Secangkir Teman Hangat Untuk Harapan Baru

"Jika tidak bisa menanam 1000 pohon maka setidaknya saya harus menanam 10 pohon sebelum mati."

Mungkin terdengar terlalu muluk atau tidak masuk akal, tapi begitulah biasa saya menyampaikan motto hidup di hadapan khalayak umum.

Jatuh cinta saya kepada kebaikan alam boleh dibilang terlambat (meski orang bilang tidak ada yang terlambat untuk sebuah kebaikan). Saya baru terbiasa menanam pohon / tumbuhan di saat orang lain sudah memanen hasil tanamannya.


Bukan pekerja kantoran bukan pula bawahan apalagi atasan, saya nyata-nyata hanya gadis biasa yang terlalu gigih dalam bermimpi (realita kapan-kapan). Meski begitu saya tidak pernah ada niatan untuk kabur dari kenyataan.
Hanya saja tidak bisa dipungkiri kenyataan kadang lebih kejam dari ibu tiri.

Sari Jahe teman sepanjang waktu

Pekerjaan yang saya geluti bukan  pekerjaan yang bisa dipastikan kapan, berapa lama dan berapa besar ganjarannya. Namun sudah dipastikan tingkat kelelahannya.

Bertemu orang hampir setiap hari menuntun saya untuk harus tampil segar dan hangat (layaknya secangkir wedang jahe).
Saya tahu diri, mood bisa berubah sewaktu-waktu sesuai faktor pemicunya.

Tepat waktu dan selalu hangat kepada setiap orang menjadi salah satu indikator teman menyenangkan. Untuk itu saya selalu berusaha memelihara kebiasaan ini.
Sayangnya tidak jarang harapan saya luruh jungker balik semacam daun maple di musim gugur disebabkan terlambat. (bisa saya atau pihak lain yang terlambat, tetap ujungnya mood saya  kacau).

Kalau sudah mengalami ini biasanya akan  konsentrasi seharian jadi terganggu.
Butuh sentuhan baru untuk bisa kembali semangat.


Sudah hampir sepekan ini saya tinggal jauh dari kampung halaman untuk sebuah misi masa depan. Jauh dari pelukan keluarga dan obrolan hangat di depan televisi.
Memang saya suka bepergian, tapi bukan berarti saya selalu siap jika sewaktu-waktu ada panggilan untuk jalan.

Bekal harus cukup untuk menjaga diri agar tidak mudah galau atau ketakutan. Seriusan, di tempat baru jika tidak cukup bekal akan membuat nyali ciut.

Di rumah saya disayang keluarga. Di perantauan harus bisa menyayangi diri sendiri lebih dari sebelumnya.

Di rumah banyak yang bersedia kerepotan demi menyiapkan minuman menyegarkan untuk saya. Pekarangan rumah juga sudah disulap jadi kebun tanaman bahan minuman tradisional. Jahe, temulawak, serai, lidah buaya dan banyak lainnya ditanam dan tumbuh subur. Bisa dipanen sewaktu-waktu jika dibutuhkan.

Keluarga saya adalah petani yang menganut tradisi bahwa alam telah menyediakan segala yang dibutuhkan manusia.

Kemajuan zaman tidak lantas membuat keluarga saya hijrah gaya. Utamanya dalam gaya makan.

Mamak itu serupa polisi yang selalu menjaga dan pertama mengetahui sebuah ketidak beresan. Jika saya sakit biasanya mamak akan lebih curiga dengan makanan/ minuman yang menyentuh lidah dan lambung saya. 

Itu sebabnya di rumah kondisi badan dan asupan gizi saya terpenuhi. Mau minum teh/ susu jahe tinggal meracik sendiri.

Begitu sepekan di Bekasi, saya kebingungan sebab tidak punya semua bahan yang dibutuhkan untuk membuat minuman herbal pula waktu yang terlalu sibuk mengejar kemacetan. 
Padahal minuman herbal dari bahan-bahan alami sangat berkhasiat untuk menenangkan syaraf dan perasaan.

Sudah lebih dari dua windu saya tidak mengenal obat. Saya ragu dengan obat-obatan. Jika badan berasa kurang fit, langkah pertama saya adalah istirahat dan minum/ makan olahan tumbuhan obat.


Kemarin sore akhirnya ada kesempatan sekian menit untuk jalan ke supermarket. Dengan semangat penuh saya datangi rak tempat minuman serbuk/ sachet/ kemasan. Semua demi mencari aroma kampung halaman.

Bersama tenggelamnya Surya, saya meyakinkan diri harus mendapat minuman ekstrak jahe. Selain demi mengobati rindu kampung juga sudah barang tentu untuk mengembalikan kewarasan; setidaknya lidah saya bisa terhibur dengan menyentuh minuman jahe.

Beruntung ada  herbadrink sari jahe nongol cantik serupa teman udah lama kenal dan langsung menyapa.
Tidak harus menunggu semenit, sekotak sari jahe langsung pindah ke keranjang belanjaan. 
Dari Jahe Herbadrink jadi ingat kampung
Sejujurnya ini kali pertama saya bertemu dengan herbadrink (utamanya sari jahe rasa rumahan) dan langsung menerimanya.

Seperti perkiraan, seduhan sari jahe herbadrink dalam secangkir air panas cukup membuat hidung saya joget bahagia.

Aroma jahenya kuat persis seperti buatan di rumah. Begitu menyentuh lidah langsung kerasa jahenya dan begitu masuk lambung; hangat minuman mijitmijit.

Kesimpulannya; saya suka produk herbadrink yang ternyata setelah saya lihat komposisinya merupakan racikan bahan-bahan alami.

Seperti diketahui jahe punya banyak khasiat, beberapanya ;
- mengurangi mual, itu artinya herbadrink bisa dijadikan teman perjalanan mereka yang suka mabuk
- membantu masalah pencernaan
- baik untuk kulit
- melegakan tenggorokan; herbadrink cukup ampuh membuktikan ini
- dll

Herbadrink ini minuman herbal bukan obat. Saya mampu menerimanya menjadi teman baru.



Macam-macam minuman serbuk Herbadrink
 #Herbadrink

Banyak yang beranggapan jika minuman herbal dari tanaman (liar) itu pahit. Sebagian yang lain bilang membuat minuman dari rempah atau tanaman hanya akan menghabiskan energi (tenaga untuk mendapat bahan sampai meramu).
Pula tidak sedikit yang memilih enggak peduli dengan minuman berbahan alami sebab sudah terbiasa dengan minuman bersoda/ berkafein atau yang mengandung susu.

Kalau saya sih asli lebih memilih minuman racikan empon-empon atau tanaman dibanding harus konsumsi soda.

Herbadrink rasanya cukup mengerti kebutuhan orang semacam saya. Herbadrink terlampau cerdik. Tidak hanya 'menerbitkan' minuman dalam bentuk serbuk yang mudah dibawa dan dinikmati kapan saja,  tapi juga sekaligus melengkapinya dengan varian rasa yang sesuai dengan ''tradisi' Indonesia. Sari Jahe, Sari temulawak dan lidah buaya cukup mewakili kebutuhan saya.

Saya paling suka menghidu aroma yang menguar di udara saat serbuk herbadrink bertemu dengan terjangan air panas dari teko/ termos. Aroma itu akan bertahan beberapa lama dan otomatis membuat orang yang mencium aromanya perlahan mulai rileks.

Saya sudah cobak herbadrink sari jahe, esok saya akan meminta herbadrink lidah buaya menjadi teman menembus kemacetan dan panasnya Bekasi.


Berburu Sate Ayam Sate Ratu


Sate Ayam

Kalau disuruh milih, saya inginnya makan makanan fresh. Sebisa mungkin menjauhi yang namanya junk food. 

Bukan sok-sokan tapi belakangan saya lebih peduli dan semakin mencintai tubuh saya. Berharap dengan demikian saya bisa punya kesempatan lebih untuk eksplor rasa.

Sate ayam merupakan salah satu makanan favorit saya. Saya tidak keberatan lama-lama menunggu penjual sate menyiapkan pesanan saya. Aroma pembakaran sate selalu berhasil membuat mulut basah.


Meski suka olahan sate, bukan berarti saya langsung cocok dengan semua sate ayam. Saya kurang suka jika daging ayamnya kecil-kecil (nempel di tusuk), kurang suka pula kalau gosong, pula agak males kalau banyak lemaknya.

Dulu sering banget beli sate di angkringan atau gerobak dorong. Belakangan saya tahu (dari postingan teman-teman) jika ada satu tempat yang jual sate enak.

Bermula dari penasaran, ingin ngerasain yang dirasain temen, akhirnya kesampaian juga saya menemukan lokasi yang teman teman maksud.

Sate Ratu

Nama tempatnya adalah Sate Ratu. Terletak di kompleks Jogja Paradise Food court, Jalan Magelang KM. 6, dekat JCM.

Meski di lokasi food court tapi olahan di sini benar-benar fresh. Saya bahkan sempat lihat dibalik dapur sebelum menu pesanan terhidang di meja.


Sate  Ratu ternyata terkenal lho. Saya aja yang ketinggalan.

Bahkan banyak wisatawan mancanegara yang sudah mencicipi menu di sini.
Enggak hanya dari satu dua negara tapi sudah lebih dari 60 negara main ke Sate Ratu dan selalu mantap bilang puas dengan makanan di sini.

Sebelum seperti hari ini, dulunya bermula dari angkringan Sate Ratu. Konsep angkringan berkualitas nomer satu. Dulu lokasinya ada di Jalan Solo. Benar-benar bernuansa angkringan.

Menu Sate Ratu

Tidak seperti tempat makan kebanyakan yang ingin berjualan banyak macam olahan makanan, di Sate Ratu menunya  hanya ada sate merah, lilit basah dan ceker tugel.

Kalau dibilang khas, ya iya ini khas banget.

Sate merah, jujur saya baru sekali ini ketemu. Dan saya yakin ini khas banget. Enggak nolak kalau ada yang mau jajanin sate ini. Porsinya imut jadinya selalu menerbitkan rasa ingin lagi dan lagi.

Sate Merah

Bagaimana dengan lilit basah? Kenapa enggak sate lilit?

Ternyata ini sejarahnya panjang, saudara saudara. Dulu emang buatnya sate lilit tapi ternyata membuat sate lilit itu membutuhkan waktu banyak (jika tidak mau dibilang ribet). Sudah begitu tidak semua orang (karyawan Sate Ratu) bisa menyiapkan sate lilit seperti yang diinginkan.

Karena alasan ini maka lahirlah lilit basah yang bahannya serupa sate lilit namun bentuknya kotak-kotak serupa tahu. Sudah tak ada lagi tusuknya.

Lilit Basah

Soalnya, super, sungguh saya ingin nambah dua porsi. Meninggalkan rasa nikmat di ujung lidah.
Saya sih sudah yakin enak sejak suapan pertama.

Kalau biasanya sate itu dengan bumbu kacang, bumbu kecap atau bumbu sambal, maka di sini bumbunya beda. Bumbunya sedikit berminyak, diolah khusus dan begitu meresap ke dalam daging. Saya kurang tahu rempah apa saja yang dimasukkan dalam bumbu tersebut.


Waktu saya iseng tanya ke owner-nya tentang bumbunya, beliau cuma tertawa sambil berucap: rahasia, itu juga eksperimen berkali-kali.

Ah apalah, yang penting satenya enak banget. Istimewanya dagingnya tebal-tebal.

Kalau penasaran, udah langsung cuss saja daripada ngidam enggak kesampaian.

Sate Ratu
Jogja Paradise Food court
Jl. Magelang KM.6
Buka : 11.00 - 21.00
Harga: 23k

Mengintip Ruang Gerak Ramah Disabilitas

Jelang Asian Paragames 2018 agaknya elok nian jika saya menulis beberapa pertemuan yang pernah saya alami dengan teman-teman dengan kebutuhan khusus.

Sebagian kita pasti berasumsi jika seseorang dengan kebutuhan khusus adalah mereka yang tidak sempurna. Padahal titik kesempurnaan itu sendiri kadang kala kita masih blur. Apakah yang sempurna itu hanya milik mereka yang tampak sama dengan yang kebanyakan? Lantas bisakah seseorang yang dikategorikan tak sempurna atau berkebutuhan khusus itu memperoleh kesempatan sama dengan mereka yang normal?

Alangkah baiknya sebelum jauh melangkah bersama, saya memberikan defini dahulu tentang difabel. Dalam KBBI V secara singkat difabel diartikan dengan penyandang cacat. Sementara di buku lain bisa dijabarkan bahwa difabel atau bahasa inggrisnya different ability adalah seseorang yang mempunyai keadaan fisik atau sistem biologis berbeda dengan orang lain pada umumnya. (hampir sama dengan awal postingan ini).
Sementara disabilitas (kata lain dari difabel) diartikan sebagai keadaan tidak mampu melakukan hal-hal dengan cara yang biasa.

Tentang Difabel

Sejak kecil sering saya berjumpa dengan mereka yang disebut kaum difabel. Dari yang saya tahu (dengan bertanya atau mendengarkan penuturan orang lain) difabel bisa merupakan bawaan dari lahir dan atau karena sebuah kecelakaan.

Masa SD mendekatkan saya dengan teman difabel. Lingkungan saya (baik dulu bahkan sampai sekarang) selalu menganggap sosok difabel dengan pandangan kasihan, melas, ngilu pula takut. Takut karena sebagai penduduk dusun masih sering mengaitkan musibah (keadaan seseorang yang cacat dianggap sebagai musibah) bisa terjadi karena sebuah kesalahan/ tulah/ kualat dan ada baiknya tidak usah didekati karena bisa jadi tulah itu menular ke orang-orang yang dekat dengannya. Padahal teori ilmiah belum membenarkan pikiran-pikiran purba semacam ini.

Kawan SD saya (perempuan) menjadi difabel sebab sebuah kecelakaan. Dokter harus mengaputasi satu kakibahkan ketika dia belum mendapatkan haid pertamanya.
Sejak kejadian itu hingga hari ini, besok, lusa, tulat, tubin hingga nanti dia hanya memiliki satu kaki untuk menopang tubuh.

Meski begitu, lepas dari frustasi yang mendera pula dukungan dari orang-orang terkasih (juga kenalan sana-sini) kini dia menjadi seorang penyandang cacat mandiri. Dia sadar lain maka dia menonjolkan kekuatan yang dipunyainya untuk bertahan. Kini dia bukan hanya seorang pegawai garmen yang cekatan tapi juga merupakan seorang ibu dan istri bagi anak dan suaminya. Sesuatu yang membanggakan bukan?

Cerita lain yang tidak saya sangka juga datang dari kawan finalis Duta Baca 2018. Syafrina namanya, seorang lulusan S2 juga pengajar di salah satu SLB, ia terlahir dengan celebral palsy. Meski begitu kemampuan dia dalam berkomunikasi sangat bagus.

Di luar yang saya ceritakan masih banyak teman-teman lain yang dikarunia 'kebutuhan khusus'. Ada yang memang bertahan bahkan berprestasi melebihi orang-orang normal. Namun tidak sedikit yang mengalami kekalahan sebelum berperang. Mirisnya kadang kala kitalah peyumbang kekalah bagi mereka. Kita yang normal ini seringkali semena-mena kepada mereka yang sesungguhnya juga punya hak yang sama di muka Bumi ini.

Fenomena Now

Orang 'normal' butuh piknik, sekolah, jalan-jalan, nongkrong, belanja dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Bagaimana dengan para difabel? Mereka juga butuh itu semua. Kebutuhan kita sama. Sama-sama makan pecel lele, sama-sama menggunakan whatsapp, sama-sama butuh internet, sama-sama butuh tempat nongkrong, dan lain-lain dan lain-lain.

Namun sering kali kita yang 'normal' ini curang. Sering menjumpai meme perkara konblok jalan yang tidak ramah untuk tuna netra? Atau malah pernah menjumpai sendiri seorang difabel dengan kursi roda yang tidak bisa masuk ke sebuah ruangan karena jalannya berundak-undak dan tidak ada jalan untuk kursi roda? Saya pernah (sering), beruntung banyak orang baik yang dikirim untuk menolong kawan difabel ini.
Entah apa jadinya jika semua orang curang dan 'main-main' pada para difabel.

Area Publik Bagi Difabel

Sebelum-sebelumnya saya sudah mendengar adanya 'kampus ramah difabel', 'kota inklusif', dan semacamnya yang intinya; memberi kenyamanan bagi para penyandang disabilitas. Tapi ternyata dari beberapa yang saya baca, belum seluruhnya mawujud nyata seperti angan-angan.

Ada memang kampus dengan label ramah difabel, namun ternyata hanya dibagian-bagian tertentu saja. Masih ada area-area yang sulit dijangkau oleh kawan-kawan disabilitas.
Kota inklusif?

DI Yogyakarta sudah sejak lama mencoba menjadi daerah dengan kawasan inklusif aksesibel. Kultur masyarakat DI Yogyakarta yang ramah dan santun memungkinkan terciptanya lingkungan masyarakat yang juga ramah, santun, bersahabat, terbuka dan menyenangkan bagi para disabilitas.
Pemerintah DI Yogyakarta melalui 'kekuasaan' telah membuat aturan-aturan yang sedemikian untuk mengayomi semua masyarakat.

Salah satu bentuk nyata dari Yogya sebagai kota ramah difabel adalah dengan dilahirkannya ruang-ruang publik yang bisa diakses oleh siapa pun masyarakat luas.
Diskominfo bahkan menyengaja membuka co-working space yang merupakan ruang kreatifitas dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan para penyandang disabilitas.

Inklusif Aksesibel

Untuk bisa menyandang 'gelar'  inklusif  aksesibel dibutuhkan banyak indikator. Co-working space diskominfo telah mengantongi indikator tersebut yaitu: adanya partisipasi difabel, adanya upaya pemenuhan hak-hak difabel, terjamin aksesibilitas dan adanya sikap inklusif dari pihak terkait (baik warga mau pun pemerintah).

Kalau saya boleh bilang, saya bersyukur dengan dibukanya ruang publik ini. Saya bisa berinteraksi dengan banyak orang bahkan tidak hanya mereka yang normal tapi juga yang berkebutuhan khusus.

Area publik memang sudah menjadi trend yang tidak bisa dihindari. Banyak anak muda yang lebih sering di luar dibanding di dalam rumah. Mereka bukan hanya keluar untuk kelayapan tapi bisa jadi belajar atau mengerjakan tugas atau meeting atau bisa jadi bekerja.
Co-working space yang ada saya kira bisa jadi satu tempat kerja baru buat anak muda. Era ini kerja kerja tidak  melulu harus di kantoran di depan bos. Sambil minum kopi di co-working space seseorang  bisa merubah nasib atau telah menjadi bos.

Para difabel dengan adanya ruang yang ramah untuk mereka pasti lebih semangat lagi untuk menjalankan aktifitas. Jangan salah, difabel juga banyak yang jadi bos-bos atau milyader. 

Harapan saya pribadi co-working space diskominfo akan selamanya  menjadi rumah nyaman dengan akses mudah, update, lapang, ruang bersama dengan perlindungan privasi. Menjadi ruang gerak untuk siapa saja.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi Pagelaran TIK yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informasi DIY.

Disawa Pawon Suguhan Nuansa Alam

Disawa Pawon


Saya bukanlah orang yang banyak syarat jika diajak cari tempat makan. Makan di mana saja tidak jadi soal. Tentang olahan makanan, lidah saya sudah teruji dan perut juga jarang menolak, kecuali makanan kelewat pedas.

Mungkin karena alasan inilah banyak teman yang tidak pernah kecewa jika mengajak saya makan di luar. Teman tak kecewa, saya pun bahagia.

Lalu timbul pertanyaan lain: bagaimana dengan teman makan, pilih-pilih atau siapa aja bisa?
Ya maunya sih memilih tapi kadang kala yang dipilih tidak ada (bukan tidak mau), bagi saya tidak jadi soal mau siapa yang menemani makan. Sendirian atau ramai-ramai saya selalu bisa makan dengan tenang.

Lain soal jika dibonusi tempat makan yang menyenangkan. Bukan hanya karena menu makanannya saja tapi juga lengkap dengan suasana alam yang barang tentu menjadi nilai lebih dari setiap tempat makan.

Ya meski diawal bilangnya tidak banyak syarat, tapi diam diam saya sering membandingkan antara tempat makan satu dengan yang lain.
Kadang dengan cukup bilang: oh ini begini, di sana begitu. Atau lebih panjang lagi mengulasnya dalam tulisan panjang atau obrolan ringan bareng teman yang juga suka makan.

Awalnya hanya obrolan biasa saja, siapa sangka lanjutannya justru diajak makan di suatu tempat yang pada akhirnya belakangan rajin saya kunjungi.

Iya belum ada sebulan saya sudah dua kali bertandang ke disawa Pawon.

Awalnya saya agak ragu sebab membayangkan lokasinya yang naudubilah jauh dari radar gua pertapaan saya selama ini.

Okey fix ini lokasi Disawa Pawon jauh, apa kira-kira yang bakal saya dapat dengan perjalanan jauh ini? Kira-kira begitu pertanyaan yang memutuskan saya untuk akhirnya bersedia berkendara jauh ke Disawa Pawon; awalnya hanya pembuktian selanjutnya adalah cerita panjang yang tak akan selesai dalam semalam.


Memangnya seberapa jauh itu Disawa Pawon?

Lokasinya berada di Sawahan Lor, Wedomartani Ngemplak Sleman. 
Sekitar 45 menit dari kota Yogyakarta. Atau kalau dari Bandara sekitar 30 menitan.
Silakan saja cek di google map.

Memang lumayan agak jauh dan masuk ke pedalaman (baca: kawasan penduduk lokal). Namun justru karena lokasinya yang cukup lumayan inilah yang membuat Disawa Pawon jadi sesuatu yang wajib masuk dalam daftar 'tempat makan nuansa Jawa yang wajib dikunjungi saat berlibur ke Jogja'.

Kenapa bisa masuk dalam daftar wajib kunjung? Jawabannya ada di postingan ini, baca sampai kelar.

Menu Menggoyang Lidah


Apa sih yang membuat kamu---iya kamu---untuk mau datang lagi atau merekomendasikan suatu tempat makan ke teman temanmu?

Kalau saya biasanya karena makanannya. Olahan makanan memang tidak bisa dipungkiri menjadi salah satu tujuan utama untuk wisata kuliner.
Bagaimana dengan suasana? Penting! Tapi suasana bukan yang utama jika dibanding dengan menu yang mampu menggoyang lidahmu sekaligus membuat mulut enggan untuk berhenti mengunyah.

Nah, Disawa Pawon ini memenuhi kriteria untuk direkomendasikan ke teman.
Saya sendiri suka dengan olahan makanan di sini.

Saya suka segala macam sayuran, begitu ketemu urap di sini, yeih maka wajib bagi saya untuk membaginya dengan teman-teman.

Lebih dari itu, olahan ikan nila dan sate lilitnya membuat saya enggak bosen meski sudah berkali-kali main ke Disawa Pawon.

Singkatnya saya tidak kecewa jalan jauh sebab semua pengorbanan lunas dengan menu yang alhamdulilah baik, mengenyangkan dan halal.

Lagi-lagi yang membuat saya berani mengulas tempat makan satu ini karena tempat makan ini dikelola langsung oleh Pak Budi (dukuh setempat) dengan rekan bisnis yang biasa disebut Bli Frengki.

Konsep yang diusung adalah pemberdayaan desa berbasis pariwisata.

Apalagi ini?
Dari obrolan saya dengan owner Disawa Pawon, dapat saya simpulkan bahwa tempat makan kental nuansa Jawa ini terungkap fakta bahwa beberapa bahan makanannya memang berasal dari petani penduduk sekitar.
Sayur-sayuran dan ikan-ikan yang dimasak semuanya diambil dari hasil panen masyarakat sekitar Disawa Pawon.

Bahkan kalau tidak salah dengar, Pak Budi ini juga ikut membidani berdirinya tambak/ kolam-kolam ikan yang berada di dusun tersebut.
Dari tangan ajaib Pak Budi banyak lahan mulai disulap jadi lahan bisnis namun tidak mengurangi keelokan nuansa alamnya, justru sebaliknya, menambah daya pikat bagi orang luar.


Saran saya jika kamu mau main ke Disawa Pawon, pesanlah sate lilit dan nila bumbu rujak/ sambel matah untuk makanan berat. Jika hanya sekedar ingin menikmati suasananya dan rileks menjauh dari kepenatan kota, pesanlah secangkir kopi luwak dan tempe mendoan.

Sensasinya luar biasa. Apalagi kalau pas cuaca bagus, kamu bakal ditemani si gagah Merapi dari kejauhan.

Suasana Alam


Seperti yang saya bilang tadi; suasana alam di sekitaran Disawa Pawon cukup membuat banyak orang rela jalan jauh dari peradaban.

Bentangan sawah-sawah yang hijau dan kelak menguning berbaur dengan desain tempat makan yang Jawa klasik.

Si Gagah Merapi juga sesekali muncul untuk menemani kalian yang beruntung.
Karena lokasinya di ketinggian jadi suasananya adem cenderung ke sejuk.
Yang biasa panas-panasan sumuk coba sekali-kali ke sini pasti akan merasakan sensasi alam nan elok.

Jangan takut kecele karena suasana di sini selalu seperti itu adanya.
Enggak heran kalau banyak wisatawan asing yang rajin juga berkunjung ke Disawa Pawon; menikmati tempe mendoan sembari mentadaburi alam nan elok permain.




Sentuhan Budaya



Agaknya kurang elok jika saya tidak menuliskan alasan lain kenapa Disawa Pawon wajib dikunjungi selain makanan dan suasananya, yaitu sentuhan budaya Jawa yang begitu kental di tempat ini.

Joglo yang dari kejauhan begitu kokoh langsung membuat jatuh hati dan bertanya: berapa rupiah untuk melahirkan mahakarya seindah ini?

Beda dengan joglo rumah makan kebanyakan yang biasanya dibiarkan bewarna alami (coklat kayu), Disawa Pawon punya konsep sendiri yaitu diberi sentuhan kuning hijau.
Saya kira hanya biar kelihatan beda saja, ternyata tidak hanya itu; memang tujuannya kelihatan beda, namun kehadiran cat ini mengandung cerita panjang.

Dengan bangunan bercat ini menunjukkan bahwa Disawa Pawon punya 'wibawa' tinggi dibanding dengan tempat makan lain.

Konon pada masanya dulu, cat bisa jadi simbol strata sosial seseorang.
Jika rakyat jelata tidak ada yang mengecat rumahnya, kaum bangsawan atau milyader pada zamannya justru mengecat rumah mereka sebagai penanda bahwa mereka 'orang berada'.
Sebab hanya orang berduit saja yang bisa membeli cat (pada zaman itu).

Ada bonus lain yang didapat jika datang ke Disawa Pawon, yaitu bisa foto-foto dengan kostum ala-ala masyarakat desa zaman dulu; yaitu dengan kebaya.

Kebaya yang ada disediakan gratis untuk pengunjung Disawa Pawon.

Saya selagi menunggu pesanan siap diantar ke meja selalu meluangkan waktu untuk berfoto ala ala.
Lagian kapan lagi bisa foto macam gadis desa dengan pemandangan desa yang benar-benar membius mata.
Lumayan buat yang suka buat kejutan heboh di feed Instagram.



Lokasi:  
Disawa Pawon
Wedomartani Ngemplak Sleman Yogyakarta
Akses 30 menitan dari Bandara atau 45 dari stasiun 

Buka:
11.00 -23.00 (setiap hari)

Harga:
mulai Rp 5.000,-

Foto oleh:
@bookpacker
Rangga

Info lanjut dan reservasi:
@disawa_pawon

Perempuan Merdeka Persembahan WomenWill



Perempuan Merdeka 

Perempuan dan merdeka, dua kata 'jimat' yang jika digabung menjadi satu frase "menggelegar".


Bagi saya #PerempuanMerdeka itu bisa berarti  siap dengan segala kemungkinan. Tidak takut mengeluarkan opini/ suara/ pendapat, sabar mendengarkan dan akhirnya tidak banyak komplain jika sudah ada kesepakatan.

Merdeka juga bisa berarti lepas dari penjajahan. Penjajahan bisa berarti segala sesuatu yang merisaukan.

Lha saat mau beli skin care tapi uang gak cukup itu sama dengan risau hati, apa iya ini bisa dikategorikan belum merdeka?

Kalau asumsinya sempit akan susah menemukan definisi yang tepat. Jadi mari kita tinggalkan debat yang tiada ujung ini, eh.


Mendingan dengar cerita Gadis Anggun dari pagi sampai siang (25/8) saat ikut acara WomenWill di PLUT Yogyakarta.

Ruangan itu riuh saat saya datang. Merah, putih, menjadi warna dominan dalam ruangan tersebut. Tidak banyak orang saya kenal tapi satu dua cukup saya mengenal nama.

Google Indonesia

Kalau dibilang beruntung, iya saya beruntung bisa bergabung di acara keren yang disponsori juga oleh google. Bertemu dengan banyak wanita (yang sebagian besarnya adalah ibu ibu) yang bergelut dibermacam wirausaha membuat saya yang malas ini jadi terpacu untuk ikut terjun di dunia wirausaha.

Saya sudah lama ngedraf dalam pikiran, apa yang sebaiknya saya lakukan. Sayang, semuanya masih sebatas wacana. Harapannya dengan #womenWill ini akan semakin melecut nyali saya.

Dua jam ikut kelas Mbak Prisa Kandora membuat saya semakin mengerti dan semakin ingin terjun ke dunia wirausaha. Mbak bergelar apoteker ini memberikan banyak ilmunya dalam waktu singkat.

"Sharing, belajar bersama saling berbagi cerita" sudah semacam gaya bagi ibu dari seorang anak TK ini. Begitu santai dan menyenangkan. Tidak banyak menebar "wejangan" namun cukup memberikan banyak cerita tentang pengalaman nyata beliau.

1. Menciptakan kesempatan baru, online dan offline
2. Menghubungkan wanita wirausaha


Mengembangkan usaha dengan internet!!
Membangun usaha berlandaskan minat!!


Cara memasarkan online :
1. Bikin akun yang tepat jangan alay
2. Buat cerita di status, jangan hanya jualan muluk


Ingin jadi wanita wirausaha maka;
1. Jangan pernah takut dengan batasan mengenai perempuan.
2. Usaha bisa dimulai dari hobi/ passion.
3. Memanfaatkan pemasaran digital


Tips untuk  wanita wirausaha:
1. Percaya pada diri sendiri
2. Bergaul dengan wirausaha lainnya
- belajar dari wirausaha lainnya
- bekerjasama dengan wirausaha lainnya
- membangun kepercayaan diri
3. Memiliki mentor bisnis
- mentor memberi solusi masalah
- mentor mempercepat usaha dengan jaringan mereka
- mentor membimbing arah usaha


1. Belajar kapan pun di mana pun
- apa buku terakhir yang anda baca?
- gunakan aplikasi berita Google news
2. Ikuti pelatihan seminar kursus
3. Belajar dari siapa pun dan apapun

1. Buat daftar kelebihanmu
2. Bagaimana menjadi lebih baik?
3. Buat target target kecil



43% pemilik usaha kecil dan menengah adalah wanita namun lebih terkonsentrasi di usaha kecil.
Tantangan utama wirausaha wanita adalah menyeimbangkan antara mengurus usaha dan keluarga.




Launching Blokir Online Polda DIY


Launching Blokir Online Polda DIY

Bersama dengan teman-teman komunitas lain saya duduk di bawah tenda khusus yang sengaja dihadirkan oleh Polda DIY bagi tamu undangan yang telah memenuhi undangannya.
Meski saya duduk dengan ketenangan samudera, sejatinya saya masih bingung tidak jelas: acara apa ini dan apa yang harus saya lakukan?

Kehadiran bapak-bapak ibu-ibu mas-mas dan mbak-mbak berseragam coklat (seragam kepolisian/red) banyak mempengaruhi mental pula beberapa kali sempat membuat saya gagal fokus.

Saya baru mulai paham ketika acara akhirnya dibuka oleh MC (yang juga berseragam coklat alias beliau juga anggota kepolisian).

Jadi hari itu tepatnya tanggal 15 Agustus 2018 di halaman Polda DIY (yang disulap jadi ruang pertemuan) telah berlangsung acara launching Blokir Online.  Launching ini ditandai dengan pemukulan gong oleh Bapak Kapolda DIY Brigjend Pol. Drs. Ahmad Dofiri, M. Si..
Blokir online sendiri merupakan sebuah sistem baru yang nantinya diharapkan mampu membantu polisi dan masyarakat.

Selain pejabat dan anggota kepolisian, acara ini juga dihadiri oleh beberapa rekanan kepolisian, kawan-kawan media juga para netizen/ komunitas online di area DIY.

Berkat Komunitas Blogger Jogja (KBJ) saya bisa ikut hadir pula menyaksikan acara peluncuran sistem Blokir Online ini.

TENTANG BLOKIR

Menurut peraturan Kapolri no.5 tahun 2012 tentang registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor, maka Blokir berarti tindakan kepolisian untuk memberikan tanda pada data Regident ranmor tertentu yang merupakan pembatasan sementara terhadap status kepemilikan ataupun operasional ranmor yang terkait dengan perkara pidana dan atau perdata.

TUJUAN BLOKIR ONLINE

1. Merupakan bentuk inovasi pelayanan Ditlantas Polda DIY kepada masyarakat
2. Sebagai bentuk kerja efisien dengan cara memangkas alur mekanisme pemblokiran kendaraan
3. Mengintegrasikan pelaksanaan tugas antar fungsi dan satuan kerja di kepolisian
4. Memperkuat peran dan fungsi Regident ranmor disfungsi lalu lintas sebagai antisipasi tindak kejahatan kendaraan bermotor
5. Bentuk perlindungan kepolisian terhadap hak milik kendaraan bermotor yang dimiliki oleh masyarakat.

Mekanisme Pemblokiran

Adapun tatacara pemblokiran sebagai berikut:
1. Pihak yang berkepentingan mengajukan permintaan pemblokiran secara tertulis dilampirkan pula alasannya kepada dirlantas
2. Petugas blokir pada masing-masing unit pelaksana Regident mencocokkan surat permohonan dengan pangkalan data komputer dan buku register
3. Petugas blokir pada masing-masing unit melakukan pemblokiran di pangkalan data komputer dan buku register dan memberikan catatan-catatan DIBLOKIR serta mencantumkan alasan permohonan, nomor dan tanggal surat atas dasar dirlantas
4. Petugas blokir mengeluarkan surat keterangan yang ditandatangani pejabat dan diberikan kepada peminta atau pelapor
5. Petugas menggabungkan surat permohonan dengan surat keterangan blokir dan diarsipkan pada tempat khusus arsip blokir.



Indonesia Maju Dari Desa Lewat Pariwisata


Gunungkidul Nan Seksi

Memori saya setidaknya sudah dijejali dengan berbagai perubahan yang terjadi di tanah Gunungkidul. Sebagai seorang yang lahir, besar dan tinggal sampai hari ini di Gunungkidul, saya punya memori-memori yang belum tentu orang lain punya.

Bupati Gunungkidul, Menteri Pariwisata, Menteri Desa dan Transmigrasi, Wakil Bupati Gunungkidul


Dari tahun ke tahun rasanya selalu saja ada perubahan. Baik yang sangat kecil tak tampak sampai perubahan yang begitu masive.

Saya adalah generasi yang sempat mencicipi hidup tanpa listrik. Generasi yang masa kecilnya lebih banyak dihabiskan bermain tali dan kelereng. Tak ada gawai, wartel pun muncul setelah saya usia remaja.
Saya adalah generasi yang tumbuh bersama dengan tumbuhnya laju ekonomi pariwisata.

Dulu kala orang banyak mengenal Gunungkidul sebagai daerah tandus. Tandus menjadi satu kata yang mengikuti atau mewakili Gunungkidul. Orang tidak banyak mengenal Gunungkidul dengan begitu baik. Hari ini setelah ratusan tahun, orang-orang mulai tercengang bahwa ternyata Gunungkidul adalah surga. Sebuah tanah seksi yang memesona, menggoda dan begitu diperebutkan.

Pariwisata dan era kekinian

Apa yang membuat Gunungkidul mendadak booming terkenal bahkan sampai penjuru dunia?
Sedikit berbagi kisah, sejujurnya Gunungkidul memang sudah sejak lama terkenal dengan pantai-pantainya nan cantik. Namun baru belakangan di zaman serba instan inilah banyak orang mulai eksplor.

Gunungkidul menjadi salah satu tujuan wisata yang konon tidak kalah menarik dengan Bali.

Bukan hanya Gunungkidul, melainkan hampir semua daerah di Indonesia yang mempunyai bentang alam eksotis menjadi satu kawasan baru yang dianggap subur untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Diprediksi tahun 2019 Indonesia untuk pertama kalinya kontribusi ekonomi dari sektor pariwisata akan mengalahkan sektor Migas dan sektor berbasis Sumber Daya Alam. Itu sudah terbukti dengan banyaknya tempat wisata baru mulai dibuka.

Pembangunan daerah wisata baru diharapkan mampu memberi kontribusi lebih kepada masyarakat sekitar daerah tempat wisata.
Semakin banyak wisatawan datang, semakin banyak rupiah yang masuk ke daerah.

Tidak mudah memang membangun kawasan wisata baru. Tidak hanya lokasinya tapi juga insfratruktur pula sumber daya manusia yang memadai.
Alam sudah dengan sukarela menyumbang kecantikannya yang begitu agung dan membuat orang berdecak kagum. Akan sangat disayangkan jika SDM tidak memadai dan kurang bisa menjaganya dengan bijak.

Tidak bisa dipungkiri melalui kementerian-kementerian dan bantuan pihak-pihak terkait pemerintah Jokowi mampu meninggalkan ketergantungan ekonomi dari SDA dengan membangun potensi ekonomi berbasis pariwisata dan ekonomi pedesaan.

Banyak pihak yang berharap sektor pariwisata saat ini  dan dimasa  mendatang adalah andalan ekonomi Indonesia. Namun perlu juga disadari bersama, pembangunan pariwisata yang begitu masive gencar di mana-mana perlu juga memperhatikan kondisi alam.

Saya pribadi adalah orang yang senang piknik namun tidak setuju dengan penggusuran lahan produktif demi pembangunan.
Pembangunan jalan sangat perlu untuk kenyamanan dan menghindari kemacetan, tapi sebisa mungkin harusnya tidak merusak alam. Saya masih menunggu langkah-langkah apa yang akan dilakukan pemerintah demi menghidupka. Pariwisata tanpa menodai habitat alam.

Pariwisata dan Pembangunan Desa

Wisata tidak lepas dari pembangunan. Di mana sebuah kawasan wisata tercipta di situ pula desa-desa biasanya tampak maju.
Semacam bukti nyata jika pemerintah sadar akan kaitan wisata dengan peningkatan ekonomi desa. Keberpihakan Pemerintah pada pembangunan ekonomi desa ditunjukkan dengan alokasi dana desa yang terus naik setiap tahun, yang di tahun 2018 rata-rata per desa sudah mencapai Rp 800 juta. Bukan jumlah yang kecil namun diharapkan mampu menjadikan sebuah desa jadi besar.

Kabupaten Gunungkidul adalah contoh daerah yang minim SDA, namun bisa bangkit perekonomian melalui sektor pariwisata dan pedesaaan. Pantai-pantai selalu dipadati wisatawan baik domestik mau pun asing. Semakin ke sini Gunungkidul mulai dikenal dengan kawasan wisata yang memukau. Wajib dikunjungi jika sedang main ke DIY.

Acara-acara desa yang dulu hanya dianggap sebagai 'ritual' ucapan syukur kini dikemas menjadi satu wisata adat. Desa adat dan desa budaya tumbuh dengan subur. Hampir setiap titik lokasi wisata selalu ada homestay yang dikelola oleh masyarakat sekitar.

Dulu banyak anak muda lulus sekolah langsung merantau, zaman ini anak-anak muda tidak perlu merantau untuk menghasilkan rupiah. Jiwa bisnis mulai berkembang dan terpelihara dengan baik. Semua hanya butuh pendampingan dan kerjasama dari sektor terkait, pemerintah dan pihak swasta.