Mini Workshop,

The Secret of Indonesia

8/19/2019 08:06:00 pm Mini GK 11 Comments

Sisi lain dari tersesat

Seberapa sering kamu dihadapan pada situasi yang sebenarnya bukan dalam kekuasaanmu?
Boleh dibilang semacam salah jurusan gitu?
Saya selalu berusaha untuk tidak tersesat dalam sebuah perjalanan. Untuk mengatasi hal-hal itu saya menyiapkan diri sebaik mungkin, misal dengan cek google map atau tanya kepada teman yang mengetahui kondisi daerah yang ingin dituju.
Masalahnya kadang kala harapan tidak sesuai kenyataan, dan cerita tersesat pun terjadilah lagi dan terus berulang (bahkan di daerah yang sama), semacam enggak belajar dari pengalaman.
Selanjutnya apa yang sebaiknya dilakukan jika tersesat?
Panik? Iya tentu saja. Tapi entah dapat kekuatan dari mana, saya selalu menikmati setiap cerita tersesat dengan begitu syahdu. Seakan-akan ini adalah hadiah dari Tuhan agar bisa lebih eksplor lebih dalam.

Satu hal yang saya takutkan saat tersesat: kehabisan bahan bakar.
Ala ala Miss

Pesan Masuk dari Mereka 

Sekitar setahun lalu, sebuah pesan masuk ke WhatsApp pribadi saya. Inti dari pesan itu adalah meminta kesediaan saya sebagai seorang penulis untuk mengisi kelas menulis di sebuah Sekolah Tinggi Bahasa Asing.

Pesan seperti itu memang sering mendarat di WhatsApp mau pun DM sosial media @minigeka. Ekspresi yang pertama muncul tentu saja rasa bahagia. Bukan karena job di depan mata melainkan merasa dihargai oleh mereka yang sudah Sudi meluangkan waktu untuk membaca dan mencari tahu tentang saya.

Kalau enggak cari tahu, dari mana bisa kenal saya dan karya-karya saya.

Singkatnya, pesan itu saya respon dengan jawaban bersedia untuk mengambil jatah kelas sekian jam. Ya saya bilang kelas sebab memang acaranya di kelas dan ternyata ini bagian dari mata pelajaran yang harus mereka terima.
Lantas apa hubungannya antara tersesat dan mengisi kelas menulis?
Apakah saya tersesat sampai kampus yang dituju? Iya saya tersesat tapi bukan itu masalahnya.

Saya tersesat karena saya merasa punya ilmu sangat terbatas. Kalau ibarat telur, masih sebatas debu yang nempel di cangkang. Jauh dari kuning telur.
Saya harus menyesuaikan diri dengan pengundang acara. Sebelum hari acara saya berkomunikasi terus menerus minta kepastian apa saja yang harus saya sampaikan. Begitu pun dengan mereka, panitia tidak hentinya bertanya apa saja yang saya butuhkan dan juga berapa sebenarnya honor yang harus mereka keluarkan
Punya Murid dari Indonesia Timur
Sejujurnya kekhawatiran itu bukan perkara honor yang kurang. Saya sangat yakin mereka yang berani memanggil saya sudah yakin akan biaya yang harus dikeluarkan.
Toh saya juga tidak terlalu mematok berapa fee yang harus saya terima. Ada memang harga yang saya tawarkan, namun biasanya kalau dalam hal-hal tertentu. Untuk hal-hal yang lain kadang malah saya memberinya gratis, sesuai dengan kebutuhan.

Lagi-lagi yang membuat khawatir adalah apakah materi yang saya sampaikan nantinya cukup membantu atau malah justru tidak penting bagi mereka (peserta).

Alhamdulillah selama ini belum pernah saya menerima keluhan dari mereka yang pernah masuk kelas saya. Tapi entahlah itu mereka beneran paham atau tidak peduli.
Kadang orang diam itu karena sangat paham atau sebaliknya, tak mau peduli.
Penguasaan bahasa asing saya buruk, saya akui itu. Itulah yang kadang membuat kurang PD, terlebih jika harus berdiri di podium di mana mereka yang menjadi audiens adalah orang-orang yang mempunyai gelar atau riwayat pendidikan lebih tinggi di atas saya.
Saya seolah tersesat. Tersesat di jalan yang benar.
Dari panitia yang menjemput dan tim LO (saya kurang paham LO atau bukan) saya tahu kalau mereka menemukan nama saya karena kabar dari mulut ke mulut.

'Teman saya punya kakak. Kakaknya kuliah di UAD. Waktu kami bilang kesulitan mencari pembicara, kakak itu menyarankan nama Kak Mini GK." Seorang memulai menjawab pertanyaan yang sering saya ajukan: dari mana tahu saya.

Yang lain menimpali, "lalu saya tanya juga ke tempat lain. Cari tahu tentang penulis di Yogyakarta. Dan salah satu temen memberitahu nama Mbak Mini. Ya sudah kami langsung menghubungi Mbak Mini. Dan ternyata direspon sangat cepat."

Untung mereka menghubungi saya tahun lalu (2018) coba aja kalau mereka menghubungi saya 5 atau 7 tahun lampau, pasti akan saya cuekin. Lagian zaman itu kan Mini GK belum terkenal juga ding, boro-boro menerima pesan buat ngisi acara, terima pesan dari kamu saja enggak pernah, #halah
Berbekal keyakinan 'nama baik' dari dua orang yang entah siapa namanya (karena waktu saya tanya ternyata mereka lupa), saya akhirnya siap untuk menghabiskan setengah hari di depan mahasiswa semester 3 ini untuk mengenalkan dunia sastra. *Padahal pemahaman saya pada sastra aja kacau
Manis

The secret of Indonesia

Tema yang diberikan agak-agak membuat saya merinding. Saya selalu 'kesulitan' untuk menguak sesuatu yang Indonesia banget.
Bukan karena saya tidak cinta atau tidak peduli. Melainkan karena saya selalu ingin menampilkan sesuatu yang tidak main-main.
Hal ini membuat riset saya panjang.

Kepada murid-murid baru ini saya izinkan mereka untuk bercerita tentang apa saja yang mereka rasakan tentang Jogja.
Saya lupa tugas apa yang saya berikan namun karya yang mereka hasilkan cukup membuat saya senyum. Walau ada beberapa yang tidak sesuai tema.

Pertama kali lihat pamflet dengan wajah sendiri tertempel di papan informasi
Dari sekian jam, saya paling senang acara tanya jawab dan pembacaan karya. Saya suka cara mereka membacakan karyanya. Tampak sekali jika mereka bahagia dengan hasil tulisan yang mereka garap sekian menit.
Begitu pun saat tanya jawab. Pertanyaan mereka banyak tentang pertanyaan dasar. Ini berarti mereka memang masih belum banyak tahu tentang menulis cerita. Saya jadi bisa menambahkan bumbu-bumbu drama di sini.

Pada akhirnya di mana pun saya berdiri, cerita cerita selalu menjadi teman sejati yang selalu asyik untuk dikenang lain waktu.
Setiap langkah dan pertemuan adalah cerita-cerita panjang yang belum tentu orang lain mengalaminya.

Saya tidak pernah merasa rugi menghabiskan waktu dengan bermesraan bersama kata dan cerita.
Kalau boleh, saya justru ingin terus bisa mengakrabi dan mengawinkan kata dengan kata.

11 comments:

Pendidikan

Bengkel Sastra Pertemuan Pertama

8/12/2019 06:07:00 pm Mini GK 25 Comments

"tak akan miskin saat engkau sedekah, tak akan hilang ilmu saat engkau berbagi"

Kepercayaan saya mulai tumbuh laksana biji kecambah dalam tanah basah. Mula-mula hanya sejengkal rasa lantas keadaan mengizinkan rasa itu terus tumbuh tumbuh dan semakin subur sampai-sampai musim berbunga bahkan panen di depan mata.

Mohon maaf sebelumnya kalau dalam postingan kali ini saya akan sering mengulang kata 'kalau tidak salah' atau 'seingat saya' 

 Mungkin ada yang beranggapan 'halah cuma percaya aja lebay, mbok biasa saja, manusia hidup ya kudu saling percaya'.
Kenyataannya saya bukan tipe manusia yang masuk golongan manusia pada umumnya. Ada rasa sensitif dan perasaan sendiri yang kadang diri sendiri saja susah menjelaskan, dan ragu pula orang lain akan memahaminya.

Bagi saya, kata percaya tidak hanya sebatas menepati janji. Terlalu kompleks untuk dijabarkan.

Percaya itu sulit, menurut saya. Mungkin karena saya beberapa kali mengalami kecewa, tepatnya berharap lebih dan ternyata hasilnya jauh dari angan.
Ini bukan tentang secuil rasa tentang dia atau rindu. Kita sedang membicarakan kepercayaan dalam konteks luas, lebar lebih jauh dari sekedar pelukan semalam.

Mungkin karena kurangnya rasa percaya pada diri sendirilah yang selama ini menghambat jalan saya. Bolehlah dibilang kalau saya ini pernah mengalami yang namanya kurang percaya diri. Ya percaya diri seperti yang kalian bayangkan.
Kapan itu? Bahkan sampai detik ini saya masih merasakannya.
Kalau pun saya terlihat terlalu PD, katakan itu karena terlalu banyak aura dan kepercayaan yang hinggap di sekeliling saya.
 Saya lupa kapan tepatnya, mungkin empat atau lima tahun yang lalu semua ini bermula.
Mula-mula biasa saja, saya tidak banyak berharap. Hingga harapan meminta dan menunjuk saya untuk berpihak padanya.

Awal saya jatuh cinta pada dunia menulis ya karena suka saja, tidak ada alasan atau embel-embel yang lain. Bertahun-tahun saya hidup di situ, serasa jalan di tempat, namun begitu nyaman
 Biasa saja. Tidak ada target yang saya kejar: tepatnya saya tidak terlalu percaya pada dunia tulis menulis. Kalau masih bertahan di sana itu karena memang suka, tidak kurang tidak lebih.

Beberapa tulisan saya hasilkan. Hasilnya cukup memuaskan meski tidak lantas membuat saya percaya pada diri Sendiri.
Kalau tidak percaya sama diri Sendiri, bagaimana bisa percaya pada orang lain?

Maka setelah "kunjungan dari hati ke hati"  pada suatu waktu, saya tersadar akan sesuatu.

Malam jelang dini, berhadapan dengan seorang kawan saya diberi petuah yang sampai hari ini masih saya ingat jelas: kamu itu punya kekuatan yang sama dengan yang lain (sama-sama kuat), hanya saja kamu itu belum menggunakan kemampuanmu bahkan seperempat saja belum.

Sampai di sini saya mengartikan bahwa sesungguhnya jika saya kerahkan tenaga lebih banyak maka saya akan menjadi SAYA YANG KUAT.

Sejak itu saya mencoba berdamai dengan segala h, termasuk keadaan yang membuat hari berantakan.
Hasilnya? Saya tetap kacau. Masih saja seperti kemarin bahkan lebih buruk, setidaknya saya merasakan begitu

 Singkat cerita, sebuah karya menarik saya untuk berdiri lebih tinggi dibanding yang lain. Kalau dibilang titik balik, mungkin seperti inilah mulanya: karya saya diganjar dengan sebuah penghargaan yang cukup menggiurkan bagi mereka yang paham dunia buku. Dari situ kesibukan dan hari-hari saya berubah.

Memang sebelum ada penghargaan ini saya sudah beberapa kali "didaulat" untuk ngoceh di depan ratusan anak muda dalam acara talkshow dan lain-lain. Sebelum dapat penghargaan, saya sudah sering menerima tawaran berbagi motivasi ke banyak kampus atau sekolah. Padahal saat itu kondisi saya yang sesungguhnya sedang dalam keadaan kurang percaya diri

 Sejak penghargaan itu datang, banyak kepercayaan ikutan menyusul, datang dan minta saya untuk menerimanya.
Maka saya pun merentangkan tangan membuka hati untuk "jalan baru".

Aktivis menulis terus jalan, ditambah harus "manggung" memenuhi undangan dari sana sini. Yang pada akhirnya saya rasa justru bukan saya yang MEMBERI melainkan saya yang MENERIMA banyak ilmu dan semangat dari orang yang saya jumpai.

Masih tersimpan beberapa catatan dari para peserta yang pernah masuk kelas saya.
Padahal hari itu saya bahkan belum punya sertifikat atau piagam yang layak untuk dijadikan pegangan menjadi seorang "pembicara".
 Baru setelah lima tahun atau empat tahun belakangan, saya sudah mengantongi lebih dari 3 sertifikat / pengakuan dari pihak lain yang  bisa jadi bekal kalau saya LAYAK untuk menjadi TEMAN BERBAGI

Benar kiranya kata mereka bahwa dengan berbagi kita tidak akan miskin, justru sebaliknya, semakin kaya dan tidak bodoh.

Ilmu menulis saya memang cuma cukup sebatas itu itu saja. Namun beberapa kesempatan membuat saya harus bisa lebih dari yang sudah. NAIK KELAS kalau kata teman jalan.
Dan tahun 2019 ini saya entah atas pertimbangan apa diangkat untuk menjadi MENTOR/ pembimbing dalam kelas BENGKEL SASTRA.

BENGKEL SASTRA sendiri merupakan program tahunan yang diadakan oleh Balai Bahasa Yogyakarta sejak puluhan tahun lampau.
Zaman saya SMA, saya sudah mendengar adanya program ini: namun sangat disayang, jangankan ikut jadi peserta, tahu cara daftarnya saja enggak.

Kini ketika saya sudah berumur, kesempatan itu datang dan "jabatannya" sungguh luar biasa. Bagi saya posisi mentor ini sangat luar biasa, karena saya tahu, mentor itu bagaikan seorang yang maha tahu dan selalu bisa jadi idola.
Sayangnya, saya merasa jauh dari sifat itu

Yang saya paham, saya bisa nulis dan saya tidak keberatan untuk berbagi pengalaman. Apa pun wadahnya.
Dan Tuhan mewadahi saya dalam bengkel sastra, yang tidak pernah saya tolok bahkan dalam pikiran.

 Saya beruntung bisa terlibat tahun ini. Semakin beruntung karena mengampu kelas di Gunungkidul. Artinya tidak terlalu jauh dari gua pertapaan.

Kelas bengkel sastra memang cuma seminggu sekali dan hanya sekian jam, tapi senangnya karena hari itu berarti saya ketemu dengan perwakilan  dari sekolah-sekolah setingkat SMA/K/MA.

Saya mengampu kelas CERPEN. ada sedikitnya 30 murid. Jangan tanya apakah saya hafal namanya. TYDAK.
Seperti saya yang tydak hafal wajah AAN MANSYUR.

Ritual Minggu saya mulai pukul 07.00 hingga 12.00 WIB adalah duduk manis di salah satu ruang di SMK Muhammadiyah Wonosari, tempat bengkel sastra dilaksanakan.
Sudah ada jadwal sekitar 10 kali pertemuan. Ya saya hanya mengajar 10 kali, namun cukup panjang sebab materi yang diberikan melebihi materi anak kuliahan semester pertama.
Pertemuan pertama kali ini tidak banyak materi yang saya berikan.  Karena waktunya juga singkat sebab dipotong dengan acara upacara pembukaan; sudah semacam acara resmi dari dinas-dinas.

Waktu yang sedikit itu saya pakai untuk perkenalan (ya meski sampai pertemuan berikutnya saya juga belum hafal bahkan satu pun gak ingat).
Selain itu saya juga memberikan materi tentang macam-macam jenis tulisan. Ya, sebuah materi yang 'njelehi' tapi pada akhirnya jadi sesuatu yang menarik setelah di tangan saya.

Sejak saya percaya pada diri sendiri, saya juga percaya pada orang lain. Jadi dengan landasan percaya, maka saya mencoba menyuguhkan hal-hal yang tidak mengecewakan.

Kalau kata para influencer, no kaleng kaleng pertemuan yang saya berikan.
Materi dan bahan bisa saja dicari di mana saja, namun untuk gaya penyajian setiap orang pasti beda.
Dan ketika saya selesai dengan satu gaya baru, saya merasa puas, sebab di sana saya melihat senyum dari orang-orang yang juga mengormati saya.

Agaknya benar, cara mudah untuk menjadi sosok TERHORMAT adalah dengan bisa dipercaya.

karena saya percaya dengan sebuah kebaikan, maka kebaikan memeluk saya dengan selimut kehormatan yang hangat. Tidak sia-sia saya begadang membuat bahan presentasi.

Setelah postingan ini, saya sudah menyiapkan postingan lanjutan. Sebab ketika saya menulis ini sesungguhnya Bengkel Sastra sudah berjalan tiga kali pertemuan.

25 comments:

Gaya

Untuk Kamu Para Pemuja Gengsi

8/05/2019 10:12:00 pm Mini GK 22 Comments

Pameran Produk UMKM akan berlangsung sampai tanggal 6 Agustus 2019

Pernah gak sih datang ke sebuah acara  tahu-tahu ada orang lain yang pakaiannya sama persis punya kita? Mana yang sama enggak cuma satu orang, padahal gak ada dress code di acara itu.

Gimana perasaanmu? Pasti kesel banget. Apalagi kalau orang yang samaan itu enggak kita kenal.

Saya pernah di posisi ini, ekspresi pertama tentu saja nyengir sambil tolah-toleh serupa orang salah tingkah gitu. Kalau lagi sama temen, biasanya temen langsung bisik-bisik: stt, kembaran ni ye. 

Kalau yang ngajak kembaran itu gantengnya sundul langit, ya gak apa-apa, malah berasa new couple gitu, tapi kalau sebaliknya, ih tengsin dong. Mau ditaruh mana image yang sudah dibangun bahkan sejak dalam embrio?

Ya emang sih model, warna dan bentuknya bisa mirip serupa, tapi harga belum tentu. Kesel aja kalau barang yang udah kita beli mehong ternyata disamain sama mereka yang beli lebih terjangkau. Dikiranya nilai yang kita pakai jadi samaan. Hal-hal yang seperti ini akan jadi masalah bagi para pemuja branded. Barang kesayangan sudah ada bajakannya di lapak-lapak sebelah.
Tas bisa dibeli di @dzaikahandmade  || 0858 7842 4699


Seberapa besar kamu memuji barang-barang branded?


Kalau pertanyaan itu ditujukan ke saya, akan butuh waktu sekian detik untuk menjawabnya.

Saya suka segala macam bentuk keindahan namun sayangnya saya bukan 'penyembah' hal-hal branded.
Alasannya banyak, salah satunya harganya yang selangit.
Saya ini termasuk penghamba prinsip ekonomi purba; keluar dana minim dengan harapan keuntungan maksimal. Dengan kata lain, kalau gak butuh butuh banget sebisa mungkin jangan belanja. Harus tahu fungsi dan sadar isi (dompet). Selanjutnya saya ini termasuk orang yang enggak seneng kalau ada yang nyamain. Seperti yang tadi saya bilang di awal.

Lebaran kemarin  kakak saya pulang kampung, tapi dia enggak bawa perlengkapan make-up. Sebagai adik yang baik dan kebetulan sebelumnya habis dapat kiriman make-up baru dari salah satu brand lokal, maka saya inisiatif minjemin makeup ke kakak.

Saya kira kakak akan bahagia  sebab makeup yang saya sodorkan produk baru dan belum banyak di pasaran. Eh taunya, serupa menggarami lautan; perbuatan saya tidak dinilai sama sekali. Hiks.

"Ini merek apa?" tanya Kakak.
"Merek baru. Ini mereknya." Saya menyebutkan satu merek brand lokal.
"Gak terkenal. Gak mau aku. Buat kamu aja." Kakak saya menolak dengan lembut tapi cukup membuat hati saya nyeri. *Baperan saya ini 
Cakep dan tampak mahal, produksi UMKM

Adakah yang segitu fanatiknya sama merek terkenal? Lantas sejauh mana merek itu dianggap terkenal? Apakah kalau banyak yang pakai, banyak dijual di toko, atau malah sering iklan di tv?

Saya tipe yang enggak begitu peduli dengan iklan seliweran di tv, majalah atau baleho. Sejak kenal dunia influencer (meski cuma secara cangkang doang) saya semakin paham trik-trik marketing. Jadi enggak akan kagetlah jika banyak merek-merek yang dipajang sana sini. Enggak mudah juga tergiur oleh iklannya.

Saya malah lebih suka sama produk-produk yang belum banyak dikenal. Kalau memungkinkan malah yang custom buatan sendiri. Kalau istilah kerennya sih handmade gitu.
Seiring berkembangnya teknologi, banyak hal-hal yang bisa dibuat sesuai kebutuhan. Bahkan kuliner, fashion, aksesoris, make-up sampai elektronik semua bisa dicustom.

Saya bilang ini merupakan alternatif untuk penggemar gaya unik, beda dan ogah disamain yang lain. Selain bisa buat sesuatu sesuai kebutuhan, bisa juga disesuaikan dengan dana yang ada.

Ya jadinya enggak bermerek dong?

Justru itu, kita jadi bisa buat merek sendiri. Tinggal bilang aja sama pengerajinnya lalu dikasih merek kita sendiri. Dan yang pasti sih produk handmade itu dibuatnya limited edition. Bisa lebih berkelas dibanding produk merek ternama namun dibuat secara grosiran. Dan lagi, sudah pasti asli bukan KW KW atau tiruan.
Produk brand lokal lho ini, tapi tampilan import

Sering lihat orang nongkrong/ jalan, gaya-gayaan pakai barang dengan merek ini itu (merek terkenal) tapi barangnya KW emperan (bukan bermaksud merendahkan lapak emperan), perasan jadi gimana gitu.
Soalnya saya juga pernah di posisi itu, memakai barang bermerek tapi abal-abal, harganya sekian puluh lebih murah dibanding harga asli.

Ya emang gak ada yang bakal komentar macem-macem sih, misalnya ngebully karena pakai barang abal-abal, tapi rasanya jadi enggak pede gitu. Mungkin ini hanya sayanya aja karena pernah suatu hari dengar teman banding-bandingkan barang sesama temannya.

Karena mengejar barang branded dengan kualitas super itu sulit buat saya, maka alternatif ya jatuh ke barang handmade.

Kalau sudah ngomongin handmade ya udah pasti ujungnya merujuk kepada para pelaku UMKM. Barang yang mereka lahirkan udah pasti handmade. Kadang malah cuma satu kali buat sesudahnya enggak bakal buat lagi. Saya lebih merasa percaya diri dan naik kelas saat memakai barang-barang handmade dari UMKM (tanpa merek terkenal) dibanding pakai barang seolah bermerek padahal abal-abal.

Padahal pede adalah kunci dari bersosial. Sejak sering memakai barang-barang (utamanya fashion) handmade, saya merasa semakin shining. *Lebay dikit

Barang handmade itu cakep kalau dipakai buat kado atau hantaran. Saya sadar ini setelah tempo hari seorang teman ulangtahun dan dia bilang bahagia banget saat saya kasih hadiah berupa Bros hasil dari ikut kursus singkat. Katanya: aku suka banget kado yang dibuat sendiri seperti ini. jadi berapa istimewa.

Saya yang dengar dan merasa dipuji jadi melting. Meleleh seketika dan semakin semangat untuk menghasilkan karya baru (demi kepentingan memberi kesan baik, bukan untuk jualan).
De Wita Handmade  @dethawita  || 085726154507
Abang, besok beli cincin kawinnya custom aja di Mbak Wita, bisa rikues kita sesuai kebutuhan.

@dethawita yang berlokasi di Joglo Tanjung juga memproduksi aksesori dari bahan clay. Apa itu clay? Clay adalah bahan aksesori yang dibuat dari tepung.
Tepung untuk dibuat perhiasan? Sungguh tidak sampai imajinasi saya.
Aksesoris ini bahan dasarnya tepung

Kemarin saat sedang cari-cari referensi kado, saya nyasar dengan sengaja ke halaman Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta. Emang sudah dengar sih kalau di sini lagi ada acara #harnasUMKM, makanya sengaja mampir untuk cuci mata.
Niat saya yang enggak tinggi itu berbuah manis. Enggak seperti pameran-pameran lainnya, pameran kali ini lebih meriah, lebih banyak stand, lebih banyak barang, lebih luas, lebih lama acaranya dan yang pasti lebih bisa menguras isi dompet. lebih banyak juga yang bisa dicicipi

Kalau biasanya saya hanya membatasi diri buat jajan makanan saja atau fashion saja, kemarin khilaf ingin baju, ya ingin makan, ya ingin aksesoris, untungnya bisa ngerem untuk enggak tergoda tas dan sepatu. Tergoda sih tapi siasat hemat dengan cara tidak banyak bawa uang cash ternyata cukup berhasil untuk memantapkan diri membeli yang sesuai kebutuhan bukan sesuai keinginan mata.

Produk UMKM enggak kalah dengan barang branded

Elegan dan memukau, tampak mahal

Bagi yang ngikutin Instagram atau status saya pasti tahu kalau saya ini tergila-gila pada tenun Nusantara. Pokoknya yang berbau tenun selalu meluluhkan. Maka begitu jumpa dengan stand yang nge-display sepatu kulit dengan sentuhan tenun, saya langsung belok dan malas beranjak.

Saya jongkok lama pegang sepatu-sepatu itu, enggak semua hanya beberapa yang sungguh menarik. Mbak-mbak yang jaga stand sampai gak tega gitu lihat kegilaan saya, maka diizinkanlah saya untuk mencoba sepatu dan tas yang ada.

Siapa aja yang ngelihat barang-barang itu pasti akan langsung berujar "mahal" atau kata selanjutnya "impor dari mana?", yaelah padahal itu ya bikinan ibukibuk UKMK sekitar Jogja aja.

Kadang otak kita emang sudah kedistrak dan kedikte bahwa barang-barang bagus dan keren itu pasti mahal karena produk impor. Ingin sekali mencuci otak yang sudah kena radiasi macem ini. Belum apa-apa sudah membuat label sendiri.

Kalau misal hasil UMKM itu mahal, ya wajar sih karena melalui yang namanya proses dan pemilijan barang. Tapi semahal-mahalnya hasil karya UMKM, saya kok masih percaya lebih murah dibanding barang branded asli. Harusnya pemikiran dibenerin dulu, karya UMKM itu enggak mahal tapi kamunya aja yang enggak sanggup beli.

Macem saya yang akhirnya enggak beli sepatu kulit sapi balut tenun karena memang belum butuh.

Produk UMKM Bisa Menaikkan Gengsi

2020 sudah di depan mata dan kamu masih enggak paham kalau manusia itu punya gengsi gede banget.

Pernah gak ngalamin seperti ini:
ngajak makan temen tapi dianya rempong dengan bilang, "ih jangan makan di sana, aku gak biasa makan di tempat seperti itu" atau jawab dengan begini, "di sana enak tapi mahal", atau yang seperti ini, "boleh deh di sana, tapi bayarin ya".
Pernah? Pasti.

Gimana perasaanmu? Kesel? Pasti dong. Kerempongan macem ini adalah bentuk dari menjaga gengsi namun dengan cara membuat kesal teman-temannya.
Kalau saya ketemu orang seperti ini biasanya akan langsung senewen. Ujungnya besok-besok udah males lagi jalan sama dia. Mending jajan, cari makan sendiri yang sesuai gengsi sendiri daripada nurutin gengsi orang lain.
Buat kamu pecinta pedes

Kalau kamu ada teman diajak jajan di pameran UMKM, enggak mau, alesannya kurang percaya kehigienisan dan kehalalan makanan yang disajikan, suruh temanmu itu bertelur saja.

Hari gini masih gak paham juga sehebat dan bagaimana perkembangan UMKM? Pasti orang-orang yang seperti ini pikniknya kurang jauh, pasti enggak ngerti kalau di dunia ini ada yang namanya Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta. Baiknya orang macem ini emang disuruh cuci kaki dan bobo cepet daripada kelayapan menuh-menuhin jalanan.

Sepanjang saya kenal para pelaku UMKM, enggak pernah saya njuk jatuh pingsan habis makan jajan mereka. Malahan saya jadi terinspirasi dari mereka. Ya gimana enggak, sama-sama berbahan dasar kentang; kalau saya cuma bisa mengolah jadi masakan itu itu saja, ditangan UMKM kentang bisa jadi komoditas jualan mahal. Mereka terlalu kreatif.
Contoh kemasan yang belum bisa masuk stand bandara

Higienis dan Halal

Untuk masalah higienis dan kehalalan, UMKM sudah paham pakemnya. Mereka bahkan lebih tahu dibanding kamu, bagaimana cara mengurus surat izin usaha juga syarat mendapat label halal. Jadi ketika kemarin temen sok-sokan bilang:  "Min, kok kamu makan ini sih? Ini kan dari (sebut nama bahan gak halal)" saat itu juga saya jawab: hello, ini lho label halal gede (nunjuk kemasan) dan ini lho hasil karya teman-teman IPEMI, ikatan pengusaha muslimah Indonesia, muslimah cuint, udah pasti halal dong". Temen saya melengos gagal ngerjain saya.

Selain itu, produk UMKM sekarang juga memperhatikan packaging. Dan saya baru tahu kalau ternyata untuk kemasan makanan (kuliner)  yang full plastik (makanannya terlihat jelas) tidak bisa masuk bandara atau sektor ekspor. Jika ingin ikut dijual di bandara (dinas koperasi UMKM punya stand di bandara) maka harus memakai kemasan yang tertutup.
Contoh kemasan yang bisa masuk stand di bandara

Nenteng jajanan dari produksi UMKM itu enggak akan menjatuhkan harga dirimu justru sebaliknya akan meningkatkan citra dan gengsimu di mata rekan-rekan barumu. Kalau gak percaya ya silakan buktikan sendiri.

Saya sih udah pernah; bawa oleh-oleh hasil dari UMKM, udahannya pada tertarik untuk titip dibeliin (dipaketkan).

Daftar jajan


22 comments:

Gaya

Tentang Rasa Dari Mata Turun Ke Hati

7/27/2019 07:31:00 pm Mini GK 37 Comments

Kadang kala pembeli itu menjelma serupa seorang yang sedang jatuh cinta, mula-mula ia akan tertarik pada tampilan (fisik) selanjutnya baru kerasa di dada (hati).
Bermula dari tatapan hangat penuh pesona selanjutnya jatuh hati.

Selanjutnya, biarkan rasa bekerja dengan semestinya. Apakah akan bertahan atau cukup hanya singgah sesaat.

Pembeli adalah raja, benar, selain mendapat pelayanan istimewa seorang raja juga pastilah kaya; yang otomatis gampang untuk mengeluarkan uang demi kepentingannya.

Lantas bagaimana dengan pedagang (penjual)?
Tenang, sebab penjual adalah 'tuhan' sang pencipta.
raja tanpa 'tuhan' maka tiada arti.


Tempo hari seorang kawan berkeluh kesah kepada saya. Sebagai kawan baik, saya sok-sokan menyediakan telinga, sebab kadang kala yang orang butuhkan itu pendengar yang baik, bukan penceramah ulung yang sedikit-sedikit mengharamkan sesuatu. #eh

Ceritanya kawan saya itu lagi dalam tahap ingin mendalami dunia UMKM, ia ingin membuat bisnis dengan merek yang sudah dia godok jauh-jauh hari sebelum produknya launching.

Kawan tersebut berencana produksi sabun mandi berbahan alami (dengan misi ingin membantu menyelamatkan bumi). Cerita sampai di sini cukup membuat saya tertarik; tidak lagi telinga yang saya sodorkan tapi juga tangan dan hati (maksudnya tangan kosong yang siap jika dibutuhkan tenaganya, hati tulus yang selalu akan mendoakan tiap usahanya). Simpel.

Masalah muncul, sebenarnya bukan masalah tapi hanya sedikit kendala yang kami (saya dan kawan) belum pasti yakin kunci mana yang akan menjadi solusi, yaitu tentang pengemasan alias packaging.

"Bisa bantuin gak mikirin pengemasannya?" tanya kawan.
"Emang konsep kamu mau gimana?" tidak menjawab saya justru melempar tanya balik.
"Yang ramah lingkungan. Pokoknya sebisa mungkin minim plastik."
"Udah ada gambaran?"
"Rencana mau aku buat macem besek-besek dari bambu itu. Cuma belum tahu di mana nyari pengerajin bambu yang cocok kantong."

Saya diam sejenak. Bukan mikirin pengerajin bambu di Muntok tapi sedang mengingat dimana kiranya pernah dengar tentang pelatihan packaging.

Main-main di Instagram dan saya langsung ingat dengan PLUT-KUMKM DI Yogyakarta yang sering menjadi mitra baik para pelaku UMKM.

"Coba kamu buka Instagram @plutjogja, di situ tuh gudangnya para pelaku UMKM berlatih banyak hal. Kantornya dekat sama tempatmu. Ntar aku anterin kalau kamu mau. Gabung juga dong di Womenwill sama Gapura Digital. Biar upgrade dan enggak galau saat nanti udah beneran terjun ke UMKM."
Singkatnya habis ngobrol itu, kawan sedikit tercerahkan dan sebentar-sebentar browsing cari alternatif pengemasan yang cocok untuk sabunnya.

Saya bilang kepadanya: pembeli itu mula-mula akan tertarik pada kemasan, kalau kemasannya enggak meyakinkan, ya udah jelas enggak dilirik. gak perlu meriah, simpel tapi mengena.

Bagian mengena itu padahal sulit sekali. Itu cuma bisa-bisanya saya untuk membuat semangat kawan semakin membara.

Seperti yang saya bilang, pembeli adalah raja. Sementara raja seringkali banyak ribetnya dan pasti suka sesuatu yang WOW.
Salah satu cara agar terlihat WOW tentu saja dengan memuaskan indera penglihatan.

Dua merek dengan produk dan kualitas sama; yang satu pengemasannya asal-asalan, yang satu pengemasannya menarik. Pilih mana? Pilih yang menarik pasti.

Maka kepada kawan itu saya sarankan  untuk belajar pengemasan selain tentu saja tanpa mengurangi asas manfaat dan fungsi dari produknya sendiri.

Saya kira hampir semua UMKM sudah paham tentang teknik pengemasan ini. Mungkin yang belum itu disebabkan karena kurangnya pengetahuan saja. Mungkin sesekali perlu tuh main ke Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta biar banyak mendapat pencerahan.

Belum sempat saya ajak kawan pergi ke kantor PLUT, saya justru main-main ke pameran gelar produk UKM di Pendopo Gabusan Bantul. Tadinya mau ngajak itu kawan, sayang dia lagi sibuk cari susu kambing untuk produk sabunnya. Ya sudah saya main sendiri jadinya.

Tempatnya emang lumayan jauh dari tempat tinggal saya (Gunungkidul). Cuaca juga agak-agak galau bikin niat maju mundur, untungnya enggak sampai kendur.

Saya sampai di Pendopo Gabusan dengan wajah linglung. Why? Soalnya kaget, banyak banget orang yang datang. Saya sampai bingung parkir.
Ternyata di lokasi acara pameran itu ada hiburan jatilan. Ya Tuhan pantas banyak banget manusianya.
Itu beberapa stand UMKM ketutupan penonton. Kalau enggak jalan maju, mungkin pengunjung enggak akan tahu kalau ada stand fashion di dalam pendopo.

Saya masuk ke dalam pendopo, dan hai, seneng banget langsung disambut dengan manekin manekin yang digantungkan. Manekin manekin itu dililit shibori, ecoprint dan batik tulis. Manis-manis, ingin punya; kainnya.

Saya muter macem gasing, seperti kebiasaan pantang belanja sebelum kelar muteri arena. Untung arenanya cuma kecil jadi bisa langsung menentukan pilihan.

UKM dan packaging

Pembeli ibarat orang jatuh cinta: mula-mula memandang dengan mata selanjutnya merasakan dengan hati.
Maka terjadilah, mata saya kepincut pada ecoprint dari MULFA ECOPRINT.
MULFA ECOPRINT
Mbak Ulfa yang jaga stand baik banget. Ya seperti yang orang ketahui saya ini cerewet dan cukup antusias kalau sudah ketemu ecoprint. Maka Mbak Ulfa adalah salah satu orang yang cukup sabar menjawab pertanyaan saya.

"Kami hanya memakai bahan alam, Mbak. Kami juga enggak menyisakan bahan sama sekali. Bahkan daun-daun kering pun kami manfaatkan." Mbak Ulfa mulai berorasi, saya mulai berbinar-binar ingin tahu lanjutannya.

Lantas mata saya jatuh kepada daun-daun, benang, palu dan aneka cuilan kayu dalam wadah yang sekilas mengingat pada  ritual sesaji.
Seakan mengerti kegalauan saya, Mbak Ulfa lanjut bercerita, "tenang, itu bukan sesaji."
Karena Mbak Ulfa senyum, ya saya ikut nyengir.
Uborampe ecoprint

"Itu bahan-bahan yang dipakai untuk membuat ecoprint."
"Oh iya, iya. Saya ingat."  Macem orang gak pernah ngerti ecoprint aja, masak kaya gitu aja gumun, batin saya.
"Kalau kayu-kayu itu, itu yang digunakan untuk pewarna alami."
Mbak Ulfa menjelaskan beberapa kayu yang berfungsi untuk membuat warna kuning, oranye dan coklat. Saya lupa apa nama kayunya, yang jelas saya sempat menciumnya, seolah menemukan harta Karun di dasar samudra.

Mbak Ulfa juga menjelaskan tentang daun-daun yang dipakai untuk ecoprint. Dan ke-norak-an saya kambuh mana kala dengar kabar bahwa daun jati itu biasanya beli lima puluh ribu perkilo, sementara daun Lanang harganya lima puluh ribu persetengah kilo.

Suweerr saya melongo, ingin rasanya saat itu juga panen jati di kebun Bapak dan menjualnya ke Mbak Ulfa. Sayang, tidak semudah itu. Sebab mereka para UMKM biasanya sudah punya jaringan; saling gendong gandeng (istilah ini baru saya dengar hari sebelumnya dari Ibu Dinas Koperasi UKM).

Dari semua stand ecoprint yang saya lihat, baru di MULFA ECOPRINT saya menemukan packaging yang menarik. Kain-kain yang dijual akan ditaruh dalam kotak wadah semacam kado. Cantik dan elegan. Dan saya yakin, pengemasan yang seperti ini membuat barang di tempat ini memiliki harga jual lebih dibanding stand yang lain.
Cantik, jadi ingin unboxing divideoin
Setidaknya begitu yang pernah saya dengar: tambahan pernak pernik meski cuma sedikit bisa membuat produk jadi memiliki nilai jual lebih tinggi bahkan bisa dua kali lipat. itulah kenapa para pelaku UMKM harus kreatif dan menangkap peluang.

Saya mengakhiri obrolan dengan Mbak Ulfa dengan cara bertukar nomer ponsel. Untuk apa? Saya berencana mengajak komunitas untuk ikut pelatihan yang diampu oleh Mbak Ulfa.
Mbak Ulfa punya 'ruang kerja' di Gedung Pyramid yang bisa sewaktu-waktu didatangi jika ingin diajarin kelas ecoprint. Harganya cukup terjangkau. Aman deh. Yang mau kontaknya, bisa komentar di bawah, yes. Ntar saya bagi.

UKM dan Inovasi Baru

Jatilannya belum kelar saat saya selesai ngobrolin ecoprint. Karena saya belum sarapan, kecuali minum segelas susu, saya langsung menuju ke stand kuliner.

Tidak seperti prinsip awal: muter dulu baru jajan, saya langsung main jajan saja saat ketemu penjual keripik jamur.
Jamur crispy dan bakso jamur
Eh sebelumnya nyobain dulu ding, nyobainnya pakai banyak. Saya ngicip keripik jamurnya, tahu-tahu ibu sebelahnya nawarin bakpia pisang, sebelahnya nawarin Pai, ada juga yang jual bawang goreng. BAWANG GORENG my love. Seneng banget ketemu bawang goreng di pameran kali ini secara dulu kalau mau bawang goreng ingatnya ya Palu, Sulawesi. (sayang gak sempat foto-foto itu bawang goreng).

Saya tetap pada pilihan pertama keripik jamur crispy dari Rahma Snack (member koperasi jamur merekah)

Lagi-lagi yang membuat saya tertarik adalah kemasannya yang rapi dan kalau misal ditenteng atau buat oleh-oleh itu cakep bentukannya.
Baru setelahnya mencicipi dan cocok dengan lidah. Jadilah beli.

Ibuknya sedang enggak sibuk, jadi saya ngobrol panjang sama beliau. Apalagi saat saya tahu kalau risoles dan pepes di depan saya juga isinya jamur.
Gak perlu jauh kalau mau "pesta" jamur. Ibuknya bisa menyediakan.
Pepes jamur

"Pepesnya jamurnya juga,  Mbak. Risolesnya juga isi jamur. Mau coba?"
Tentu saja saya menolak. Masak iya semua saya cobain. Kan nanti jadi enak, jadi ketagihan. Eh.

"Memang harganya berapa, Bu?" akhirnya terlontar kata sakti. Gak enak kalau makan gratis.
"Pepesnya empat ribu. Risolesnya seribu lima ratus."
Otak saya langsung berputar, jadi misal mau rapat-rapat komunitas bisa nih ambil dari ibuk. Menarik lho, apalagi buat yang enggak makan daging.
Risol jamur
Hai bukan hanya itu, ibuk juga menawarkan bakso bakso yang dijualnya. Bakso itu sama, bakso jamur.

Nah lho, setelah sebelumnya kenal bakso Kelor sekarang kenal bakso jamur. Emang UMKM itu juaranya berinovasi. Pantas bapak dari kemenhum yang ngurusin HKI memuji para UMKM yang selalu update dan upgrade varian baru dalam karya-karyanya.

"Buat bakso daging lebih mudah dibanding bakso jamur, Mbak." Ibuk menjelaskan saat saya pilih-pilih bakso yang bakal jadi oleh-oleh orang rumah.
"Ini dimakan pakai apa, Bu?" tanya saya takut gak bisa bumbuin.
"Itu sudah dibumbuin, Mbak. Enggak pakai pengawet. Bisa langsung dimakan, atau kalau mau bisa dibuatkan kuah bakso biasa atau disup."

Wahh ya mau dong ya. Dan beberapa jam dari situ baksonya sampai rumah langsung laris dimakan bapak sama mamak.

UKM dan HKI (kekayaan intelektual)

Masih di stand kuliner saya ketemu lagi dengan olahan jamur. Bedanya, yang tadi jamur crispy dan segala olahan jamur, nah yang ini adanya kripik jamur tiram dengan aneka rasa.

Pernah ngerasain jajanan kriuk rasa jagung atau balado? Nah ini, Kripik jamur tiram merek YAHOOD milik Buk Wirdah Hidayati punya rasa yang seperti itu: balado, jagung dan original.
Jamur rasa jagung, bayangin aja sendiri.

Tadinya saya engga tahu kalau ada varian rasa seperti itu. Yang membuat saya tertarik untuk mendekat ya karena kemasannya kekinian banget. Desainnya anak muda sekali. Kalau misal di bandara atau stasiun bawa jajanan ini tuh dilihatnya berkelas gitu.
Bener kalau packaging itu bisa menaikkan kelas. Gak heran orang-orang juga pakai makeup untuk tampil lebih wow.

Meski pamerannya di Bantul, ternyata YAHOOD asalnya dari Moyudan, Sleman. Lumayan nyeberang lautan manusia macem saya dari Gunungkidul; jauh itu tuh.
Tapi kalau produknya bisa dicari di beberapa toko oleh-oleh dan juga ada di bandara, stand khusus UKM. Besok kalau mau terbang, bolehlah belanja di sini.

Mbah Wirdah pencerita yang baik. Sambil saya ngemil keripik jamur, saya mendengarkan cerita beliau dalam hal ini tentang bisnis keripik jamur.
Pesan bisa ke sini 085743879110

Untuk jamur yang dipakai ini asalnya dari rumah sendiri. Mbak Wirdah membudidayakan jamur. Katanya jamur itu mudah dipelihara, panennya juga setiap hari. Asal perawatan/ treatment yang dipakai sudah benar, jamur akan terus menghasilkan.

"Kalau nyiramnya gimana, mbak?" tanya karena penasaran.
"Pakai semprotan, Mbak. Saya punya alatnya."
Mbak Wirdah lalu menunjukkan video di ponselnya.

Saya bisa melihat suasana tempat budidaya jamur dan cara peliharaannya. Videonya cukup lengkap meski tidak panjang.

"Alatnya semacam ini. Ini buatan sendiri. Anak saya yang membuatnya. Ini bisa dikontrol dari jauh. Jadi kalau pun saya di sini, saya bisa nyiram dengan pencet tombol di hape. Asal koneksi internet aman, proses siram-siram juga bisa."

Widih keren sekali, anaknya pinter dan kreatif. Mbak Wirda butuh calon mantu?

"Bagus. Videonya udah ada di YouTube, kah? Mau lihat."
"Belum, Mbak." Mbak Wirda tersenyum. "Kebetulan belum kami upload karena ini rahasia dapur kami. Nanti saja kalau sudah punya sertifikat hak kekayaan intelektual."
"Iya Mbak benar. Nanti kalau diklaim yang lain malah sayang."

Widih. Hari sebelumnya saya sempat ikut acara yang bahas HKI, eh di sini ketemu pelaku UKM yang juga sudah sangat melek dan peduli dengan HKI.
Saya semakin yakin kalau UKM ini akan terus jadi penjaga gawang perekonomian suatu negara. Faktanya ketika krisis ekonomi, UKM tidak terlalu goyah. Masih bisa berdiri kokoh.

Ah sungguh beruntung ketemu dengan para pelaku UKM yang sudah teruji semacam ini.
Ingin banget ngajak kawan yang galauan itu untuk menghadiri acara-acara semacam ini. Sayang, dia terlalu sibuk.




37 comments:

Pendidikan

Penulis Melek Hak Kekayaan Intelektual

7/25/2019 02:00:00 pm Mini GK 12 Comments

“Oh ini Mbak Mini GK yang penulis itu?”
“Mbak Mini, aku suka banget sama buku mbak mini yang Pameran Patah Hati. Aku kopi buku Mbak Mini lalu aku bagikan ke temen-temenku.”
“Mbak Mini, bagi ide dong untuk calon tulisanku.”
“Mbak Mini, kemarin aku lihat buku Mbak Mini di lapak online, harganya murah Cuma sepuluh ribu. Pas aku beli ternyata isinya jelek banget. Cuma kopian.”

Nah lho, pernah gak berhadapan dengan yang seperti ini?
Saya pernah. Dan itu nyata.

Jadi siapa bilang jadi seniman (baca: penulis) itu mudah? Tidak sayang, jalan seorang penulis itu sunyi dan berliku. Untuk kamu yang mau jadi penulis, coba deh pikir-pikir lagi.

Gini lho, kalau jadi penulis itu susah; setidaknya saat buat KTP saja, diform enggak ada itu profesi penulis. Paling pol ya merujuknya ke seniman.

Setelah kemarin heboh dengan kasus ‘buku bajakan’ lanjut dengan kasus ‘plagiat’, lagi-lagi kasus baru muncul: pencurian ide.

Sebagai penulis, saya kadang merasa takut dan galau untuk mempublis (bahkan meski itu hanya berupa kutipan). Lalu bagaimana seharusnya seorang penulis melindungi ‘anak’ (baca: buku) dari buah pikirnya?

Saya sudah sering membaca atau diskusi tentang hak cipta. Tidak jarang juga ikut-ikutan membahas isu tentang plagiat atau buku-buku bajakan. Tapi sampai saat ini saya tidak tahu sejauh mana sih seseorang bisa diperkarakan karena ‘mencuri’ karya orang lain?

Beruntung hari ini saya berkesempatan untuk ikut hadir di acara #forumHKIkominfo_yogya dengan fokus bahasan #cerdashukum di ballroom Sheraton Hotel.

Acara ini terselenggar atas kerjasama Direktorat Jenderal Informasi Dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informasi, Dinas Koperasi UMKM, transmigrasi dan tenaga kerja, Kemenkuham.

Tujuan acaranya sendiri cocok dengan kepentingan saya yaitu:
1.   mencari tahu tentang Hak kekayaan intelektual
2.   meningkatkan partisipasi publik untuk mendapatkan pengetahuan tentang kekayaan intelektual
ya biar enggak buta-buta banget deh kalau sudah berhadapan dengan kasus intelektual.

Ngomongin regulasi hukum berkaitan dengan kekayaan intelektual tidak akan selesai hanya seekali duduk. Sering saya menjumpai mereka yang sering membicarakan perkara hak cipta, merk, dan segala hukum yang memayunginya. Namun jujur sampai detik ini enggak paham sama sekali.


Pertanyaan muncul: kenapa kekayaan intelektual perlu untuk dilindungi? Jawabannya karena tentang nilai ekonomi yang menyertainya.

Saya baru tahu ternyata kalau tidak semua karya manusia dapat dilindungi oleh rezim kekayaan intelektual. Hanya karya-karya yang memenuhi syarat undang-undang dan peraturan.

Saya pikir semua isi dari novel saya bisa dilindungi. Minimal kalau ada yang mencuplik kutipan dari buku saya, saya kira bisa meminta royalti kepadanya. TERNYATA TIDAK.

Dari penjelasan Pak Handi Nugraha, SH, MH selaku kasi kerjasama lembaga non pemerintah dan monitoring kemenkuham, saya ada gambaran sedikit tentang kekayaan intelektual juga tentang hak cipta (yang berhubungan dengan buku/ karya terbit).

Lalu bagaimana sih caranya agar kita bisa melindungi kekayaan intelektual yang kita punyai?

Pertama ya kita harus tahu apa itu Hak kekayaan Intelektual: kekayaan intelektual atau intellectual property dalam pengertian yang luas dapat diartikan sebagai sekumpulan hak-hak hukum yang dihasilkan dari aktivitas intelektual di bidang industri, karya ilmiah, sastra dan seni.

Jadi gaes, kalau kamu penulis atau pelukis atau penyanyi lalu dibilang TIDAK INTELEK, plis deh bukan kamu yang kurang piknik tapi rangorang yang mengatai dirimu demikian. percayalah dengan menghasilkan karya (ya meski Cuma satu, hiks) kamu sudah bisa dikatakan seorang pernah melakukan aktivitas intelektual.

Cara Melindungi Kekayaan Intelektual
  1.    Dengan cara melakukan pengumuman, bisa melalui internet atau media massa
  2.    Harus didaftarkan ke pihak yang berwenang
  3.    Bisa dengan cara diam-diam karena termasuk rahasia dagang

Jenis-jenis kekayaaan intelektual:
1.   Hak cipta dan hak terkait
2.   Hak kekayaan industri
-      Paten
-      Merek dan indikasi Geografis
-      Desain Industri
-      Desain tata Letak Sirkuit Terpadu
-      Rahasia Dagang
-      Perlindungan varietas Tanaman (yang terakhir ini sering dikesampingkan)

Asas-asas umum Kekayaan Intelektual
  • 1.   Berlaku Nasional/ teritorial
  • 2.   First to file system (kecuali Hak Cipta first to publish)
  • 3.   Mensyaratkan kebaruan/ Novelty dan Orisinalitas (kecuali merek)
  • 4.   Ada janga waktu perlindungan dan tidak bisa diperpanjang kecuali merek
  • 5.   Jenis deliknya delik aduan
  • Artinya hanya pemegangnya yang bisa melaporkan jika ada pelanggaran terkait KI yang dimilikinya, orang lain tidak bisa
  •  

Hak yang terkait dengan hak cipta:
  • 1.   Hak artis (performer)
  • 2.   Hak produser rekaman (producer of phonogram)
  • 3.   Hak lembaga siaran


Di acara ini juga saya berkesempatan ketemu kawan-kawan UMKM dan juga dari Dinas UMKM tenagakerja dan transmigrasi.
Permasalahan utama UMKM
1.                 Aspek teknoligi - kurangnya pengetahuan teknologi produksi, promosi dan pemasaran - kurang mengikuti perkembangan teknologi
2.                 Aspek pemasaran - kurang memahami permintaan pasar - pengetahuan pemasaran - keterbatasan kemampuan menyediakan barang/ jasa sesuai keinginan pasar
3.                 Aspek Permodalan - kurang pemahaman akses pembiayaan formal - modal kecil
4.                  Aspek Manajemen manajemen tradisional baik keuangan, produksi dan pemasaran
5.                 Aspek legalitas umumnya tidak memiliki izin usaha seperti IUM atau persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP dan KI


 Masalahnya ada banyak juga orang yang enggak gampang untuk mengurus HKI. Cara gampang pertama lakukan penelusuran dulu di google agar tidak terjadi persamaan pada pokok merek yang sudah terdaftar.

12 comments:

curhatMini,

Cinlok Yuk!

7/19/2019 08:52:00 pm Mini GK 16 Comments


:
Ada dua insan manusia. Laki-laki dan perempuan. Keduanya tidak saling kenal dan keduanya sama sama suka buku. Lalu mereka masuk klub perbukuan. Saling ketemu saling tukar cerita dan akhirnya memutuskan untuk saling menjaga dengan melalui acara ijab qobul.

Dua insan yang lain. Sama sama ngeblog. Awalnya hanya dunia Maya, lalu sama-sama masuk komunitas blog. Saling akrab dan selanjutnya berakhir dengan saling menyatakan dan menerima cinta. Ijab qobul digelar.

Laki-laki dan perempuan, dua manusia yang sama sama lari ke jalur fiksi karena ingin merasakan banyak sensasi jadi pencipta. Mereka saling koment didalam forum, lalu memutuskan untuk intens saling memberi kritik dan masukan. Karya-karya lahir berbarengan dengan rasa sayang diantara keduanya. Pada akhirnya, ijab qobul adalah awal baru dalam perjalanan mereka.

Tidak ada yang sia-sia dalam sebuah perjumpaan. Bisa jadi di situlah kamu bertemu dengan dia yang selalu dalam doamu.
Perjumpaan kerap kali juga menjadi solusi dari segala kerepotan yang sedang kita hadapi. Dengan jumpa seseorang sering kali kita tersenyum atau terpaksa tersenyum padahal sebelumnya bunek dengan segala urusan.

Perjumpaan bagi sebagian orang adalah catatan bahagia yang selalu dirindu dan dinanti.

Lalu bagaimana dengan perjumpaan yang berakhir ricuh?
Ya ada. Selalu ada yang begini.
Ricuh karena salah paham. Ricuh karena kurang komunikasi. Ricuh kerap tidak bisa dihindari tapi yakinlah ricuh sejatinya menguatkan kita, apakah kita move-on ke jalur dewasa atau mau tetap dalam posisi anak kemarin sore.

Ada jumpa ada pisah.
Ada suka ada duka.
Sebuah hubungan bisa bergoyang dengan mudah jika tanpa dibarengi dengan ikatan kepercayaan yang kuat.

Pada suatu masa, dua insan manusia saling jatuh cinta, merasa dan berusaha untuk saling menjaga. Lalu yang satu harus terbang jauh, yang satunya terdiam untuk menunggu.
Waktu dan jarak memisahkan. Tidak ada gunting ajaib yang mampu memotong jarak itu.
Rindu terus tumbuh dan masing-masing saling menyadari tidak bisa untuk tidak memimpikan.
Satu-satunya yang bisa mereka lakukan untuk menyembuhkan satu dan lain hanyalah doa.

Apalagi yang bisa dipersembahkan oleh dua orang saling cinta yang dipisahkan jarak dan waktu?

16 comments: