kuliner

Sejumput Cerita Bolu Susu Merapi Diantara Tren Jajanan Artis

5/04/2018 03:59:00 pm Mini GK 4 Comments


Bolu Susu Merapi

Perempuan cantik itu konon seorang pengantin baru, ia tersenyum kepada saya (dan teman-teman). Duduk manis di bangku sambil memperkenalkan anak barunya: Bolu Susu Merapi, begitu beliau menamai anaknya tersebut.
Bukan anak pertama ternyata, sebab sebelum bolu susu, beliau sudah punya anak-anak bisnis yang lain.

"Kalau ditanya kenapa saya akhirnya punya usaha kue bolu, terutama bolu susu, sebenarnya alasannya terlalu personal. Saya hanya ingin orang merasakan susu namun tidak seperti orang yang sedang minum pakai gelas." begitu kata Aggia Pino si perempuan cantik yang tidak hanya suka kuliner namun juga sebagai bidan dan owner lahirnya Bolu Susu Merapi.
Saya acungi jempol untuk kenekatan Mbak Anggia Pino hadir dengan bolu susu diantara gempuran trend kue-kue artis di berbagai kota. Semakin kagum setelah tahu bahwa pemilihan kue bolu bukan pastry atau apalah sebab kue ini yang baginya dianggap pembuatannya paling gampang dan lagi tersturnya lembut.
Bolu Susu Merapi ada dua varian; vanilla dan coklat

Bolu Kue Klasik nan Asyik

Setelah sekian lama akhirnya ada kesempatan lagi untuk menulis tentang kuliner. Hmmm, aroma keju dan butiran gula di atas kompor langsung tercium di mana-mana. Saya bukanlah seorang food hunter sejati, namun percayalah bahwa saya ini adalah seorang pemakan segala.


Kemarin (iya baru kemarin banget) saya berkesempatan untuk mengicipi semacam kuliner kekinian namun enggak kekinian. What? Maksudnya?
Hemm...
Jadi gini, saya akan cerita tentang makanan, oleh-oleh, olahan atau apalah kalian menyebutnya; mungkin sama dengan judulnya; sebuah Bolu Susu.

Bolu Susu? Jadul banget ya?
Mungkin bagi sebagian orang bolu susu memang sebuah makanan jadul. Yang jika dibandingkan dengan jajanan kekinian ala-ala artis maka bolu susu enggak mendapatkan tempat prestisus. Itu mungkin bagi sebagian orang. Tapi ternyata enggak bagi saya dan keluarga. (Saya harus ambil contoh yang dekat dong ya)

Jadi ceritanya saya jajan beberapa kue-kue secara berkala, enggak terus-terusan. Bukan karena kebanyakan uang, cuma sekedar ingin tahu aja rasanya. Ingat, saya bukan orang yang sering mengikuti perkembangan zaman. Kalau suka ya hayuk kalau gak suka ya plis jangan dipaksa. Cinta saja bisa memilih jalannya kenapa makan kue harus dituntut sama, eaa

Hingga kemarin malam saya pulang membawa sekotak Bolu Susu Merapi. Sebuah jajanan kue, baru yang ada di Jogja. Pertama jatuh cinta sama kue ini karena saya paham apa itu bolu, bukan sesuatu yang baru. Pula harganya murah. 30 ribu udah dapat sekotak pakai ada kembalian pula. Maka fix saya ambil sekotak dan bawa pulang.

Saya berikan kue itu untuk Bapak dan Mamak. Bapak saya memang suka makanan apa saja, hampir sama dengan saya. Bedanya Bapak hanya tinggal makan, sementara saya sebelum makan rewel mengenai kandungan gizi dan komposisi. Sementara Mamak adalah perempuan (tipe masa lalu) yang sangat susah untuk menerima makanan-makanan kekinian.

Pengalaman dengan kue kue sebelumnya yang enggak dimakan sama Mamak, saya juga sempat was-was dengan Bolu Susu Merapi ini. Takut dan sayang aja kalau mamak sampai enggak mau juga.
Seperti biasa, saya taruh kue itu di meja sebelum berangkat tidur. Artinya makanan di situ sudah halal mau dimakan siapa saja.
penampakan Bolu Susu Merapi; cantik mudah ditenteng

Paginya saya tengok kue dalam kotak itu tinggal separuh. Bukan kerjaan Bapak tentu saja, sebab Bapak biasanya baru akan makan kalau dikasih saya atau mamak.
Begitu saya cari tahu, ternyata kue itu sudah dipotong-potong kecil sama Mamak dan dibagi-bagi (untuk dirinya dan bapak). 

Di beranda pagi hari bermandikan matahari pagi dari timur, bapak dan mamak duduk manis menyantap Bolu Susu Merapi dengan berteman segelas teh pahit.
Saya belum mandi dan mengamati kebahagian pagi tadi dengan begitu lega. Setelah sekian lama akhirnya Mamak mau juga makan jajanan (kue) ala-ala yang saya bawa.

Setahu saya, mamak itu paling enggak suka kue basah apalagi yang bertabur keju. Mblenyek, begitu selalu beliau bilang. Tapi ternyata lidah dan selera mamak bisa juga takluk oleh Bolu Susu Merapi.

Hari ini juga saya sadar, bolu adalah kue khas yang punya cerita panjang bahkan sebelum hari ini.
Bolu bukan hanya teman orang-orang kota tapi juga menjangkau rakyat-rakyat dusun sejak bertahun lampau. Tidak heran kalau mamak saya cocok dengan olahan bolu.

Bolu bukan barang baru. Bukan sebuah kue yang lahir dengan teori njelimet, namun ia lahir oleh sebuah keadaan. Begitu klasik dan penuh cerita.

Lewat secangkir teh pahit yang masih mengepulkan asap, saya tahu, bolu susu merapi telah memeluk kerinduan mamak akan kue kue yang pernah menamaninya di masa lalu.
Bolu Susu Merapi hadir sebagai bolu yang terlahir kembali.
Ia adalah bolu yang klasik namun tetap asyik. Manis dan begitu modern dengan kotak persegi.

Kelak orang (saya) akan mengerti bahwa Bolu Susu Merapi adalah salah satu alternatif oleh-oleh dari kota Yogyakarta.


empuk dan enggak eneg

Kandungan Gizi dan Vitamin Bolu Susu Merapi

Sebelum bolu susu merapi mampir di rumah dan menyentuh lidah bahkan sampai lambung keluarga, saya sudah memastikan bahwa kue itu layak konsumsi. Layak untuk dibanggakan sekaligus trendi untuk buah tangan.

Bagaimana bisa saya yakin? Sebab kemarin sebelum pulang, alhamdulilah saya bertemu dengan ownernya langsung sekaligus pakar susu yang menangani Bolu Susu Merapi.

Di awal tadi saya bilang bahwa bolu bukan sebuah resep njelimet nan membingungkan, nyatanya saya salah. Bolu memang klasik dan sejak zaman nenek moyang memang telah ada. Namun khusus Bolu Susu Merapi yang baru saja lahir, ia tidak hanya lahir karena keinginan menghadirkan pesona masa lalu sebagai alternatif pilihan jajanan masa kini, melainkan ia adalah sebuah proses panjang yang bahkan membutuhkan waktu hampir setengah tahun riset laboratorium.

Bolu Susu Merapi bukan makanan yang bisa bertahan lama, ia hanya berusia sekitar 3 hari di suhu normal dan 5 hari jika disimpan dalam kulkas. (dan hanya bertahan tidak sampai 24 jam di rumah saya, sebab semuanya doyan).

Konon semua itu karena komposisi bahannya adalah bahan-bahan alami, tanpa pengawet dan bahan kimia. Bapak Sandi Saveno selaku praktisi atau nutritions yang paham dengan dunia susu menegaskan bahwa pemilihan bahan dan susu sudah diperkirakan kompisis, takaran dan kualitasnya. Semua sudah diukur sehingga pada akhirnya bisa menciptakan sebuah kue bolu yang tidak hanya enak bergizi namun juga menjangkau kantong masyarakat.

seru-seruan bareng blogger jogja; kami tidak menjual gengsi

Sekedar Gaya atau Gengsi

Lahir di antara jajaran kue-kue artis, Bolu Susu Merapi agaknya sudah siap mental (jiwa dan raga). Sang owner, Mbak Anggia Pino sudah memperkirakan hitungan hitungan dan strategi untuk menjadi si anak tidak hanya makanan semata namun juga sebuah icon baru bagi dunia oleh-oleh (khususnya kuliner) Yogyakarta.

Terinspirasi oleh keagungan Merapi yang tersohor tidak hanya di Jawa namun juga seanteri negeri bahkan manca, di mana di kawasan ini banyak peternakan penghasil susu berkualitas, Bolus Susu Merapi lahir dengan spirit berbagi dengan hati.
Harapannya bolu ini bisa mengjangkau segala lapisan masyarakat.

Sang pemilik berharap kehadiran bisnis barunya bisa sebagai salah satu ajang untuk berbagi cita rasa dengan masyarakat. Maka pada akhirnya muncul angka dua puluh delapan ribu rupiah untuk satu kotak Bolu Susu Merapi.

"Saya tinggal dan asli dari Jogja. Saya tahu kalau orang-orang yang tinggal di sini snagat senang dengan harga-harga terjangkau. Maka saya juga berpikir kenapa enggak untuk membuat kue yang harganya murah namun lengkap dengan gizi dan nutrisi? Dan berkat bantuan Mas Sandi sebagai patner akhirnya Bolu Susu Merapi ini ada."
Tidak sama persis namun begitu kiranya yang Mbak Anggia Pino sampaikan kepada saya (dan teman-teman) saat kemarin berkunjung untuk mencicip bolu susu merapi.

Kok saya langsung seneng dengan konsep yang diusung sang owner. Murah bergizi dan penuh makna; berbagi dengan hati.

alternatif oleh-oleh

Rp 28.000,00 menurut saya bukan harga mahal. Lagian kemasan cukup elok. Ora ngisin-ngisini kalau dipakai buat oleh-oleh ke saudara atau rekan, begitu kalau orang jawa bilang.
Saya tidak masalah menenteng bolu susu seharga itu untuk hadiah ke teman. Tidak ada gengsi toh belinya pakai uang sendiri (bukan hasil nyolong). Saya bukan penganut gaya kekinian yang apa-apa diukur dengan rupiah.
Bolu Susu Merapi menarik untuk saya yang suka hal-hal klasik dan tidak terlalu menuntut gaya modern.

Sampai hari ini saya masih kepikiran dengan Mbak Anggia yang menawarkan kerjasama bagi siapa saja yang ingin ikut memperdagangkan bolu susu merapi. Karena bolu ini tidak berafiliasi dengan merk dagang lain. Bolu Susu Merapi 'hanyalah' sebuah UMKM yang mencoba merangkak mengjadi raksasa yang bisa diperhitungkan.

Jika ke Yogyakarta, sempatkan untuk menikmati Bolu Susu Merapi dengan lidah sendiri, sebab lidah saya belum tentu sesuai dengan lidah kamu. 

Untuk info lanjut mengenai Bolu Susu Merapi, kamu bisa merapat ke
Facebook : Bolu Merapi
instagram : @BoluMerapi
email : bolumerapi@gmail.com
bisa juga kontak di 08112744499

Oh iya ada penawaran khusus untuk besok Minggu, 6 Mei 2018; beli dua cukup bakar satu. Alias 2 kotak hanya Rp 28.000,-
Khusus Minggu pas Grand Launching di Atrium Lippo Plaza Yogyakarta 

Jangan banyak percaya dengan kata orang lain, buktikan saja sendiri.
Saya mungkin saja mencintai aroma gula tercium api, namun kamu belum tentu. Begitu pun, kamu mungkin mencintai harga-harga murah, temenmu belum tentu sepakat.
Namun kita sama-sama sepakat kalau makanan itu hendaknya lezat, bergizi dan mudah didapat.

mbak anggia pino dan mas sandi

You Might Also Like

4 comments:

  1. Wihh mama sdh cocok... Tinggal nentuin hari H berarti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Datang ya kak besok Minggu pas Grand Launching

      Delete
  2. Replies
    1. Lagi mikir juga ini kak, sepertinya bakal ke arah sama

      Delete