agenda

Mimpi Seorang Anak Menjadi Wakil Rakyat

12/09/2018 10:52:00 am Mini GK 0 Comments

Blogger Jogja


Anak Indonesia


Kalau boleh menuliskan lagi cita-cita yang ingin saya capai, maka menuliskan kata "menteri" menjadi salah satu hal yang niscaya.

Jika ada yang mengikuti status-status saya pasti akan mengerti seberapa ingin saya menjadi seorang menteri. Sebuah tanggung jawab besar dengan segala resiko dan tantangan namun sungguh keberadaannya sekarang ini sangat penting buat masyarakat.

Bukan tanpa alasan saya ingin menjadi menteri. Menteri apa itu yang belum sreg. Sesekali ingin jadi menteri perlindungan perempuan dan anak, dikala lain ingin jadi menteri pertanian dan yang paling ingin adalah menjadi menteri lingkungan hidup/ kehutanan.
Ngobrol tentang negara

Cita-cita jadi menteri bukanlah cita-cita sejak kecil, melainkan cita-cita saya setelah dewasa ini. Cita-cita itu berangkat dari fenomena kehidupan di sekitar saya.

Sebagai anak Indonesia, saya cukup bangga dengan kekayaan yang Indonesia miliki. Di sisi lain saya juga sangat sedih sebab ternyata tidak semua anak Indonesia punya kepedulian besar kepada bangsanya. Padahal Indonesia jelas akan bertahan hingga ratusan bahkan ribuan tahun lagi jika anak bangsanya saling bergandengan untuk memperjuangkannya.

Lantas apakah menjadi menteri bisa memperbaiki keadaan ''kurang menyenangkan" hari ini?
Saya masih percaya: orang-orang akan mendengarkan mereka yang punya jabatan.

Bukan bermaskdu menyelewengkan jabatan, tapi jabatan bisa jadi jembatan untuk dakwah. (Tolong jangan panggil saya ibu ustadzah)

MPR RI

Seragam Baru
Lalu sebuah pertanyaan baru muncul: gimana kalau jadi wakil rakyat saja di MPR RI?

Saya akan langsung berkata: tidak.

Bukan saya tidak percaya pada MPR atau DPR, tapi saya lebih sadar diri jika kemampuan saya tidak ada di sana. Utamanya pengalaman saya tidak terlalu bagus dalam berorganisasi. Pula saya bukan seorang yang fanatik terhadap partai politik.

Sementara yang saya tahu, anggota majelis permusyawaratan berasal dari kalangan politisi.

Politik tidak salah. Politik itu sudah ada sejak zaman dahulu kala bahkan di zaman nabi nabi. Kadang kala yang menjadikannya terpuruk dan tak lagi dihormati adalah ulah mereka yang tak bertanggung jawab: hanya mementingkan diri sendiri lupa pada tujuan utama sebuah politik 

Ngobrol Bareng MPR RI

Bersama Sesjen MPR RI Bapak Ma'ruf Cahyono
Tanggal 4 Desember 2018 kemarin boleh dibilang adalah perjumpaan kedua saya dengan pihak MPR RI. Kali pertama berlangsung tahun 2016 lalu.

Saya berjumpa lagi dengan Pak Ma'ruf. Bukan hanya jumpa fisik tapi beliau juga memberikan 'ceramah' seperti biasanya.
Saya tertarik dengan isi dari sambutan beliau.

Ya meski sangat disayangkan pertemuan kali ini hanya berlangsung beberapa jam saja. Sedikit tidak puas dan terburu-buru. Banyak hal lain dan baru yang ingin saya ketahui namun belum sempat dibahas.

Tapi ya sudahlah tak apa-apa, kelak insyaAllah bakal ada perjumpaan lagi dan lagi.

Menjaga Kebhinekaan


Pada malam itu Bapak Ma'ruf kembali mengingatkan agar sebagai anak bangsa; pemilik masa depan suatu negara agar selalu kuat menjaga nilai-nilai nasionalisme.

Setiap generasi penerus mempunyai kewajiban untuk merawat kemerdekaan Indonesia.

Lebih dekat dengan MPR RI

Konon, bangsa tidak akan menjadi besar jika tanpa berdasar nilai-nilai. Sementara itu Indonesia sudah sejak lahir selalu berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila.

4 Pilar Kebangsaan

BLOGGER JOGJA X MPR RI
4 pilar kebangsaan meliputi:
1. Pancasila
2. Bhineka tunggal Ika
3. NKRI
4. UUD

Agar tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak diharapkan (misal terorisme) maka seorang anak hendaknya sejak kecil sudah diberi pemahaman mengenai agama dan Pancasila. Diajarkan tentang demokrasi secara santun.
Suasana ngobrol bareng MPR RI

Nilai-nilai dari Pancasila selalu menempatkan manusia diatas segalanya. Jadi tidak dibenarkan adanya pelanggaran HAM.

Dalam ''ceramahnya", Pak Ma'ruf juga menekankan bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara harus selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan juga mengedepankan nilai-nilai hukum.

You Might Also Like

0 comments: