Buku,

Bertemu Tere Liye di Klan Matahari

8/27/2019 07:18:00 pm Mini GK 17 Comments

Apa sih hal paling bisa mendekatkanmu pada buku?
Atau jika dibalik, kenapa sih kamu suka buku?

Pernah kah ada yang bertanya demikian pada diri sendiri?
Saya sering. Iseng-iseng jadi sebuah kebiasaan. Untungnya kebiasaan baik jadi bisalah ditularkan kepada kesayangan-kesayangan.

Rasa-rasanya sejak bisa membeli buku sendiri, saya jadi semakin sayang dan enggak bisa lepas dari buku.
Rasanya seneng banget kalau punya buku baru, entah karena beli atau dapat hadiah. Sering kali malah sengaja banget nyari buku-buku lawasan yang murah meriah untuk mengembalikan aroma masa lalu.

Buku dan saya, atau saya dan buku adalah dua sahabat yang sulit untuk dipisahkan.
Layaknya sahabat, kami (saya dan buku) juga sering mengalami yang namanya 'bentrok' atau peristiwa sedih.
Berantem mungkin lebih tepatnya.
Saya menginginkan dia (buku) tapi seringnya dia jual mahal (dalam arti sesungguhnya) lantas saya harus berusaha sebisa mungkin untuk menuntaskan cinta yang sudah kadung tumbuh ini.

Salah satu cara saya untuk selalu berdekatan, atau memelihara cinta dengan buku yaitu gabung dengan beberapa klub buku dan baca.

Sudah empat tahun, kalau tidak salah ingat, saya gabung dengan klub baca Jogja dan klub ulat buku. Sebuah klub suka suka yang aktivitasnya baca buku suka-suka dengan cara suka-suka.

Sudah banyak sekali buku yang akhirnya saya baca setelah ikutan klub baca. Klub ini hadir sebulan sekali dengan buku beda dan pemantik diskusi yang beda pula.

But, di postingan ini saya enggak akan banyak-banyak cerita tentang klub baca Jogja.
Why? Because saya mau cerita klub baca lain yang kebetulan belum lama ini didirikan.

Sebut saja namanya Klub Baca DPK. Ntar saya ceritakan DPK itu apa. Tapi nanti pas saya Selo, #eh

Klub baca DPK dibentuk oleh kantor perpustakaan daerah Gunungkidul. Ya tujuannya emang membuat klub baca yang mewadahi mereka-mereka yang tertarik dengan bukubuku, khususnya anak anak usia SMP.

Senang saya bisa ikut terlibat dalam klub baca ini. Selain mengampu kelas menulis sastra (yang saya merasa sejujurnya agak gimana gitu karena ilmu yang enggak seberapa) eh sekarang malah didapuk juga untuk mengampu klub baca.
Senang karena di sini ketemu anak anak baru yang dulu sesuai mereka saya ingat banget kalau saya susah untuk ketemu buku yang saya ingin.

Klub baca menjadi wadah yang pas untuk mereka yang menyukai  baca. Akan menjadi satu motivasi untuk menyelesaikan bacaan yang sudah menumpuk.

Tidak jarang atmosfer yang ada dalam klub bisa jadi amunisi sampai berbulan-bulan kemudian.

Di klub baca, siapa saja bisa mengajukan untuk diskusi buku, kapan waktunya dan buku siapa yang akan dibahas. Buku sendiri juga sangat boleh.

Tempo hari saya mengusulkan novel MATAHARI karya TERE LIYE.
iye Tere Liye yang itu, pliss enggak usah julid.
Saya mengusulkan buku tersebut karena sangat cocok dengan klub baca yang isisnya anak anak SMP. Lagian di perpustakaan buku ini lumayan banyak jadinya bisa banyak yang pegang.

Pemilihan judul buku memang sengaja banget menyesuaikan dengan jumlah buku yang ada di rak perpustakaan.
Hal ini tidak lain buat mempermudah jalannya diskusi.
Satu orang baca, yang lain mendengarkan sambil menyimak.

Untung prediksi saya tidak meleset. Banyak yang sudah kenal karya TERE Liye. Untuk yang MATAHARI ini ada beberapa yang udah tamat. Jadi diskusi singkatnya langsung jalan dengan enak banget.
Meski bukan pecinta Tere Liye garis keras, saya cukup berterima kasih kepada kesempatan yang pernah memberikan waktu kepada saya untuk jumpa dengan Tere Liye secara nyata tidak hanya dalam karya.

Saya yakin, sebagian orang masih berharap bisa jumpa dengan novelis satu ini. Begitu pun dengan anggota klub baca.

Sekian waktu mengasuh kelas menulis sastra (yang mana di sini kadang saya merasa kurang pantas karena keterbatasan ilmu) akhirnya diberi kesempatan untuk juga mengampu klub baca.
Klub baca bagi saya adalah satu penyaluran energi.

Saya menyukai klub-klub yang konsen dengan buku dan baca. Bukan berati saya enggak doyan gabung ke klub kecantikan. Bagi saya mah, baca wajib, tampil cantik harus, jago masak luar biasa.

Jadi, sudahkah kamu membaca pikiran dan mauku hari ini??

17 comments:

wisata,

Wajah dan Suara Batu Alien Kaliurang

8/23/2019 07:05:00 pm Mini GK 10 Comments

Selama ini ada sedikit salah paham tentang tempat tinggal saya hanya karena mencantumkan Yogyakarta dalam setiap perkenalan, resmi mau pun casual.

Ya enggak salah dong kalau saya bilang tinggal di Yogyakarta. Yang salah itu yang mengartikan bahwa Yogyakarta itu adalah Malioboro atau Kaliurang. Padahal Yogyakarta yang ada di KTP itu artinya Provinsi. Sementara Yogyakarta sendiri punya empat kabupaten dan satu kotamadya.

Banyak teman yang mengira kalau rumah saya ini deket gitu sama Kaliurang. Padahal ya itu mah dari gunung satu ke gunung yang lain. Jauh.
Ya tapi gak apalah. Namanya juga mereka kan gak tahu. Lagian yang menganggap demikian biasanya mereka yang belum pernah atau belum tahu banyak tentang Yogyakarta.

Akan sangat galau jika ada kawan yang secara tidak sengaja ngajak jumpa tapi lokasinya jauh dari jangkauan. Misalnya ngajak ketemuan di Kulonprogo padahal saya di Gunungkidul. Lagian saya enggak pernah ke Kulonprogo.

"Besok ketemuan yuk."
"Di mana?"
"Aku lagi nginep di Sentolo. Aku bawa oleh-oleh nih."
Yeahhh, jawuh tapi tertarik juga sama oleh-olehnya tapi ya sayang juga sama tenaganya.

"Kak Min, meetup yuk. Aku lagi di Jogja."
"Hayuk. Kapan?"
"Sekarang aja. Ntar jam 8 keretaku udah jalan lagi."
Dan jam 8 itu tinggal duwa jam lagi. Saya di mana dia di mana...


Jadi saudara, sejujurnya rumah saya ini sama bandara masih jauh, dari stasiun jauh, dari terminal jauh. Dari XXI, plis jangan ajak nonton di tengah malam, jawuh jalan pulang.
Kalau ngajak ngedate bolehlah tapi jangan mepet waktunya. Anu, itu juga, tempat date sama makannya harus yang okey punya. Jangan sampai sia-sia waktu yang sudah saya siapkan dari rumah.
Oh iya, bicara Yogyakarta, apa sih yang ada dalam benakmu saat dengar: weekend di Jogja?

Malioboro? Pantai pasir putih? Alun-alun yang syahdu? Atau macet?
Boleh-boleh. Semua itu benar. Yogyakarta semakin hari semakin seksi. Semakin banyak macet dan semakin banyak patah hati juga.

Yogyakarta sepertinya surga piknik bagi sebagian besar pengunjungnya. Juga sebagai tempat mengenang kenangan bagi yang pernah tinggal di sana.
Bagi saya, Yogyakarta adalah napas tanpa habis.
Weekend di Jogja bagi saya sama dengan kerja.
Ya, sudah beberapa weekend ini saya habiskan untuk mencari rupiah demi membangun rumah dan tangga harmonis.
Bangun lebih pagi adalah hal utama dalam rutinitas weekend saya.
Yang lain, weekend sama dengan glundungan dan anti mandi mandi club', buat saya weekend adalah olah rasa olah emosi olah jiwa.
Mandi lebih bersih. Dandan lebih cetar. Wangi lebih semerbak.

Minggu adalah jadwalnya jalan sama adik-adik bengkel Sastra.
Di pertemuan kedua, dijadwalkan outbound ke Kaliurang.
Tidak hanya murid dari Gunungkidul tapi semua peserta bengkel sastra se-provinsi DIY.

Lumayan bisa lihat Dedek dedek gemes meski gak bisa mengingat satu satu namanya: yaiya, 30 nama di kelas aja gak hapal apalagi yang lain.
Perjalanan ke Kaliurang cukup lumayan. Maka kami kumpul pukul 06.00 WIB.
Itu berarti bangun saya lebih pagi dong. Secara mandi dan dandan aja butuh waktu minimal sejam.
Enggak sempat sarapan. Dan ini fatal. Karena saya merasa telah menyakiti tubuh sendiri. Saya sudah menerapkan jam makan sesuai kebutuhan. Cuma emang sesekali melanggarnya dengan banyak alasan.

Sudah lama enggak naik bus, dan harus naik bus buat menemani adik-adik, saya cuma iya iya saja.
Awalnya semua aman. Ada dua bus. Saya ikut di rombongan bus kedua.
Sepuluh kilo pertama adik-adik ini masih ramai, masih saling ledek sana sini. Masih bisa cakapcakap masa lalu dan orang yang ditaksir.
Lima kilo selanjutnya satu dua mulai pusing menuju mabuk. Dan agaknya yang seperti ini menular. Terjadilah hal yang mengerikan itu di lima kilo berikutnya. Satu mabok, lalu yang lain ikutan mabok.
Sudahlah sisa perjalanan diisi mereka dengan menahan mual.

Kasihan. Tapi saya tidak bisa apa apa kecuali ngajakin mereka untuk latihan napas. Napas ini bisa membuat tubuh rileks, setidaknya demikian yang saya pahami.
Sampai di lokasi. Satu-satu mulai ribut cari toilet. Menuntaskan apa yang sudah dimulai di bus sebelum selanjutnya diajak outbound sama panitia acara.

Anak-anak yang outbound, saya yang nonton (sambil nunggu makan dibagikan). Guwe enggak sarapan, enggak pula dikasih Snack.
Outbound cukup lama hingga jelang Zuhur. Usai makan siang, barulah acara jalan-jalan dimulai.
Seperti biasa. Sampai Kaliurang rasanya gak asyik kalau enggak lava tour; naek Jeep menuju Merapi.

Ada beberapa destinasi wisata yang kami kunjungi. Namun untuk kali ini, saya cuma mengulas tentang Batu Alian.

Sebelumnya saya mau menjerit. Silakan dibayangkan, naik Jeep disiang bolong. Ketika matahari di atas kepala, pas tanpa kurang.
Mana saya seperti salah kostum. Belum lagi enggak bawa kacamata dan penutup muka apalagi topi, maka sama dengan silakan mandi sinar matahari dengan bubuk debu.
Batu Alien?
Awalnya saya kira ini semacam alien alien, semacam buatan gitu serupa yang di sebelahnya.
Ternyata bukan saudara.
Kalau kalian pikirnya apa?

Jadi dinamakan alien itu sebenarnya dari kata alian. Alian itu sendiri dari bahasa Jawa yang artinya berpindah.
Jadi Batu Alien artinya batu berpindah.
Entah pindah dari mana ke mana.
Mungkin dari Gunung Merapi ke lokasinya ini.

Batunya gede banget. Kalau kata pemandu wisata sih bentuknya mirip wajah manusia.
Emang mirip sih, tapi bukan itu yang menarik buat saya.
Satu-satunya yang menarik adalah panorama gunung Merapi yang begitu gagah seolah tak mau untuk disentuh.
Jarak tempat saya berpijak kurang lebih enam kilo dari Merapi.

Saat saya ke sini cuaca lagi bagus-bagusnya. Ada awan berarak yang bikin suasana makin syahdu. Tidak sampai menutupi tubuh sang Merapi.
Sebenarnya asyik untuk berlama-lama. Masalahnya berlama-lama di sini juga enggak asyik mengingat banyaknya pengunjung yang datang dan pergi.
Pemandangan alam seperti ini paling enak kalau dinikmati berdua atau malah sendirian. Kalau ramai-ramai malah jatuhnya berisik.
Telah sejak beberapa akhir ini saya memang membatasi diri dalam berteman, yang berisik gak jelas biasanya enggak begitu diakrabi 🙃

Habis dari Batu Alien sebenarnya masih banyak spot yang menarik lainnya. Cuma saja nanti nanti deh saya tulisnya.
Kalau habis ini ada yang bilang: "yuk min meetup di batu Alien",  kalau jawaban saya lama enggak perlu ditunggu, karena kemungkinan jawabannya: tidak bisa. Jawuh. Kecuali kalau disewaain Jeep.

Beruntung Abang Drivernya jago dan suka cerita. Dalam Jeep itu hanya ada saya, driver dan 3 kawan cewek lainnya. Yang ngobrol cuma saya dan si driver.
Tiga kawan cewek sibuk nutupin wajah dari debu dan dosa.
Maklum musim kemarau, debunya makin tebel.
Kalau musim hujan udah fix ini jalan bakal penuh mandi lumpur.


10 comments:

Mini Workshop,

The Secret of Indonesia

8/19/2019 08:06:00 pm Mini GK 13 Comments

Sisi lain dari tersesat

Seberapa sering kamu dihadapan pada situasi yang sebenarnya bukan dalam kekuasaanmu?
Boleh dibilang semacam salah jurusan gitu?
Saya selalu berusaha untuk tidak tersesat dalam sebuah perjalanan. Untuk mengatasi hal-hal itu saya menyiapkan diri sebaik mungkin, misal dengan cek google map atau tanya kepada teman yang mengetahui kondisi daerah yang ingin dituju.
Masalahnya kadang kala harapan tidak sesuai kenyataan, dan cerita tersesat pun terjadilah lagi dan terus berulang (bahkan di daerah yang sama), semacam enggak belajar dari pengalaman.
Selanjutnya apa yang sebaiknya dilakukan jika tersesat?
Panik? Iya tentu saja. Tapi entah dapat kekuatan dari mana, saya selalu menikmati setiap cerita tersesat dengan begitu syahdu. Seakan-akan ini adalah hadiah dari Tuhan agar bisa lebih eksplor lebih dalam.

Satu hal yang saya takutkan saat tersesat: kehabisan bahan bakar.
Ala ala Miss

Pesan Masuk dari Mereka 

Sekitar setahun lalu, sebuah pesan masuk ke WhatsApp pribadi saya. Inti dari pesan itu adalah meminta kesediaan saya sebagai seorang penulis untuk mengisi kelas menulis di sebuah Sekolah Tinggi Bahasa Asing.

Pesan seperti itu memang sering mendarat di WhatsApp mau pun DM sosial media @minigeka. Ekspresi yang pertama muncul tentu saja rasa bahagia. Bukan karena job di depan mata melainkan merasa dihargai oleh mereka yang sudah Sudi meluangkan waktu untuk membaca dan mencari tahu tentang saya.

Kalau enggak cari tahu, dari mana bisa kenal saya dan karya-karya saya.

Singkatnya, pesan itu saya respon dengan jawaban bersedia untuk mengambil jatah kelas sekian jam. Ya saya bilang kelas sebab memang acaranya di kelas dan ternyata ini bagian dari mata pelajaran yang harus mereka terima.
Lantas apa hubungannya antara tersesat dan mengisi kelas menulis?
Apakah saya tersesat sampai kampus yang dituju? Iya saya tersesat tapi bukan itu masalahnya.

Saya tersesat karena saya merasa punya ilmu sangat terbatas. Kalau ibarat telur, masih sebatas debu yang nempel di cangkang. Jauh dari kuning telur.
Saya harus menyesuaikan diri dengan pengundang acara. Sebelum hari acara saya berkomunikasi terus menerus minta kepastian apa saja yang harus saya sampaikan. Begitu pun dengan mereka, panitia tidak hentinya bertanya apa saja yang saya butuhkan dan juga berapa sebenarnya honor yang harus mereka keluarkan
Punya Murid dari Indonesia Timur
Sejujurnya kekhawatiran itu bukan perkara honor yang kurang. Saya sangat yakin mereka yang berani memanggil saya sudah yakin akan biaya yang harus dikeluarkan.
Toh saya juga tidak terlalu mematok berapa fee yang harus saya terima. Ada memang harga yang saya tawarkan, namun biasanya kalau dalam hal-hal tertentu. Untuk hal-hal yang lain kadang malah saya memberinya gratis, sesuai dengan kebutuhan.

Lagi-lagi yang membuat khawatir adalah apakah materi yang saya sampaikan nantinya cukup membantu atau malah justru tidak penting bagi mereka (peserta).

Alhamdulillah selama ini belum pernah saya menerima keluhan dari mereka yang pernah masuk kelas saya. Tapi entahlah itu mereka beneran paham atau tidak peduli.
Kadang orang diam itu karena sangat paham atau sebaliknya, tak mau peduli.
Penguasaan bahasa asing saya buruk, saya akui itu. Itulah yang kadang membuat kurang PD, terlebih jika harus berdiri di podium di mana mereka yang menjadi audiens adalah orang-orang yang mempunyai gelar atau riwayat pendidikan lebih tinggi di atas saya.
Saya seolah tersesat. Tersesat di jalan yang benar.
Dari panitia yang menjemput dan tim LO (saya kurang paham LO atau bukan) saya tahu kalau mereka menemukan nama saya karena kabar dari mulut ke mulut.

'Teman saya punya kakak. Kakaknya kuliah di UAD. Waktu kami bilang kesulitan mencari pembicara, kakak itu menyarankan nama Kak Mini GK." Seorang memulai menjawab pertanyaan yang sering saya ajukan: dari mana tahu saya.

Yang lain menimpali, "lalu saya tanya juga ke tempat lain. Cari tahu tentang penulis di Yogyakarta. Dan salah satu temen memberitahu nama Mbak Mini. Ya sudah kami langsung menghubungi Mbak Mini. Dan ternyata direspon sangat cepat."

Untung mereka menghubungi saya tahun lalu (2018) coba aja kalau mereka menghubungi saya 5 atau 7 tahun lampau, pasti akan saya cuekin. Lagian zaman itu kan Mini GK belum terkenal juga ding, boro-boro menerima pesan buat ngisi acara, terima pesan dari kamu saja enggak pernah, #halah
Berbekal keyakinan 'nama baik' dari dua orang yang entah siapa namanya (karena waktu saya tanya ternyata mereka lupa), saya akhirnya siap untuk menghabiskan setengah hari di depan mahasiswa semester 3 ini untuk mengenalkan dunia sastra. *Padahal pemahaman saya pada sastra aja kacau
Manis

The secret of Indonesia

Tema yang diberikan agak-agak membuat saya merinding. Saya selalu 'kesulitan' untuk menguak sesuatu yang Indonesia banget.
Bukan karena saya tidak cinta atau tidak peduli. Melainkan karena saya selalu ingin menampilkan sesuatu yang tidak main-main.
Hal ini membuat riset saya panjang.

Kepada murid-murid baru ini saya izinkan mereka untuk bercerita tentang apa saja yang mereka rasakan tentang Jogja.
Saya lupa tugas apa yang saya berikan namun karya yang mereka hasilkan cukup membuat saya senyum. Walau ada beberapa yang tidak sesuai tema.

Pertama kali lihat pamflet dengan wajah sendiri tertempel di papan informasi
Dari sekian jam, saya paling senang acara tanya jawab dan pembacaan karya. Saya suka cara mereka membacakan karyanya. Tampak sekali jika mereka bahagia dengan hasil tulisan yang mereka garap sekian menit.
Begitu pun saat tanya jawab. Pertanyaan mereka banyak tentang pertanyaan dasar. Ini berarti mereka memang masih belum banyak tahu tentang menulis cerita. Saya jadi bisa menambahkan bumbu-bumbu drama di sini.

Pada akhirnya di mana pun saya berdiri, cerita cerita selalu menjadi teman sejati yang selalu asyik untuk dikenang lain waktu.
Setiap langkah dan pertemuan adalah cerita-cerita panjang yang belum tentu orang lain mengalaminya.

Saya tidak pernah merasa rugi menghabiskan waktu dengan bermesraan bersama kata dan cerita.
Kalau boleh, saya justru ingin terus bisa mengakrabi dan mengawinkan kata dengan kata.

13 comments:

Pendidikan

Bengkel Sastra Pertemuan Pertama

8/12/2019 06:07:00 pm Mini GK 25 Comments

"tak akan miskin saat engkau sedekah, tak akan hilang ilmu saat engkau berbagi"

Kepercayaan saya mulai tumbuh laksana biji kecambah dalam tanah basah. Mula-mula hanya sejengkal rasa lantas keadaan mengizinkan rasa itu terus tumbuh tumbuh dan semakin subur sampai-sampai musim berbunga bahkan panen di depan mata.

Mohon maaf sebelumnya kalau dalam postingan kali ini saya akan sering mengulang kata 'kalau tidak salah' atau 'seingat saya' 

 Mungkin ada yang beranggapan 'halah cuma percaya aja lebay, mbok biasa saja, manusia hidup ya kudu saling percaya'.
Kenyataannya saya bukan tipe manusia yang masuk golongan manusia pada umumnya. Ada rasa sensitif dan perasaan sendiri yang kadang diri sendiri saja susah menjelaskan, dan ragu pula orang lain akan memahaminya.

Bagi saya, kata percaya tidak hanya sebatas menepati janji. Terlalu kompleks untuk dijabarkan.

Percaya itu sulit, menurut saya. Mungkin karena saya beberapa kali mengalami kecewa, tepatnya berharap lebih dan ternyata hasilnya jauh dari angan.
Ini bukan tentang secuil rasa tentang dia atau rindu. Kita sedang membicarakan kepercayaan dalam konteks luas, lebar lebih jauh dari sekedar pelukan semalam.

Mungkin karena kurangnya rasa percaya pada diri sendirilah yang selama ini menghambat jalan saya. Bolehlah dibilang kalau saya ini pernah mengalami yang namanya kurang percaya diri. Ya percaya diri seperti yang kalian bayangkan.
Kapan itu? Bahkan sampai detik ini saya masih merasakannya.
Kalau pun saya terlihat terlalu PD, katakan itu karena terlalu banyak aura dan kepercayaan yang hinggap di sekeliling saya.
 Saya lupa kapan tepatnya, mungkin empat atau lima tahun yang lalu semua ini bermula.
Mula-mula biasa saja, saya tidak banyak berharap. Hingga harapan meminta dan menunjuk saya untuk berpihak padanya.

Awal saya jatuh cinta pada dunia menulis ya karena suka saja, tidak ada alasan atau embel-embel yang lain. Bertahun-tahun saya hidup di situ, serasa jalan di tempat, namun begitu nyaman
 Biasa saja. Tidak ada target yang saya kejar: tepatnya saya tidak terlalu percaya pada dunia tulis menulis. Kalau masih bertahan di sana itu karena memang suka, tidak kurang tidak lebih.

Beberapa tulisan saya hasilkan. Hasilnya cukup memuaskan meski tidak lantas membuat saya percaya pada diri Sendiri.
Kalau tidak percaya sama diri Sendiri, bagaimana bisa percaya pada orang lain?

Maka setelah "kunjungan dari hati ke hati"  pada suatu waktu, saya tersadar akan sesuatu.

Malam jelang dini, berhadapan dengan seorang kawan saya diberi petuah yang sampai hari ini masih saya ingat jelas: kamu itu punya kekuatan yang sama dengan yang lain (sama-sama kuat), hanya saja kamu itu belum menggunakan kemampuanmu bahkan seperempat saja belum.

Sampai di sini saya mengartikan bahwa sesungguhnya jika saya kerahkan tenaga lebih banyak maka saya akan menjadi SAYA YANG KUAT.

Sejak itu saya mencoba berdamai dengan segala h, termasuk keadaan yang membuat hari berantakan.
Hasilnya? Saya tetap kacau. Masih saja seperti kemarin bahkan lebih buruk, setidaknya saya merasakan begitu

 Singkat cerita, sebuah karya menarik saya untuk berdiri lebih tinggi dibanding yang lain. Kalau dibilang titik balik, mungkin seperti inilah mulanya: karya saya diganjar dengan sebuah penghargaan yang cukup menggiurkan bagi mereka yang paham dunia buku. Dari situ kesibukan dan hari-hari saya berubah.

Memang sebelum ada penghargaan ini saya sudah beberapa kali "didaulat" untuk ngoceh di depan ratusan anak muda dalam acara talkshow dan lain-lain. Sebelum dapat penghargaan, saya sudah sering menerima tawaran berbagi motivasi ke banyak kampus atau sekolah. Padahal saat itu kondisi saya yang sesungguhnya sedang dalam keadaan kurang percaya diri

 Sejak penghargaan itu datang, banyak kepercayaan ikutan menyusul, datang dan minta saya untuk menerimanya.
Maka saya pun merentangkan tangan membuka hati untuk "jalan baru".

Aktivis menulis terus jalan, ditambah harus "manggung" memenuhi undangan dari sana sini. Yang pada akhirnya saya rasa justru bukan saya yang MEMBERI melainkan saya yang MENERIMA banyak ilmu dan semangat dari orang yang saya jumpai.

Masih tersimpan beberapa catatan dari para peserta yang pernah masuk kelas saya.
Padahal hari itu saya bahkan belum punya sertifikat atau piagam yang layak untuk dijadikan pegangan menjadi seorang "pembicara".
 Baru setelah lima tahun atau empat tahun belakangan, saya sudah mengantongi lebih dari 3 sertifikat / pengakuan dari pihak lain yang  bisa jadi bekal kalau saya LAYAK untuk menjadi TEMAN BERBAGI

Benar kiranya kata mereka bahwa dengan berbagi kita tidak akan miskin, justru sebaliknya, semakin kaya dan tidak bodoh.

Ilmu menulis saya memang cuma cukup sebatas itu itu saja. Namun beberapa kesempatan membuat saya harus bisa lebih dari yang sudah. NAIK KELAS kalau kata teman jalan.
Dan tahun 2019 ini saya entah atas pertimbangan apa diangkat untuk menjadi MENTOR/ pembimbing dalam kelas BENGKEL SASTRA.

BENGKEL SASTRA sendiri merupakan program tahunan yang diadakan oleh Balai Bahasa Yogyakarta sejak puluhan tahun lampau.
Zaman saya SMA, saya sudah mendengar adanya program ini: namun sangat disayang, jangankan ikut jadi peserta, tahu cara daftarnya saja enggak.

Kini ketika saya sudah berumur, kesempatan itu datang dan "jabatannya" sungguh luar biasa. Bagi saya posisi mentor ini sangat luar biasa, karena saya tahu, mentor itu bagaikan seorang yang maha tahu dan selalu bisa jadi idola.
Sayangnya, saya merasa jauh dari sifat itu

Yang saya paham, saya bisa nulis dan saya tidak keberatan untuk berbagi pengalaman. Apa pun wadahnya.
Dan Tuhan mewadahi saya dalam bengkel sastra, yang tidak pernah saya tolok bahkan dalam pikiran.

 Saya beruntung bisa terlibat tahun ini. Semakin beruntung karena mengampu kelas di Gunungkidul. Artinya tidak terlalu jauh dari gua pertapaan.

Kelas bengkel sastra memang cuma seminggu sekali dan hanya sekian jam, tapi senangnya karena hari itu berarti saya ketemu dengan perwakilan  dari sekolah-sekolah setingkat SMA/K/MA.

Saya mengampu kelas CERPEN. ada sedikitnya 30 murid. Jangan tanya apakah saya hafal namanya. TYDAK.
Seperti saya yang tydak hafal wajah AAN MANSYUR.

Ritual Minggu saya mulai pukul 07.00 hingga 12.00 WIB adalah duduk manis di salah satu ruang di SMK Muhammadiyah Wonosari, tempat bengkel sastra dilaksanakan.
Sudah ada jadwal sekitar 10 kali pertemuan. Ya saya hanya mengajar 10 kali, namun cukup panjang sebab materi yang diberikan melebihi materi anak kuliahan semester pertama.
Pertemuan pertama kali ini tidak banyak materi yang saya berikan.  Karena waktunya juga singkat sebab dipotong dengan acara upacara pembukaan; sudah semacam acara resmi dari dinas-dinas.

Waktu yang sedikit itu saya pakai untuk perkenalan (ya meski sampai pertemuan berikutnya saya juga belum hafal bahkan satu pun gak ingat).
Selain itu saya juga memberikan materi tentang macam-macam jenis tulisan. Ya, sebuah materi yang 'njelehi' tapi pada akhirnya jadi sesuatu yang menarik setelah di tangan saya.

Sejak saya percaya pada diri sendiri, saya juga percaya pada orang lain. Jadi dengan landasan percaya, maka saya mencoba menyuguhkan hal-hal yang tidak mengecewakan.

Kalau kata para influencer, no kaleng kaleng pertemuan yang saya berikan.
Materi dan bahan bisa saja dicari di mana saja, namun untuk gaya penyajian setiap orang pasti beda.
Dan ketika saya selesai dengan satu gaya baru, saya merasa puas, sebab di sana saya melihat senyum dari orang-orang yang juga mengormati saya.

Agaknya benar, cara mudah untuk menjadi sosok TERHORMAT adalah dengan bisa dipercaya.

karena saya percaya dengan sebuah kebaikan, maka kebaikan memeluk saya dengan selimut kehormatan yang hangat. Tidak sia-sia saya begadang membuat bahan presentasi.

Setelah postingan ini, saya sudah menyiapkan postingan lanjutan. Sebab ketika saya menulis ini sesungguhnya Bengkel Sastra sudah berjalan tiga kali pertemuan.

25 comments:

Gaya

Untuk Kamu Para Pemuja Gengsi

8/05/2019 10:12:00 pm Mini GK 22 Comments

Pameran Produk UMKM akan berlangsung sampai tanggal 6 Agustus 2019

Pernah gak sih datang ke sebuah acara  tahu-tahu ada orang lain yang pakaiannya sama persis punya kita? Mana yang sama enggak cuma satu orang, padahal gak ada dress code di acara itu.

Gimana perasaanmu? Pasti kesel banget. Apalagi kalau orang yang samaan itu enggak kita kenal.

Saya pernah di posisi ini, ekspresi pertama tentu saja nyengir sambil tolah-toleh serupa orang salah tingkah gitu. Kalau lagi sama temen, biasanya temen langsung bisik-bisik: stt, kembaran ni ye. 

Kalau yang ngajak kembaran itu gantengnya sundul langit, ya gak apa-apa, malah berasa new couple gitu, tapi kalau sebaliknya, ih tengsin dong. Mau ditaruh mana image yang sudah dibangun bahkan sejak dalam embrio?

Ya emang sih model, warna dan bentuknya bisa mirip serupa, tapi harga belum tentu. Kesel aja kalau barang yang udah kita beli mehong ternyata disamain sama mereka yang beli lebih terjangkau. Dikiranya nilai yang kita pakai jadi samaan. Hal-hal yang seperti ini akan jadi masalah bagi para pemuja branded. Barang kesayangan sudah ada bajakannya di lapak-lapak sebelah.
Tas bisa dibeli di @dzaikahandmade  || 0858 7842 4699


Seberapa besar kamu memuji barang-barang branded?


Kalau pertanyaan itu ditujukan ke saya, akan butuh waktu sekian detik untuk menjawabnya.

Saya suka segala macam bentuk keindahan namun sayangnya saya bukan 'penyembah' hal-hal branded.
Alasannya banyak, salah satunya harganya yang selangit.
Saya ini termasuk penghamba prinsip ekonomi purba; keluar dana minim dengan harapan keuntungan maksimal. Dengan kata lain, kalau gak butuh butuh banget sebisa mungkin jangan belanja. Harus tahu fungsi dan sadar isi (dompet). Selanjutnya saya ini termasuk orang yang enggak seneng kalau ada yang nyamain. Seperti yang tadi saya bilang di awal.

Lebaran kemarin  kakak saya pulang kampung, tapi dia enggak bawa perlengkapan make-up. Sebagai adik yang baik dan kebetulan sebelumnya habis dapat kiriman make-up baru dari salah satu brand lokal, maka saya inisiatif minjemin makeup ke kakak.

Saya kira kakak akan bahagia  sebab makeup yang saya sodorkan produk baru dan belum banyak di pasaran. Eh taunya, serupa menggarami lautan; perbuatan saya tidak dinilai sama sekali. Hiks.

"Ini merek apa?" tanya Kakak.
"Merek baru. Ini mereknya." Saya menyebutkan satu merek brand lokal.
"Gak terkenal. Gak mau aku. Buat kamu aja." Kakak saya menolak dengan lembut tapi cukup membuat hati saya nyeri. *Baperan saya ini 
Cakep dan tampak mahal, produksi UMKM

Adakah yang segitu fanatiknya sama merek terkenal? Lantas sejauh mana merek itu dianggap terkenal? Apakah kalau banyak yang pakai, banyak dijual di toko, atau malah sering iklan di tv?

Saya tipe yang enggak begitu peduli dengan iklan seliweran di tv, majalah atau baleho. Sejak kenal dunia influencer (meski cuma secara cangkang doang) saya semakin paham trik-trik marketing. Jadi enggak akan kagetlah jika banyak merek-merek yang dipajang sana sini. Enggak mudah juga tergiur oleh iklannya.

Saya malah lebih suka sama produk-produk yang belum banyak dikenal. Kalau memungkinkan malah yang custom buatan sendiri. Kalau istilah kerennya sih handmade gitu.
Seiring berkembangnya teknologi, banyak hal-hal yang bisa dibuat sesuai kebutuhan. Bahkan kuliner, fashion, aksesoris, make-up sampai elektronik semua bisa dicustom.

Saya bilang ini merupakan alternatif untuk penggemar gaya unik, beda dan ogah disamain yang lain. Selain bisa buat sesuatu sesuai kebutuhan, bisa juga disesuaikan dengan dana yang ada.

Ya jadinya enggak bermerek dong?

Justru itu, kita jadi bisa buat merek sendiri. Tinggal bilang aja sama pengerajinnya lalu dikasih merek kita sendiri. Dan yang pasti sih produk handmade itu dibuatnya limited edition. Bisa lebih berkelas dibanding produk merek ternama namun dibuat secara grosiran. Dan lagi, sudah pasti asli bukan KW KW atau tiruan.
Produk brand lokal lho ini, tapi tampilan import

Sering lihat orang nongkrong/ jalan, gaya-gayaan pakai barang dengan merek ini itu (merek terkenal) tapi barangnya KW emperan (bukan bermaksud merendahkan lapak emperan), perasan jadi gimana gitu.
Soalnya saya juga pernah di posisi itu, memakai barang bermerek tapi abal-abal, harganya sekian puluh lebih murah dibanding harga asli.

Ya emang gak ada yang bakal komentar macem-macem sih, misalnya ngebully karena pakai barang abal-abal, tapi rasanya jadi enggak pede gitu. Mungkin ini hanya sayanya aja karena pernah suatu hari dengar teman banding-bandingkan barang sesama temannya.

Karena mengejar barang branded dengan kualitas super itu sulit buat saya, maka alternatif ya jatuh ke barang handmade.

Kalau sudah ngomongin handmade ya udah pasti ujungnya merujuk kepada para pelaku UMKM. Barang yang mereka lahirkan udah pasti handmade. Kadang malah cuma satu kali buat sesudahnya enggak bakal buat lagi. Saya lebih merasa percaya diri dan naik kelas saat memakai barang-barang handmade dari UMKM (tanpa merek terkenal) dibanding pakai barang seolah bermerek padahal abal-abal.

Padahal pede adalah kunci dari bersosial. Sejak sering memakai barang-barang (utamanya fashion) handmade, saya merasa semakin shining. *Lebay dikit

Barang handmade itu cakep kalau dipakai buat kado atau hantaran. Saya sadar ini setelah tempo hari seorang teman ulangtahun dan dia bilang bahagia banget saat saya kasih hadiah berupa Bros hasil dari ikut kursus singkat. Katanya: aku suka banget kado yang dibuat sendiri seperti ini. jadi berapa istimewa.

Saya yang dengar dan merasa dipuji jadi melting. Meleleh seketika dan semakin semangat untuk menghasilkan karya baru (demi kepentingan memberi kesan baik, bukan untuk jualan).
De Wita Handmade  @dethawita  || 085726154507
Abang, besok beli cincin kawinnya custom aja di Mbak Wita, bisa rikues kita sesuai kebutuhan.

@dethawita yang berlokasi di Joglo Tanjung juga memproduksi aksesori dari bahan clay. Apa itu clay? Clay adalah bahan aksesori yang dibuat dari tepung.
Tepung untuk dibuat perhiasan? Sungguh tidak sampai imajinasi saya.
Aksesoris ini bahan dasarnya tepung

Kemarin saat sedang cari-cari referensi kado, saya nyasar dengan sengaja ke halaman Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta. Emang sudah dengar sih kalau di sini lagi ada acara #harnasUMKM, makanya sengaja mampir untuk cuci mata.
Niat saya yang enggak tinggi itu berbuah manis. Enggak seperti pameran-pameran lainnya, pameran kali ini lebih meriah, lebih banyak stand, lebih banyak barang, lebih luas, lebih lama acaranya dan yang pasti lebih bisa menguras isi dompet. lebih banyak juga yang bisa dicicipi

Kalau biasanya saya hanya membatasi diri buat jajan makanan saja atau fashion saja, kemarin khilaf ingin baju, ya ingin makan, ya ingin aksesoris, untungnya bisa ngerem untuk enggak tergoda tas dan sepatu. Tergoda sih tapi siasat hemat dengan cara tidak banyak bawa uang cash ternyata cukup berhasil untuk memantapkan diri membeli yang sesuai kebutuhan bukan sesuai keinginan mata.

Produk UMKM enggak kalah dengan barang branded

Elegan dan memukau, tampak mahal

Bagi yang ngikutin Instagram atau status saya pasti tahu kalau saya ini tergila-gila pada tenun Nusantara. Pokoknya yang berbau tenun selalu meluluhkan. Maka begitu jumpa dengan stand yang nge-display sepatu kulit dengan sentuhan tenun, saya langsung belok dan malas beranjak.

Saya jongkok lama pegang sepatu-sepatu itu, enggak semua hanya beberapa yang sungguh menarik. Mbak-mbak yang jaga stand sampai gak tega gitu lihat kegilaan saya, maka diizinkanlah saya untuk mencoba sepatu dan tas yang ada.

Siapa aja yang ngelihat barang-barang itu pasti akan langsung berujar "mahal" atau kata selanjutnya "impor dari mana?", yaelah padahal itu ya bikinan ibukibuk UKMK sekitar Jogja aja.

Kadang otak kita emang sudah kedistrak dan kedikte bahwa barang-barang bagus dan keren itu pasti mahal karena produk impor. Ingin sekali mencuci otak yang sudah kena radiasi macem ini. Belum apa-apa sudah membuat label sendiri.

Kalau misal hasil UMKM itu mahal, ya wajar sih karena melalui yang namanya proses dan pemilijan barang. Tapi semahal-mahalnya hasil karya UMKM, saya kok masih percaya lebih murah dibanding barang branded asli. Harusnya pemikiran dibenerin dulu, karya UMKM itu enggak mahal tapi kamunya aja yang enggak sanggup beli.

Macem saya yang akhirnya enggak beli sepatu kulit sapi balut tenun karena memang belum butuh.

Produk UMKM Bisa Menaikkan Gengsi

2020 sudah di depan mata dan kamu masih enggak paham kalau manusia itu punya gengsi gede banget.

Pernah gak ngalamin seperti ini:
ngajak makan temen tapi dianya rempong dengan bilang, "ih jangan makan di sana, aku gak biasa makan di tempat seperti itu" atau jawab dengan begini, "di sana enak tapi mahal", atau yang seperti ini, "boleh deh di sana, tapi bayarin ya".
Pernah? Pasti.

Gimana perasaanmu? Kesel? Pasti dong. Kerempongan macem ini adalah bentuk dari menjaga gengsi namun dengan cara membuat kesal teman-temannya.
Kalau saya ketemu orang seperti ini biasanya akan langsung senewen. Ujungnya besok-besok udah males lagi jalan sama dia. Mending jajan, cari makan sendiri yang sesuai gengsi sendiri daripada nurutin gengsi orang lain.
Buat kamu pecinta pedes

Kalau kamu ada teman diajak jajan di pameran UMKM, enggak mau, alesannya kurang percaya kehigienisan dan kehalalan makanan yang disajikan, suruh temanmu itu bertelur saja.

Hari gini masih gak paham juga sehebat dan bagaimana perkembangan UMKM? Pasti orang-orang yang seperti ini pikniknya kurang jauh, pasti enggak ngerti kalau di dunia ini ada yang namanya Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta. Baiknya orang macem ini emang disuruh cuci kaki dan bobo cepet daripada kelayapan menuh-menuhin jalanan.

Sepanjang saya kenal para pelaku UMKM, enggak pernah saya njuk jatuh pingsan habis makan jajan mereka. Malahan saya jadi terinspirasi dari mereka. Ya gimana enggak, sama-sama berbahan dasar kentang; kalau saya cuma bisa mengolah jadi masakan itu itu saja, ditangan UMKM kentang bisa jadi komoditas jualan mahal. Mereka terlalu kreatif.
Contoh kemasan yang belum bisa masuk stand bandara

Higienis dan Halal

Untuk masalah higienis dan kehalalan, UMKM sudah paham pakemnya. Mereka bahkan lebih tahu dibanding kamu, bagaimana cara mengurus surat izin usaha juga syarat mendapat label halal. Jadi ketika kemarin temen sok-sokan bilang:  "Min, kok kamu makan ini sih? Ini kan dari (sebut nama bahan gak halal)" saat itu juga saya jawab: hello, ini lho label halal gede (nunjuk kemasan) dan ini lho hasil karya teman-teman IPEMI, ikatan pengusaha muslimah Indonesia, muslimah cuint, udah pasti halal dong". Temen saya melengos gagal ngerjain saya.

Selain itu, produk UMKM sekarang juga memperhatikan packaging. Dan saya baru tahu kalau ternyata untuk kemasan makanan (kuliner)  yang full plastik (makanannya terlihat jelas) tidak bisa masuk bandara atau sektor ekspor. Jika ingin ikut dijual di bandara (dinas koperasi UMKM punya stand di bandara) maka harus memakai kemasan yang tertutup.
Contoh kemasan yang bisa masuk stand di bandara

Nenteng jajanan dari produksi UMKM itu enggak akan menjatuhkan harga dirimu justru sebaliknya akan meningkatkan citra dan gengsimu di mata rekan-rekan barumu. Kalau gak percaya ya silakan buktikan sendiri.

Saya sih udah pernah; bawa oleh-oleh hasil dari UMKM, udahannya pada tertarik untuk titip dibeliin (dipaketkan).

Daftar jajan


22 comments: