agenda,

Dua Jam Membahas Cerita Anak di Pacitan

2/14/2017 12:05:00 pm Miss Mini 0 Comments

Mini GK, Kepala Perpustakaan, Tim Divapress dan sebagian peserta

“Mbak Mini, ya?”

“Iya.”

“Ya ampun sekarang beda banget. Lebih feminim dari waktu pertama ke sini.”

Saya bisa apa jika orang berkomentar demikian tentang saya.
Apa dibilang, lebih feminim? Mungkin kawan saya satu itu sedang dalam kondisi bahagia atau justru sebaliknya, mabuk, sebab hanya dua kemungkinan itu seseorang bisa memuji saya dengan sebegitunya.

Hari ini untuk kedua kalinya saya mendaratkan diri di tanah kelahiran mantan presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono yang lagi ngetrend dengan kicauan twitternya mengenai “Bapak Presiden dan Kapolri bolehkah saya bertanya….”

Ah, sudahlah yang itu bukan jatah saya untuk membahasnya.
Saya tiba di Pacitan sekitar pukul Sembilan pagi. Itu juga setelah melewati medan macem offroad, ya sedikit gambaran saja jalan Yogyakarta ke Pacitan melewati Gunungkidul dan Wonogiri di tengahnya sedang ada perbaikan. Medannya cukup sulit ditembus bagi yang awam, untungnya kawan saya adalah pilot handal yang bisa mengatasi jalan itu dengan cukup saya menutup mata (baca: tidur). Perjalanan menarik dan penuh cerita meski tidak banyak orang yang berpapasan dengan rombongan saya. Maklum cuaca lebih menarik mengajak bobok disbanding harus menembus derasnya gelombang langit. Lagian ini hari Minggu, emang waktunya bobok dan bercengkrama dengan keluarga.
demi literasi kami harus tetap semangat

Tujuan saya kali ini dalah kantor Perpustakaan dan Arsip daerah (konon namanya sudah ganti, tapi saya lupa).
Kehadiran saya ditunggu untuk member materi tentang menulis cerita anak.

Saya dan cerita anak
Saya sedikit kaget sebab lupa dengan arahan Mas Indra sebelumnya. Padahal Mas Indra a.ka. Aconk sudah sempat bilang kalau hari ini saya akan mengisi kelas tema menulis cerita anak.
Okey baiklah. Jangan panik. Penulis dilarang panik dalam keadaan apapun. Tentang menulis cerita anak, bisalah dibahas, toh sebelumnya saya juga habis masuk kelas anak. Iya dong meski sudah bisa menulis tetap saja harus banyak belajar.

Awalnya saya ingin bercerita tentang novel anak, namun ternyata begitu berdiri di hadapan dua ratus lima puluh ribu pemirsa, pendirian saya berubah, lebih-lebih di sana banyak remaja (alias dedek gemes), jadilah saya membahas cara menulis novel. Teknik ini bisa dipakai untuk menulis novel apa pun, dewasa remaja mau pun anak.
Saya kira hadirin akan kecewa, nyatanya saya banyak dilempari coklat dan tepuk tangan. #tsah

Pertanyaan dari peserta
Rasanya tidak lengkap jika saya berdiri membawakan materi (yang sebenarnya biasa saja) tanpa ada pertanyaan.
Selalu saya menyisakan waktu untuk membuka pertanyaan; bahkan saya biasa menyisakan waktu panjang untuk sesi Tanya jawab. Jadi jika saya kena jatah ngisi acara dua jam (sudah dengan tanya jawab) maka saya akan batasi diri untuk ngoceh. Dua jam saya bagi; dua puluh sampai dua lima menit untuk ngoceh tiada tara sisanya yang panjang itu saya lempar ke pemirsa untuk dibagi-bagi dalam sesi tanya jawab.

Mengapa harus demikian?
Tidak ada alasan khusus, sih. Apa karena tanya jawab itu sakral? Apa karena Tanya jawab itu semacam sesi kencan singkat? Atau apa karena tanya jawab itu membutuhkan komitmen? *ini bahas apa cobak?*
Bukan. Bukan itu.
Saya menyengaja agar tanya jawab panjang tidak lain karena saya sering bingung mau menyampaikan materi apa. Dor!

Bukan maksudnya nggak punya bahan, melainkan saya sangat hati-hati. Iya kalau yang saya omongin ini diperlukan sama pendengar, kalau ternyata tidak, apakah itu namanya bukan sia-sia?
Jadi saya membuka kesempatan pada peserta untuk menanyakan apa yang mereka ingin tahu. Iyalah, kalau sudah tahu atau tidak ingin tahu kenapa pula saya harus membicarakannya. Yang ada nanti justru bertepuk sebelah tangan. Lebih sakit itu bicara namun lawan bicara kita tidak menikmati apa yang kita bicarakan. #Hello

panggung utama di Pesta Buku Murah Pacitan Divapress

Dan pertanyaan pun muncul kemudian dari para peserta. Anehnya seperti biasanya, pertanyaan peserta itu sudah lebih dulu saya tahu jawabannya disbanding pertanyaannya. Ralat: sebelum pertanyaan diajukan saya sudah tahu jawabannya. Ralat 2: pertanyaan peserta rata-rata hampir sama dengan pertanyaan yang sering saya terima dari peserta di tempat lain dan saya menjawabnya seperti biasanya.

“Bolehkah saya bertanya kenapa Kak Mini masih sendirin sampai hari ini?”
Jelas bukan ini pertanyaan yang dilontarkan peserta. Meski saya yakin ada juga yang sebenarnya ingin bertanya hal ini. Sebab saya tahu di sana ada #priaberkacama.

“Bagaimana cara untuk menjaga mood? Bagaimana juga agar saya bisa menulis padahal setiap hari sibuk sekolah adan ekstra sampai-sampai tak ada waktu untuk sekedar menulis pesan pendek.”
Pertanyaannya syahdu setelah mengalami editan dari tangan saya.

Pertanyaan itu sering muncul. Dan apa jawaban saya:
“Musuh terbesar penulis (mau pun yang lain) adalah diri sendiri. Kemalasan tercipta bukan tanpa sebab. Semua karena kita mengizinkannya. Jadi, satu pertanyaan untuk kalian renungkan: pilih menulis satu novel namun tuntas dan terbit atau memilih menulis seribu novel namun hanya setengah jalan dan tidak terbit selama-lamanya?”
Peserta mengangguk dengan kyusuk. Saya menyeringai (karena kalau tersenyum hamper mirip menyeringai)

“Kalau sudah niat maka kembali ke niat. Tuntaskan apa yang sudah kalian mulai. Hajar kemalasan yang merongrong jiwa raga kalian. Jatuh cintalah dengan yang kalian cita-citakan maka dengan begitu kalian akan memperjuangkannya.”
Hadirin mengeluarkan tissue. Menghapus titik titik di bawah mata. Bukan air mata namun keringat. Cuaca memang sedang asyik mempermainkan keadaan. Kalau hadirin bisa memakai tissue apalah saya yang berdiri di depan dengan keringat yang tak kalah hebohnya namun tetap harus tampil meyakinkan.

“Jangan khawatir, jika lelah maka istirahatlah. Pergilan bermain. Piknik. Hirup kebebasan. Jangan melulu di depan laptop. Beri kesejukan untuk mata dan segenap tubuhmu. Jangan kau biarkan ia merana demi ambisimu.”
Jeda sejenak.

“Maka dari itu penulis butuh outline. Kerangka cerita agar jika ditinggal sewaktu-waktu kelak bisa pulang dengan jalan yang benar.”
Terbit senyum. Seorang peserta meneriakkan nama saya; Kak Mini ai laf yu.

“Dan jika kalian merasa tidak punya waktu untuk menulis, mari saya ajarkan rumus matematika.”
Menahan keringat yang semakin deras.

“Kita memiliki mengantongi waktu dalam jumlah sama. Duwa puluh empat jam sehari. Maka anggaplah delapan jam habis dipakai di sekolah/ kerja. Duwa jam diperjalanan. Sisa empat belas jam. Untuk tidur habis enam jam. Sisa delapan jam. Bayangkan delapan jam sisa waktu kita. Anggap saja ini waktu untuk lain-lain. Maka curilah waktu lain-lain itu barang duwa jam atau sejam untuk menulis.” Saya menjeda sejenak. “Sejam dalam sehari untuk menulis. Saya rasa bisa.”
Si penanya sepertinya tercerahkan. Wajahnya yang tadi membiru berubah ke kuning. (entah apa penyebabnya)

“Hitungan matematika lagi. Novel kita ambil satu novel 200 halaman. Buatlah novel itu menjadi 20 bab. Maka perbab minimal harus 10 halaman. 10 halaman bisa dikerjakan berapa hari? Anggap saja sehari nulis dua halaman, berarti 10 halaman bisa dikerjakan lima hari. Lima hari untuk satu bab. Maka untuk 20 bab butuh waktu 100 hari atau kurang lebih tiga bulan sepuluh hari. Nah itu bisa kamu ambil sejam dari 24 jam yang kamu miliki setiap harinya. Dalam empat bulan kamu bisa punya satu novel.”

Ruangan yang tak lebih lebar dari lapangan bola itu mendadak hening. Semua pasang mata tertuju pada saya. Saya jadi kering, soalnya haus belum minum ditambah panas dan ngoceh tiada henti.
Maka sebelum peserta sadar saya langsung bilang, “Apakah jawaban saya membantu? Semoga membantu. Dan selamat menikmati dua lembar tulisan perhari. Saya tunggu naskah kalian.”

Saya mundur dan mengembalikan waktu pada moderator. Setelahnya saya hanya mengusap keringat dengan tissue. Sesekali saya lihat hadirin masih sering menatap saya meski dari kejauhan. Saya bisa apa selain melempar senyum sebab melempar koin saya tak ada.

Pacitan, dua jam saya membersamai adik-adik di sana.
Kehadiran saya untuk memeriahkan ulang tahun Pacitan.
Saya bangga ternyata saya dan Pacitan punya kesamaan, sama-sama lahir di bulan Februari. Bulan penuh keromantisan.
Semoga lain kali bisa dating lagi ke Pacitan dengan semangat dan kebahagian yang semakin berlimpah. [MIN]


Agenda di Pacitan, Minggu 12/02/2017

You Might Also Like

0 comments: