri sebaiknya kembali saya hidupkan? Sungguh berat.

5 comments:

agenda,

Saya Perempuan dan Saya Buruh

5/02/2020 08:33:00 pm Mini GK 22 Comments

Saya perempuan dan saya buruh

Meski tidak bertahan lama, saya pernah tercatat sebagai salah satu buruh di sebuah pabrik garmen. Karier sebagai buruh sudah saya tempuh jauh hari bahkan sebelum menginjak kepala dua.

Ketika teman-teman SMA sibuk mengurus rencana pendidikan selanjutnya, saya harus legowo hati untuk sejenak mengubur mimpi meraih gelar sarjana. Kondisi ekonomi keluarga tentu jadi faktor utama.

Ketika yang lain melangkah menuju halaman universitas, saya justru melangkah ke sebuah pabrik usang nan ganas. Itulah pertama kalinya saya benar-benar resmi mengenal dunia buruh.
Tidak butuh persyaratan sulit, sekali wawancara langsung diterima. Namun syarat utama yang sesungguhnya adalah sebelum kerja harus mau mengikuti 'kelas training'.

Saya diterima di pabrik garmen pakaian dalam. Yang belakangan saya tahu bahwa pabrik seperti ini banyak sekali di Indonesia.
Selama sebulan mengikuti training tanpa dibayar dan justru harus bayar kos dan makan. Bodohnya saat itu saya iya iya saja, namanya gak paham.
Belum lagi pas masuk jadi karyawan (buruh) ternyata kerjanya berat, agak kurang sebanding dengan target yang diharapkan pabrik. Kerjanya juga semacam kerja rodi.

Pengalaman saya zaman masih jadi buruh diikuti oleh sepupu. Bedanya, sepupu kerja di pabrik baru dan dia tekun jadinya kelihatan nyata hartanya (hasilnya). Sepertinya pabrik zaman sekarang sudah mulai sadar untuk menerapkan UMR non kaleng-kaleng. Beda zaman saya dulu.
Lagi, upah lembur lebih manusiawi. Sayangnya jatah istirahat (libur) masih tak ada bedanya dengan zaman kolonial dulu. Sepupu bahkan tidak bisa balik sebulan sekali. Libur hanya hari Minggu itu kadang juga kemakan jadwal lembur.
Iya sih, uang lembur itulah yang kadang bisa bikin kaya. Kalau enggak ngambil lembur, jangan harap bisa kredit rumah. Ehe.

Dari pengalaman yang pernah tercipta dalam sejarah hidup, tidak heran jika sekarang setiap hari buruh nasional banyak para pekerja yang melakukan demo. Tujuannya sama saja, mencari keadilan dan kesejahteraan. Ya meski sering harus 'menelan' kecewa.

Perkara buruh memang tidak bisa selesai dalam setahun dua tahun. Adalah PR panjang bagi pemimpin-pemimpin negeri. Buruh, seperti halnya saya tidak bisa kalau hanya mengandalkan 'kekuatan' sendiri.
Terlalu banyak regulasi yang harus didobrak. Bagaimana pun tidak ada orang yang sudi untuk terus jadi 'budak'.

Hari buruh nasional yang diperingati setiap tanggal 1 Mei menjadi momentum sekaligus pengingat, masih banyak ketidakberesan dalam dunia tenaga kerja.
Undang-undang perlindungan tenaga kerja butuh dikaji lebih lagi. Agar bisa melindungi kaum buruh bukan mereka pada jutawan. Agar tidak lagi terjadi diskriminasi.

Motivasi

Mengingat zaman menyedihkan kala jadi buruh saya mendadak  sedikit menyesal. Harusnya saya pilih melanjutkan sekolah saja dibanding sok daftar jadi buruh. Toh nyatanya saya dan buruh tidak pernah cocok. Tepatnya, saya adalah orang yang ogah kalau harus tunduk dan mengikuti aturan semena-mena.

Kalau saja saat itu saya punya motivasi atau orang yang mendukung pendidikan saya, paling tidak menyemangati, mungkin saat ini saya sudah 'jadi orang'. Mungkin ya, mungkin.

Tapi apapun ceritanya pada akhirnya saya hanya bisa menerima. Kalau menyalahkan masa lalu, kok ya kelihatan banget gak bersyukur.
Toh meski  pernah jadi buruh dan sekarang kerja seenaknya saja (bukan serabutan, sebut saja freelance) saya tetaplah perempuan mandiri. Perempuan yang masih kuat menantang kekejaman dunia. Pula tidak pernah tergantung pada pihak lain.

22 comments: