Mengintip Ruang Gerak Ramah Disabilitas

9/19/2018 06:15:00 pm Mini GK 0 Comments

Jelang Asian Paragames 2018 agaknya elok nian jika saya menulis beberapa pertemuan yang pernah saya alami dengan teman-teman dengan kebutuhan khusus.

Sebagian kita pasti berasumsi jika seseorang dengan kebutuhan khusus adalah mereka yang tidak sempurna. Padahal titik kesempurnaan itu sendiri kadang kala kita masih blur. Apakah yang sempurna itu hanya milik mereka yang tampak sama dengan yang kebanyakan? Lantas bisakah seseorang yang dikategorikan tak sempurna atau berkebutuhan khusus itu memperoleh kesempatan sama dengan mereka yang normal?

Alangkah baiknya sebelum jauh melangkah bersama, saya memberikan defini dahulu tentang difabel. Dalam KBBI V secara singkat difabel diartikan dengan penyandang cacat. Sementara di buku lain bisa dijabarkan bahwa difabel atau bahasa inggrisnya different ability adalah seseorang yang mempunyai keadaan fisik atau sistem biologis berbeda dengan orang lain pada umumnya. (hampir sama dengan awal postingan ini).
Sementara disabilitas (kata lain dari difabel) diartikan sebagai keadaan tidak mampu melakukan hal-hal dengan cara yang biasa.

Tentang Difabel

Sejak kecil sering saya berjumpa dengan mereka yang disebut kaum difabel. Dari yang saya tahu (dengan bertanya atau mendengarkan penuturan orang lain) difabel bisa merupakan bawaan dari lahir dan atau karena sebuah kecelakaan.

Masa SD mendekatkan saya dengan teman difabel. Lingkungan saya (baik dulu bahkan sampai sekarang) selalu menganggap sosok difabel dengan pandangan kasihan, melas, ngilu pula takut. Takut karena sebagai penduduk dusun masih sering mengaitkan musibah (keadaan seseorang yang cacat dianggap sebagai musibah) bisa terjadi karena sebuah kesalahan/ tulah/ kualat dan ada baiknya tidak usah didekati karena bisa jadi tulah itu menular ke orang-orang yang dekat dengannya. Padahal teori ilmiah belum membenarkan pikiran-pikiran purba semacam ini.

Kawan SD saya (perempuan) menjadi difabel sebab sebuah kecelakaan. Dokter harus mengaputasi satu kakibahkan ketika dia belum mendapatkan haid pertamanya.
Sejak kejadian itu hingga hari ini, besok, lusa, tulat, tubin hingga nanti dia hanya memiliki satu kaki untuk menopang tubuh.

Meski begitu, lepas dari frustasi yang mendera pula dukungan dari orang-orang terkasih (juga kenalan sana-sini) kini dia menjadi seorang penyandang cacat mandiri. Dia sadar lain maka dia menonjolkan kekuatan yang dipunyainya untuk bertahan. Kini dia bukan hanya seorang pegawai garmen yang cekatan tapi juga merupakan seorang ibu dan istri bagi anak dan suaminya. Sesuatu yang membanggakan bukan?

Cerita lain yang tidak saya sangka juga datang dari kawan finalis Duta Baca 2018. Syafrina namanya, seorang lulusan S2 juga pengajar di salah satu SLB, ia terlahir dengan celebral palsy. Meski begitu kemampuan dia dalam berkomunikasi sangat bagus.

Di luar yang saya ceritakan masih banyak teman-teman lain yang dikarunia 'kebutuhan khusus'. Ada yang memang bertahan bahkan berprestasi melebihi orang-orang normal. Namun tidak sedikit yang mengalami kekalahan sebelum berperang. Mirisnya kadang kala kitalah peyumbang kekalah bagi mereka. Kita yang normal ini seringkali semena-mena kepada mereka yang sesungguhnya juga punya hak yang sama di muka Bumi ini.

Fenomena Now

Orang 'normal' butuh piknik, sekolah, jalan-jalan, nongkrong, belanja dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Bagaimana dengan para difabel? Mereka juga butuh itu semua. Kebutuhan kita sama. Sama-sama makan pecel lele, sama-sama menggunakan whatsapp, sama-sama butuh internet, sama-sama butuh tempat nongkrong, dan lain-lain dan lain-lain.

Namun sering kali kita yang 'normal' ini curang. Sering menjumpai meme perkara konblok jalan yang tidak ramah untuk tuna netra? Atau malah pernah menjumpai sendiri seorang difabel dengan kursi roda yang tidak bisa masuk ke sebuah ruangan karena jalannya berundak-undak dan tidak ada jalan untuk kursi roda? Saya pernah (sering), beruntung banyak orang baik yang dikirim untuk menolong kawan difabel ini.
Entah apa jadinya jika semua orang curang dan 'main-main' pada para difabel.

Area Publik Bagi Difabel

Sebelum-sebelumnya saya sudah mendengar adanya 'kampus ramah difabel', 'kota inklusif', dan semacamnya yang intinya; memberi kenyamanan bagi para penyandang disabilitas. Tapi ternyata dari beberapa yang saya baca, belum seluruhnya mawujud nyata seperti angan-angan.

Ada memang kampus dengan label ramah difabel, namun ternyata hanya dibagian-bagian tertentu saja. Masih ada area-area yang sulit dijangkau oleh kawan-kawan disabilitas.
Kota inklusif?

DI Yogyakarta sudah sejak lama mencoba menjadi daerah dengan kawasan inklusif aksesibel. Kultur masyarakat DI Yogyakarta yang ramah dan santun memungkinkan terciptanya lingkungan masyarakat yang juga ramah, santun, bersahabat, terbuka dan menyenangkan bagi para disabilitas.
Pemerintah DI Yogyakarta melalui 'kekuasaan' telah membuat aturan-aturan yang sedemikian untuk mengayomi semua masyarakat.

Salah satu bentuk nyata dari Yogya sebagai kota ramah difabel adalah dengan dilahirkannya ruang-ruang publik yang bisa diakses oleh siapa pun masyarakat luas.
Diskominfo bahkan menyengaja membuka co-working space yang merupakan ruang kreatifitas dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan para penyandang disabilitas.

Inklusif Aksesibel

Untuk bisa menyandang 'gelar'  inklusif  aksesibel dibutuhkan banyak indikator. Co-working space diskominfo telah mengantongi indikator tersebut yaitu: adanya partisipasi difabel, adanya upaya pemenuhan hak-hak difabel, terjamin aksesibilitas dan adanya sikap inklusif dari pihak terkait (baik warga mau pun pemerintah).

Kalau saya boleh bilang, saya bersyukur dengan dibukanya ruang publik ini. Saya bisa berinteraksi dengan banyak orang bahkan tidak hanya mereka yang normal tapi juga yang berkebutuhan khusus.

Area publik memang sudah menjadi trend yang tidak bisa dihindari. Banyak anak muda yang lebih sering di luar dibanding di dalam rumah. Mereka bukan hanya keluar untuk kelayapan tapi bisa jadi belajar atau mengerjakan tugas atau meeting atau bisa jadi bekerja.
Co-working space yang ada saya kira bisa jadi satu tempat kerja baru buat anak muda. Era ini kerja kerja tidak  melulu harus di kantoran di depan bos. Sambil minum kopi di co-working space seseorang  bisa merubah nasib atau telah menjadi bos.

Para difabel dengan adanya ruang yang ramah untuk mereka pasti lebih semangat lagi untuk menjalankan aktifitas. Jangan salah, difabel juga banyak yang jadi bos-bos atau milyader. 

Harapan saya pribadi co-working space diskominfo akan selamanya  menjadi rumah nyaman dengan akses mudah, update, lapang, ruang bersama dengan perlindungan privasi. Menjadi ruang gerak untuk siapa saja.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi Pagelaran TIK yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informasi DIY.

You Might Also Like

0 comments: