kuliner,

Mamahke Jogja Bolehkah Saya Bercerita Tentang Kamu dan Teman-temanmu?

5/18/2017 08:31:00 pm Miss Mini 0 Comments

Mamahke Jogja


Dua potong cake telah sukses berpindah dari nampan ke mulut lantas melaju ke dalam perut. Nyaris tidak ada sisa kecuali coklat yang entah sengaja atau minta perhatian lebih sampai-sampai harus nempel di bibir dan hampir ke seluruh jemari tangan. Belepotan dan sama sekali tidak terlihat anggun.
Saya sudah mencoba memakannya dengan khusyuk ala-ala Miss Univers, namun tetap gagal, remah-remah kue berhamburan ke rok. Alamak.

Itu yang terjadi dengan saya beberapa hari lalu saat diundang untuk mencicipi menu dari dapur keluarga Mas Hanung dan Mbak Zaskia.

Pagi jelang siang yang terik, saya sampai tidak bisa membedakan mana sekumpulan anak-anak berlatih karate dengan air mancur. Sungguh terlalu pengelihatan saya hari itu. Tepat di selatan Tamansari atau di jalan Tamanan, dapur Mas Hanung berdiri. Belum begitu sempurna ketika saya datang. Masih dalam tahap renovasi.

Saya dan teman-teman diundang untuk memcicipi sekaligus memberi masukan pada menu yang sedang digarap. Konon menu itu akan menjadi menu andalan yang kelak akan meramaikan dunia kuliner Yogyakarta.

Oleh Mas Hanung dan keluarga jajanan yang sedang mereka gadang-gadang menjadi salah satu alternatif oleh-oleh itu diberi nama “Mamahke Jogja”.

Tolong ya jangan salah mengeja; mamahke Jogja, bukan mamah ke Jogja. Karena mamahke di sini diambil dari bahasa Jawa berasal dari kata mamah (mengunyah), mamahke bisa berarti mengunyahkan. Beuh, repot bener pakai acara dikunyahkan segala. Kujadi ingat balita atau anak burung yang sering makannya dimamahke dulu sama orangtua mereka.


Mamahke dan selebriti Tanah Air

Saya sudah mencoba beberapa jajanan yang konon dikelola atau dimiliki oleh selebriti negeri ini. Enggak usah disebut ya jajanan siapa-siapa saja, dunia juga sudah tahu kalau saya ini doyan makan.
Karena saya ini orangnya enggak bisa diam, maka ketika ketemu langsung sama selebritinya pasti saya tanya-tanya dong kenapa dan mengapa akhirnya terjun di dunia kuliner dan memilih daerah (maksudnya bukan di Ibu Kota).

“Karena aku ingin jika pulang ke Jogja maka punya kegiatan. Aku ini perempuan yang enggak bisa diem. Di Jakarta setiap hari ngurus anak-anak, rumah dan segala macem. Kalau pas balik ke Jogja mendadak aku enggak punya kerjaan apa pun karena malah aku dilayani mertua. Kan akunya jadi enggak enak. Jadi buka usaha Mamahke ini berharap nanti bisa punya kesibukan,” tutur Mbak Zaskia sambil menawarkan produk Mamahke ke teman-teman.

Konon Mamahke ini juga memakai resep yang diturunkan dari Ibundanya Mas Hanung. Itu yang membuatnya beda dengan panganan yang lain.

Sambil mencoba mengira-ira apa saja bahan yang dicemplungkan dalam adonan cake itu (dengan cara mengunyah sambil sok-sok menelaah) saya mendengar tuturan selanjutnya dari Mas Hanung tentang mengapa mereka buka tempat oleh-oleh berisikan jajanan.

“Tujuannya ingin memberikan alternatif oleh-oleh jika ada temen main ke Jogja. Kalau membuat film itu sudah pekerjaan biasa. Bisnis kuliner ini baru bagi kami dan masih meraba-raba. Maka dari itu mohon teman-teman bisa kasih masukan agar nanti Mamahke ini benar-benar kerasa banget. Aku sendiri ingin tempatnya nanti nuansa Jogja banget. Pakai ornamen dan perabot kayu-kayu jati.”

Sejujurnya saya iri banget dengan ‘kemujuran’ yang dialami para selebriti Tanah Air tercinta ini. Selalu saja apa-apa bisnis yang mereka jalankan pasti laris manis. Sementara saya jualan buku Le Mannequin dan Pamaren Patah Hati saja sungguh gerilya dari subuh sampai subuh. *anggap saja begitu* Namun hasilnya ya gitu-gitu ajah. Jangankan pada antri pakai nomer antrian, sehari laku sepuluh biji saja alhamdulilah banget.

Pertanyaannya apa iya seorang Mini GK harus jadi selebriti dulu biar karya-karyanya laris manis dan subur sepanjang masa bagai lumut di kelembapan??
“Aku enggak ngerti gimana cara marketing kuliner,” Mbak Zaskia seolah-olah baru saja membaca apa yang  saya pikirkan. Mungkin batok kepala saya transparan hingga bisa terbaca dengan mudah.
“Aku konsultasi sama Irwansyah. Dan dia yang siap membantu marketing Mamahke. Jadi usaha ini kerjasama dengan Bella, Irwansyah, Zaskia Sungkar dan Teuku Wisnu.”

Tuhan, mungkin lain kali saya juga perlu join kerjasama dengan Mas Wisnu Nugroho, Kang Pepih, Mas Iskandar Zulkarnaen, lalu minta bantuan Abang Rizky Saragih dan Kak Kevinalegion biar karya yang saya ciptakan meledak-ledak di Bumi Pertiwi.


Antara Mamahke, Sate Klathak dan Bakpia


“Kenapa milihnya roti bukan soto, sate atau makanan berat lain karena....” Mas Hanung menjelaskan dengan semangat juang seorang owner, “karena aku kesulitan untuk mencari pencuci mulut jika selesai makan berat. Juga aku inginnya biarlah orang-orang seperti sediaka kala jika sate klathak ya ingatnya sama Pak (sebut nama), jika makan soto ingatnya sama (sebut nama).”

Dari sini dapat saya simpulkan bahwa Mamahke berdiri tidak untuk menyaingi macem kuliner yang sudah ada melainkan ikut mewarnai dan memberi alternatif aneka kuliner.

Harapan Mamahke

Seperti halnya sebuah hubungan, seseorang memutuskan untuk menjalin kasih dengan yang lain dengan harapan menemukan kebahagian hakiki. #tsah
Maka begitu pun dengan Mamahke, dari Mbak Zaskia saya mendengar bahwa Mamahke semoga bisa menjadi harapan baru bagi penduduk sekitar untuk mengais rejeki. “Bisa membuka lapangan pekerjaan baru bagi orang lain bagiku alhamdulilah banget,” tutur Mbak Zaskia berbinar-binar. “Belum kepikiran bagaimana nanti untung atau pendapatan Mamahke, berharap bisa bantu banyak orang.”
Beuh Mbak Zaskia nanti kalau butuh media patner atau bloger atau hanya sekedar model cakep boleh lho kontak saya di @minigeka atau www.minigeka.com  pasti dengan senang hati akan saya tindaklanjuti.


Kata mereka tentang oleh-oleh khas....

Karena saya ini orangnya sangat-sangat selo bertolak belakang sekali dengan hati saya yang super riuh penuh keributan ngalah-ngalahin suporter bola, anggap yang ini serius, maka sebelum bobok pada suatu malam yang syahdu saya bertanya pada beberapa temen-teman melalui chat WA. Begini pertanyaan saya;

Teman-teman, apa sih yang ada di benak kalian ketika seorang selebriti tiba-tiba buka usaha kuliner di daerah (bukan ibu kota) lalu memberi embel-embel ‘kuliner khas daerah....’

Sebelum benar-benar terbawa mimpi, saya menerima beberapa jawaban:

“Seleb mah bebasss, mau bikin kripik krupuk, salep, sampo gambarnya mereka mah sekarang bebas. Kalau pakai gambar kita malah nista.” *padahal saya udah siap lho jadi model sabun colek*
“Menurutut  selebriti bisnis kuliner sah-sah saja. Tapi ya kalau beneran khas daerah situ ya gak apa-apa, Beb. Yang jadi masalah kalau sebenarnya makanan bukan khas daerah situ tapi mereka memposisikan diri sebagai oleh-oleh wajib daerah situ.” *saya semakin nggak sabar mendadak jadi artis top biar apa apa sah*
“Berarti artisnya ‘mletik’ itu. Artisnya mampu mencari peluang dibalik ‘khas’ itu tadi. Kenapa kita enggak mencontoh mereka? Misal truk kita ditempeli stiker produk lokal Gunungkidul. Di satu sisi menghasilkan pendapatan buat kita disisi lain Gunungkidul makin mendapat nama di mana-mana.”
“Kalau aku sih biasa saja, Min. Karena aku enggak mengidolakan selebriti dan enggak nonton sinetron apalagi infotaiment.” *mungkin sesekali kamu perlu deh kenalan sama aku yang artis lokal ini, beuh*  
“Mereka itu bikin usaha kuliner kompakan lho.” *sebenarnya jawaban di sini nyebut nama nama dan merk tapi sengaja tidak ditampilkan demi kenyamanan perut saya yang akan mendadak lapar*
“Kalau kulinernya memang khasnya situ sih enggak apa-apa namun jangan diada-adain. Nanti jadi aneh.”
“Kalau buat aku enggak apa-apa. Wong usaha-usaha dia kok. Ngapain kita yang ribut ngrecoki.”
“Bagus dong. berarti selebritinya punya pandangan lebih. Mau usaha dan mau memberi pekerjaan ke orang lain.”

Ada beberapa lagi jawaban namun belum sempat saya tuliskan alasan utamanya karena obrolan itu melebar bukan menjawab pertanyaan yang saya lempar melainkan justru membahas aneka makanan yang sudah barang tentu membuat lidah saya kehilangan kendali dan gigi gemeretuk ingin mengunyah sesuatu. Semoga tidak khilaf.

Titip pesan buat Mas Hanung dan Mbak Zaskia, itu jawaban teman-teman saya monggo dipelototi, kalau butuh kontak mereka lewat saya saja dijamin lancar.


Selamat untuk pembukaan Mamahke esok 20 Mei 2017, jangan lupa saya Mini GK #gadisAnggun teman perjalanan yang bisa dikontak sewaktu-waktu untuk sekedar diajak mencicipi kue dan menikmati secangkir teh madu. #sedap

You Might Also Like

0 comments: