Biarkan Anak Kenal Narkoba

Blogger Jogja bersama BNN Sleman
Saya adalah salah satu jamaah penganut paham 'menjadi orangtua berarti siap menjadi pembelajar seumur hidup'.

Menjadi orang tua masa kini sangat berbeda dengan orang tua di masa yang telah lewat. Begitu pun anak-anak era sekarang, begitu cepat melesat tidak jarang melampaui kemampuan dan kapasitas orang tuanya.

Sebagai orang tua, tidak patut jika terus mengekang anak-anaknya. Tapi sebagai orang tua juga tidak bisa lepas memberi kehangatan sekaligus perlindungan untuk anak-anak.

Sebuah ilustrasi di bawah ini mungkin bisa menjadi sedikit gambaran tentang fenomena masa kini.
"Anakku yang SMP pulang-pulang cerita tentang narkoba. Katanya di sekolah baru saja ada penyuluhan dari BNN tentang bahaya narkoba. Aku malah jadi takut. Kenapa anak SMP dikenalkan narkoba."
"Malah bagus, kan, bu. Anaknya jadi tahu banyak tentang narkoba dan bahayanya. Kedepannya jadi bisa hati-hati."
"Oh begitu ya? Tapi dia kan jadi tanya-tanya terus ke saya tentang narkoba."
"Itu lebih bagus lagi, Bu. Setidaknya dia bertanya kepada orang tuanya bukan kepada orang lain. Memang harusnya orang tualah yang memberikan pemahaman itu. Bukan hanya narkoba tapi juga pemahaman lainnya. Jika anak bertanya pada orangtuanya berarti anak itu percaya pada orangtuanya. Dan itu bagus dari pada dia bertanya pada orang lain dan diberi pemahaman yang keliru."
"Benar juga, Mbak. Tapi gimana dong kalau sebagai orang tua ternyata enggak paham dengan yang ditanyakan anak-anak."
"Belajar, Bu. Banyak baca dan bertanya pada orang yang lebih ahlinya. Jadi orangtua itu tidak hanya bisa melahirkan dan membesarkan tapi juga memberi pemahaman."

Obrolan semacam ini sering muncul di lingkungan saya. Dan biasanya yang mau ngobrol demikian adalah para orang tua yang punya kesadaran lebih akan kemajuan anaknya namun tidak punya banyak kemampuan untuk mendampingi anaknya.

Obrolan semacam ini tidak pernah saya temui di lingkungan dengan orang tua yang sudah kehilangan rasa pedulinya pada anak.

Padahal sekali lagi saya yakini bahwa anak-anak manusia bukanlah anak kucing yang usai menyusu dibiarkan bebas berkeliaran tetaplah jadi kucing.
#stopnarkoba

Bicara Narkoba

Tanggal 5 Desember 2018 kemarin saya mendapat kesempatan untuk ikut dalam acara forum diskusi grup dengan BNN Sleman bersama para Blogger Jogja.
Hari itu pembahasan fokus kepada Indonesia Darurat Narkoba.
Sumber: BNN Sleman
Bukan tanpa alasan kenapa saya ingin ikut gabung dalam acara ini. Saya sudah sangat lama ingin tahu lebih jauh tentang isu narkoba, terlebih ketika emak saya pernah bilang ada tetangga yang menanam narkoba (baca: ganja), yang ternyata itu bukan sejenis narkoba melainkan bentuknya saja yang mirip.
Sumber: BNN Sleman
Selain itu saya juga sedang menyiapkan diri untuk mencari bermacam-macam bekal non formal agar kelak bisa saya manfaatkan untuk memberi pemahaman kepada mereka yang membutuhkan.

Apa itu Narkoba?

Sumber: BBN Sleman

Narkotika adalah zat atau obat dari tanaman/ bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Sementara psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintesis bukan narkotika yang berkhasiat proaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Sedangkan zat adiktif adalah zat/bahan lain yang bukan termasuk golongan narkotika dan psikotropika namun dalam penggunaannya bisa menimbulkan ketergantungan.

Dari definisi ini dapat disimpulkan bahwa narkoba itu sesuatu yang sebenarnya boleh dipergunakan asal sesuai dengan ketentuan. Mungkin lebih tepatnya dengan resep dokter.
Masalahnya, yang menjadikan zat ini berbahaya adalah karena adanya penyalahgunaan di masyarakat.

Mitos dan Fakta Narkoba


Mitos: penyalahgunaan narkoba hanya melukai pengguna
Fakta: pengguna itu korban dan efeknya bisa mempengaruhi lingkungan sekitar dan keluarga
Mitos: narkoba bisa membantu melupakan masalah
Fakta: narkoba justru akan menimbulkan banyak masalah baru di kemudian hari
Mitos: Ada narkoba yang berbahaya dan ada yang tidak
Fakta : Semua narkoba itu sangat berbahaya maka perlu pengawasan ketat

Fakta fakta yang terjadi 

Sumber: BNN Sleman

1. Bisnis Narkoba menghasilkan uang yang sangat besar 
2. NARKOBA mudah masuk khususnya melalui jalur laut dan sungai-sungai
3. Masih rendahnya niat para penyalahguna untuk pulih
4. Tingginya angka coba pakai dan teratur pakai
5. Maraknya peredaran narkoba di lapas sehingga bandar dapat beroperasi di lapas
6.  Peredaran sudah merambat ke desa desa bahkan sampai siswa SD menjadi sasaran
7. Modus operandi peredaran narkoba yang berubah-ubah

Potret permasalahan narkoba di Indonesia

Sumber: BBN Sleman

1. Angka prevalensi yang tinggi menyebabkan Indonesia menjadi sasaran peredaran gelap narkoba
2.
3. Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba menyusupi semua lapisan masyarakat bahkan sampai pelosok desa
4. Modus operandi narkoba berubah-ubah dan ditemukan 53 jenis narkoba baru di Indonesia
5. Sepanjang tahun 2016, BNN mengungkap 21 kasus

Strategi operasional penanganan permasalahan narkoba

1. Pencegahan
2. Pemberantasan
3. Rehabilitasi


Dua masalah narkoba
1. Penyalahgunaan narkoba
2. Peredaran gelap narkoba

Aduan tentang penyalahgunaan narkoba
Sumbee: BNN Sleman







Mimpi Seorang Anak Menjadi Wakil Rakyat

Blogger Jogja


Anak Indonesia


Kalau boleh menuliskan lagi cita-cita yang ingin saya capai, maka menuliskan kata "menteri" menjadi salah satu hal yang niscaya.

Jika ada yang mengikuti status-status saya pasti akan mengerti seberapa ingin saya menjadi seorang menteri. Sebuah tanggung jawab besar dengan segala resiko dan tantangan namun sungguh keberadaannya sekarang ini sangat penting buat masyarakat.

Bukan tanpa alasan saya ingin menjadi menteri. Menteri apa itu yang belum sreg. Sesekali ingin jadi menteri perlindungan perempuan dan anak, dikala lain ingin jadi menteri pertanian dan yang paling ingin adalah menjadi menteri lingkungan hidup/ kehutanan.
Ngobrol tentang negara

Cita-cita jadi menteri bukanlah cita-cita sejak kecil, melainkan cita-cita saya setelah dewasa ini. Cita-cita itu berangkat dari fenomena kehidupan di sekitar saya.

Sebagai anak Indonesia, saya cukup bangga dengan kekayaan yang Indonesia miliki. Di sisi lain saya juga sangat sedih sebab ternyata tidak semua anak Indonesia punya kepedulian besar kepada bangsanya. Padahal Indonesia jelas akan bertahan hingga ratusan bahkan ribuan tahun lagi jika anak bangsanya saling bergandengan untuk memperjuangkannya.

Lantas apakah menjadi menteri bisa memperbaiki keadaan ''kurang menyenangkan" hari ini?
Saya masih percaya: orang-orang akan mendengarkan mereka yang punya jabatan.

Bukan bermaskdu menyelewengkan jabatan, tapi jabatan bisa jadi jembatan untuk dakwah. (Tolong jangan panggil saya ibu ustadzah)

MPR RI

Seragam Baru
Lalu sebuah pertanyaan baru muncul: gimana kalau jadi wakil rakyat saja di MPR RI?

Saya akan langsung berkata: tidak.

Bukan saya tidak percaya pada MPR atau DPR, tapi saya lebih sadar diri jika kemampuan saya tidak ada di sana. Utamanya pengalaman saya tidak terlalu bagus dalam berorganisasi. Pula saya bukan seorang yang fanatik terhadap partai politik.

Sementara yang saya tahu, anggota majelis permusyawaratan berasal dari kalangan politisi.

Politik tidak salah. Politik itu sudah ada sejak zaman dahulu kala bahkan di zaman nabi nabi. Kadang kala yang menjadikannya terpuruk dan tak lagi dihormati adalah ulah mereka yang tak bertanggung jawab: hanya mementingkan diri sendiri lupa pada tujuan utama sebuah politik 

Ngobrol Bareng MPR RI

Bersama Sesjen MPR RI Bapak Ma'ruf Cahyono
Tanggal 4 Desember 2018 kemarin boleh dibilang adalah perjumpaan kedua saya dengan pihak MPR RI. Kali pertama berlangsung tahun 2016 lalu.

Saya berjumpa lagi dengan Pak Ma'ruf. Bukan hanya jumpa fisik tapi beliau juga memberikan 'ceramah' seperti biasanya.
Saya tertarik dengan isi dari sambutan beliau.

Ya meski sangat disayangkan pertemuan kali ini hanya berlangsung beberapa jam saja. Sedikit tidak puas dan terburu-buru. Banyak hal lain dan baru yang ingin saya ketahui namun belum sempat dibahas.

Tapi ya sudahlah tak apa-apa, kelak insyaAllah bakal ada perjumpaan lagi dan lagi.

Menjaga Kebhinekaan


Pada malam itu Bapak Ma'ruf kembali mengingatkan agar sebagai anak bangsa; pemilik masa depan suatu negara agar selalu kuat menjaga nilai-nilai nasionalisme.

Setiap generasi penerus mempunyai kewajiban untuk merawat kemerdekaan Indonesia.

Lebih dekat dengan MPR RI

Konon, bangsa tidak akan menjadi besar jika tanpa berdasar nilai-nilai. Sementara itu Indonesia sudah sejak lahir selalu berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila.

4 Pilar Kebangsaan

BLOGGER JOGJA X MPR RI
4 pilar kebangsaan meliputi:
1. Pancasila
2. Bhineka tunggal Ika
3. NKRI
4. UUD

Agar tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak diharapkan (misal terorisme) maka seorang anak hendaknya sejak kecil sudah diberi pemahaman mengenai agama dan Pancasila. Diajarkan tentang demokrasi secara santun.
Suasana ngobrol bareng MPR RI

Nilai-nilai dari Pancasila selalu menempatkan manusia diatas segalanya. Jadi tidak dibenarkan adanya pelanggaran HAM.

Dalam ''ceramahnya", Pak Ma'ruf juga menekankan bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara harus selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan juga mengedepankan nilai-nilai hukum.

Metamorfosis Rakyat Jelita

“Jika kamu tidak menangis bukan berarti kamu tidak bersedih. Jika kamu tersenyum belum tentu kamu bahagia.” #RadioRoman

Saya cukup dekat dengan penggalan quote tersebut. Tentang pura-pura baik-baik saja sementara kenyataan tidak sebaik yang diindera mata. Sejak kecil saya sudah sering bersinggungan dengan ‘perbedaan’ antara lahir dan batin. Meski begitu, saya penganut ajaran: Bumi akan masih terus berputar tak peduli dengan perasaanmu.

Semua bermula dari keluarga. Benar apa kata orang-orang bahwa keluarga adalah sumber segala sesuatu. Keluarga bisa jadi cerminan atau indikator keberhasilan seseorang. Ya meski tidak semua hipotesis ini berlaku di kehidupan nyata utamanya dewasa ini. 

Keluarga saya adalah keluarga kecil bahagia. Saya sebut bahagia bukan berkecukupan. Syarat bahagia dikeluarga saya adalah manut dan tidak banyak buka suara.
Sebagai anak bungsu saya selalu ‘manut’ dengan kata mereka orang dewasa. Saya selalu tampil cukup dengan yang saya punya meski kadang kala itu adalah bentuk kebohongan paling saya benci sampai hari ini: membohongi diri sendiri.

Bungsu Dalam Belenggu Prelove

Sebagai si bungsu saya pasrah setiap kali menginginkan barang baru namun dapatnya barang prelove dari mereka yang dewasa. Saya harus merasa cukup dengan warisan itu sebab jika merengek sedikit saja maka akan menimbulkan paceklik atau krisis mental moril bagi seluruh keluarga.

Maka ketika menginginkan tas, saya mendapatkan tas bekas kakak. Saat ingin sepatu, sepatu di depan pintu pindah ke kaki saya.

Tidak cukup sampai sini. Kadang kala barang-barang prelove ini kondisinya sudah mengenaskan, sudah seharusnya dimuseumkan namun justru pindah ke badan saya. Hasilnya teman-teman seusia saya menatap seolah saya ini benda purba yang baru saja diberi nyawa oleh Paman Gopeto.

Kalau pun ada barang prelove yang masih layak tetap saja sangat menganggu karena usia saya dan kakak terpaut cukup jauh, jadi barang dia biasanya sudah ketinggalan zaman dan seringnya kebesaran sebab kondisi tubuh saya yang jauh lebih kecil dibanding kakak.

Kesimpulannya saya pernah mengalami masa di mana saya menjelma bagai benda purba (bernyawa) dengan pakaian kebesaran model zaman prasejarah yang berani muncul di koridor sekolah tanpa peduli dengan tatapan dan tawa seantero sekolah.

Semakin bertambah usia, kedewasaan seseorang semakin diuji. Saya yang dulunya anak manutan dengan atribut kebesaran mulai merasa risi pada keadaan yang seperti itu terus. Timbul niatan untuk sesekali memberontok meminta lebih. Sayang disayang, selama ini saya dibesarkan penuh cinta kasih dengan tanpa pernah menerima ajaran pemberontokan. Jadilah saya ingin memberontak tapi tidak tahu caranya.

Diam-diam setiap tahun selalu mengharapkan kado ulangtahun namun tidak pernah ada. Mungkin saya adalah satu-satunya anak yang semasa SD tidak pernah sekali pun mendapat kado ulangtahun alih-alih kue ulangtahun. Saya mengingatnya dengan rekaman utuh di pikiran. Bingung juga kenapa bisa seperti itu?

Kado di Hari Ulangtahun

Tradisi ulangtahun dan bagi-bagi kado tidak pernah dikenalkan di keluarga kecil bahagia tempat saya tinggal.

Hal ini pula yang membuat saya tumbuh jadi pribadi yang juga malas untuk berkirim kado ke orang lain. Prinsip masa muda saya adalah sama dengan prinsip yang ditamankan sejak saya bayi bahwa: tidak usah belanja barang-barang yang tidak perlu, jika masih bisa pakai barang lama ngapain beli baru.

Saya tidak peduli dengan kado-kado. Sampai akhirnya sesuatu menjungkirbalikan saya ke lembah kelembutan.

Benar kata sebuah buku bahwa kejutan adalah sesuatu yang bisa merubah perasaan.

Pada awalnya hanya satu kado, lalu datang kado berikutnya dan berikutnya. Ternyata dunia remaja saya bergerak secara alami. Dari anak-anak tidak peduli menjelma remaja dengan teman-teman yang mulai saling terikat. Mau tidak mau saya membuka diri untuk mereka yang berusaha mengikat saya.

Dari sebuah kota kado (yang untuk sementara kita abaikan isinya) hari-hari saya berubah. Sama seperti yang sering orang bilang, jangan mencubit kalau tidak mau dicubit, berikan kehangatan pada orang lain maka kamu akan dihangatkan oleh yang lain. Kalau ada kado mampir ke alamat saya, maka harus ada kado yang terkirim dari alamat saya.
Masalahnya di mana dapat uang untuk membeli kado?

Sebuah Prinsip Dasar
Ajaran keluarga yang sampai hari ini saya imami adalah menjauhlah dari hutang piutang. Otomatis saya harus sebisa mungkin tidak berhutang atau berkeredit. Kalau harus mendapatkan kado maka saya harus beli secara tunai.

Sejak kado pertama itu saya mula menabung. Menyisihkan uang sedikit demi sedikit guna mengimbangi rasa solidaritas antar teman. 

Mencintai Diri Sendiri Baru Mencintai Orang Lain
Kenyataannya ternyata kawan tidaklah selamanya kawan. Pula musuh dalam selimut selalu ada.

Seperti cangkir yang sewaktu-waktu bisa retak meski tanpa diawali pukulan, begitun persahabatan. Sering kesalah pahaman membuat persahabatan rusak. 
Kado hanya tinggal kado.

Hal ini membuat saya sadar bahwa kado saja tidak cukup. Terlebih karena demi mengirim kado-kado itu saya jadi menahan diri untuk berbelanja yang lain (keinginan sendiri). Padahal sejak kecil saya sudah menulis barang apa saja yang sangat ingin saya miliki. 

Sebagiannya memang saya butuhkan untuk membantu keseharian saya alias benda penting. Sebagian yang lain masuk daftar barang impian hanya karena saya ingin memilikinya bukan ingin memanfaatkannya.

Rakyat Jelita Jugalah Manusia Gila Diskon

Saya lupa darimana julukan ini berasal, hanya saja saya bahagia menyandang gelar #RakyatJelita. 

#RakyatJelita semacam ungkapan tidak penting namun sangat berpengaruh mengingat metamorfosis dari mahkluk purba hingga sekarang ini.

Anehnya dari dulu saya masih selalu merawat keinginan untuk memiliki barang-barang berikut:
~ sepatu gunung
Keinginan memiliki sepatu jenis ini baru terbersit sekitar lima tahun lalu saat saya hamoir hipotermia di Merbabu. Sebagai penyuka gunung saya merasa wajib punya sepatu jenis ini.

~ wedgess 10 senti
Saya menyukai segala aksesoris perempuan. Meski tidak terlalu menggilai sepatu/ sendal berhak tinggi, saya mewajibkan diri untuk memilikinya minimal tiga pasang. Hari ini saya sudah punya tiga dengan tinggi hak delapan sentimeter. Kalau masih ada kesempatan saya ingin memiliki yang sepuluh senti. Sepatu jenis ini membuat saya tampak semakin percaya diri.

~ satu set alat makeup
Siapa yang enggak mau tampak glowing  ala-ala dalam sebuah pertemuan? Meski sedang sendirian saya juga ingin selalu tampak cetar. Saya lagi menggilai riasan-riasan ala-ala beauty influence. Saya bahkan menerjunkan diri ke lembah para beauty-beauty ini demi ingin menyerap jurus ala-ala merias diri.
Makeup adalah art. Seni selalu tanpa batas. Saya suka ini.

Sayangnya peralatan makeup masih terbilang mahal untuk kantong saya. Terus terang saya iri kepada mereka yang dengan mudah berganti-ganti merk makeup.

~ kain tradisional dan tas etnik
Demi apa sepanjang karir saya sebagai #RakyatJelita, kain khas daerah-daerah di Indonesia selalu bisa memeluk dengan sepenuh cinta. Sedikit-sedikit saya mulai mengoleksinya. Terus terang saya baru mengenal tenun, ulos, batik dan songket.

Selain kain, noken dari Papua juga cukup menyita perhatian saya. Tas-tas anyaman dari serat kayu atau akar-akaran selalu berhasil menarik saya untuk memilikinya. Ini membuat saya terenyuh mengingat pendapatan  tidak sebanding dengan keinginan-keinginan (saya).

~ koper
Saya tidak suka piknik kecuali piknik dibayar. 
Saya takut tidak bisa ‘berobat’ jika ketahuan kecanduan piknik. Maka dari itu saya sering kali bersiasat bagaimana caranya biar bisa piknik dengan tenang tanpa memikirkan biaya-biaya admin.

 Lantas ketika tawaran piknik berdatangan, hal selanjutnya yang saya butuhkan ternyata adalah koper. Saya punya backpack 18 inch. Cukup elegan dibawa piknik ke segala medan. Namun ternyata saya tetap butuh koper untuk piknik gaya elegan.

~ jas hujan dan baju renang
Mohon maaf sebesar-besarnya kepada Ordo Pisces karena saya mau mengaku bahwa selama ini saya adalah #RakyatJelita dari kaum Pisces yang tidak bisa berenang dan bahkan takut air.

Sebagai pengelaju motor di segala suasana, jas hujan sangat saya butuhkan. Beberapa kali beli jas hujan dan berakhir dengan sobek di sana sini karena ternyata jas hujan itu tidak terlalu kuat serupa rindu.

Untuk baju renang, sungguh ini adalah pakaian yang saya inginkan sejak lebih dari satu dekade. Saya hanya ingin bisa memakai baju renang lalu bisa belajar renang dengan bahagia.

~ bermacam-macam buku
Buku telah menjadi bahan pokok serupa nasi. Saya tidak bisa hidup tanpa buku. Kalau ada diskon buku, saya akan ikut mengantri dilautan manusia penggila kata-kata.

Sederhana sekali keinginan #RakyatJelita semacam saya. Karena sederhana maka saya selalu mengupayakan untuk mencari diskonan ke sana ke mari.

Lazada 11.11

Demi mewujudkan keinginan sederhana namun tidak murah itu saya menunggu festival belanja Lazada 11.11 untuk berburu diskon. Percayalah, saya mungkin cuma memasukkan beberapa barang impian dalam postingan ini namun harus diketahui bahwa setiap barang punya cabang lebih dari sepuluh. 

Tanggal 11 November bisa jadi kesempatan untuk berburu barang-barang impian. Sebagai pecinta diskon yang tidak mau rugi, saya sudah menyiapkan diri mulai dari instal aplikasi Lazada sampai mengecek saldo tabungan.

Hanya 24 jam pesta belanja akan berlangsung. Kalau memang harus gila saya akan menggila, demi sebuah barang impian.

Sejak kemarin saya bahkan sudah mengultimatum teman kos untuk instal Lazada dan memberi catatan barang belanjaan yang saya inginkan.

11.11 akan menjadi ajang balas dendam saya kepada ketidakberdayaan masa lalu. Saya juga sudah menyiapkan list nama orang-orang yang akan saya kirimi kado setelah saya menghabiskan 24 jam penuh diskon besar. 

Secangkir Teman Hangat Untuk Harapan Baru

"Jika tidak bisa menanam 1000 pohon maka setidaknya saya harus menanam 10 pohon sebelum mati."

Mungkin terdengar terlalu muluk atau tidak masuk akal, tapi begitulah biasa saya menyampaikan motto hidup di hadapan khalayak umum.

Jatuh cinta saya kepada kebaikan alam boleh dibilang terlambat (meski orang bilang tidak ada yang terlambat untuk sebuah kebaikan). Saya baru terbiasa menanam pohon / tumbuhan di saat orang lain sudah memanen hasil tanamannya.


Bukan pekerja kantoran bukan pula bawahan apalagi atasan, saya nyata-nyata hanya gadis biasa yang terlalu gigih dalam bermimpi (realita kapan-kapan). Meski begitu saya tidak pernah ada niatan untuk kabur dari kenyataan.
Hanya saja tidak bisa dipungkiri kenyataan kadang lebih kejam dari ibu tiri.

Sari Jahe teman sepanjang waktu

Pekerjaan yang saya geluti bukan  pekerjaan yang bisa dipastikan kapan, berapa lama dan berapa besar ganjarannya. Namun sudah dipastikan tingkat kelelahannya.

Bertemu orang hampir setiap hari menuntun saya untuk harus tampil segar dan hangat (layaknya secangkir wedang jahe).
Saya tahu diri, mood bisa berubah sewaktu-waktu sesuai faktor pemicunya.

Tepat waktu dan selalu hangat kepada setiap orang menjadi salah satu indikator teman menyenangkan. Untuk itu saya selalu berusaha memelihara kebiasaan ini.
Sayangnya tidak jarang harapan saya luruh jungker balik semacam daun maple di musim gugur disebabkan terlambat. (bisa saya atau pihak lain yang terlambat, tetap ujungnya mood saya  kacau).

Kalau sudah mengalami ini biasanya akan  konsentrasi seharian jadi terganggu.
Butuh sentuhan baru untuk bisa kembali semangat.


Sudah hampir sepekan ini saya tinggal jauh dari kampung halaman untuk sebuah misi masa depan. Jauh dari pelukan keluarga dan obrolan hangat di depan televisi.
Memang saya suka bepergian, tapi bukan berarti saya selalu siap jika sewaktu-waktu ada panggilan untuk jalan.

Bekal harus cukup untuk menjaga diri agar tidak mudah galau atau ketakutan. Seriusan, di tempat baru jika tidak cukup bekal akan membuat nyali ciut.

Di rumah saya disayang keluarga. Di perantauan harus bisa menyayangi diri sendiri lebih dari sebelumnya.

Di rumah banyak yang bersedia kerepotan demi menyiapkan minuman menyegarkan untuk saya. Pekarangan rumah juga sudah disulap jadi kebun tanaman bahan minuman tradisional. Jahe, temulawak, serai, lidah buaya dan banyak lainnya ditanam dan tumbuh subur. Bisa dipanen sewaktu-waktu jika dibutuhkan.

Keluarga saya adalah petani yang menganut tradisi bahwa alam telah menyediakan segala yang dibutuhkan manusia.

Kemajuan zaman tidak lantas membuat keluarga saya hijrah gaya. Utamanya dalam gaya makan.

Mamak itu serupa polisi yang selalu menjaga dan pertama mengetahui sebuah ketidak beresan. Jika saya sakit biasanya mamak akan lebih curiga dengan makanan/ minuman yang menyentuh lidah dan lambung saya. 

Itu sebabnya di rumah kondisi badan dan asupan gizi saya terpenuhi. Mau minum teh/ susu jahe tinggal meracik sendiri.

Begitu sepekan di Bekasi, saya kebingungan sebab tidak punya semua bahan yang dibutuhkan untuk membuat minuman herbal pula waktu yang terlalu sibuk mengejar kemacetan. 
Padahal minuman herbal dari bahan-bahan alami sangat berkhasiat untuk menenangkan syaraf dan perasaan.

Sudah lebih dari dua windu saya tidak mengenal obat. Saya ragu dengan obat-obatan. Jika badan berasa kurang fit, langkah pertama saya adalah istirahat dan minum/ makan olahan tumbuhan obat.


Kemarin sore akhirnya ada kesempatan sekian menit untuk jalan ke supermarket. Dengan semangat penuh saya datangi rak tempat minuman serbuk/ sachet/ kemasan. Semua demi mencari aroma kampung halaman.

Bersama tenggelamnya Surya, saya meyakinkan diri harus mendapat minuman ekstrak jahe. Selain demi mengobati rindu kampung juga sudah barang tentu untuk mengembalikan kewarasan; setidaknya lidah saya bisa terhibur dengan menyentuh minuman jahe.

Beruntung ada  herbadrink sari jahe nongol cantik serupa teman udah lama kenal dan langsung menyapa.
Tidak harus menunggu semenit, sekotak sari jahe langsung pindah ke keranjang belanjaan. 
Dari Jahe Herbadrink jadi ingat kampung
Sejujurnya ini kali pertama saya bertemu dengan herbadrink (utamanya sari jahe rasa rumahan) dan langsung menerimanya.

Seperti perkiraan, seduhan sari jahe herbadrink dalam secangkir air panas cukup membuat hidung saya joget bahagia.

Aroma jahenya kuat persis seperti buatan di rumah. Begitu menyentuh lidah langsung kerasa jahenya dan begitu masuk lambung; hangat minuman mijitmijit.

Kesimpulannya; saya suka produk herbadrink yang ternyata setelah saya lihat komposisinya merupakan racikan bahan-bahan alami.

Seperti diketahui jahe punya banyak khasiat, beberapanya ;
- mengurangi mual, itu artinya herbadrink bisa dijadikan teman perjalanan mereka yang suka mabuk
- membantu masalah pencernaan
- baik untuk kulit
- melegakan tenggorokan; herbadrink cukup ampuh membuktikan ini
- dll

Herbadrink ini minuman herbal bukan obat. Saya mampu menerimanya menjadi teman baru.



Macam-macam minuman serbuk Herbadrink
 #Herbadrink

Banyak yang beranggapan jika minuman herbal dari tanaman (liar) itu pahit. Sebagian yang lain bilang membuat minuman dari rempah atau tanaman hanya akan menghabiskan energi (tenaga untuk mendapat bahan sampai meramu).
Pula tidak sedikit yang memilih enggak peduli dengan minuman berbahan alami sebab sudah terbiasa dengan minuman bersoda/ berkafein atau yang mengandung susu.

Kalau saya sih asli lebih memilih minuman racikan empon-empon atau tanaman dibanding harus konsumsi soda.

Herbadrink rasanya cukup mengerti kebutuhan orang semacam saya. Herbadrink terlampau cerdik. Tidak hanya 'menerbitkan' minuman dalam bentuk serbuk yang mudah dibawa dan dinikmati kapan saja,  tapi juga sekaligus melengkapinya dengan varian rasa yang sesuai dengan ''tradisi' Indonesia. Sari Jahe, Sari temulawak dan lidah buaya cukup mewakili kebutuhan saya.

Saya paling suka menghidu aroma yang menguar di udara saat serbuk herbadrink bertemu dengan terjangan air panas dari teko/ termos. Aroma itu akan bertahan beberapa lama dan otomatis membuat orang yang mencium aromanya perlahan mulai rileks.

Saya sudah cobak herbadrink sari jahe, esok saya akan meminta herbadrink lidah buaya menjadi teman menembus kemacetan dan panasnya Bekasi.


Berburu Sate Ayam Sate Ratu


Sate Ayam

Kalau disuruh milih, saya inginnya makan makanan fresh. Sebisa mungkin menjauhi yang namanya junk food. 

Bukan sok-sokan tapi belakangan saya lebih peduli dan semakin mencintai tubuh saya. Berharap dengan demikian saya bisa punya kesempatan lebih untuk eksplor rasa.

Sate ayam merupakan salah satu makanan favorit saya. Saya tidak keberatan lama-lama menunggu penjual sate menyiapkan pesanan saya. Aroma pembakaran sate selalu berhasil membuat mulut basah.


Meski suka olahan sate, bukan berarti saya langsung cocok dengan semua sate ayam. Saya kurang suka jika daging ayamnya kecil-kecil (nempel di tusuk), kurang suka pula kalau gosong, pula agak males kalau banyak lemaknya.

Dulu sering banget beli sate di angkringan atau gerobak dorong. Belakangan saya tahu (dari postingan teman-teman) jika ada satu tempat yang jual sate enak.

Bermula dari penasaran, ingin ngerasain yang dirasain temen, akhirnya kesampaian juga saya menemukan lokasi yang teman teman maksud.

Sate Ratu

Nama tempatnya adalah Sate Ratu. Terletak di kompleks Jogja Paradise Food court, Jalan Magelang KM. 6, dekat JCM.

Meski di lokasi food court tapi olahan di sini benar-benar fresh. Saya bahkan sempat lihat dibalik dapur sebelum menu pesanan terhidang di meja.


Sate  Ratu ternyata terkenal lho. Saya aja yang ketinggalan.

Bahkan banyak wisatawan mancanegara yang sudah mencicipi menu di sini.
Enggak hanya dari satu dua negara tapi sudah lebih dari 60 negara main ke Sate Ratu dan selalu mantap bilang puas dengan makanan di sini.

Sebelum seperti hari ini, dulunya bermula dari angkringan Sate Ratu. Konsep angkringan berkualitas nomer satu. Dulu lokasinya ada di Jalan Solo. Benar-benar bernuansa angkringan.

Menu Sate Ratu

Tidak seperti tempat makan kebanyakan yang ingin berjualan banyak macam olahan makanan, di Sate Ratu menunya  hanya ada sate merah, lilit basah dan ceker tugel.

Kalau dibilang khas, ya iya ini khas banget.

Sate merah, jujur saya baru sekali ini ketemu. Dan saya yakin ini khas banget. Enggak nolak kalau ada yang mau jajanin sate ini. Porsinya imut jadinya selalu menerbitkan rasa ingin lagi dan lagi.

Sate Merah

Bagaimana dengan lilit basah? Kenapa enggak sate lilit?

Ternyata ini sejarahnya panjang, saudara saudara. Dulu emang buatnya sate lilit tapi ternyata membuat sate lilit itu membutuhkan waktu banyak (jika tidak mau dibilang ribet). Sudah begitu tidak semua orang (karyawan Sate Ratu) bisa menyiapkan sate lilit seperti yang diinginkan.

Karena alasan ini maka lahirlah lilit basah yang bahannya serupa sate lilit namun bentuknya kotak-kotak serupa tahu. Sudah tak ada lagi tusuknya.

Lilit Basah

Soalnya, super, sungguh saya ingin nambah dua porsi. Meninggalkan rasa nikmat di ujung lidah.
Saya sih sudah yakin enak sejak suapan pertama.

Kalau biasanya sate itu dengan bumbu kacang, bumbu kecap atau bumbu sambal, maka di sini bumbunya beda. Bumbunya sedikit berminyak, diolah khusus dan begitu meresap ke dalam daging. Saya kurang tahu rempah apa saja yang dimasukkan dalam bumbu tersebut.


Waktu saya iseng tanya ke owner-nya tentang bumbunya, beliau cuma tertawa sambil berucap: rahasia, itu juga eksperimen berkali-kali.

Ah apalah, yang penting satenya enak banget. Istimewanya dagingnya tebal-tebal.

Kalau penasaran, udah langsung cuss saja daripada ngidam enggak kesampaian.

Sate Ratu
Jogja Paradise Food court
Jl. Magelang KM.6
Buka : 11.00 - 21.00
Harga: 23k

Mengintip Ruang Gerak Ramah Disabilitas

Jelang Asian Paragames 2018 agaknya elok nian jika saya menulis beberapa pertemuan yang pernah saya alami dengan teman-teman dengan kebutuhan khusus.

Sebagian kita pasti berasumsi jika seseorang dengan kebutuhan khusus adalah mereka yang tidak sempurna. Padahal titik kesempurnaan itu sendiri kadang kala kita masih blur. Apakah yang sempurna itu hanya milik mereka yang tampak sama dengan yang kebanyakan? Lantas bisakah seseorang yang dikategorikan tak sempurna atau berkebutuhan khusus itu memperoleh kesempatan sama dengan mereka yang normal?

Alangkah baiknya sebelum jauh melangkah bersama, saya memberikan defini dahulu tentang difabel. Dalam KBBI V secara singkat difabel diartikan dengan penyandang cacat. Sementara di buku lain bisa dijabarkan bahwa difabel atau bahasa inggrisnya different ability adalah seseorang yang mempunyai keadaan fisik atau sistem biologis berbeda dengan orang lain pada umumnya. (hampir sama dengan awal postingan ini).
Sementara disabilitas (kata lain dari difabel) diartikan sebagai keadaan tidak mampu melakukan hal-hal dengan cara yang biasa.

Tentang Difabel

Sejak kecil sering saya berjumpa dengan mereka yang disebut kaum difabel. Dari yang saya tahu (dengan bertanya atau mendengarkan penuturan orang lain) difabel bisa merupakan bawaan dari lahir dan atau karena sebuah kecelakaan.

Masa SD mendekatkan saya dengan teman difabel. Lingkungan saya (baik dulu bahkan sampai sekarang) selalu menganggap sosok difabel dengan pandangan kasihan, melas, ngilu pula takut. Takut karena sebagai penduduk dusun masih sering mengaitkan musibah (keadaan seseorang yang cacat dianggap sebagai musibah) bisa terjadi karena sebuah kesalahan/ tulah/ kualat dan ada baiknya tidak usah didekati karena bisa jadi tulah itu menular ke orang-orang yang dekat dengannya. Padahal teori ilmiah belum membenarkan pikiran-pikiran purba semacam ini.

Kawan SD saya (perempuan) menjadi difabel sebab sebuah kecelakaan. Dokter harus mengaputasi satu kakibahkan ketika dia belum mendapatkan haid pertamanya.
Sejak kejadian itu hingga hari ini, besok, lusa, tulat, tubin hingga nanti dia hanya memiliki satu kaki untuk menopang tubuh.

Meski begitu, lepas dari frustasi yang mendera pula dukungan dari orang-orang terkasih (juga kenalan sana-sini) kini dia menjadi seorang penyandang cacat mandiri. Dia sadar lain maka dia menonjolkan kekuatan yang dipunyainya untuk bertahan. Kini dia bukan hanya seorang pegawai garmen yang cekatan tapi juga merupakan seorang ibu dan istri bagi anak dan suaminya. Sesuatu yang membanggakan bukan?

Cerita lain yang tidak saya sangka juga datang dari kawan finalis Duta Baca 2018. Syafrina namanya, seorang lulusan S2 juga pengajar di salah satu SLB, ia terlahir dengan celebral palsy. Meski begitu kemampuan dia dalam berkomunikasi sangat bagus.

Di luar yang saya ceritakan masih banyak teman-teman lain yang dikarunia 'kebutuhan khusus'. Ada yang memang bertahan bahkan berprestasi melebihi orang-orang normal. Namun tidak sedikit yang mengalami kekalahan sebelum berperang. Mirisnya kadang kala kitalah peyumbang kekalah bagi mereka. Kita yang normal ini seringkali semena-mena kepada mereka yang sesungguhnya juga punya hak yang sama di muka Bumi ini.

Fenomena Now

Orang 'normal' butuh piknik, sekolah, jalan-jalan, nongkrong, belanja dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Bagaimana dengan para difabel? Mereka juga butuh itu semua. Kebutuhan kita sama. Sama-sama makan pecel lele, sama-sama menggunakan whatsapp, sama-sama butuh internet, sama-sama butuh tempat nongkrong, dan lain-lain dan lain-lain.

Namun sering kali kita yang 'normal' ini curang. Sering menjumpai meme perkara konblok jalan yang tidak ramah untuk tuna netra? Atau malah pernah menjumpai sendiri seorang difabel dengan kursi roda yang tidak bisa masuk ke sebuah ruangan karena jalannya berundak-undak dan tidak ada jalan untuk kursi roda? Saya pernah (sering), beruntung banyak orang baik yang dikirim untuk menolong kawan difabel ini.
Entah apa jadinya jika semua orang curang dan 'main-main' pada para difabel.

Area Publik Bagi Difabel

Sebelum-sebelumnya saya sudah mendengar adanya 'kampus ramah difabel', 'kota inklusif', dan semacamnya yang intinya; memberi kenyamanan bagi para penyandang disabilitas. Tapi ternyata dari beberapa yang saya baca, belum seluruhnya mawujud nyata seperti angan-angan.

Ada memang kampus dengan label ramah difabel, namun ternyata hanya dibagian-bagian tertentu saja. Masih ada area-area yang sulit dijangkau oleh kawan-kawan disabilitas.
Kota inklusif?

DI Yogyakarta sudah sejak lama mencoba menjadi daerah dengan kawasan inklusif aksesibel. Kultur masyarakat DI Yogyakarta yang ramah dan santun memungkinkan terciptanya lingkungan masyarakat yang juga ramah, santun, bersahabat, terbuka dan menyenangkan bagi para disabilitas.
Pemerintah DI Yogyakarta melalui 'kekuasaan' telah membuat aturan-aturan yang sedemikian untuk mengayomi semua masyarakat.

Salah satu bentuk nyata dari Yogya sebagai kota ramah difabel adalah dengan dilahirkannya ruang-ruang publik yang bisa diakses oleh siapa pun masyarakat luas.
Diskominfo bahkan menyengaja membuka co-working space yang merupakan ruang kreatifitas dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan para penyandang disabilitas.

Inklusif Aksesibel

Untuk bisa menyandang 'gelar'  inklusif  aksesibel dibutuhkan banyak indikator. Co-working space diskominfo telah mengantongi indikator tersebut yaitu: adanya partisipasi difabel, adanya upaya pemenuhan hak-hak difabel, terjamin aksesibilitas dan adanya sikap inklusif dari pihak terkait (baik warga mau pun pemerintah).

Kalau saya boleh bilang, saya bersyukur dengan dibukanya ruang publik ini. Saya bisa berinteraksi dengan banyak orang bahkan tidak hanya mereka yang normal tapi juga yang berkebutuhan khusus.

Area publik memang sudah menjadi trend yang tidak bisa dihindari. Banyak anak muda yang lebih sering di luar dibanding di dalam rumah. Mereka bukan hanya keluar untuk kelayapan tapi bisa jadi belajar atau mengerjakan tugas atau meeting atau bisa jadi bekerja.
Co-working space yang ada saya kira bisa jadi satu tempat kerja baru buat anak muda. Era ini kerja kerja tidak  melulu harus di kantoran di depan bos. Sambil minum kopi di co-working space seseorang  bisa merubah nasib atau telah menjadi bos.

Para difabel dengan adanya ruang yang ramah untuk mereka pasti lebih semangat lagi untuk menjalankan aktifitas. Jangan salah, difabel juga banyak yang jadi bos-bos atau milyader. 

Harapan saya pribadi co-working space diskominfo akan selamanya  menjadi rumah nyaman dengan akses mudah, update, lapang, ruang bersama dengan perlindungan privasi. Menjadi ruang gerak untuk siapa saja.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi Pagelaran TIK yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informasi DIY.

Disawa Pawon Suguhan Nuansa Alam

Disawa Pawon


Saya bukanlah orang yang banyak syarat jika diajak cari tempat makan. Makan di mana saja tidak jadi soal. Tentang olahan makanan, lidah saya sudah teruji dan perut juga jarang menolak, kecuali makanan kelewat pedas.

Mungkin karena alasan inilah banyak teman yang tidak pernah kecewa jika mengajak saya makan di luar. Teman tak kecewa, saya pun bahagia.

Lalu timbul pertanyaan lain: bagaimana dengan teman makan, pilih-pilih atau siapa aja bisa?
Ya maunya sih memilih tapi kadang kala yang dipilih tidak ada (bukan tidak mau), bagi saya tidak jadi soal mau siapa yang menemani makan. Sendirian atau ramai-ramai saya selalu bisa makan dengan tenang.

Lain soal jika dibonusi tempat makan yang menyenangkan. Bukan hanya karena menu makanannya saja tapi juga lengkap dengan suasana alam yang barang tentu menjadi nilai lebih dari setiap tempat makan.

Ya meski diawal bilangnya tidak banyak syarat, tapi diam diam saya sering membandingkan antara tempat makan satu dengan yang lain.
Kadang dengan cukup bilang: oh ini begini, di sana begitu. Atau lebih panjang lagi mengulasnya dalam tulisan panjang atau obrolan ringan bareng teman yang juga suka makan.

Awalnya hanya obrolan biasa saja, siapa sangka lanjutannya justru diajak makan di suatu tempat yang pada akhirnya belakangan rajin saya kunjungi.

Iya belum ada sebulan saya sudah dua kali bertandang ke disawa Pawon.

Awalnya saya agak ragu sebab membayangkan lokasinya yang naudubilah jauh dari radar gua pertapaan saya selama ini.

Okey fix ini lokasi Disawa Pawon jauh, apa kira-kira yang bakal saya dapat dengan perjalanan jauh ini? Kira-kira begitu pertanyaan yang memutuskan saya untuk akhirnya bersedia berkendara jauh ke Disawa Pawon; awalnya hanya pembuktian selanjutnya adalah cerita panjang yang tak akan selesai dalam semalam.


Memangnya seberapa jauh itu Disawa Pawon?

Lokasinya berada di Sawahan Lor, Wedomartani Ngemplak Sleman. 
Sekitar 45 menit dari kota Yogyakarta. Atau kalau dari Bandara sekitar 30 menitan.
Silakan saja cek di google map.

Memang lumayan agak jauh dan masuk ke pedalaman (baca: kawasan penduduk lokal). Namun justru karena lokasinya yang cukup lumayan inilah yang membuat Disawa Pawon jadi sesuatu yang wajib masuk dalam daftar 'tempat makan nuansa Jawa yang wajib dikunjungi saat berlibur ke Jogja'.

Kenapa bisa masuk dalam daftar wajib kunjung? Jawabannya ada di postingan ini, baca sampai kelar.

Menu Menggoyang Lidah


Apa sih yang membuat kamu---iya kamu---untuk mau datang lagi atau merekomendasikan suatu tempat makan ke teman temanmu?

Kalau saya biasanya karena makanannya. Olahan makanan memang tidak bisa dipungkiri menjadi salah satu tujuan utama untuk wisata kuliner.
Bagaimana dengan suasana? Penting! Tapi suasana bukan yang utama jika dibanding dengan menu yang mampu menggoyang lidahmu sekaligus membuat mulut enggan untuk berhenti mengunyah.

Nah, Disawa Pawon ini memenuhi kriteria untuk direkomendasikan ke teman.
Saya sendiri suka dengan olahan makanan di sini.

Saya suka segala macam sayuran, begitu ketemu urap di sini, yeih maka wajib bagi saya untuk membaginya dengan teman-teman.

Lebih dari itu, olahan ikan nila dan sate lilitnya membuat saya enggak bosen meski sudah berkali-kali main ke Disawa Pawon.

Singkatnya saya tidak kecewa jalan jauh sebab semua pengorbanan lunas dengan menu yang alhamdulilah baik, mengenyangkan dan halal.

Lagi-lagi yang membuat saya berani mengulas tempat makan satu ini karena tempat makan ini dikelola langsung oleh Pak Budi (dukuh setempat) dengan rekan bisnis yang biasa disebut Bli Frengki.

Konsep yang diusung adalah pemberdayaan desa berbasis pariwisata.

Apalagi ini?
Dari obrolan saya dengan owner Disawa Pawon, dapat saya simpulkan bahwa tempat makan kental nuansa Jawa ini terungkap fakta bahwa beberapa bahan makanannya memang berasal dari petani penduduk sekitar.
Sayur-sayuran dan ikan-ikan yang dimasak semuanya diambil dari hasil panen masyarakat sekitar Disawa Pawon.

Bahkan kalau tidak salah dengar, Pak Budi ini juga ikut membidani berdirinya tambak/ kolam-kolam ikan yang berada di dusun tersebut.
Dari tangan ajaib Pak Budi banyak lahan mulai disulap jadi lahan bisnis namun tidak mengurangi keelokan nuansa alamnya, justru sebaliknya, menambah daya pikat bagi orang luar.


Saran saya jika kamu mau main ke Disawa Pawon, pesanlah sate lilit dan nila bumbu rujak/ sambel matah untuk makanan berat. Jika hanya sekedar ingin menikmati suasananya dan rileks menjauh dari kepenatan kota, pesanlah secangkir kopi luwak dan tempe mendoan.

Sensasinya luar biasa. Apalagi kalau pas cuaca bagus, kamu bakal ditemani si gagah Merapi dari kejauhan.

Suasana Alam


Seperti yang saya bilang tadi; suasana alam di sekitaran Disawa Pawon cukup membuat banyak orang rela jalan jauh dari peradaban.

Bentangan sawah-sawah yang hijau dan kelak menguning berbaur dengan desain tempat makan yang Jawa klasik.

Si Gagah Merapi juga sesekali muncul untuk menemani kalian yang beruntung.
Karena lokasinya di ketinggian jadi suasananya adem cenderung ke sejuk.
Yang biasa panas-panasan sumuk coba sekali-kali ke sini pasti akan merasakan sensasi alam nan elok.

Jangan takut kecele karena suasana di sini selalu seperti itu adanya.
Enggak heran kalau banyak wisatawan asing yang rajin juga berkunjung ke Disawa Pawon; menikmati tempe mendoan sembari mentadaburi alam nan elok permain.




Sentuhan Budaya



Agaknya kurang elok jika saya tidak menuliskan alasan lain kenapa Disawa Pawon wajib dikunjungi selain makanan dan suasananya, yaitu sentuhan budaya Jawa yang begitu kental di tempat ini.

Joglo yang dari kejauhan begitu kokoh langsung membuat jatuh hati dan bertanya: berapa rupiah untuk melahirkan mahakarya seindah ini?

Beda dengan joglo rumah makan kebanyakan yang biasanya dibiarkan bewarna alami (coklat kayu), Disawa Pawon punya konsep sendiri yaitu diberi sentuhan kuning hijau.
Saya kira hanya biar kelihatan beda saja, ternyata tidak hanya itu; memang tujuannya kelihatan beda, namun kehadiran cat ini mengandung cerita panjang.

Dengan bangunan bercat ini menunjukkan bahwa Disawa Pawon punya 'wibawa' tinggi dibanding dengan tempat makan lain.

Konon pada masanya dulu, cat bisa jadi simbol strata sosial seseorang.
Jika rakyat jelata tidak ada yang mengecat rumahnya, kaum bangsawan atau milyader pada zamannya justru mengecat rumah mereka sebagai penanda bahwa mereka 'orang berada'.
Sebab hanya orang berduit saja yang bisa membeli cat (pada zaman itu).

Ada bonus lain yang didapat jika datang ke Disawa Pawon, yaitu bisa foto-foto dengan kostum ala-ala masyarakat desa zaman dulu; yaitu dengan kebaya.

Kebaya yang ada disediakan gratis untuk pengunjung Disawa Pawon.

Saya selagi menunggu pesanan siap diantar ke meja selalu meluangkan waktu untuk berfoto ala ala.
Lagian kapan lagi bisa foto macam gadis desa dengan pemandangan desa yang benar-benar membius mata.
Lumayan buat yang suka buat kejutan heboh di feed Instagram.



Lokasi:  
Disawa Pawon
Wedomartani Ngemplak Sleman Yogyakarta
Akses 30 menitan dari Bandara atau 45 dari stasiun 

Buka:
11.00 -23.00 (setiap hari)

Harga:
mulai Rp 5.000,-

Foto oleh:
@bookpacker
Rangga

Info lanjut dan reservasi:
@disawa_pawon