Buku

Merayakan Kemeriahan Seperempat Abad

5/09/2017 11:55:00 am Miss Mini 0 Comments


Penulis Novel

Judul : 25; Tuhan, Aku Tidak Ingin Membenci Matahari
Penulis : Inggy Ami
Penyunting : Ambra
Penerbit : Senja
Tahun terbit : 2016
ISBN : 9786023910564


Resensi Novel



Umumnya seseorang yang menginjak usia seperempat abad akan dikatakan dewasa. Tidak ada lagi sifat kekanak-kanakan mau pun manja tidak pada tempatnya. Seseorang yang sudah berusia jelang 25 selalu dianggap sudah sanggup memikul banyak tanggung jawab pula dianggap mampu mengayomi lainnya yang lebih muda serta bisa menjaga mereka yang lebih tua; orang tua mau pun keluarga yang lain.
Bagi seorang perempuan, usia 25 berarti usia matang untuk melangkah ke jenjang berikutnya, hidup berumah tangga. Menjadi istri dan ibu muda.

Harusnya demikian pula yang dialami oleh Yasha. Dia adalah seorang perempuan yang baru saja memasuki gerbang 25 tahun hidupnya. Banyak harapan harapan dari orang dekat yang disematkan padanya. Semisal segera lulus dan menikah. Masalahnya, Yasha bukanlah perempuan yang berprinsip seperti kebanyakan perempuan yang mengidamkan segera nikah cepat.

Ia bahkan masih keteteran menyelesaikan tugas akhir kampusnya. Harusnya ia sudah diwisuda dan menjadi seorang arsitek jika lebih giat berusaha. Sayangnya tidak demikian. Kuliahnya molor panjang. Bahkan lebih dari waktu yang seharusnya. 

Jangankan untuk menikah cepat, meski orang tua memintanya demikian, bahkan lelaki yang disukainya sejak SMP menolaknya.

Banyaknya pikiran yang sering dia pikul membuat dirinya menderita semacam insomnia akut. Sering dia pergi ke klinik untuk minta sekedar obat tidur atau penenang. Sayangnya sang dokter yang didatanginya selalu menolak untuk memberikan apa yang diminta. Justru sangat dokter, Arman namanya, memberi solusi agar Yasha jatuh cinta pada orang yang tepat. Konon menurut Arman, jatuh cinta itulah satu satunya jalan untuk menyembuhkan Insomnia yang diderita Yasha. Masuk diakal sih, karena biasanya orang yang jatuh cinta pikirannya akan bahagia dan selalu berpikiran positif.

Selain skripsi yang tidak juga kelar, gelar sarjana yang seakan masih sangat jauh, desakan untuk segera nikah, juga insomnia akut, hidup Yasha semakin pelik dengan kehadiran nenek satu satunya yang mengidamkan demensia. Bagi Lilis, ibu Yasha, kehadiran nenek di Jogja adalah sebuah anugrah. Lilis merasa inilah saatnya berbakti kepada orang tua. Mengurus ibu kandung dengan sebaiknya meski sering sang ibu ngamuk karena penyakitnya. 

Nenek sering tidak sadar dirinya siapa dan sedang di mana. Hal ini membuat Yasha pusing. Sering tanpa alasan nenek marah-marah pada Yasha. Sesekali bahkan main kasar, membuat Yasha ngambek dan memilih kabur dari rumah. Beruntung Lilis sangat telaten mengurus nenek dan juga memberi nasehat pada Yasha.
Taman adalah dokter baik. Dia juga kenal dengan keluarga Yasha. Sering dia datang untuk.menjenguk ibu dan nenek Yasha. Ini bukan tanpa alasan. Arman sebenarnya sudah sejak lama suka sama Yasha. Bahkan sering dia terang-terangan mengajak Yasha nikah. Masalahnya Yasha tidak semudah itu menerimanya. Sepuluh kali Arman melamar Yasha, sepuluh kali pula Yasha menolaknya. Namun Arman tidak menyerah. Ia masih baik dan bahkan semakin sering datang ke rumah karena nenek ternyata nurut jika sama Arman. Membuat Yasha jengah.

Yasha bukannya tidak mau nikah. Dia mau namun dia juga tidak tahu harus nikah dengan siapa. Taman? Ia tidak cinta dengan laki-laki itu. Sejujurnya ia memilih Zain, sayangnya memilih bukan berarti balik dipilih. Karena Zain justru menikah dengan Shayla.

Di usia 25 tahun, Yasha berdoa sungguh-sungguh agar kuliahnya lekas kelar. Ia sudah ingin menjadi arsitek sesungguhnya. Ia juga berharap agar penyakit nenek segera sembuh atau minimal nenek bersikap baik dan tidak merepotkan. Yasha perlahan mulai berubah menjadi dewasa. Tidak lagi memusuhi nenek dan membantu ibu menjaga nenek. Mungkin karena sifat baik Yasha inilah akhirnya nenek semakin bahagia dan tidak lagi ngamuk.

Tanpa disangka, sekian kali ditolak, Arman masih kokoh dengan niatnya untuk meminang Yasha. Pada suatu hari Arman bilang kalau dia akan menunggu sampai Yasha bersedia. Entah kapan itu waktunya. Dengan tekad Arman yang sedemikian kuat, perlahan Yasha pun luluh.

Mini GK, novelis asli Gunungkidul. Alumni Kampus Fiksi.

You Might Also Like

0 comments: