Gema Cermat Bersama Kemenkes RI


Gema Cermat Bersama Kemenkes RI

Lebih dari satu dekade saya tak pernah bersinggungan dengan obat. Saya telah membiasakan lidah dan lambung agar menjauh dari sentuhan racikan obat, apa pun bentuknya. Obat adalah sesuatu yang mengerikan bagi saya. Dari sebagian orang saya juga tahu bahwa obat terkadang berubah menjadi racun mematikan. Faktanya begitu.

Belum lama ini saya demam, hampir dua mingguan. Orang di sekeliling panik karena saya menolak untuk sekedar berkunjung ke dokter. Lebih saya menolak segala obat yang hendak ditawarkan, bahkan obat penurun panas pun saya hindari.

Ada teman yang justru ngomel disaat saya sedang dalam puncak kesakitan. Ia ngomel karena saya ngotot tidak mau berobat. Saya benar benar menjaga prinsip; pantang menyentuh obat.
Selain malas menyentuh obat, bibir saya juga malas menyentuh makan dan minum. Saya benar benar drop. Baru mulai membaik ketika air kelapa dan rebusan daun kelor mampir ke lambung. Tidak ada obat lain selain dua hal tersebut. Kebetulan halaman rumah saya telah sejak lama sengaja ditumbuhi tumbuhan obat; itu semua semata mata untuk saya yang anti dengan obat medis.

Cerita demam saya telah tutup buku, ganti dengan cerita baru bersama Kemenkes (kementrian kesehatan). Demi apa ini kali pertamanya saya ikutan acara kementerian kesehatan RI. Sebelumnya saya pernah ikutan acara Badan POM, dan itu membahas obat.
Kemenkes pada kesempatan kali ini juga mengambil tema tentang Cermat Menggunakan Obat. Obat lagi obat lagi. Sejak awal saya tertarik dengan acara ini lantaran bicara tentang obat. Sesuatu yang sangat saya hindari namun harus saya kenali sebab dia selalu hadir dalam hidup saya.

Malam sebelum acara Kemenkes, saya sedikit galau karena hujan-hujanan dan menghabiskan banyak telur puyuh. Konon besok pagi pas acara akan ada pemeriksaan kesehatan. Kalau malam harinya gaya hidup saya gak sehat, saya khawatir paginya akan mendapat hasil pemeriksaan yang juga mengkhawatirkan. Ditambah begadang membuat saya degdegan.

Untungnya selama ini saya menjalankan gaya hidup yang lumayan sehat. Pemeriksaan tekanan darah, kandungan gula dan kolesterol dinyatakan dalam batas sangat aman. Semua baik baik saja. Satu satunya yang menyedihkan adalah berat badan dan lingkar perut. Dokter cantik teman konsultasi menyarankan agar saya mengurangi minimal dua setengah kilogram berat badan dan empat senti lingkar perut. Bagaimana saya bisa melakukan ini semua?

Acara inti pun tiba. Pemaparan tentang Cermat Menggunakan Obat dari berbagai narasumber yang ahli di bidangnya. Saya beruntung karena hari itu bisa mengerti lebih jauh lagi tentang obat.
Setidaknya ini penting untuk saya agar tidak lagi terlalu antipati dengan obat. Karena sejujurnya niat awal obat dilahirkan adalah sebagai perantara penyembuhan

Obat-obatan  tidak salah, kadang kala perlakuan manusia saja yang membuat obat berubah menjadi racun.

Ada banyak faktor yang merubah obat menjadi sesuatu yang berbahaya; salah satunya adalah ketidak pahaman kita dalam memilih obat yang dibutuhkan. Padahal faktanya beda penyakit beda juga obat yang digunakan.

Berikut adalah cara untuk memilih obat;
1. Perhatikan kandungan zat obat, jangan asal pilih merk dagang dan abai pada kandungan zat di dalamnya.
2. Jangan pernah mengabaikan alergi yang terjadi saat konsumsi obat. Artinya jika terjadi alergi usai konsumsi obat, maka hendaknya lain kali tidak lagi konsumsi obat yang bersangkutan.
3. Perhatikan kondisi saat konsumsi obat, apakah sedang hamil atau berencana hamil. Karena jelas obat sangat pengaruh pada kehamilan.
4. Sama halnya kehamilan, menyusui pun perlu diperhatikan.
5. Harga obat di pasaran. Pastikan harganya normal. Jangan tertipu dengan harga murah namun khualitas dipertanyakan
6. Perhatikan bentuk sediaan obat. Sesuaikan dengan penggunaannya.
7. Pastikan kondisi saat sedang menggunakan obat. Apakah juga sedang konsumsi obat lain atau tidak. Sebab kadang kala satu obat dengan obat lain tidak bisa berinteraksi baik. Pastikan sudah konsultasi dokter dan apoteker.

Selain itu juga harus diperhatikan macam obat yang ada. Apakah obat itu kategori obat bebas, obat bebas terbatas atau obat keras. Obat bebas adalah obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter. Sedang obat bebas terbatas adalah obat keras yang dapat dibeli tanpa resep dokter namun penggunaannya harus memperhatikan aturan pakai dan peringatan pada kemasan. Sementara obat keras adalah obat yang hanya bisa diperoleh jika ada izin dan resep dari dokter.

Untuk kategori obat obatan ini saya baru pertama kali mengerti yang demikian. Saya menghindari obat dan saya juga tidak berusaha untuk mengenalnya. Jadi jika Kemenkes akhirnya mengenalkan saya pada siapa itu obat, saya berterima kasih. Setidaknya itu bisa menjadi bekal saya ke depan sebagai #calonibukesayangan.

Usai dengan materi cara mendapat obat lanjut ke materi cara menggunakan obat. 
Perlu diketahui bahwa dalam tubuh setiap orang terkandung banyak bakteri. Bakteri jahat dan bakteri baik. Jika salah menggunakan obat bisa jadi bakteri baik yang membantu sistem tubuh akan mati dan justru bakteri jahat berkembang subur. Saya ngeri membayangkan hal ini. Sepanjang narasumber presentasi, saya bergidik ngeri dan hanya sesekali melihat ke layar, bukan tidak hormat saya pemateri namun karena menghindari refleks tubuh merinding jika mendengar kata bakteri.

Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan saat menggunakan obat;
1. Baca aturan pakai sebelum menggunakan obat.
2. Gunakan obat sesuai dengan aturan pakai.
- dosis. Misal gunakan sendok takar yang tersedia, jangan mengganti dengan sendok makan.
- rentang waktu. Misal: antibiotik 3 x 1 maka ini berarti diminum setiap 8 jam sekali.
- lama penggunaan obat. Misal antibiotik digunakan 3-5 hari, harus sesuai dengan petunjuk penggunaan.
3. Obat bebas dan obat bebas terbatas tidak boleh digunakan secara terus menerus. Jika sakit tak kunjung mereda sebaiknya konsultasi ke dokter.
4. Hentikan penggunaan obat apabila timbul efek yang tidak diinginkan. Segeralah pergi ke pelayanan kesehatan.
5. Tidak menggunakan obat orang lain meski gejala sakitnya sama. Jangan pernah juga menerima obat sisa dari orang lain meski jenis obat yang dikonsumsi sama.
6. Tanyakan ke apoteker untuk mendapatkan informasi penggunaan obat yang lebih lengkap dan tepat.

Menikmati Keromantisan Kopi Tirana Kitchen





Segenggam cerita

"Apa sih yang kamu dapat dengan ikut kumpul kumpul bahkan dari jauh?"

Sudah terlalu sering saya menerima pertanyaan dengan redaksi serupa.

Kopi dan Saya

Jika ditanya tentang ritual ngopi, maka saya bisa bercerita panjang panjang.

Kopi adalah sebuah cerita. Saya memang bukan penggila kopi tapi hanya seorang gadis yang sesekali mencicip kopi dengan berisik. Yoha, saat mencicip kopi maka mulut saya akan terus-terusan bertanya ini itu pada barista yang sedang melayani.

Jika ingat hal itu, kadang kala saya merasa bersalah; udah banyak tanya, minum kopinya yang paling murah. #ehe

Untungnya barista di Tirana Kitchen sabar dan ramah-ramah, sambil senyum mereka meracik pesanan sekaligus bercerita banyak hal tentang yang saya tanyakan.

Nongkrong Cantik

Jadi ceritanya saya sedang ingin refreshing karena habis sakit. Kebetulan banget, teman teman ngajakin nongkrong cantik di sebuah kedai kopi yang baru saja buka di Jalan Suryodiningratan. Saya kenal banget dengan kedai kopi ini. Tepatnya saya sudah sering main ke kedai kopi ini sejak zaman masih menjadi butik. Sekarang memang masih ada butiknya, dan ditambahin kedai kopi. 

Enak banget deh, sambil belanja baju bisa sekalian ngopi cantik.

Saya tiba di Tirana Kitchen satu jam dari jadwal janjian. 

Begitu pintu dibuka, tercium aroma kopi yang serta Merta membawa saya pada suasana melankolis. Entah apa sebab yang jelas aroma kopi selalu menerbitkan keromantisan.
Sembari menunggu teman teman, saya ngobrol sama Mbak Nunuk dan Abel; owner Tirana Kitchen. Kami ngobrol berbagai hal karena memang sudah saling kenal.

Percayalah, seharian di Tirana Kitchen pasti betah. Entah sendiri atau bersama teman, suasana mendukung. Jika bosen ngobrol, kita bisa baca baca buku yang ada di rak khusus buku. Atau mungkin nonton pameran yang sedang berlangsung. Iya, selain rumah fashion dan kedai kopi, Tirana juga merupakan tempat seni. Berbagai acara seni sering digelar di sini.
Saya tidak pernah keberatan dengan sajian kopi, malah saya berharap bisa meroasting dan menggiling kopi sendiri suatu hari nanti.
Teman teman datang sedikit terlambat dari waktu janjian. Tapi tidak apa apa, saya jadi punya kesempatan untuk menjelajah Tirana Kitchen semakin dalam.

Dari penjelajahan itu saya menemukan beberapa fakta menarik. Salah satunya adalah bahwa Tirana Kitchen menggunakan 'barang bekas' untuk beberapa hiasan dan gelas minumnya. Mbak Nunuk membenarkan jika Tirana Kitchen memang sengaja memanfaatkan 'barang bekas' menyulapnya menjadi barang baru dan berdaya guna.

"Iya gelas ini recycle botol bekas. Kami sengaja pesan botol khusus dari hotel hotel di Bali. Jadi meski 'barang bekas' sejatinya botolnya tidak sembarangan. Yang jelas higienis."

Selain gelas yang menarik, saya juga tahu ternyata menu menu yang ada di Tirana Kitchen bukan hanya kopi, tapi ada berbagai cemilan ringan dan teh.

Menu di Tirana Kitchen

Bagi saya, racikan kopi di Tirana Kitchen cukup untuk menyenangkan lidah. Kebetulan saya mencicipi beberapa kopi; saya memang enggak bisa diam kalau sudah ketemu kopi.


Ada Rumah Belanja Harga Keluarga

Ada Buti

Perempuan selalu identik dengan dunia makeup dan fashion. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu. Kalau masih tidak percaya baik saya ralat, maksudnya saya. Saya hidup dengan tidak mengesampingkan perkembangan dunia fashion dan make up. Ya meski tidak selalu harus terlibat di dalamnya, cukup tahu saja.

Maka ketika teman mengajak saya untuk datang ke launcing store baru di JCM, saya begitu semangat dan langsung mengiyakan.

Ada, begitu nama store itu. Merupakan rumah fashion bagi mereka yang hobi berbelanja baju. 
Ada, saya sering mendengar nama ini namun belum pernah belanja di sana. Konon Ada ini satu atap dengan Buti. Well, untuk Buti saya cukup familiar, setidaknya pernah ke sana nganter temen dan akhirnya malah kecantol.

Ada JCM yang diresmikan tanggal 21 Oktober 2017 lalu merupakan store ke-3 di Yogyakarta. Setelah sebelumnya ada di Hartono mal dan Lippo Plaza Jogja.

Tentang Ada

Ada store Jogja City Mal nerupakan store ke-75 dari seluruh store yang ada di Indonesia. Sangat membanggakan bagi dunia fashion, terlebih selama ini Ada dan Buti selalu memberdayakan produk lokal Indonesia.

Dunia fashion Indonesia juga cukup berkembang pesat. Ada menangkap peluang itu untuk terus bersama-sama menjaga geliat sekaligus mempertahankan produk lokal.
Meski lokal, namun kualitas tetap terjamin dan juara.

Ada lahir dari atusiasme masyarakat yang selalu ingin tampil trandi namun tidak perlu keluarga biaya banyak.
Dalam pertumbuhannya Ada dan Buti store selalu berusaha untuk lebih dekat dengan kepuasan pelanggan. Ada store menyediakan pakaian baik untuk perempuan mau pun laki-laki. Antara lain jumpsuit, knitwear, shirt, t'shirt, bluse, short, trouser, tank top, cardigan, jeans, sepatu, tas dan lain lain.

Saya pernah mengajak kawan (laki-laki) ke Ada store dan dia kalap karena banyak baju yang ia inginkan ada di sini. Dengan kisaran harga yang lumayan pula. Sebab hampir semua harganya terjangkau, kisaran 60ribuan sampai 300ribuan. Belum lagi kalau ada promo diskon bisa sampai 70%.

Besok-besok saya akan sering ke JCM untuk mengecek diskon. Lumayanlah.


Ada Fashion

Kemarin saat datang ke ADA JCM, saya terhibur dengan penampilan fashion show dan flashmob dancer.

Saya datang lebih terakhir dibanding teman-teman yang sejak siang sudah memenuhi area Ada. saya kira, saya akan sendirian di Ada, nyatanya sampai larut malam juga masih pada gentayangan mencari baju-baju berkulitas hargaa keluarga.

Saya bahkan ketemu kawan lawas banget di Ada. Sesuatu yang membuat saya serasa pulang ke rumah.


Berburu Matahari di Sleman


#ayokeSleman

Menyenangkan itu kalau ada yang nawarin piknik bareng-bareng. Saya sudah membayangkan suasana yang menyenangkan, seru dan tentunya kenalan-kenalan baru.

Kamis (19/10) kemarin saya diajak keliling obyek wisata baru di Sleman. Ada sekitar 20 orang yang diajak, terdiri dari blogger dan potografer. Kami memakai Rich Hotel sebagai titik kumpul, namun karena saya terlalu jauh jika harus ke sana, saya memilih untuk menunggu di Tebing Breksi. Sekalian aja saya nenda di Breksi secara sudah berhari-hari berkegiatan di Breksi. Sudah macem pahatan batu saja.

Janjian ketemuan di Breksi sekitar pukul 13.00, ternyata saya datang lebih awal dibanding teman-teman yang lain. Ketika saya tiba, belum ada orang yang saya kenal kecuali Kakak Arif dari Shiva Valley pengelola Jeep. Saya mah kalau perkara piknik pantang buat telat.
Saya menunggu di Breksi sembari menikmati pemandangan Breksi yang kokoh.

BREKSI

Banyak yang mengira jika Breksi hanyalah batu raksasa yang dipahat sedemikian hingga dan akhirnya menjadi sebuah tempat wisata.
Salah. Breksi yang terlihat itu sesungguhnya adalah saksi sejarah. Memang benar jika saat ini kita melihat Breksi sebagai batu raksasa icon wisata. Namun lebih dari itu semua, Breksi adalah sejarah dan bukti jika zaman dulu daratan Jawa adalah lautan.

Jika mau meneliti lebih jauh, tengok guratan-guratan yang ada di batu Breksi. Berhenti untuk mendatangi Breksi hanya demi foto selfie. Sesekali datanglah untuk meneliti, mengenal sejarah dan melindungi warisan leluhur.
Sebelum ke Breksi ada baiknya jika baca-baca dulu tentang literatur bebatuan. Agar bisa lebih memahami dan merasa memiliki sesuatu yang sangat berharga.

Sebelum jadi tempat wisata, dulunya Breksi dipakai warga untuk mencari penghasilan dengan cara menjadi penambang batu. Seiring banyaknya penelitian ternyata batuannya mengandung bahan vulkanik dari Gunung Api Purba Nglanggeran, maka resmilah daerah ini menjadi cagar budaya yang wajib dilindungi. Sadar akan hal itu, penduduk pun berhenti menambang dan atas inisiatif banyak pihak jadilah Breksi menjadi tempat wisata dengan tebingnya yang kokoh dan pemandangan yang memukau dari tebing.
Jika sedang di Breksi kita bisa melihat panorama kota Yogyakarta yang memukau dari ketinggian.

Perlu pula diketahui jikalau sudah sampai Breksi ada baiknya mengambil jalur tour selanjutnya. Biar pikniknya lebih berfaedah.

Kemarin Kamis saya enggak nyangka banget jika akan diajak piknik ketiga tempat sekaligus. Plus bonus pikniknya ditemani Bapak Bupati Sleman. Nah kan, asyik bin pengalaman yang mungkin akan sulit terulang.

Saya dan teman-teman naik Jeep dari Breksi ke Watu Payung lalu ke Bukit Teletubbies lalu mengejar sunset di Bukit Klumprit.

Watu Payung

Sebagai #DutaDamai saya enggak asing lagi dengan tempat wisata satu ini. Letaknya ada di atas Candi Ijo. Kalau dari Tebing Breksi kira-kira sepuluh menit naik jeep.
Tempatnya syik, hijau dan damai. Dari atas bisa menyaksikan pemandangan di kejauhan yang tampak hijau.
Tempat yang wajib dikunjungi oleh mereka mereka yang selama hidup sudah capek melihat gerumbulan gedung dan kemacetan jalan.
Kalau saya ke sini, bawaannya pingin nyunggi tenda dan bermalam sampai beberapa hari. Adem banget jadi wajib bawa jaket.

Disebut Watu Payung karena ternyata ada sau batu besar banget yang posisinya semacam payung gitu, penyangganya kecil namun batunya kokoh.

Kalau lagi main ke sini hati-hati ya jangan sampai merusaknya.
                                                                      

Bukit Teletubbies                                                                 

Bukit ini lucu dengan taman kecil yang hijau. Dari sini kita bisa melihat rumah Teletubies, rumah Dome yang bewarna-warni. Dome itu dibangun menyerupai rumah di kartun teletubies. Usianya sudah sepuluh tahun lebih. Saat ini ada sekitar 30 unit rumah. 20 dihuni penduduk, sisanya merupakan kantor, home stay dan tempat pertemuan.

Dulunya rumah ini dibangun untuk menampung warga yang kena gempa dahsyat 2006 silam. Bangunannya dibangun oleh bantuan luar negeri. Hari ini selain sebagai tempat tinggal, daerah ini juga sebagai tempat wisata.

Bukit Klumprit

Saya harus berjalan dari tempat parkir jeep menuju Bukit Klumprit.
Saya tidak masalah karena sudah menyiapkan kostum sesuai dengan keadaan alam, saya sudah mikir bakal piknik di gunung maka harus siap-siap. Saya aman, teman-teman saya aman, Pak Bupati tidak terlalu. Pasalnya beliau memakai seragam Kamis Pahingan, yaitu surjan jarik berikut selop. Ya bayangin aja gimana susahnya naik gunung dengan alas kaki berupa selop.

Namun nyatanya beliau bergembira seperti yang lain.
Kalau saya mah setiap saat juga bergembira.

Tiduran di atas batu raksasa menghadap langit dengan ditemani angin sore sungguh menyenangkan. Rasa-rasanya saya malas kalau disuruh bangkit lagi.
Saya datang habis ashar, masih agak sore dan harus menunggu sampai matahari terbenam. Tujuan utama tentu saja sunset.
Apa pun pokoknya demi sunset.

Awalnya saya bahagia saja karena cuaca cukup hangat, nyatanya semakin petang udara semakin lembab. Tangan saya berubah keriput jika tidak beraktivitas. Tempat ini menyenangkan dan jauh dari polusi, kecuali beberapa plastik yang merusak pemandangan. Pohon-pohon berjajar cukup apik.

Ada beberapa penduduk yang mencari rumput di sekitaran bukit. Saya bertanya-tanya di mana kira-kira mereka tinggal secara begitu tingginya tempat ini. Saya jadi mikir dong seberapa besar perjuangan ibu-ibu pencari rumput tersebut.

Yang jelas kalau sudah sampai Breksi jangan lupa untuk keliling tempat wisata yang lain. 
Berburu sunset dengan suasana tenang memang cocok di Bukit Klumprit. Jika mau berinstastory jangan khawatir karena tempat ini terjangkau sinyal 4G.

Jika ingin mnyewa Jeep, ada baiknya saya kasih tahu tarifnya:
- jarak pendek 200 ribu dengan waktu tempuh sekitar satu setengah jam.
- jarak medium butuh biaya 300 ribu dengan waktu tempuh dua setengah jam.
- jarak jauh sekitar 400 ribu dengan waktu tiga jam.
 
                                                                                
 

Jelajah 4 Museum Dalam Waktu 4 Jam


Jelajah 4 Museum

Abu-abu langit pagi itu membuat saya sedikit gelisah. Siang nanti ada janji bersama teman-teman Genpi untuk ikut acara Malam Museum. Jika abu-abu di langit berubah menjadi titik-titik yang selama ini dirindukan tanah, maka saya bisa apa?

"Kamu ke kota jam berapa?" pesan dari kawan yang hendak berangkat bersama.
Saya masih mikir-mikir. Ponsel di tangan terayun manja. Harusnya saya sudah ada di kota sesuai rencana jauh hari. Nyatanya saya masih di rumah bahkan mandi saja belum.

"Mungkin jam 12 aku baru berangkat dari rumah. Aku enggak jadi nonton."
"Okey. Semoga enggak hujan. Jogja tadi pagi hujan."

Cap cip cup, kota sudah diguyur hujan, tinggal menunggu angin sampai hujan itu merambati pekarangan rumah.
Saya lekas siap-siap, karena jika telat sedikit saja atau jika saya keluar rumah lebih lambat sepuluh menit dari rencana awal maka sudah diperkirakan jika di jalan akan ugal-ugalan. Saya benci saya yang dalam kondisi ini. #malahcurhat


Well, saya ini orang yang enggak peduli dengan omongan orang lain bahwa weekend itu identik dengan piknik. Saya mah kapan aja piknik hayuk ajah. Mau ramai-ramai atau solo juga hayuk. Tapi kalau ada yang bayarin itu lebih baik lagi. Paket komplit itu piknik sambil kerja dibayarin ramai-ramai dan ketemu pria tamvan. #halah

Menanam Cerita di Halaman Sastra FKY 29


Angin begitu ganasnya ketika saya mulai mengambil kata pertama dalam cerita kali ini. Ada gigil yang saya rasa usai bermotor dengan jarak hampir satu setengah jam perjalanan. Radio Buku halaman sastra FKY 29
Festival kesenian Yogyakarta selalu menghadirkan konsep menarik setiap tahunnya. Kali ini bertajuk 'umbar Mak byar', istirahat untuk lebih gemilang. Salah satu agenda dari FKY yaitu Sastra FKY. Radio Buku / Indonesia boekoe menjadi tuan rumah yang nyaman, ramah dan ngangenin. Halaman ditata apik untuk memberi senyum kepada pengunjung.

Saya hadir di saat pembukaan dan penutupan. Sempat salah tingkah saat sampai di halaman Radio Buku, sebab ketika tiba, sudah banyak orang yang berkumpul. Hari itu pembukaan diisi dengan dongeng dari pendongeng asli Yogyakarta yang sudah go internasional.

Karena bangku sudah penuh, saya memilih berdiri di depan panggung utama demi melihat penampilan Kak Arif Rahmanto yang baru saja bersiap dengan mikrofon. Tak disangka, beliau melambaikan tangan ke saya dan melempar senyum. Saya pun menyambutnya dengan hangat.

Lantas, cerita itu berlanjut ketika dari arah belakang sang aktor utama dalam "Istirahatlah Kata Kata" sang Wiji Thukul, mendadak mendatangi saya lantas memberikan bangku kosong yang tadi diangkatnya dari bawah pohon mangga.
"Duduk."
"Terima kasih," ucap saya karena enggak tahu harus bilang gimana lagi karena masih diliputi kaget.
Kakak Mida, teman yang memberdayakan saya hanya senyum-senyum pula merasa gimana gitu.



Kadang kala saya ini memang norak. Tapi saya bangga dengan kenorakan saya. Belum selesai keterkejutan dengan Mas Gunawan Maryanto a.k.a Wiji Thukul, lagi-lagi Kak Arif membuat saya semakin norak. Beliau di hadapan hadirin, sebelum mulai mendongeng, berucap, "selamat datang Kak Mini GK. Penulis kondang kita."

Okey, saya bener bener malu tapi bangga.  Kakak Mida lanjut berbisik, "kalau udah tahu kamu artis harusnya datang jangan telat dong. Malu tauk."
"Ya mana aku tau bakal disapa sedemikian hingga."

Lalu kami diam. Diam-diam saya masih senyum senyum sendiri dengan perilaku mereka orang-orang baik di sekeliling saya. Ah semakin yakin saya jika kenaikan akan tumbuh jika kita selalu menanamnya. Acaranya mendongeng sore itu berjalan lancar. Ramai dan pula menimbulkan tawa hebat bukan hanya anak-anak tapi semua hadirin segala usia.

Acara Sastra FKY 29 dimulai dari tanggal 30 Juli dan berakhir semalam, 3 Agustus. Banyak macam agenda, ada mendongeng, workhosp menulis, talkshow sastra anak, prosa juga teater.

 Saya sempat mengikuti talkshow sastra anak yang diampu oleh dua orang keren, Muhidin M. Dahlan dan Gunawan Maryanto. Dengan antusias sebab materi yang disampaikan benar membuat saya tercengang. Mengenai fenomena perbukuan, khususnya buku buku anak.

Tanya jawab dengan hadirin menjadi satu sesi yang menarik, dimana banyak hadirin yang kebetulan adalah guru saling mengutarakan kegundahan mereka dengan murid murid. Usai talkshow saya menunggu hingga malam untuk menyaksikan teater.

Ada dua teater yang tampil membawakan sastra lakon, yaitu teater Kamasutra dan Terjal. Dua duanya dari Universitas Gajah Mada.

Menurut Gunawan Maryanto, kenapa memilih sastra lakon bukan naskah lakon sebab dewasa ini sastra lakon seolah-olah tak dikenal atau ditinggalkan. Ia satra lakon ini berada di zona yang tidak jelas antara teater atau kepenulisan, maksudnya orang teater seolah-olah enggak berhak memegang begitu pun dengan orang penulis. Akhirnya dia jadi tenggelam.

 Kami bahagia kami suka dan kami menunggu sastra FKY selanjutnya.

Batoer Hill Resort Pesona Yang Menaklukan

poto Ardian @bookpacker

"Komunikasi dan cinta hanya dapat dibagi tatkala seseorang yang bersama Anda, tak peduli siapa pun mereka; adalah orang yang paling penting sedunia bagi Anda, pada saat itu. Mereka merasakannya. Mereka mengetahuinya. Mereka menanggapinya." (dari Cacing dan Kotoran Kesayangannya)

Tak peduli sendiri atau ramai-ramai, piknik bagi saya adalah sebuah kewajiban. Wajib diisi dengan kebahagiaan. Wajib dibagi dengan keindahan. Wajib pula dinikmati dengan keintiman yang paling mendalam.
Seseorang yang mendambakan piknik berarti ia adalah seseorang yang peduli pada kehidupan yang serba penuh warna.

Bagi sebagian orang Yogyakarta selalu identik dengan Keraton, Tugu, Parangtritis, Merapi dan Prambanan/ Borobudur. Salah? Tidak. Tidak ada yang salah untuk semua itu. Mereka benar. Kamu benar. Saya benar. Meski kadang kala saya dan kamu sering mengartikan Yogyakarta sebagai satu kata; kenangan.

Namun alangkah baiknya jika mulai hari ini kita geser sedikit mengenai persepsi kita akan Yogyakarta. Setuju? Ya setuju sajalah daripada postingan kali ini enggak kelar-kelar. Kenapa? Karena saya akan menuliskan hasil jalan-jalan beberapa hari lalu di salah satu daratan Yogyakarta tepatnya di sebuah dataran tinggi penuh kehangatan di Gunungkidul, salah satu daerah di Yogyakarta.

Seperti yang orang ketahui, Gunungkidul adalah salah satu kabupaten di Yogyakarta yang saat ini sedang dalam masa bersolek. Sekian juta manusia setiap tahunnya berusaha mendatanginya untuk sekedar menatap, menyentuh bahkan mengencaninya. Luar biasa pesona Gunungkidul dalam tahun tahun terakhir ini.

Saya beruntung lahir di Gunungkidul. Sudah sangat kenal dengan sifatnya yang kadang memanas bahkan meranggaskan dedaunan atau juga kadang menjelma gigil yang membuat kulit kering. Saya sudah terbiasa dan kamu, saya yakin akan tergoda sebentar lagi ketika saya bercerita tentang Batoer Hill Resort and Resto.

Batoer Hill Resort

 Jika ditanya spot terbaik menikmati sunsite dan bintang malam di Yogyakarta, maka daratan Patuk Gunungkidul adalah salah satu jawabannya. Dan Batoer Hill Resort and Resto adalah salah satu tempat yang wajib masuk dalam list. Kau akan merasakan tidak hanya pesona dan kehindahan alamnya namun lebih dari itu, temukan aura-aura yang tak akan pernah ditemui ditempat lain.

Pesona alam dan hasil kerajinan di Batoer (nama tempat di daerah Patuk) memang sudah tak terbantahkan. Sepanjang jalan saya disuguhi pemandangan yang subhanallah luar biasa hijau dan menenangkan. Jika musim penghujan akan ada air terjun-air terjun di mana-mana. Sejujurnya saya ketakutan harus menaiki jalanan yang hampir-hampir membuat saya gigil karena menanjak cukup mengerikan. Namun mengingat ujung dari tanjakan itu adalah sebuah pesona yang tak bisa ditinggalkaan maka saya pun pasrah dan terus melajukan motor. Luar biasa indah ketika saya akhirnya menemukan gapura pintu masuk Batoer Hill Resort and Resto.
poto by TripAdvisor

"Hai, aku datang," terikan itu terdengar dan membuat kawan-kawan yang hadir langsung menoleh ke saya yang baru selesai menyemprotkan parfum. Yes, meski di gunung sebagai #gadisAnggun maka wajib; wangi, cantik dan hangat.

Batoer Hill Resort and Resto berada Batur, Gunungkidul, Yogyakarta. Jika dari arah Yogyakarta maka lurus saja ke arah Wonosari kota (Jalan Wonosari). Sampai di pempatan Sambi Pitu belok ke kiri ke arah Desa Wisata Bubung, lurus terus jangan belok-belok. Nanti akan ketemu dengan gapura yang di bawahnya ada petunjuk arah ke resort, ikuti saja. Kau tidak akan tersesat. Kenapa? Karena saya yang rajin tersesat ini ajaib ke sana tidak pakai tersesat lagi. Jadi saya sangat yakin jika kau pun tidak akan tersesat.

Sebaiknya datang usai ashar, atau kalau perlu asharan di Batoer Hill Resort saja. Karena kalau udah sampai sini jangan sampai ketinggalan matahari terbenam alias sunsite. Akan sangat rugi jika meninggalkan satu pesona alam tersebut.

Sunsite Penuh Pesona dan Kolam Renang Menggoda

Saya tiba di lokasi sudah menjelang pukul setengah lima. Kawan-kawan dari Yogyakarta sudah lebih dulu hadir dan menikmati kolam renang yang memang dibuat dengan sangat apik di tepian dengan langsung menghadap ke alam. Jika berenang kita seolah-olah sedang berada di tengah laut, minus dengan air asinnya.

Tidak peduli dengan yang lain, saya langsung menenggelamkan diri dalam kolam bersama Renja sebelum nanti mengejar sunsite yang akan tiba sebentar lagi.

Selama saya di kolam renang, bagian atas sedang sibuk menyiapkan kopi teh dan panganan. Panganan yang disajikan begitu khasnya; telo dan pisang goreng. Tuhan, begitu nikmat makanan saya senja itu.

Hampir petang, saya tidak tahu tepat pukul berapa; saya bergabung dengan teman-teman yang menyiapkan kamera demi mengabadikan sunsite yang begitu ranum. Langit yang tadi biru cerah berangsur-angsur berubah bagai pipi seorang gadis yang baru saja bertemu dengan pangeran impiannya; merona kemerahan begitu penuh pesona dan sangat menggairahkan.

Saya seolah-olah tersihir dengan pesona yang ditawarkan senja itu.

Saat itu pula saya langsung mengucap syukur karena sudah meluangkan waktu untuk menikmati keindahan Batoer Hill Resort and Resto.

Kamera saya bekerja dengan baik. Namun mata saya sudah lebih dulu terhipnotis. Saya hanya menjepret beberapa adegan dan selanjutnya diam menikmati alam yang sedang bermimikri, ditemani segelas teh pahit (karena sengaja tidak menambahkan bubuk gula).

Di kanan kiri Batoer Hill Resort and Resto memang alam terbuka. Tempatnya berada di atas. Seolah-olah bukit itu sengaja lahir untuk didirikan Batoer Hill. Saya duduk di bangku yang diletakkan cukup aman di atas ketinggian yang jika orang tidak paham arsitektur maka akan bilang itu dipinggir jurang. Comeon, ini tempat memang mengerikan tapi asyik. 

Kebetulan saya datang saat Batoer Hill Resort and Resto sedang dalam tahap mempercantik diri alias belum selesai pembangunan. Belum selesai saja sudah keren apa lagi nanti jika sudah total rapi. Saya masih punya kesempatan untuk datang ke sana. Setidaknya saya sudah mengantongi dua voucher.

Voucher dan tiket masuk

Kenapa saya bilang voucher dan bukan tiket masuk? Jadi begini; beberapanya saya dapat dari pemilik resort, Batoer Hill tidak menarik tiket masuk untuk wisatawan yang hendak berlibur atau sekedar masuk dan menikmati keindahan di dalamnya, namun di sini mempergunakan sistem voucher. Satu voucher dihargai 25.000. Bisa beli voucher makan atau voucher berenang. 

Lalu dijelaskan pula kenapa milih sistem voucher bukan tiket masuk itu karena demi menjaga kebersihan tempat sekitarnya. Kalau diberlakukan tiket masuk, biasanya pengunjung hanya akan keluar masuk dan merasa hanya singgah saja tanpa ada rasa sayang dan ujungnya datang demi poto-poto dan lain sebagainya yang bisa berujung mengerusak tatanan.

Makanan nDeso yang Ngangenin

Adalah model kembulan, begitu rencana sistem makan yang hendak dikembangkan di resort satu ini. Ada satu menu yang akan digadang akan menjadi andalan yaitu; ingkung.

Hari itu Tuhan sangat baik seperti hari biasanya, saya oleh kebaikan semesta akhirnya bisa mencicipi menu makan malam yang begitu lezat. Ayam kampung suwir dengan nasi gurih lengkap dengan sambal dan lalapan. Nikmat. Penganan berupa telo goreng dan pisang juga begitu menggoda sejak dari aroma hingga rasa dagingnya.

Jika kalian memang seseorang pemburu kuliner yang rajin berburu makanan olahan apa saja, singgahlah barang beberapa jam untuk sekedar menikmati citarasa makanan khas Batoer Hill Resort and Resto. Kalau misal tak ada kawan, hubungi saja saya, dengan senang hati saya temenin sampai puas.

Penginapan Kayu Ala-Ala 

Dibangun dengan kerjasa banyak pihak; Batoer Hill Resort and Resto bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan warga sekitar. Kelak ditempat ini akan banyak dijumpai tradisi adat masyarakat sekitar pula hampir semua karyawan yang direkrut adalah pemuda pemudi asli daerah sekitar.  

Sejumlah penginapan dibangun dengan berbagai detail yang unik dan menenangkan. Sesekali izinkan dirimu untuk tinggal di salah satu pondoknya dan menikmati segala suguhan alam yang mungkin sudah jarang kau dengarkan.
poto dari www.kompasiana.com/khun

Ketika malam tiba, buka pondokmu dan lihatlah butiran bintang-bintang seolah digelontorkan sedemikian rupa di langit. Seolah-olah sengaja dilem di sana untuk menemani malammu yang seolah sepi padahal begitu semarak.
Jika pagi menjelang, hiruplah udara yang begitu segar tanpa ada sedikit pun pencemaran. Usir saja pasanganmu yang sedang merokok (hehehehe).
Udara di tempat ini memang begitu bersih dan segar. Berlama-lama di tempat ini memang begitu menyenangkan dan membuat sehat.

Rumah-rumah kayu yang dibentuk begitu cantiknya. Nanti juga akan dibuat rumah-rumah pohon yang juga bisa ditempati untuk bermalam.
Tentang harga, jangan khawatir; untuk satu keluarga cukup mengeluarkan dana sekitar 500-800 ribu sudah lengkap semua peralatan berikut makan.

Saya ada rencana menginap di sini, nanti bareng kamu: kekasih halal.
Kalau tidak berencana menginap, tidak apa-apa masih bisa kok  menikmati keindahan rumah-rumah kayu dan berpoto di sana dengan cara membeli voucher.

poto oleh Khun

Taman Lidah Buaya

Dari sekian luas kawasan Batoer Hill yang saya susuri sore itu, ada satu spot yang menarik perhatian saya namun luput dari perhatian teman-teman yaitu taman lidah buaya. Taman lidah buaya ini di tanam di area bawah. Masih ke bawah lagi dari area kolam renang.

Saya sedikit tahu kegunaan lidah buaya yaitu sebagai bahan makanan/ minuman.
Karena penasaran, maka usai ramah tamah dan makan malam, saya sengaja mendekati pengelola dan bertanya tentang sebab musabab kenapa ada taman lidah buaya di tempat itu.

"Itu lidah buaya, bapak?"
"Iya. Itu lidah buaya sengaja kami tanam karena banyak manfaatnya."
"Oh. Kira-kira dibuat apa, Pak?"
"Sekalin mengedukasi masyarakat. Lidah buaya itu tanaman yang akan selalu panen. Ia tidak perlu dimusnakan atau diganti. Ia akan tetap tumbuh selama hidup dan selalu bisa dipanen tiap bulannya. Kelak akan kami gunakan untuk bahan minuman khas daerah sini."
"Saat ini umur berapa lidah buaya itu, Pak?" karena saya melihat masih kecil-kecil.
"Baru sekitar tiga bulan. Kemungkinan sebulan lagi kami akan panen."

Jadi September nanti bisa jadi akan ditemui minuman lidah buaya. Kau sudah siap datang ke Batoer Hill?

Lampion dan Kemesraan di Batoer Hill

Dari pukul empat sore sampai jelang sembilan malam, saya masih setia di pelataran Batoer Hill. Saya sangat menikmati suasananya yang seolah-olah milik pribadi.
Di gardu pandang, lampu-lampu dinyalakan membuat suasana semakin romantis. Tidak apa datang tidak dengan pasangan yang penting bahagia dengan kehangatan yang ada.
Namun jika datang bersama pasangan, itu jauh lebih menyenangkan.

Saya karena tidak punya pasangan berusaha mengajak teman yang juga tidak punya pasangan untuk bersama-sama menerbangkan lampion.
Ini salah satu impian saya dari sekian banyak impian yaitu menerbangkan lampion di dataran tinggi bersama teman. Menyenangkan sekali karena impian ini dikabulka melalui Batoer Hill. Saya bahagia bisa menerbangkan lampion setelah dua kali gagal karena angin yang bertiup segitu ganas membuat api menyambar kertas lampion.

Nah lampion lampion ini adalah salah satu paket wisata yang juga dikembangkan di Batoer Hill resort and resto.
Sedikit saran jika kamu mau mengadakan pesta pernikahan atau ulangtahun ke sini saja ke Batoer Hill, dijamin menyenangkan dan tak terlupakan.

 Sara untuk kamu yang hendak ke Batoer Hill

Karena saya datang seorang diri dan mengendarai motor sendirian maka ini ada sedikit saran dari saya;
1. Udara di sekitaran Batoer Hill sangat gigil, usahakan bawa jaket tebal kalau datang sore menuju malam.
2. Datanglah dijam usai ashar sampai jelang malam, kau akan temui minimal tiga gambar langit yang beda.
3. Ajak teman agar tidak krik krik kalau mau menerbangkan lampion.
4. Usahakan kendaraan kamu benar-benar prima karena jalanan menanjak (saat datang) dan curam (saat pulang).
5. Jika ingin berenang ada baiknya sore saat matahari masih terlihat agar tidak terlalu kedinginan.
6. Jaga kebersihan dan keamanan.

Jadi sudah siap belum untuk piknik ke Batoer Hill Resort and Resto? Semoga sudah. Dan semoga sayalah teman yang kamu ajak untuk berpiknik ria.

Kontak Batoer Hill Resort and Resto

Website: www.batoerhillresort.com
Telepon: 0812-2544-3716
Email: batoerhillresort@gmail.com
Twitter: @BatoerResort
Fanpage: Batoer Hill Resort and Resto
Instagram: @batoerhillresort
Rate: promo: 500 K
normal: 800K

Kunjungi Batoer Hill Resort and Resto