kuliner,

Nglathak Olahan Kambing Anti Prengus

7/12/2017 09:20:00 pm Miss Mini 0 Comments


Saya dan kambing 

Dua puluh tahun lebih saya menjadi pribadi yang emohemoh jika disuruh mamam olahan daging kambing.
Mau dimasak macem apa, pokoknya emoh. Saya bukan tidak bersyukur tapi entah mengapa aroma prengus selalu jadi momok jahat yang membuat saya menjauh dari (olahan) kambing. Padahal saat kecil, saya enak enak aja mamam gulai kambing.


Kenal Nglathak

Minat saya kepada olahan kambing akhirnya muncul lagi setelah tahun lalu secara sengaja mencoba main di kedai Nglathak. Sebuah kedai mungil yang menjual aneka olahan daging kambing.

Kedainya nyaman. Berada di lingkungan kampus UNY dan UGM. Sangat dekat dengan kota, dekat sekali. Sedekat kita dengan kekasih, #eh
Nah karena lokasinya yang dekat kota dan strategis ini maka enggak jarang disebutnya Nglathak tengah kota.
Ya secara di Yogyakarta itu dulu kalau denger kata sate klatak atau Nglathak gitu pasti identiknya dengan kawasan di ujung selatan sana.



Masih agak takut-takut dengan olahan kambing, maka saya anteng gitu ketika teman-teman sibuk memilih menu. Saya masih menunggu sampai ada rekomendasi dari teman-teman, pokoknya enggak mau salah pilih.

Beruntung hari itu sang owner, sebut saja Mas To, ada di tempat dan bersedia berbagi cerita tentang kambing-kambing dan segala macam yang membersamainya.
Dengan diawali senyum manis, salam sapa, Mas To mulai bercerita....


Nglathak lahir dan sukses bersama kawan
Sedikitnya ada dua alasan kenapa saya akhirnya berani untuk kembali mencicipi olahan kambing (khususnya di kedai Nglathak, entah kalau di tempat lain, belum nyobain) yaitu; pertama sebab Mas Toko selaku owner sangat ramah dan penuh inspiratif. Alasan kedua adalah cerita Mas To yang selalu berprinsip untuk menghasilkan makanan halal Toyib dengan memperdayakan pangan lokal.

Jadi gini lho gaes, aslik ini cerita udah sedikitnya dua kali Mas To ceritakan namun tetep selalu berhasil membuat saya mengangguk dan angkat topi. Bagaimana tidak, untuk membuat kedai Nglathak agar terus beroperasi sang owner bekerjasama dengan rekan bisnis yang juga ternyata teman sendiri. Nglathak tidak berdiri sendiri. Dia mendapatkan sumber bahan pokok dari usaha teman teman yang lain. 
Mulai dari daging, beras, bunga Telang (bunga ajaib menurut saya), daun kelor dan lain lain.

"Kami mengedepankan produk produk lokal." Itu yang selalu Mas Owner bilang.

Ketika saya tanya, "gimana kalau aku enggak suka kambing tapi pingin nyicip?"

"Tenang. Bagi yang enggak doyan kambing, di Nglathak juga menyediakan menu ayam, kok. Dan harus ditanya dulu kenapa enggak suka makan olahan kambing? Mungkin karena bau prengusnya...."

"Iya itu," sambat saya cepat.

"Nah itu dia. Bau prengus itu sebenarnya ada sebabnya. Karena itulah kami selalu menjaga mutu daging yang dipilih. Tidak sembarang kambing pula tidak sembarang dalam menyembelih. Harus benar-benar halal dan bersih."

Oh.... Mendengar itu saya terpana. Jadi ternyata penyebab kenapa olahan kambing sering bau prengus itu bisa jadi karena cara menyembelihnya kurang tepat, tempatnya kurang bersih, kadang dagingnya diletakkan didekat kotoran sisa-sisa penyembelihan dan lain sebagainya.
Ini ilmu baru yang baru. Ilmu yang enggak didapat dari mana-mana hanya ada di Nglathank.

Enak bener, udah mamam enak bonus dapat ilmu pulak.

Cerita saya ke Nglathak cukup membuat teman dari luar kota tertarik.
"Besok kalau aku ke Jogja ajakin ke sana, Kak Min. Aku punya problem sama denganmu dulu. Gak doyan kambing karena prengus dan alot."

Nah masalah alot, di Nglathak olahan daging kambingnya juara. Enggak alot. Empuk dan gak nyangkut di gigi. 

Belum lagi minuman khasnya. Ada teh biru dan minuman daun kelor. Ada juga yogurt. Lama lama saya bisa menyimpulkan jika Nglathak​ selain merupakan usaha jejaring dengan memberdayakan produk lokal juga merupakan kedai sehat. Ya cek aja sendiri menu menunya lalu cari tahu khasiat khasiatnya.

Saya sih enggak keberatan pergi ke Nglathak untuk yang kesekian kalinya. Menu barunya adalah masih goreng kambing dengan bumbu rempah ala timur tengah. Gustiiiiiiii, saya suka banget nasi goreng ini.

You Might Also Like

0 comments: